Suami Tangan Satuku

Suami Tangan Satuku
Kejutan Memalukan


__ADS_3

Daftar kejutan yang dimaksud Vina itu sedang dibaca ulang laporannya oleh Mandala.


Pria itu tertawa dengan wajah tersipu. Ia tidak menertawakan nominal milyaran yang harus ia bayar untuk isi wardrobe Amadea itu. Tidak! Ia menertawakan daftar belanjaan yang dibuat Vina.


Soal baju, tas, sepatu, jam tangan, perhiasan, dan lain-lain adalah hal mendasar yang ingin Mandala cukupi untuk calon istri kontraknya itu. Ia mau Amadea memakai barang-barang yang lebih mahal dari gaya sehari-hari Meirika. Tapi ada daftar khusus yang Vina usulkan di laporan pembelian itu yaitu : lingerie.


"Oh astaga!" Mandala berseru pelan saat menekan link katalog pakaian menggoda itu. Dengan cepat ia segera menutupnya kembali karena merasa malu sendiri melihat deretan pakaian menggoda itu.


Sebuah suara tawa pelan mengiringi senyum tipis Mandala Barata.


"Astaga Vina! Dea mungkin kesal saat tahu pakaian-pakaian seksi ini memenuhi isi lemarinya. Anak itu begitu polos. Aku bahkan tidak bisa membayangkan dia memakai...


Ah, tapi Dea cantik dan tubuhnya proporsional. Dia pasti akan cocok memakai... Astaga Mandala! Bersihkan pikiranmu yang kotor itu!" Mandala meneriaki dirinya sendiri dalam hati.


Untung saja tamu dari tim majalah bisnis yang hendak mewawancarainya itu segera datang ke ruangannya, jadi pikiran liar Mandala terhenti.


***


Sementara itu Dea yang tadinya hendak merebahkan diri di kasur empuk itu mengurungkan niatnya begitu ia membaca pesan kejutan dari Vina.


"Kejutan apa sih? Ada-ada aja." Dea tertawa lagi lalu mendadak merasa bersemangat untuk mencari kejutan yang dimaksud temannya itu.


Oh, mereka memang pantas disebut 'teman' walau Dea baru mengenal beberapa bulan saja. Vina dan Adit bisa dibilang teman dekatnya di kantor.


Bisa Dea ingat betapa anak-anak sekantor menatapnya dengan aneh begitu gosip pernikahannya dengan Mandala tersiar secara internal. Semua orang menatap sungkan bercampur merendahkan; kecuali Karen, Adit, dan Vina.


Ya, anak baru yang cengeng dan hobi menangis saat diomeli Pak Mandala itu akan menikahi Pak Mandala? Mereka jelas kaget.


Mereka pun jelas tahu tapi tutup mulut soal hubungan dan rencana pernikahan boss besar mereka itu dengan Meirika Jayatri. Makannya ketika gosip pernikahan itu santer terdengar, anak-anak kantor pasti sudah tahu Dea hanya pengantin pengganti.


Entah apa yang mereka gosipkan. Mungkin mereka menduga Dea dibayar. Atau mereka pikir Dea sekretaris baru yang gatal berhasil merebut Mandala yang berhati batu. Atau apalah itu, entahlah pendapat mereka. 


Tatapan itulah yang akhirnya membuat Dea tak protes saat Mandala menyuruhnya resign. Ia merasa seisi kantor sudah tidak bersahabat lagi dengannya.

__ADS_1


Adit dan Vina berbeda. Mereka tak menatap Dea dengan merendahkan. Mereka tak pernah bertanya soal gosip itu dan apa alasan Dea mau menikahi Mandala. Tapi mereka tampak senang-senang saja. Mereka pasangan suami istri yang tidak suka menghakimi.


Kalau Karen si sekretaris penggantinya itu memang tak menatapnya dengan tatapan penghakiman. Hanya saja ia lebih cuek dan tak peduli. Ia hanya memikirkan kerja, kerja, dan kerja. Ia tak terlalu peduli urusan orang lain.


Dea menghembuskan napas panjang. Ia penasaran dengan kejutan yang tak kunjung ia temukan itu. Ia pun memasuki pintu ruangan khusus yang Vina tunjukkan di foto tadi.


Klik!


Dan begitu Dea membukanya, ia hanya bisa tercenung  di depan pintu.


Lampu otomatis menyala dan wow... Terpantullah dengan indah lemari kaca berisi barang-barang branded impian para wanita glamour itu menjerit bahagia.


"Astaga! Perlukah semua ini? Ini seperti memindahkan satu toko di mall ke dalam kamar." Dea bergumam lalu menyusuri ruangan bermandikan cahaya lampu terang itu.


Saat meraba baju-baju yang tergantung dengan indah, Dea menemukan satu kertas memo tertempel di sebuah laci agak besar yang tertutup rapat.


"Ah, inikah kejutan yang disebut-sebut Vina itu?" Dea berseru penasaran.


Dea mengernyitkan alisnya dan segera menarik laci itu untuk mencari tahu apa isinya. Kenapa kata-kata Vina begitu membingungkan.


Dan... Srettt!


"Vinaaaaaa!"


Amadea Kasea berteriak tanpa sadar saat tahu laci khusus itu terisi penuh oleh aneka pakaian menggoda yang populer dengan istilah 'baju dinas istri'.


Dea secepat kilat menutup laci itu lagi dengan wajah memerah.


"Dea, kalian cuma menikah bohongan. Kalian bahkan tanda tangan soal aturan pembatasan kontak fisik. Kamu nggak akan pernah pakai baju itu. Jangan membayangkan hal konyol di kepalamu. Enyahkanlah pikiran kotormu itu hey!!!"


Drttt! Drttt!


Dan Dea yang masih ngos-ngosan karena syok sekaligus geli langsung mengalihkan perhatian dengan mengecek notifikasi handphone-nya yang barusan menyala.

__ADS_1


Sebuah pesan masuk dari Tante Eva ia buka. Dan dalam lima detik ekspresinya langsung berubah.


Berubah menjadi marah...


***


Tante Eva adalah pensiunan guru yang kini menderita stroke hingga kakinya sulit digerakkan. Walau hanya tetangga saja, tapi Dea mengenalnya sebagai sosok tante baik hati yang selalu memberinya kue buatan rumahan waktu ia kecil.


Amadea Kasea kecil juga sering lari kabur ke rumah Tante Eva ketika ibunya mengomelinya atau memarahinya.


Tante Eva bagaikan ibu peri baginya. Pun hingga sekarang, hubungan Dea dengan wanita tua itu masih erat.


Tante Eva sedang duduk di kursi rodanya di bawah pohon kersen samping rumah saat Dea menelponnya.


"Iya, Dea. Penglihatan Tante masih bagus. Mana mungkin Tante salah lihat. Kalau nggak percaya tanya aja sama Mbok Min. Tadi Mbok Min lagi dorong kursi roda Tante ke halaman samping waktu Tante lihat ayah tiri kamu itu masuk rumah."


Dari seberang panggilan telepon itu Dea terdengar menghela nafas panjang. Setengah menahan jengkel, setengah pasrah.


"Nggak bawa mobil. Naik taksi. Cuma sendirian dan bawa ransel. Kelihatannya kayak buru-buru gitu masuk rumah. Celingak-celinguk juga, mungkin takut ketahuan. Dea masih di kantor?" Tante Eva yang tahu betul masalah keluarga Dea terdengar ikut prihatin.


Ya, setelah tahu mamanya terlilit utang karena ulah ayah tirinya yang ia benci itu, Dea sempat bersimpuh di kaki tante kesayangannya itu karena ia tak tahu mau mengadu atau bercerita pada siapa.


Tante Eva tahu betul bagaimana perjuangan Dea merawat mendiang ayahnya sampai meninggal, lalu setelahnya menggantikan posisi sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah.


Tante Eva tahu betul bagaimana watak ibu Dea alias Riris Sayuti yang gemar foya-foya tapi dengan memeras uang hasil kerja Dea.


Tante Eva hanya tetangga. Yang ia bisa hanya menjadi pendengar yang baik bagi Dea.


"Jangan nangis, Dea Sayang. Mau Tante suruh Mbok Min buat ngecek ke rumah? Apa kamu telpon ibu kamu, deh. Coba cek dia jujur atau nggak soal Om Alik." Tante Eva memenangkan Dea yang menangis dengan sabar.


BERSAMBUNG ...


_____________

__ADS_1


__ADS_2