
Mandala terbangun oleh suara ketukan pintu kamarnya keesokan paginya.
Dengan mata setengah terpejam Mandala sedikit terkejut juga karena mendapati dirinya terbangun di sofa.
Ah, ya baru ingat dia. Semalam saat tak bisa tidur dan melihat pintu kamar Amadea sudah tertutup rapat, Mandala kembali ke kamar dan duduk di sofa. Tak disangka pikirannya yang mengembara kemana-mana itu akhirnya membawanya ke alam mimpi.
Pak Budi tampak berdiri di depan pintu dengan wajah agak panik.
"Bu Karen menghubungi Bapak dari pagi sekali tapi tidak ada jawaban. Bapak baik-baik saja?" tanya Pak Budi dengan wajah cemas.
Mandala mengangguk bingung. Ya, dia baik-baik saja. Memangnya kenap..
"Astaga! Jam berapa ini?" Mandala langsung panik sendiri. Bisa-bisanya ia lupa kalau hari ini hari pernikahannya.
Pak Budi hanya nyengir. Ia memang bukan sopir biasa, tapi kadang merangkap seperti asisten pribadi pria yang suasana hatinya tak mudah ditebak ini.
"Dea gimana?"Mandala bertanya panik padahal tadi sudah bergegas masuk kamar lagi. Ia berlari-lari kecil kembali ke menengok ke arah Pak Budi lagi.
"Bu Dea sudah diantar Pak Bayu sejak pagi sekali ke hotel. Kata Bu Vina nanti make up-nya lama jadi lebih baik pagi sekali ke sananya. Begitu." Pak Budi menjelaskan.
Mandala langsung mengangguk dengan tenang. Bisa-bisanya ia sekonyol ini dengan ketiduran. Kemana Mandala yang selalu on time dan perfectionist dalam segala hal?
Mandala hanya butuh beberapa menit untuk bersiap sebelum akhirnya duduk manis di jok penumpang. Pak Budi menyetir ke hotel dengan lega.
Di perjalanan, Mandala tentu baru sempat membuka handphone-nya dan menemukan beberapa panggilan tak terjawab memenuhi kotak notifikasinya.
Terlihat Karen menghubunginya tiga kali. Vina juga sama. Artinya Mandala sudah separah itu ketiduran.
__ADS_1
Padahal semua orang yang bekerja untuk Mandala pun tahu kalau Mandala akan marah jika ada orang yang meneleponnya sembarangan di nomor pribadi, kecuali untuk urusan yang sangat-sangat darurat.
Lalu Karen dan Vina menelponnya lebih dari satu kali pagi ini, artinya mereka panik.
"Dea nggak nelpon Pak Budi atau Bu Lulu? Dia nggak nelpon dan nyari saya ya pagi ini?" gumam Mandala sambil bertanya pada Pak Budi yang sibuk menyetir.
Pak Budi menggeleng. "Nggak, Pak. Bu Dea berangkat pagi sekali dijemput Bu Vina. Saya pikir Bapak akan bangun dan menyusul setelahnya. Tiga jam Bapak tidak mengangkat telepon dan kami panik sampai akhirnya saya nekat mengetuk pintu."
Dan Mandala hanya bisa termenung. Apa Dea tidak panik karena ia sempat tak bisa dihubungi tadi? Tiba-tiba ada sedikit perasaan kecewa di hatinya.
"Ya, aku kan bukan calon suami yang ia inginkan sungguhan. Aku bukan pria impiannya. Sedekat apapun kita kemarin seharian berbagi cerita rahasia, trauma, sambil menangis bersama; bagi Dea aku hanya boss yang membayarnya demi pernikahan palsu ini.
Kalau kemarin dia terlihat peduli pada cerita hidupku, mungkin dia hanya kasihan." Tiba-tiba pikiran itulah yang terbersit di hati kecil Mandala. Ia merasa sedikit kecewa namun ia sadar diri setelahnya.
Mobil melaju cepat, seperti perasaan Mandala melaju cepat melintasi pikiran-pikiran bingungnya soal Amadea dan perasaannya sendiri.
***
Amadea tampak gusar. Beberapa jam lagi akan menikah, masak nggak boleh tegang. Bisa-bisanya Vina sesantai itu.
Ditambah lagi tadi Mandala tak bisa dihubungi. Bagaimana bisa ia bersikap tenang? Belum lagi DM terbaru Meirika yang baru sempat ia cek sekilas tadi pagi mengganggu pikirannya. Gimana pikirannya bisa santai?
Amadea menatap cermin dan mendapati pantulan wajah cantiknya berbalut make-up sempurna. Oh, apa ia bahagia?
"Dea, senyum ya. Jangan tegang. Fotographer dan videographer butuh dokumentasi. Semenit lagi dia akan datang." Vina memberi instruksi.
Dea mengangguk pasrah. Ya, Vina dan Karen berbagi tugas. Vina bertanggung jawab atas Dea dan segala urusan mempelai wanita; lalu Karen bertanggung jawab atas venue acara, para tamu undangan, media, vendor, dan tentu saja yang terpenting dari tugas ini adalah ia harus mengurus Mandala.
__ADS_1
Cekrek! Cekrek!
Amadea merasa bagaikan badut saat ia tersenyum di depan kamera. Ia merasa palsu.
"Dea, kamu terlalu berharap banyak pada Mandala. Buang perasaanmu itu. Mandala bahkan ketiduran di hari pernikahannya. Sedangkan semalam kamu begitu gugup hingga tak bisa tidur. Sungguh tidak sebanding, kan?
Kamu hanya pengantin pengganti. Sadar diri, Dea! Sadar!" Suara dalam hati Amadea bergema di antara lamunannya dan bibirnya yang terus ia paksa untuk tersenyum ke arah kamera.
Vina menunggunya dengan wajah sumringah. Sebagai seorang teman, ia merasa bahagia atas pernikahan ini. Ia tak tahu saja isi hati Dea yang kacau dan bersembunyi di balik senyum palsu itu.
"Bu Vina, keluarga mempelai perempuan dimana? Kami juga butuh untuk mengambil gambar dokumentasi." Suara para tim dokumentasi itu membuyarkan lamunan Dea.
Dea bisa melihat dengan jelas wajah sumrigah Vina berubah menjadi panik. Ya, Vina tahu dari cerita Dea kalau ibunya yang merupakan satu-satunya keluarganya tak mau datang ke pernikahan ini.
"Mmm, nggak perlu. Nggak usah. Itu privasi keluarga. Kalian sudah selesai kan mengambil gambar?" tanya Vina dengan nada seperti mengusir dengan halus.
Sepeninggal para kru dokumentasi itu, Dea hanya bisa termenung. Vina menatapnya dengan perasaan bersalah. Walau tak tahu apa masalahnya secara detail, tapi Vina tahu hubungan Dea dan ibunya memang tidak baik-baik saja.
"Ibu serius nggak bisa datang?" tanya Vina.
Amadea mengangguk.
"It's okay, Dea. I'm here. Jangan sedih. Dari kujemput tadi, kamu kelihatan murung terus. Ada tamu undangan yang merupakan orang penting dan beberapa media. Kamu harus banyak senyum. Aku tahu nggak mudah pura-pura bahagia, tapi ini tuntutan sebagai istri orang penting macam Pak Mandala, Dea," ucap Vina lagi penuh pengertian.
Dea diam saja dan hanya bisa mengangguk pelan. "I'm okay, Vin. Cuma tegang sedikit."
Padahal Dea tidak hanya murung karena Mandala yang sempat tak bisa dihubungi padahal mereka serumah, tapi Dea murung sejak pagi setelah mengecek DM dari Meirika yang cukup membuatnya terkejut.
__ADS_1
Sebenarnya apa isi DM Meirika itu?
BERSAMBUNG ...