
Yura terlihat makin terpuruk saat dokter mengatakan keadaan suaminya yang tidak bisa lagi diselamatkan dengan peralatan medis. Yura di minta ikhlasin untuk mengijinkan mereka melepaskan alat bantu pernafasan itu.
"Dokter. Biarkan suamiku pergi dalam keadaan wajar tanpa harus mencabut alat bantu pernafasannya, dokter!" pinta Yura dengan suara parau.
"Apakah anda ingin melihatnya tersiksa seperti itu? mungkin kita yang sehat melihat dia baik-baik saja dalam diamnya. Tapi, dia sangat menderita merasakan sakit yang dideritanya hanya tidak bisa memberikan respon pada kita kalau dia kesakitan," ucap dokter Maureen.
"Kalau begitu ijin aku satu hari saja bersama dengannya! ada banyak hal yang ingin aku katakan padanya. Aku mohon dokter!" isak tangis Yura pecah karena hatinya tidak mampu lagi membendung kesedihannya yang sedemikian sakit untuk merelakan kepergian suaminya.
"Baiklah kalau begitu silahkan anda bersamanya hari ini nona. Setelah itu pikirkan permintaan kami sebagai dokter yang sangat mengetahui keadaannya," jelas dokter Maureen.
"Baik dokter. Aku mengerti," ucap Yura mengangguk paham.
Kini ia naik ke pembaringan milik Evan sambil melingkarkan lengannya di atas kepala Evan." Evan! Apakah kamu mendengarkan aku? Apakah kamu ingin pergi buru-buru dariku karena sudah bosan padaku? jika ingin pergi, tolong pamit padaku secara baik-baik supaya aku rela melepaskanmu. Jika kamu pergi begitu saja dalam diammu itu sangat menyiksaku dan aku terus merasa bersalah seumur hidupku karena tidak bisa membuatmu bahagia. Bukalah matamu, baby! sebentar saja. Setidaknya beri aku tanda bahwa kamu mendengarkan aku, hmm!" Bibir Yura bergetar hebat dengan lidahnya kembali kelu.
Ia menangis di dada suaminya sambil menyebut nama Evan." Terimakasih Evan karena kamu pernah datang dalam hidupku. Terimakasih sudah memilihku menjadi istrimu. Terimakasih sudah mewarnai hari-hari ku yang sebelumnya terlihat putih tak bermakna. Andai bisa aku meminta, rasanya aku ingin hidup sekali lagi untuk mencintaimu sepenuh hatiku. Apakah itu mungkin, Baby?"
Bukan hanya dada Yura yang terasa sesak bahkan jalur nafasnya pun tidak bisa berhembus dengan lancar. Berkali-kali ia melepaskan karbondioksida agar beban yang menghimpit dadanya agar sedikit berkurang, namun sayang sakit itu makin parah dalam dadanya bahkan jiwanya ingin pergi bersama kekasih hatinya saat ini.
"Evan. Bangun sayang! Apakah kamu tidak kasihan padaku dan anak-anak kita. Aku tahu kamu sangat sakit dan kamu ingin pergi dari kaki secepatnya. Tapi, buka matamu sebentar saja. Jika kamu tidak mau menuruti kemauanku, aku akan mengakhiri hidupku dan membiarkan putra kembarmu diadopsi oleh orang lain. Apakah kamu mau aku melakukan itu? apakah kamu ingin mengujiku, hmm?" tanya Yura sedikit memaksa.
Tanpa di duga Yura, tangan Evan sudah berada di atas kepalanya. Membelai rambut hitam panjang itu namun ia tidak bisa berkata apapun karena terhalang oleh ventilator yang terpasang dalam mulutnya.
"Evan!" sentak Yura begitu syok mendapatkan suaminya yang tiba-tiba saja meresponnya. Ia segera memencet tombol nurse call dengan wajah berbinar. Perawat dan dokter segera mendatangi kamar Evan.
"Ada apa nona?"
"Suamiku sudah siuman dokter. Tolong cabut ventilatornya!" pinta Yura tidak sabar ingin mendengar suara suaminya.
Dokter memeriksa keadaan tuan Evan dari matanya saja, dokter tahu kalau keadaan tuan Evan bereaksi hanya sementara bukan sepenuhnya. Tapi,ia juga tidak tega menyampaikan itu kepada Yura yang terlihat sangat senang mendapati suaminya bisa sadar lagi.
Evan tersenyum pada Yura yang menatapnya berbinar. Yura mengecup bibir suaminya sambil menangis." Terimakasih baby! selamat datang sayang. Apakah kamu tidak ingin menyapaku? Apakah kamu tidak merindukan aku, hmm?" tanya Yura penuh haru.
__ADS_1
"I love you my wife, Yura!" ucap Evan dengan terbata-bata.
Ia hanya diberikan kesempatan sebentar saja untuk bisa menyampaikan keinginannya pada istrinya sebagai salam perpisahan.
"I love you too my hubby!" balas Yura sambil mengusap air matanya dengan senyum mengembang sempurna di bibirnya.
"Baby! Di mana putra kita? mana mami dan Riandra?" tanya Evan yang ingin bertemu dengan semua anggota keluarganya.
"Baiklah. Aku akan menghubungi mereka. Sekarang mereka sedang menemani baby kembar di rumah kita," ucap Yura sambil melakukan video call dengan mertuanya.
Tidak lama kemudian, panggilan itu tersambung." Mami...! Evan sudah sadar mami. Dia meminta kalian untuk datang semua. Tolong ke sini sekarang mami. Jangan lupa bawa si kembar!" pinta Yura dengan wajah ceria.
"Coba perlihatkan wajah Evan, sayang!" pinta nyonya Kelly.
"Ok, mami!" Yura mengarahkan kamera ke Evan yang terlihat sangat sedih melihat wajah ibunya yang terlihat sendu menatapnya sambil menggendong putranya Neil yang langsung memanggilnya dengan sebutan Daddy.
"Daddy!" Panggil Neil membuat Evan terharu.
"Baby. Come here my son!" pinta Evan lirih.
Panggilan itu berakhir. Yura terlihat bahagia dan ia memagut lagi bibir suaminya." Aku lapar Yura," pinta Evan membuat Yura segera meminta perawat mengantar makanan untuk suaminya.
Tidak berapa lama, makanan itu datang dan Yura menyuapkan bubur encer itu untuk Evan yang melahapnya dengan cepat. Usai menyelesaikan makanannya, keduanya kembali ngobrol. Wajah Yura terlihat cerah namun tidak dengan Evan yang sedang mempersiapkan kematiannya sebentar lagi.
"Yura!"
"Hmm!"
"Apakah kamu mau memenuhi permintaanku?"
"Kamu mau apa sayang? Aku akan memenuhinya," ucap Yura antusias.
__ADS_1
"Benarkah kamu ingin memenuhinya?" tanya Evan memastikan ucapannya.
"Tentu saja sayang."
"Kalau begitu dengarkan aku baik-baik, sayang! Aku ingin berterimakasih kepadamu terlebih dahulu atas cinta dan kasih sayangmu. Terimakasih sudah melahirkan anak-anakku. Aku sudah mewariskan perusahaanku kepada mereka berdua. Aku mohon jagalah merupakan dengan nyawamu dan menikahlah dengan Riandra lagi!" ucap Evan serius membuat tangan Yura yang tadi menggenggam tangan suaminya terlepas begitu saja.
Gadis ini mundur beberapa langkah sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat dengan mata kembali berkaca-kaca.
"Tidak..! Kamu sudah sembuh. Kamu akan hidup denganku sampai rambutku memutih dengan kulitku keriput. Jangan katakan itu, Evan!"
"Bukankah kamu tadi mengatakan kalau aku harus pamit padamu dengan baik? aku sudah memenuhi permintaanmu dan sekarang penuhi permintaan terakhirku!" pinta Evan tegas.
Cek...lek
Pintu itu terbuka dan keempat orang yang sangat dicintai Evan masuk dengan wajah gembira tapi tidak dengan Yura yang memegang dadanya yang terasa sangat sakit.
"Mami!"
"Evan..!" Nyonya Kelly mencium kening putranya.
"Mami. Terimakasih sudah melahirkan dan membesarkan Evan. Maafkan Evan karena belum bisa menjadi putra yang baik untuk mami," ucap Evan makin melemah.
"Jadi, kamu menyuruh kami datang hanya untuk pamit Evan?" tanya nyonya Kelly yang diangguki oleh Evan.
"Daddy!" Panggil Neil dan Noah bersamaan dan ingin menciumi ayah mereka.
"Riandra! menikahlah dengan Yura dan jagalah anak kembarku dan Yura," ucap Evan lalu menghembuskan nafasnya yang terakhir sambil mengucapkan untaian kata indah untuk istrinya.
"Selamat tinggal Yura! Kaulah wanita terindah yang telah hadir dalam kehidupanku yang sepi."
Kepala Evan langsung terkulai lemah membuat Yura langsung histeris.
__ADS_1
"Tidakkkkk...! Evannnnn...hiks..hiks!" Pekik Yura tidak bisa kendalikan dirinya.
Riandra memberikan Noah pada Baby sitter. Ia memeluk Yura yang tidak kuat lagi menahan dirinya.