Suami Samaran

Suami Samaran
22. Mau Menerima


__ADS_3

Riandra nampak tercengang mendengar pengakuan wanita yang ada di hadapannya ini sebagai ibu kandungnya. Yura berusaha meyakinkan mantan suaminya agar bersedia menerima nyonya Kelly yang selama ini sudah mencarinya.


"Riandra...! Mami mu menghabiskan waktunya seumur hidupnya hanya untuk mencari mu. Ia rela meninggalkan saudaramu dan juga ayahmu hanya bolak-balik Indonesia Amerika hanya bisa menemukanmu.


Dari tubuh yang sehat dan kuat hingga memasuki usia senja dan langkahnya sudah mulai tertatih diikuti matanya yang buram dan sakit-sakitan, ia berharap bisa bertemu denganmu sebelum ajal menjemputnya. Aku mohon jangan mempersulit hidupnya!" Pinta Yura terlihat memelas.


Riandra nampak menahan air matanya yang sudah mengembang. Selama ini ia merasa sangat kesepian karena menjadi anak adopsi yang hanya sebagai penerus tahta bisnis milik ayah sambungnya tuan Sean. Kini ia harus bertemu ibu kandungnya yang selama ini ia merasa anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan.


"Riandra...! Boleh mami memeluk kamu sayang? Maafkan mami tidak menjagamu dengan baik hingga mami kehilangan kamu, nak. Beruntunglah mami bertemu dengan gadis baik hati ini yang mengenali foto kecil kamu yang terjatuh dari tas mami." Ucap nyonya Kelly parau.


"Mami...! Tangis Riandra pecah lalu memeluk tubuh ibunya membawa ke dadanya.


Yura ikut terharu melihat pemandangan manis itu membuat dadanya terasa sesak. Yura baru menyadari jika selama ini sikap Riandra dingin, ketus bahkan sangat arogan karena rasa kesepiannya dan juga merasa menderita karena dibesarkan sebagai anak pungut.


"Astaga...! Andai saja aku lebih sabar menghadapi Riandra. Mencari tahu apa yang ia butuhkan dari seorang istri sepertiku dulu, mungkin pernikahan kami akan bertahan. Aku terlalu egois. Aku hanya ingin disayang dan diperhatikan, tapi tidak bisa memberikan apa yang ia butuhkan dariku." Batin Yura yang baru menyadari kebodohannya.


Tapi nasib sudah menjadi bubur. Apa yang terlihat baik belum tentu akan terasa manis. Seperti yang dilihat Yura pada sosok Evan yang sekarang menjadi ayah dari bayi kembar yang ia kandung saat ini hanya seorang pria egois yang memikirkan dirinya sendiri.


Yura membiarkan Riandra dan ibu mertuanya bercengkrama di dalam kamar berdua. Keduanya harus banyak bicara dari hati ke hati agar mudah dipahami oleh pikiran mereka masing-masing. Usai menceritakan apapun pada putranya Riandra, nyonya Kelly sedikit kepohin Riandra tentang kehidupan asmaranya dulu dengan Yura.


"Yura adalah gadis yang sangat baik, cantik dan wanita yang sangat tangguh. Apakah kamu tahu itu, Riandra?" Tanya nyonya Kelly sambil menatap mata putranya.


"Iya mami. Yura memiliki semua itu." Sahut Riandra.


"Jika dia sangat baik, mengapa kamu tidak mempertahankannya, Riandra?"


"Itu karena Riandra terlalu dendam pada ayahnya yang selalu merendahkan martabat Riandra, mami sebagai anak pungut. Ayahnya Yura merasa aku adalah pria beruntung mendapatkan warisan gratis dari orangtua angkatku dan juga warisan milik Yura jika mereka sudah tidak ada di dunia ini." Ucap Riandra.


"Apakah selama kamu menikahi Yura, tidak ada cinta di hatimu untuk dirinya?"


"Aku baru merasakan cinta itu, saat aku mengkhianati cintanya mami. Aku kabur dari rumah kami meninggalkan dirinya selama dua tahun dan selingkuh dengan sahabatnya sendiri dan ia tidak tahu itu hingga ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat kaki berdua berada di kamar hotel." Tutur Riandra penuh penyesalan.


"Tapi sekarang Yura sudah menjadi milik adikmu, saudara kembar mu, Evan. Dan dia saat ini hamil anak kembar, tapi sayang, lagi-lagi Evan juga menyakiti dirinya dengan menuduhnya mandul."

__ADS_1


"Mami...! Tunggu..! Apakah aku dan Evan itu adalah saudara kembar?"


"Iya sayang. Namamu sebenarnya bukan Riandra tapi Excel. Mungkin namamu diganti oleh orangtuaku maksudku kakek dan nenekmu yang masih berdarah Jawa." Ucap nyonya Kelly.


Riandra makin syok mengetahui dirinya dan Evan adalah saudara kembar dan mereka menikahi satu wanita yang sama walaupun saat ini Riandra sudah menjadi mantan suami Yura. Tapi Riandra tidak pernah menghapus cintanya pada Yura.


"Apakah mami mengetahui permasalahan diantara mereka? Apa yang terjadi sebenarnya mami? Jika Evan tidak bisa membahagiakan Yura, aku akan merebut kembali Yura darinya, mami." Ucap Riandra terlihat geram.


"Kalau itu, mami rasa kamu tanyakan sendiri pada Yura. Walaupun ibu sudah mengetahuinya, tapi rasanya tidak etis menceritakan kepada kamu karena mami takut Yura tidak menyukainya." Ucap nyonya Kelly bijak.


"Baiklah mami. Kalau begitu Riandra ijin untuk bertemu dengan Yura dulu."


"Riandra...!" Panggil nyonya Kelly saat Riandra hendak membuka pintu kamar.


"Apakah kamu ingin merebut lagi Yura dari Evan?"


"Kalau itu perlu mami. Jika bukan karena Evan tebar pesona pada Yura, mungkin Yura masih setia padaku,


"Sekarang kamu sudah tahu siapa Evan bagimu, apakah kamu masih ingin merebutkan wanita yang sama?"


"Mami...! Riandra sudah berusaha mencari wanita lain untuk Riandra bisa berbagi tapi, Riandra tidak bisa menemukan wanita sehebat Yura. Kesabarannya, kesetiaannya dan cintanya yang sangat besar untukku saat aku tidak menganggap dirinya saat itu sebagai istri. Jika aku di kasih kesempatan lagi oleh Yura, aku ingin memperbaiki semua kekacauan yang aku buat penuh kedamaian dan rasa nyaman untuk Yura."


"Ingat sayang Yura sedang mengandung bayinya Evan walaupun Evan belum mengetahui sama sekali jika Yura saat ini sedang mengandung anaknya."


Duaaarrr....


Riandra makin syok tapi tidak ingin lagi mendengarkan ibunya tentang prahara rumah tangga Yura dan Evan. Ia ingin mendengarkan sendiri apa yang akan disampaikan Yura. Riandra ke kamar Yura yang bersebelahan dengan ibunya.


Tok...tok..


"Yura...!"


Yura segera membuka pintu kamarnya begitu mendengar suara Riandra memanggilnya.

__ADS_1


"Riandra...!"


"Apakah aku boleh masuk Yura...?"


"Silahkan Riandra...!"


Riandra duduk di sofa kamar milik Yura. Yura berusaha bersikap wajar walaupun jantungnya kini tidak baik-baik saja.


"Yura....!"


"Rindra...!"


Keduanya membuka suara secara bersamaan membuat keduanya salah tingkah tersendiri lalu tersipu malu.


"Silahkan kamu duluan Yura...!"


"Kamu saja yang duluan! Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"


"Aku hanya ingin tahu mengapa kamu nekat pulang ke sini sendirian dengan mami tanpa didampingi suamimu? Bukankah kamu sedang hamil?"


"Aku dan Evan akan segera bercerai, begitu bayi kami lahir."


"Ada masalah apa Yura? Bukankah kamu adalah wanita yang paling sabar menghadapi keegohan aku dan sekarang mungkin juga Evan?"


"Aku tahu itu, Riandra! Tapi aku tidak bisa menerima sebuah pengkhianatan apalagi di madu hanya karena kami belum diberi keturunan. Ironisnya saat aku tahu dia selingkuh dan di saat yang sama aku dinyatakan hamil. Dan lebih menyakitkan aku telah di madu secara diam-diam oleh Evan


"Sekarang apa keputusanmu Yura?"


"Aku hanya ingin merawat bayi kembar ku sendirian. Bayi ini milikku." Ucap Yura posesif.


"Kalau begitu aku mau melamar kamu Yura agar kita bisa membesarkan anak ini bersama-sama. Maukah kamu menikah lagi denganku?" Tanya Riandra membuat Yura tersentak.


Duaaarrr...

__ADS_1


__ADS_2