
Hari-hari selanjutnya, Yura dan Evan menghabiskan waktu kebersamaan mereka dengan membuat momen-momen yang sangat berkesan. Mereka membuat rekaman di momen kebersamaan itu. Bermain dengan si kembar Noah dan Neil.
Usia si kembar hampir satu tahun. Evan berharap ia bisa merayakan ulang tahun putra kembarnya. Saat Yura berenang dengan kedua putranya dengan memasang pelampung itu pada bayinya, Evan memperhatikan Yura yang tertawa lepas saat dua putranya sedang memperebutkan Yura.
"Apakah kalian akan memperebutkan satu wanita juga dalam hidup kalian seperti Daddy dan uncle Rian?" gumam Evan lirih.
"Evan. Ayo gabung!" panggil Yura sambil memeluk kedua putranya.
Evan memastikan kamera tetap menyala. Ia turun lagi ke kolam renang bergabung dengan keluarga kecilnya.
"Daddy. Neil lapar," pinta Neil dengan lidah cadelnya.
"Iya sayang. Kita keluar." Neil mengangkat tubuh putranya lebih dulu ke pinggir kolam renang. Sementara Noah asyik menggelantung di leher ibunya sambil mencium pipi Yura.
"Kau benar-benar putraku, ingin mengusai ibumu sendiri," lirih Evan.
"Noah, sudah ya sayang berenangnya. Kita gabung bersama Daddy dan Neil."
Yura memanggil Evan untuk memandikan Noah dengan air hangat. Sementara dia sendiri ikut naik dengan bikin yang terlihat sangat seksi membuat Evan memperhatikan tubuh indah istrinya.
Evan meminta baby sitter untuk mengurus bayi kembarnya sementara ia menghampiri istrinya ke dalam kamar mereka.
"Suster, tolong berikan mereka makan dan susu. Setelah itu tidurkan mereka. Aku dan istriku mau istirahat dulu." Ucap Evan.
"Baik Tuan."
Tidak sulit bagi suster Emma dan suster Julia menidurkan baby kembar yang sudah lama berendam di kolam renang.
__ADS_1
Evan membuka pintu kamar ganti di mana Yura sedang mengenakan pakaian dalamnya. Tubuh Yura yang begitu harum dengan aroma body lition membuat Evan makin bergairah.
Ia melingkarkan tangannya ke pinggang sang sambil membaui leher jenjang Yura." Tidak usah pakai baju sayang! aku ingin kamu seperti ini." Ucap Evan sambil meremas bukit kembar milik Yura yang terus mendesis nikmat.
"Apakah kamu menginginkan aku sayang?" goda Yura yang sudah membalikkan tubuhnya menghadap Evan.
"Iya Yura. Berilah sesuatu yang indah yang bisa aku nikmati dan mungkin tak akan pernah lagi kurasakan saat nyawaku terlepas dari ragaku." Bisik Evan membuat hati Yura mengkerut.
"Aku sanggup melayanimu sehari semalam asalkan kamu tetap bertahan di sisiku." Yura mulai memanjakan milik suaminya.
De$ahan nikmat terasa begitu mendalam yang dirasakan Evan bagaimana Yura memberikan servis terbaiknya. Puas dengan permainan awal itu, Evan menggendong istrinya menuju kasur empuk mereka.
Pergulatan terjadi begitu sengit hingga Evan tidak lagi mempedulikan rasa sakit yang berdenyut kencang di kepalanya. Ia hanya mengikuti naluri kejantanannya yang menuntutnya untuk membahagiakan istrinya di saat-saat terakhirnya.
Saat ia menyemburkan lahar panasnya ke rahim istrinya, tiba-tiba pandangan matanya terasa kabur. Yura yang masih menikmati tidak menyadari perubahan ekspresi wajah suaminya yang sedang menahan sakit itu. Tubuh Evan yang langsung jatuh ke samping tubuhnya di anggap Yura adalah keletihan suaminya usai bercinta dengan dirinya. Evan rupanya sedang pingsan saat ini.
"Katanya mau bercinta denganku seharian, ko langsung teller sayang?" tanya Yura sambil memeluk pipi Evan yang tidak bergerak sama sekali.
Sepuluh menit kemudian, Yura sudah rapi dengan baju santainya. Yura menghampiri lagi Evan yang tidur dengan posisi yang sama. Tatapannya mulai berubah dengan perasaan yang sudah tidak enak.
Jantung yang berdegup kencang saat merasakan kalau keadaan suaminya tidak baik-baik saja saat ini. Yura mengguncang tubuh Evan namun tidak ada respon sama sekali.
"Evan, jangan bercanda padaku. Ini tidak lucu sayang. Evan. Bangun Baby! Evannnnnn....!" Pekik Yura histeris.
...----------------...
Ambulans yang sedang membawa Evan didampingi oleh Yura yang terus menangis. Sementara itu, Riandra dan ibunya langsung terbang ke L.A saat mengetahui kondisi Evan sudah sangat lemah.
__ADS_1
Tubuh Evan sudah berada di ruang IGD. Tim medis berusaha melakukan segala upaya untuk menyelamatkan Evan. Dokter keluar menemui Yura yang terlihat syok karena kelalaiannya karena tidak cepat tanggap keadaan Evan. " Kenapa aku bodoh sekali. Padahal kondisi Evan sedang sakit tapi aku memperlakukan dirinya seperti pria sehat. Maafkan aku sayang." Tangis Yura semakin menjadi.
"Nona Yura."
Yura mengangkat wajahnya menatap wajah dokter yang terlihat muram.
"Bagaimana keadaan suami saya dokter?"
"Hanya menghitung hari. Ia tidak bisa lagi bertahan karena kankernya makin menyebar. Imun tubuhnya menurun. Bahagiakan dia di saat-saat terakhirnya." Pinta dokter Robert.
"Bolehkah aku menemuinya dokter?"
"Nanti saja kalau tuan Evan sudah dipindahkan ke kamar inapnya. Berdoalah yang banyak. Mungkin ada keajaiban yang terjadi pada tuan Evan. Nona harus banyak bersabar dan persiapkan diri anda untuk sesuatu yang akan membuat Anda terguncang."
Dokter meninggalkan Yura yang tidak bisa berbagi kesedihannya saat ini. Beruntunglah dua mantan siswanya menghampiri Yura saat mendengar keadaan Evan." Miss Yura." Panggil Anabelle.
Yura menatap wajah cantik Anabelle yang saat ini sedang hamil." Anabelle, Sean. Kalian datang?"
"Maaf Miss, kami baru mengetahuinya dari asistennya tuan Evan. Bagaimana keadaannya?"
"Entahlah. Aku sangat takut untuk mengetahuinya. Aku hanya menginginkan suamiku saat ini. Aku sangat menyesal meninggalkannya...hiks...hiks...hiks!"
Anabelle memeluk mantan gurunya itu. Yura menangis seperti anak kecil saat ini. Tidak lama kemudian, Evan sudah di pindahkan ke kamar inap. Anabelle dan Sean menemani Yura dan mengingatkan ibu si kembar untuk makan. Yura tidak ingin menyentuh makanannya. Sean harus merayu mantan ibu gurunya ini berulang kali hingga Yura mau makan.
Di saat seperti ini, ada orang yang harus mendampingi Yura untuk memberinya kekuatan dan mengingatkan Yura untuk makan. Pukul dua dini hari, nyonya Kelly dan Riandra sudah tiba di LA. Mereka segera ke rumah sakit di mana Yura hanya ditemani oleh Sean karena Anabelle sedang hamil.
"Yura." Panggil Riandra yang membuat Yura kembali histeris. Riandra memeluk mantan istrinya ini sekaligus adik iparnya.
__ADS_1
Nyonya Kelly mendekati putranya yang terbaring lemah saat ini. Sementara Sean meninggalkan keluarga itu setelah pamit pada Riandra yang masih menenangkan Yura.
"Hei, jagoan mami! Apakah kamu sudah bosan dengan kami, hingga memilih untuk pergi secepat ini? mami kira kamu yang akan menemani mami saat mami akan meninggalkanmu dunia ini, kenapa sekarang malah kamu yang ingin pergi duluan. Kalau bisa ajak mami juga bersamamu. Evan...! Maafkan mami yang telah mengabaikan kamu hingga kamu melewati masa remaja mu seorang diri. Mami sangat mencintaimu, nak. Bukalah matamu sebentar saja! Apakah kamu tidak ingin melihat mami, hmm?" Suara nyonya Kelly terdengar parau menahan beban di hatinya yang begitu takut kehilangan putranya.