
Usia pernikahan Evan dan Yura sudah memasuki usia hampir satu tahun, namun belum ada tanda-tanda Yura hamil. Keduanya tetap menikmati bulan madu mereka setiap saat.
Bagi Yura, pernikahan mereka yang saat ini sedang mereka jalani butuh penyesuaian diri. Mereka jadi saling memperhatikan apa yang menjadi kekurangan mereka menjadi suatu kekuatan.
Namun bagi Evan, ia butuh waktu untuk menikmati percintaan panas mereka tanpa ada gangguan si kecil. Keduanya tidak pernah menyerah untuk berusaha agar Yura bisa hamil secepatnya.
"Apakah kamu ingin kita melakukan konsultasi ke dokter kandungan sayang?" Tanya Evan.
Tidak perlu Evan. Pernikahan kita baru berjalan satu tahun. Jadi kita masih punya kesempatan untuk memiliki momongan. Aku masih mau mengajar. Nanti kalau kita sudah punya anak, aku baru berhenti dari pekerjaanku dan fokus mengurus anak-anak dan kamu." Timpal Yura.
"Tidak apa sayang, kalau kamu masih ingin mengajar walaupun kita sudah memiliki baby. Aku tahu kamu senang menyanyi dan aku mampu menikmati suara indah mu setiap hari." Ucap Evan.
"Tidak ada yang gratis untukmu. Kamu harus membayar ku dengan ini." Goda Yura sambil mengusap pusaka kokoh suaminya.
"Aku akan membayarmu lebih dari tiga kali sehari dengan durasi yang panjang. Apakah aku boleh bayar di depan dulu, sayang." Timpal Evan.
"Hmmm! Pelanggan terlalu murah hati." Ucap Yura sambil terkekeh.
"Yura...!"
"Hmm..!"
"Bagaimana kalau diantara kita ada yang tidak sehat reproduksinya?" Tanya Evan lirih.
"Jangan sesumbar dengan sesuatu yang menakutkan seperti itu Evan. Aku mohon kamu harus yakin bahwa kita berdua sehat. Kita akan punya anak." Ucap Yura.
"Aku hanya menanyakan pendapatmu pada sesuatu yang mungkin saja terjadi diantara kita dan mungkin aku, misalnya?" Tanya Evan lagi.
"Tidak ..! Aku tidak mau menjawabnya. Kamu bisa menghamili ku. Itu adalah bagian impianku bisa melahirkan anak-anakmu. Ayo kita bercinta lagi." Bujuk Yura yang langsung meraih benda padat itu dan menciumnya.
Evan membelai rambut istrinya sambil mendesis. Ia terlihat bahagia saat Yura ingin menyenangkan miliknya seperti kucing yang sedang mengendus makanan enak.
__ADS_1
"Yura...! Bagaimana kalau itu adalah kebenaran jika aku memang tidak bisa membuatmu hamil?" Evan meraih tubuh polos istrinya untuk masuk ke dalam pelukannya.
Yura terdiam. Jika bisa memilih dia tidak ingin menjawab pertanyaan suaminya tentang hal yang sangat sensitif.
"Bagaimana kalau itu aku, aku yang tidak bisa memberimu anak?" Yura balik menantang Evan, menjadikan kekurangan yang sangat menakutkan bagi wanita dewasa seperti dirinya kini.
"Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?" Tawar Evan.
"Apa yang kamu inginkan?"
"Jika aku tidak bisa memberimu anak, mari kita bercerai baik-baik dan kamu boleh menikah lagi atau kembali pada Riandra." Ucap Evan.
"Apakah itu juga berlaku untukku, Evan? Kau akan menceraikan aku jika aku tidak bisa punya anak?"
"Tidak...! Aku tidak akan menceraikanmu."'
"Lalu...?"'
"Kau....! Geram Yura menatap tak percaya dengan persyaratan Evan padanya yang terdengar sangat kejam."
"Kenapa memilih solusi yang sangat ekstrim, Evan? Kamu seakan sudah menyiapkan ini untuk membahasnya denganku? bukankah aku sudah katakan kalau aku tidak sanggup untuk berbagi cinta dengan wanita lain?"
"Aku tidak akan menduakan cintaku jika kamu bisa memberikan aku keturunan."
"Tapi kita bisa mengadopsi anak tanpa harus bercerai atau poligami." Pukas Yura.
"Aku ingin memiliki anak sendiri. ku tidak mau mengadopsi anak siapapun karena aku tidak mau hartaku diwarisinya pada anak orang lain." Tegas Evan.
Yura merenggangkan pelukannya pada tubuh Evan. Perdebatan diantara mereka membuatnya terasa sesak. Ia membalikkan tubuhnya memunggungi suaminya.
"Yura...! Aku sudah memikirkan ini matang-matang. Aku harap kamu mengerti."
__ADS_1
"Kalau begitu, mari kita bercerai Evan. Tidak perlu menunggu siapa diantara kita paling subur jika barometer kebahagiaan kita terletak pada seorang anak." Ucap Yura lugas membuat Evan tersentak.
"Yura....! Kau..!"
"Tidurlah...! Besok kita akan mengurus perceraian kita." Sela Yura menolak didekati suaminya.
"Yura...! Kita masih mengandai-andai, bukan berarti itu suatu hal yang mutlak yang bakalan terjadi." Gumam Evan.
"Niatmu saja sudah merupakan sebuah peringatan. Apa yang akan kamu lakukan nanti, jika itu terjadi pada kita. Dari situ aku melihat keegoisan mu, sepertinya kamu tidak ingin rugi, aku kamu ceraikan jika kamu mandul dan jika aku mandul kamu mau aku dimadu, bukankah sama saja kamu ingin memaksaku untuk melihat dirimu bisa bersanding dengan wanita lain hingga kamu bisa punya anak darinya, itukan yang kamu inginkan?" Sarkas Yura.
"Bukankah lebih menyakitkan kalau aku menceraikan dirimu demi menikahi wanita lain? bukankah lebih baik kamu masih punya status menikah?"
"Cih....! Aku sudah merasakan pernikahan menyakitkan dengan mempertahankan status sebagai seorang istri, tapi apa yang ku dapat? aku masih berstatus perawan sampai aku menikah denganmu. Bukankah itu lebih menyakitkan?"
"Setidaknya aku masih mendatangimu dan memenuhi kebutuhan lahir batin mu." Timpal Evan.
"Cukup Evan! Hentikan omong kosong ini. Aku muak. Aku hanya inginkan kebahagiaan tanpa anak sekalipun. Aku hanya butuh seorang suami yang tidak egois seperti dirimu. Mari kita bercerai sebelum aku di vonis mandul!" Ucap Yura.
"Tidakkkkk....! Semuanya harus sesuai aturan. Kita tes kesuburan kita berdua dan setelah itu kita akan melakukan seperti apa yang sudah kita bahas tadi." Ucap Evan sengit.
Perdebatan panjang itu tidak berkesudahan. Teriakan dan air mata mewarnai pasangan yang sempat mengenyam kebahagiaan kini berubah seperti kucing dan tikus. Hingga akhirnya keduanya tidur karena kelelahan berdebat.
Keesokan harinya, Yura berangkat ke sekolah seperti biasa untuk mengajar siswanya. Karena pagi itu ia belum ada jadwal untuk mengajar, Yura memainkan alat musik berupa biola untuk meluapkan kesedihannya dengan alat musik itu.
Yura memainkan biola itu tidak di dalam ruang musik melainkan di taman sekolah karena ia ingin bermain dengan menyatukan pikirannya dengan alam. Alhasil musik yang sangat indah itu mengalun syahdu ditengah sekolah itu hingga membuat para siswa dan guru untuk sesaat menikmati alunan instrumental itu dengan meresapinya lebih dalam.
"Ada apakah gerangan yang terjadi pada Miss Yura? Kenapa alunan musik itu sangat sedih? lagu apa yang ia sedangkan mainkan? Kenapa hatiku rasanya sangat sakit dan ingin menangis?" Gumam Anabelle yang memperhatikan guru kesayangannya dari balik jendela kelasnya.
Tuan Paul hanya menatap bawahannya dengan pandangan rumit seakan ia mampu menerka apa yang sedang terjadi pada Yura saat ini.
Puas memainkan biola, Yura mengembalikan alat musik itu ke ruang musik. Langkahnya terhenti saat melihat sesosok tubuh gagah yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan yang begitu sendu.
__ADS_1
"Kau...!"