
"Dea? Jawab saya!" Mandala yang beberapa menit yang lalu masih menunjukkan sisi lemahnya dengan wajah sedih itu kini terlihat marah.
Bisa Amadea bayangkan kalau dia jujur soal pesan teror Meirika, akan seperti apa kemarahan Mandala.
Sudahlah, besok toh mereka akan menandatangani dokumen pernikahan dan melakukan prosesi sederhana untuk mengesahkan hubungan ini. Jadi lebih baik abaikan Meirika.
"Bilang tidak, ya? Dia cuma kirim DM. Akunnya bisa kublokir kalau aku merasa makin terganggu. Sejauh ini aku masih tahan jadi ya sudahlah." Pikir Dea dalam hati lalu kepalanya otomatis menggeleng cepat.
"Serius nggak? Pokoknya kamu bilang ya kalau dia neror kamu. Meirika orang yang sangat nekat. Dia neror saya, resepsionis kantor, sampai neror Karen." Mandala mengusap dahinya.
Suasana menjadi cair lagi.
Mandala seperti merasa sudah lega setelah mengungkap semua ini. Dan entah mengapa topik pembicaraan yang tadinya serius penuh keharuan berubah menjadi membahas Meirika.
"Dia minta balikan?" Amadea bertanya pelan.
Mandala tertawa pelan lalu mengangguk.
"Project film dia dibatalkan. Dia mungkin nggak tahu kalau aku punya saham di PH itu. Jujur saja aku nggak bilang apa-apa sama produsernya, tapi dia yang tahu aku gagal menikah dengan Meirika sepertinya menebak alasannya.
Meirika ditendang dari project. Omongan di kalangan mereka tentu juga sudah simpang siur. Meirika mungkin tidak tahu kalau saya juga punya saham di beberapa stasiun TV swasta. Pemilik TV itu beberapa teman akrab papa saya dulu.
Kamu ingat kan cerita saya barusan soal papa saya dan segala usahanya untuk membangun bisnis yang hampir bangkrut itu? Koleganya banyak. Dan setelah dia meninggal, para kolega itu masih baik sama saya. Mereka menganggap saya sama seperti papa saya.
Jadi soal Meirika yang terkucilkan, mereka melakukan sendiri dalam diam tanpa saya pernah minta. Saya kode pun tidak. Saya benar-benar menutup diri dan hanya berurusan soal bisnis sama mereka. Saya bukan tipe orang yang memanfaatkan kekuasaan untuk menghancurkan orang."
Mandala mulai lagi dengan 'saya-kamu' nya.
Amadea mengangguk-angguk saja. Lalu mata bening itu bertemu dengan mata Mandala yang kebetulan menatapnya. Bukannya canggung atau membuang muka seperti biasa, tapi kali ini Mandala tertawa. Amadea ikut tertawa.
"Dea, saya nggak tahu di dalam hati kamu semuak apa dari tadi mendengarkan saya bicara banyak hal begini dari kisah pribadi yang rahasia sampai ngomongin Meirika. Sorry. Tapi saya benar-benar nyaman bicara sama kamu," ucap Mandala sambil tersenyum.
Sungguh manis senyumnya. Bisa dimaklumi kalau Amadea yang awalnya tak punya perasaan apa-apa selain benci dan kesal padanya sekarang jadi berdebar-debar macam orang jatuh cinta.
"Mulai sekarang dan seterusnya, telinga saya milik kamu. Kamu bisa bicara apa saja dan saya akan dengarkan. Kamu cuma butuh pendengar." Amadea ikutan 'saya-kamu' tanpa sadar.
Mandala tampak agak tersipu. Ia tak menyangka Dea bisa bicara semanis ini sambil menatap matanya secara langsung.
__ADS_1
"Jadi serius kamu nggak takut sama saya setelah tahu semua latar belakang keluarga saya? Mereka mungkin lebih jahat dari yang saya sendiri tahu, Dea. Saya masih kecil waktu itu," ucap Mandala lagi dengan wajah jadi sedikit muram lagi.
Amadea mengangguk yakin.
"Yang penting kamunya nggak jahat. Saya justru merasa tertolong. Bukan cuma soal utang ibu, tapi pernikahan ini juga membuat saya punya tempat untuk lari. Saya pengin lari dari ibu saya sejenak. Saya juga bisa dibilang anak kurang ajar." Dea mengatakannya sambil tertawa.
Mandala ikut tertawa.
Ya, dua kepala dengan dua masalah hidup yang berbeda bertemu dan saling bersandar satu sama lain. Kalau dipikir ini sedikit lucu, tapi itulah takdir.
"Jadi saya akan tepati janji. Kita ke makam ayah kamu? Bagaimana pun sebagai calon suami, saya harus meminta restu pada calon mertua." Mandala berkata pelan.
Amadea tersenyum lalu menunduk agak tersipu.
Oh, andai ayahnya masih ada. Pasti pertemuan mereka di resto minggu lalu akan berlangsung hangat. Bukan tegang dan dingin macam kemarin. Terlebih Amadea sangat yakin pria manapun yang ia pilih pasti akan disambut hangat oleh ayahnya.
Dan ayahnya tidak akan menghina kecacatan tangan Mandala, apalagi mencela di depan orangnya langsung.
Amadea jadi kesal lagi karena ingat kelakuan ibunya kemarin.
"Saya lupa bilang ya. Makam ayah saya di luar kota. Harus lewat tol dan setengah jam perjalanan lagi. Nggak terlalu jauh juga, sih. Beliau ingin dimakamkan di tanah kelahirannya, di dekat makam orang tuanya dulu.
Mandala mengangguk-angguk.
"Kamu sudah sempurna tanpa perlu repot-repot. Kamu tidak usah gugup memikirkan besok. Kamu pasti akan menjadi perempuan paling cantik di acara itu. Kamu ratunya." Mandala yang dengan Meirika dulu pun datar-datar saja tak sadar kalau barusan mulutnya manis sekali memuji hingga membuat Amadea tersipu.
'Kamu sudah sempurna' adalah kata-kata tak lazim yang membuat jantung Dea berdebar lebih cepat.
'Kamu ratunya.' Hah! Siapa yang bisa biasa saja setelah mendengar kata-kata semanis itu?
Apa barusan itu kata-kata rayuan? Oh, sekalipun itu kata-kata basa-basi saja, tetap saja tidak bisa lewat begitu saja di telinga. Dea merasa hatinya melaju seperti roller coaster.
Lalu di sepanjang perjalanan pulang meninggalkan rumah kosong itu, Pak Budi makin sering melihat kaca spion. Sopir sekaligus orang kepercayaan Mandala itu mungkin heran kenapa dua orang majikannya yang duduk di kursi penumpang itu tersenyum-senyum sendiri sambil tersipu begini tapi di sisi lain juga saling diam.
"Sejam lebih di rumah kosong itu mereka ngapain, ya?" Pak Budi yang tahu Mandala dengan segala kekauannya mencoba menghalau pikiran yang tidak-tidak soal boss-nya sendiri.
"Ah, dengan Bu Meirika yang artis saja Pak Mandala nggak pernah begini. Masak sama mantan sekretaris-nya yang biasa dia galakin dia jadi malu-malu kucing begini. Ah, masak sih Pak Mandala jatuh cinta?"
__ADS_1
Pak Budi yang hanya bisa membatin dalam hati tak sadar ikut tersenyum-senyum sendiri.
"Kenapa, Pak? Kok senyum-senyum?" Tiba-tiba wajah Mandala muncul di pantulan spion dengan mode galak.
Pak Budi kelabakan dan hanya bisa menjawab, "Anu, Pak. Anu... mmm ng--nggak papa."
Amadea hanya bisa menahan senyum.
Oh, apa perasaan yang sama kini telah resmi bersemayam di hati mereka masing-masing? Hanya waktu yang bisa menjawab.
***
Sementara Amadea yang didampingi Vina itu sedang berdiskusi soal tatanan rambut dan make up untuk acara pernikahan besok, Meirika dan manager kesayangannya itu justru sedang membuat trik licik.
"Urusan dokter dan rumah sakit udah beres. Awas ya sampai gagal! Aku udah mengambil resiko besar, Mei. Eksekusinya tergantung akting kamu. Intinya aku nggak mau tahu, Mandala harus yakin kamu hamil anaknya!" Maya kini bisa berkata agak santai.
Seperti biasa mereka sedang bersantai di apartemen Meirika.
"Beres. Gampang lah itu! Tapi menurut kamu bisa nggak sih aku posting sesuatu di akunku. Ya walau aku yakin nggak bisa ngalahin trending topik soal pernikahan dadakan Mandala dan Dea, setidaknya aku meninggalkan jejak." Meirika meninggal minumannya lalu mengambil handphone.
Mata Maya sudah menatap tajam. Meirika dan handphone adalah kombinasi mematikan. Anak itu bisa membuat hal bodoh terjadi lewat akun sosial medianya kalau emosinya sedang tak stabil.
"Jangan aneh-aneh. Posting apa? Jejak apa? Sudah aku bilang jangan posting apa-apa dan menghilanglah sementara. Foto viralmu di club aja masih jadi bahan hujatan sampai detik ini," komentar Maya.
Meirika menatap managernya penuh keseriusan. Ia punya ide bagus. Ya, setidaknya menurutnya bagus.
"Mandala menikah besok. Aku akan buat kode postingan soal patah hati, dikhianati, disakiti. Habis itu aku janji nggak akan posting apa-apa. Aku kan nggak nyebut nama. Aman, dong?
Biar orang-orang menebak apa yang terjadi dan kata-kata itu ditunjukkan untuk siapa. Aku ingin Mandala tahu aku bisa bersuara di depan pengikut akunku yang banyak. Aku punya power, May! Aku artis. Iya, kan?" Meirika mulai sibuk mengetik.
Maya tampak ragu. Ia tahu sekarang Meirika akan menuruti apapun perintahnya. Kalau ia bilang tidak, maka Meirika tidak akan melakukannya. Kalau Maya mengiyakan, maka Mereka baru melakukan.
"Mei..." Maya terdengar sedang menimbang.
"Apa?" Meirika masih terlihat asyik mengetik.
"Sebelum salah langkah lagi, coba cek dulu apa Dea baca DM kamu kemarin itu..."
__ADS_1
BERSAMBUNG ...