
Tubuh Yura terlihat sangat lelah dan sakit usai suaminya menggempurnya habis-habisan. Ia juga tidak ingin mengeluh walaupun bagian intinya mungkin saat ini sudah lecet. Air matanya masih saja menetes tak bisa dikendalikan.
Pernikahannya yang diawalnya dikira akan membawanya kebahagiaan sempurna, namun hanya memberikan luka yang sama seperti pernikahan sebelumnya. Dulu ia tidak dicintai karena gengsinya Riandra padanya karena penghinaan dari orangtuanya dan sekarang, bersama Evan hanya karena urusan momongan, kebahagiaan rumah tangganya kembali diuji.
Yura bangkit menuju bathroom untuk membersihkan tubuhnya. Evan terus mengawasi Yura yang tidak rela istrinya itu meninggalkan dirinya. Di dalam sana Yura sedang menangis dibawah shower. Entah siapa yang saat ini ia harus pilih. Mantan suaminya kah atau Evan, suaminya yang baru ia nikahi setahun lebih ini.
Tidak lama, Evan ikut masuk ke kamar mandi ingin menemani istrinya mandi, namun Yura sudah mengenakan jubah mandinya." Yura ..! Kita harus bicara sayang! Aku mohon maaf karena tidak bisa mengendalikan diriku saat melihatmu bersama dengan Riandra." Ucap Evan sendu.
"Bukankah kamu yang menyarankan padaku agar aku bisa kembali padanya jika kamu dinyatakan mandul?" Pukas Yura.
"Itu hanya ucapan sentimentil ku saja. Hanya bibirku mampu mengucapkan itu, tapi tidak dengan hatiku yang menolaknya saat ini. Aku tidak rela kamu kembali kepadanya."
"Kamu begitu takut aku akan kembali kepadanya, tapi aku dipaksa untuk menerima wanita lain di luar sana untuk menjadi maduku. Itu sangat tidak adil Evan."
"Aku...aku hanya menginginkan anak dari wanita lain, Yura. Setelah itu aku akan menceraikannya dan kita akan kembali bahagia hidup bersama anakku itu, Yura." Tawar Evan.
"Jadi kamu mau aku merawat anak perempuan lain yang menjadi maduku, begitu?"
"Yura! hanya itu yang bisa aku lakukan agar kita bisa punya keturunan."
"Tidak Evan. Aku tidak mau di madu. Aku siap kita bercerai. Sumpah demi apapun, aku tidak sanggup harus berbagi suami dengan wanita lain, Evan. Kamu hanya melihat aku ngobrol dengan mantan suamiku saja, hatimu seakan terbakar, apa lagi aku hanya seorang wanita biasa bagimu Evan." Ungkap Yura sambil menahan tangisnya.
"Aku harus bagaimana denganmu, Yura? Aku tidak mau kehilangan kamu, tapi ingin memiliki anak dari benihku sendiri." Ucap Evan.
"Kenapa kita tidak menunggu saja sampai kita memiliki anak sendiri Evan?" Pinta Yura.
"Sampai kapan? Usia kita tidak muda lagi, Yura."
__ADS_1
"Begini saja, kita tunggu satu tahun lagi ke depan. Jika aku belum juga hamil, kita bercerai, bagaimana?" Tanya Yura sambil mengusap pipi suaminya.
Evan menurunkan tangan Yura dari pipinya." Bukan itu yang aku inginkan Yura. Aku tidak bisa kehilanganmu. Aku membutuhkan kamu sayang. Jangan pergi dari hidupku. Kalau begitu, bagaimana kalau aku tidak usah menikah, aku hanya mau kita menyewa rahim seorang wanita yang akan melahirkan putra untukku." Bujuk Evan.
"Terserah padamu saja Evan. Tapi aku tidak bisa menjamin padamu, jika keadaan tidak bisa membuatku nyaman, aku memilih untuk berpisah denganmu." Tegas Yura di angguki Evan.
Keduanya kembali berbaikan walaupun hati Yura tidak bisa terima tawaran apapun dari suaminya." Jika permintaanku baik-baik tidak bisa kamu gubris, jalan satu-satunya adalah kabur darimu Evan atau aku akan selamanya menjadi tawanan mu." Batin Yura.
...---------------- ...
Waktu terus berjalan, Yura tetap menikmati perannya sebagai guru vokal di sekolah mewah tersebut. Para siswanya seperti Anabelle, Sean dan Marco kini sudah lulus dari sekolah tersebut.
Kini sudah ada siswa baru yang sangat patuh pada Yura. Kegiatan menyanyi adalah salah satu pelajaran favorit mereka yang mau mengasah kemampuan. Maklumlah diantara mereka adalah anak-anak artis dan juga pengusaha yang ingin sukses di dunia tarik suara.
Saat itu ada konser yang diadakan oleh sekolah itu di sebuah hotel. Yura meminta suaminya untuk hadir di konser itu. Evan berjanji untuk hadir di konser itu. Hingga acara konser itu berakhir, Evan belum juga datang.
Yura akhirnya memilih pulang sendiri ke mansionnya. Namun di saat mobilnya baru keluar meninggalkan hotel itu, Yura mendapat telepon dari Sean. Merasa itu panggilan penting Yura akhirnya menerima telepon itu.
"Malam Sean!"
"Nona Yura! Apakah kamu bisa datang ke hotel milikku, sekarang?"
"Emang ada apa Sean, kamu mengundangku ke hotel mu di larut malam seperti ini?" Tanya Yura tidak mengerti.
"Datang saja miss Yura! Ada yang ingin aku tunjukkan kepadamu." Ucap Sean.
"Baiklah. Aku harap kamu tidak menipuku." Ujar Yura.
__ADS_1
"Aku tunggu Miss Yura."
Yura mengendarai mobilnya menuju hotel milik Sean. Setibanya di sana, Yura di sambut oleh Sean yang langsung masuk ke lift pribadi.
"Sean...! Aku mau di bawah ke mana? Apa yang ingin kamu tunjukkan kepadaku?"
"Miss Yura lihat saja sendiri. Aku tidak bisa menjelaskannya." Ucap Sean makin membuat Yura bingung.
Sean membuka pintu kamar hotel itu secara perlahan lalu menarik tangan Yura masuk ke kamar itu sambil memberikan isyarat pada Yura untuk tidak berisik. Betapa kagetnya Yura saat melihat sang suami sedang melakukan percintaan panas dengan wanita cantik dan seksi di hotel itu membuat Yura seketika menjerit.
"Evannn!" Pekik Yura membuat Evan dan wanita itu tersentak sambil menutup tubuh mereka dengan selimut.
"Yura...! Sean..!"
Dada Yura naik turun dengan nafas memburu. Ia harus menyaksikan hal yang sama pada suami keduanya dengan wanita lain. Sean memeluk tubuh mantan gurunya itu yang sudah menangis dalam dadanya.
"Jika aku tahu kelakuan tuan Evan seperti ini, aku sangat menyesal telah menghubungi anda saat itu untuk menemui nona Yura yang sedang sakit." Ucap Sean sinis.
Evan mengenakan celana panjangnya namun Sean sudah membawa pergi Yura dari kamar itu. Karena masuk ke lift pribadi milik Sean membuat Evan kehilangan jejak istrinya.
"Ke mana mereka pergi? A..iya tempat parkir. Aku harus ke sana tapi mobilnya di parkir di lantai berapa? Tanya Evan seorang diri.
"Nona Yura! Biar Aku yang antar Miss ke mansion." Tawar Sean.
"Maafkan saya Sean! Terimakasih tawaranmu dan kebaikanmu. Tapi saat ini aku ingin sendiri. Aku tidak ingin di ganggu." Pinta Yura.
" Tapi tidak baik Miss membawa mobil dalam keadaan seperti ini. Aku tidak mau anda kecelakaan." Ujar Sean.
__ADS_1
"Tidak...aku tidak apa Sean." Tolak Yura namun pandangannya tiba-tiba kabur. Yura memegang pelipisnya dan ia tidak mampu lagi menopang tubuhnya membuat tubuhnya hampir ambruk ke tanah membuat Sean spontan menangkap tubuh gadis malang itu.
"Miss Yura!" pekik Sean panik lalu menggendong lagi Miss Yura menuju hotel.