
Evan membatalkan booking kamar di hotel tersebut dan pindah ke hotel lainnya. Evan masih belum mengerti apa yang terjadi pada Yura yang sedari tadi hanya diam seakan tenggelam di dalam kepedihan hatinya saat ini.
Setibanya di hotel yang beda lokasi dengan Riandra, Evan booking lagi kamar yang tadinya dua kamar, kini menjadi satu kamar atas permintaan Yura.
Di kamar hotel itu, Yura melanjutkan lagi menangis membuat Evan hanya bisa memeluk wanitanya dengan penuh kelembutan.
"Apakah terlalu sakit hingga membuat kamu tidak bisa menceritakan kepadaku?" Tanya Evan.
"Aku bertemu dengan Riandra."
"Maksudmu kamu melihat Riandra di hotel yang tadi?"
"Iya. Dia bersama dengan wanita dan wanita itu adalah sahabatku sendiri."
"Apakah kalian bertengkar?"
"Aku memergoki mereka tidur sekamar dan lebih menyakitkan hatiku mereka berciuman di depanku di dalam lift." Jelas Yura.
"Apakah kamu merasa cemburu?" Tanya Evan sedikit tidak kesal dengan sikap Yura.
"A...aku ..aku ..-"
"Jika kamu tidak mencintai suamimu, kamu tidak perlu bersikap berlebihan seperti itu. Itu akan membuat Riandra besar kepala dan menganggap kamu sangat mencintainya." Ucap Evan menahan geram.
Yura merasa labil saat ini. Ia tidak tahu dengan perasaannya saat ini. Apakah dia sedang cemburu atau merasa dikhianati. Lagi-lagi ia hanya bisa menangis dan itu berhasil membuat Evan merasa tersinggung dan sangat cemburu. Liburan itu menjadi kacau. Evan tidak tidak lagi merasakan kenikmatan untuk berlibur dengan Yura.
Akhirnya keesokan harinya mereka memilih pulang dan sialnya, setibanya di Indonesia, Evan memilih pergi dari rumah Yura.
__ADS_1
"Evan ....! Aku minta maaf atas sikapku. Wajar saja jika aku marah dan kecewa pada Riandra karena ia dan sahabatku bersekongkol mengkhianati aku. Tolong mengertilah perasaanku sebentar saja." Pinta Yura saat menghubungi Evan.
"Fokus saja dengan suamimu dan lupakan dengan hubungan kita." Ucap Evan yang masih ngambek dengan Yura.
"Berarti kamu juga ingin meninggalkan aku? Kamu juga ingin menipuku dengan segala perhatian yang kamu berikan kepadaku?" Yura terlihat frustasi karena tidak bisa membujuk Evan untuk kembali kepadanya.
"Lupakan tentang kisah cinta kita. Lagi pula aku tidak pernah menyentuhmu. Ciuman kita tidak berarti apapun." Ucap Evan membuat Yura merasa sangat syok.
"Baiklah. Kalau begitu kalian semua sama saja. Aku membencimu Evan. Kau sama berengsek nya seperti Riandra. Pergilah dari hidupku sejauh-jauhnya. Aku muak dengan kalian berdua. Kalian benar-benar egois." Maki Yura lalu mematikan sambungan teleponnya.
Yura kembali terpuruk atas cinta yang baru ia reguk. Tidak ada lagi yang bisa ia andalkan dalam hidupnya karena sifat kekanak-kanakan Evan padanya.
Hari terus berlalu hingga perusahaan kembali aktif dan Yura masih di rumah karena liburannya masih panjang. Tanpa diduga Yura, Rian kembali lagi ke mansion itu membuat hari Yura kembali lagi berada di neraka.
Saat Riandra kembali, sikap Yura yang dulu penurut dan berusaha merebut cinta suaminya tidak lagi ia tunjukkan kepada Riandra. Sementara Riandra. berusaha untuk mendekati istrinya entah dengan niat apa.
"Aku pulang atas keinginanku sendiri dan aku sudah meninggalkan sahabatmu itu. Tolong beri aku kesempatan!" Pinta Riandra.
"Kesempatan? Aku bahkan tidak punya hati lagi padamu? Bukankah aku memintamu untuk menceraikan aku?" Tanya Yura terdengar ketus.
"Aku akan memperbaiki diriku untuk menjadi suami yang kamu inginkan Yura."
"Katakan apa yang sebenarnya kamu inginkan? Rumah dan perusahaan ini agar kamu bisa menyenangkan pelacurmu itu? Silakan ambil. Panggil pengacara perusahaan dan aku akan serahkan semuanya padamu.
Jadi tidak perlu repot-repot memikirkan cara untuk menipuku karena sedikitpun aku tidak percaya kepadamu. Mari kita buat kesepakatan! Ceraikan aku dan kamu boleh mengambil apapun yang kamu inginkan." Ucap Yura tanpa ada basa-basi pada suaminya yang sedang menatap nanar padanya.
"Yura....! Apakah kita bisa duduk dan bicara baik-baik?"
__ADS_1
"Tidak ada kebaikan apapun yang harus kita bahas. Aku bahkan sangat jijik melihatmu menjadi bekas wanita itu. Mungkin selama ini aku bisa menerima perlakuan kasar mu padaku dan juga tanpa rasa cinta yang bisa kamu berikan kepadaku.
Aku tidak masalah. Tapi, mengetahui kamu bersama dengan Hesti dan menghilang begitu saja demi wanita itu, itulah yang membuat aku sulit memaafkanmu. Dalam hidupku aku sangat benci sebuah pengkhianatan." Ucap Yura tanpa ada kesedihan dalam hatinya.
Riandra terlihat diam. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk bisa merayu istrinya karena ia memang menyadari kesalahannya. Tapi entah mengapa ia mulai jatuh cinta pada Yura yang saat ini makin terlihat cantik dan seksi. Walaupun wajah Yura terlihat menyimpan kesedihan yang ia pikir karena dirinya.
"Baiklah Yura. Mungkin waktu yang akan mengubah segalanya. Aku tidak akan membiarkan kamu menikah dengan siapapun. Aku akan mendapatkan kembali dirimu." Ucap Evan lirih.
Yura merasa sesak kini. Tawaran cinta yang diberikan suaminya seperti angin lalu baginya. Mungkin karena saat ini hatinya sudah terpaut pada cinta yang telah diberikan Evan padanya. Dia tetap berharap suatu saat nanti Evan akan datang membawanya pergi.
Sementara Evan kembali lagi ke tempatnya di mana ia memiliki perusahaan sendiri di luar negeri. Evan yang awal mulanya datang ke Indonesia hanya untuk mencari ibunya yang menghilang karena terpisah. darinya sejak ia kecil Informasi yang ia dengar kalau ibunya kembali ke Indonesia karena bercerai dengan ayahnya. Entah apa yang menjadi pemicunya, itu yang sedang ingin ia cari tahu.
Bukan mendapatkan ibunya kembali, justru ia harus bertemu dengan wanita yang telah menabrak dirinya hingga ia harus ikut dalam permainan sandiwara yang diinginkan Yura untuk menjadi suami palsu gadis itu.
Jauh di luar negeri sana, Evan yang baru kembali ke perusahaannya membuat asistennya sangat terkejut karena mereka mengira Evan telah meninggal dunia. Perusahaan yang masih berjalan karena di ambil alih lagi oleh ayah kandungnya Evan.
"Tuan ...! Anda ke mana saja?" Tanya Frans.
"Bukankah kamu tahu kalau aku sedang mencari keberadaan ibuku?"
"Tapi kenapa anda tidak memberikan kabar apapun kepadaku? Tuan besar sangat marah karena ulah anda tuan."
"Aku tidak peduli. Ia sendiri tidak peduli dengan hidupku. Lagi pula ini perusahaan ku kenapa dia datang mengambil alih perusahaan ini?"
"Karena hanya ayah anda satu-satunya ahli warisnya." Sahut Frans.
"Bukankah kamu tahu dia hanya bisa menghabiskan uangku di atas meja judi dan wanita? Usir dia dari perusahaan ku!" Titah Evan sangat tidak suka keberadaan ayahnya di perusahaan miliknya yang ia bangun susah payah.
__ADS_1