
Setelah menyandang status dirinya sebagai janda dari Evan, Yura memilih untuk kembali ke Indonesia dan menyerahkan perusahaan milik suaminya di kelola oleh asisten suaminya hingga putra kembarnya berusia 17 tahun yang akan meneruskan tahta kerajaan bisnis ayah mereka.
Di atas pemakaman sang suami, Yura yang saat ini didampingi kedua putranya yang sudah berusia tiga tahun meletakkan bunga tulip di atas pemakaman Evan. Mereka berdoa dan berpamitan kepada Evan untuk kembali ke Indonesia.
"Istirahat yang tenang baby! Aku harap kamu mau mengijinkan kami kembali ke Indonesia. Aku ingin anak-anak kita tumbuh dan besar dengan budaya timur agar mereka bisa menjaga kehormatan mereka sebagai pria yang bermartabat. Dan tidak terseret oleh arus pergaulan bebas. Maafkan aku sayang meninggalkan kamu di sini sendiri. Aku janji akan membesarkan mereka dengan sepenuh hati dan jiwaku agar sukses sama sepertimu," ujar Yura.
Ketiganya kembali ke mobil mereka dan langsung menuju bandara. Pesawat jet pribadi milik mendiang Evan yang dibawa pulang oleh mereka ke tanah air untuk melancarkan mobilitas mereka dalam keseharian.
"Pesawat jet pribadi ini milik Daddy. Kalau mau ke luar kota ataupun ke luar negeri, kalian bisa menggunakan pesawat ini," ucap Yura saat pesawat sudah take off menuju Jakarta.
"Mami. Apakah daddy adalah pria hebat?" tanya Neil yang terlihat sangat mengagumi sosok ayahnya.
"Ayah sangat hebat, baik dan penyayang. Ayah adalah sosok yang bertanggungjawab dan ramah pada semua orang. Makanya kalian harus mengikuti jejak ayah. Kalian harus akur dan jangan saling bersaing untuk mendapatkan sesuatu. Kalian tidak boleh bermusuhan walaupun itu akan membuat kalian merasa disisihkan oleh orang lain," ucap Yura yang sama sekali belum dimengerti oleh putra kembarnya yang saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
Keduanya hanya menepuk jidat mereka lalu melanjutkan main game.
"Sebaiknya jangan tanya apa-apa lagi pada mami kalau kamu tidak ingin mendapatkan jawaban yang membuatmu pusing," bisik Noah pada adiknya yang selalu saja kepo pada mami mereka.
"Kalau tidak diajak ngobrol mami pasti melamun dan aku tidak suka melihat mami sedih," ucap Neil.
"Kalau begitu kita jodohkan saja mami dengan paman Riandra. Dengan begitu paman Riandra akan membuat mami tersenyum lagi. Apakah kamu pernah lihat mami senyum?" tanya Noah.
"Belum pernah. Tapi aku akan bicarakan ini dengan paman Riandra dan semoga paman Riandra menyukai mami kita," ujar Neil.
Neil dan Noah yang sudah sepakat menjodohkan mami mereka dengan Riandra mencari cara untuk keduanya bisa selalu duduk bersama.
"Mami duduk sama paman Riandra ya. Kami mau duduk sendiri di jok belakang," pinta Noah.
__ADS_1
"Iya sayang," ujar Yura tanpa tahu apa yang ada di kepala putra kembarnya. Riandra dan Yura sudah duduk bersama di jok tengah. Keduanya terlihat kaku dan itu sangat membosankan si kembar.
"Apakah paman tidak menanyakan kabar mami?" tanya Noah.
"Astaga, paman hampir lupa menanyakan kabar kalian semua. Apa kabar Yura!" tanya Riandra sambil menyerahkan botol minum pada Yura.
"Baik," jawab Yura singkat.
"Apakah paman sudah punya calon istri?" tanya Neil.
"Belum ada," jawab Riandra santai.
"Kalau begitu menikahlah dengan mami kami karena kami ingin punya ayah dan kami tidak ingin punya ayah dan itu adalah paman Riandra," sahut Noah.
__ADS_1
Yura yang baru menenggak minumannya seketika muncrat mendengar ucapan putranya Noah. Riandra reflek mengusap punggung Yura sambil melirik keponakannya. Si kembar mengedipkan sebelah mata mereka dan langsung mendapatkan jempol dari sang paman karena ia juga menginginkan Yura menjadi istrinya lagi atau rujuk kembali dengan Yura.