
Meirika awalnya tampak santai menenggak minumannya lalu kembali sibuk dengan handphone-nya.
"Kamu bilang si Dea-Dea itu bukan tipe orang yang aktif di sosial media. Katanya terakhir kali mengaktifkan akunnya saja beberapa minggu yang lalu. Kemarin aku mau kirim DM permintaan maaf kamu bilang jangan dulu. Gimana sih Maya kamu ini..."
Dan mulut Meirika yang berlipstik merah cerah itu langsung terkatup. Tangannya yang tadi bergerak lincah di atas layar handphone-nya juga mendadak berhenti.
Maya yang mengamati dari kejauhan perlahan berjalan mendekat dengan wajah penuh curiga.
"Meirika Jayatri! Jangan bilang DM kamu yang isinya mengerikan itu sudah dia baca!" Maya tahu-tahu langsung berdiri di samping Meirika dengan wajah putus asa.
Meirika nyengir lalu terduduk dengan lemas.
"Udah dibuka May sama dia. Kelihatannya juga sudah dibaca juga, May. Aku harus gimana dong," ucap Meirika yang tiba-tiba pucat.
Ia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Dea menyebar isi DM makiannya itu ke publik. Makin buruk image-nya sebagai pemeran protagonis baik hati yang dipuja para fans-nya. Wajah kalem tak sesuai kenyataan aslinya.
"Mana lihat!" Maya tanpa basa-basi langsung merebut handphone Meirika.
Meirika diam saja dan membiarkan handphone-nya berpindah tangan. Ia sedang berpikir keras harus berbuat apa. Padahal rencana kehamilan palsu sudah di depan mata. Jangan sampai kacau karena perbuatan konyolnya ini.
Maya menarik napas panjang dan menatap Meirika dengan sebal. "Kamu bisa akting nangis?" tanyanya tiba-tiba.
Meirika mengangguk dengan bingung sambil menatap managernya itu.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya.
Maya lalu mengembalikan handphone Meirika dan berkacak pinggang sambil kepalanya semi menengadah ke atas. Ia tampak berpikir keras.
"Kamu rekam suara kamu sambil nangis-nangis terus kirim voice note itu lewat DM ke Dea. Kamu nangis-nangis bilang kemarin lupa diri waktu DM karena terlalu hanyut sama perasaan kecewa begitu tahu Mandala akan menikah dengan wanita lain.
Kamu bilang juga kamu lagi kalut karena urusan kamu dengan Mandala belum selesai tapi Mandala malah menghindar dan susah ditemui. Intinya kamu kasih sedikit kode atau clue lah untuk kehamilan palsu kamu nanti. Bisa?" Maya menatap Meirika yang kini mulai paham maksudnya.
Meirika mengangguk-angguk. Ah, memang tak salah pilih dia. Maya bukan sekedar manager saja, tapi otaknya bisa membuat Meirika punya solusi dari banyak masalah yang ditimbulkannya dari tindakan bodohnya sendiri.
Kalau Maya bukan managernya, sudah dari kemarin Meirika diboikot publik karena ia sempat memposting candaan tak pantas soal kematian rekan sesama artisnya. Maya menyelesaikan masalah itu dengan bilang kalau akun Meirika dibajak oleh haters dan sedang dipulihkan.
Maya memang banyak akal. Seimbang lah dengan Meirika yang membuat akal Maya harus bekerja keras tiap hari karena kelakuan ajaibnya.
"Oh, aku tambah sedikit-sedikit lagi kali ya clue soal kehamilanku. Biar nanti misalnya Mandala tak mau mengakui bayinya, Dea akan terenyuh karena pernah mendengarkan aku menangis dalam keadaan kalut dan bingung." Meirika makin encer otaknya.
Maya tidak mengiyakan atau menolak ide ini. Ia masih menyimak sambil berpikir.
"Maya, aku baru ingat. Aku pernah interaksi sama Dea Dea itu, kok. Dulu sih waktu aku diam-diam menemui Mandala di kantornya. Tapi kusimpulkan Dea itu memang kalem, kelihatan baik, dan tulus. Kita manfaatkan dia aja gimana?" Meirika yang tadinya panik tiba-tiba punya ide.
Maya jelas langsung melirik tak yakin. 8 dari 10 ide yang keluar dari mulut Meirika biasanya selalu tak masuk akal.
"Maksudnya manfaatin dia gimana?" Maya bertanya.
__ADS_1
Meirika mengangkat bahu. "Ya entah apa hubungannya sama Mandala di balik pernikahan mencurigakan ini, tapi aku yakin Dea dekat dengan Mandala. Dea pasti akan merasa bersalah kalau aku hamil anak Mandala dan Mandala justru menikahinya. Iya, kan?"
Maya mengernyitkan alis. Ia mengangguk-angguk kecil. Iya juga, sih. Sejauh ini dari penyelidikannya yang serba minim untuk mencari tahu soal Dea, diketahuinya Dea adalah sosok lembut berhati tulus.
Maya yakin Dea pasti akan menaruh simpati pada Meirika kalau tahu Meirika hamil anak Mandala. Bahkan gadis itu mungkin rela membatalkan pernikahannya dengan Mandala agar Meirika balikan dengan Mandala.
Maya tersenyum simpul begitu menyadari fakta ini. Ia sangat yakin Dea adalah tipe wanita yang rela berkorban.
"Oke. So Meirika, nangis-nangisnya sekedar kode-kode tipis aja sekarang. Soal ngasih tahu kalau kamu hamil anak Mandala, itu nanti saja. Pastikan setelah pernikahan mereka sah. Baru kita susun plan B saja.
Kita nggak ngasih tahu Mandala dulu, tapi kita tunggu respon Dea soal DM kamu. Kalau kita sudah bisa membaca hati gadis itu, baru kita susun langkah selanjutnya. Jangan gegabah. Kupikir kalau keadaannya mendukung, lebih baik kita beritahukan isu kehamilan palsu kamu ini lewat Dea. Itu lebih efektif. Aku yakin Dea sendiri yang akan mmeberi tahu Mandala," ucap Maya.
Meirika mengangguk setuju lalu dua wanita licik itu mengambil minuman dan saling 'toss' untuk merayakan rencana cemerlang mereka.
"Oke, aku akan bangun emosi sedihku malam ini dan berakting menangis. Aku akan merekamnya dengan serius untuk Dea. Akan kubuat dia percaya aktingku yang keren ini," ucap Meirika lalu ia minum lagi.
Gelak tawa terdengar di apartemen bergaya modern itu.
Di malam yang sama Maya dan Meirika masih minum-minum sementara Mandala tak bisa tidur dan hanya bisa berguling ke kiri dan kanan di atas kasurnya. Wajahnya terlihat muram.
Apakah ia gugup karena akan menikah besok?
Apakah pernikahan besok akan berjalan dengan lancar?
__ADS_1
BERSAMBUNG ...