
"Nggak ngerepotin, kok. Loh, Dea pindah? Hah, nikah? Astaga, selamat ya, Sayang. Tante kaget. Iya, kita belum sempat ketemu sejak Tante baru balik dari rumah anak Tante di luar kota. Iya, semoga semua lancar." Tante Eva terdengar terkejut mendengar kabar Dea.
Dea masih kedengaran menangis sesenggukan sambil bicara dengan Tante Eva lewat telepon.
Tante Eva tampak manggut-manggut dengan prihatin. Wajahnya ikut sedih bercampur senang mendengar cerita Dea.
"Yaudah kalau gitu. Tante nggak usah suruh Mbok Min ngecek ke rumah kamu, ya. Dea yang kuat, ya. Fokus dulu sama pernikahan kamu. Kan tinggal beberapa hari. Soal Om Alik, ya mau gimana. Kalau kamu ke sini langsung malah nanti ramai lagi. Kamu malah berantem lagi sama ibu kamu.
Sabar, ya. Iya biar Tante awasin dari sini. Ibu kamu memang benar-benar, ya. Jangan dikirimin uang aja biar dia bisa berpikir sendiri. Bisa-bisanya mengorbankan anak sendiri demi laki-laki yang baru dikenal. Tukang tipu lagi.
Dea jangan nangis. Pengantin nggak boleh nangis. Andai Tante kakinya nggak sakit, pasti Tante temani Dea dan datang di pernikahan Dea. Jangan nangis, Sayang..."
***
Dea mengakhiri panggilannya dengan Tante Eva lalu mengusap air matanya. Ia lalu terduduk di sofa dekat kaca lebar tempat mengepas pakaian. Tubuhnya mendadak lemas.
Ya, Dea masih menangis.
Menangis karena kecewa.
Pantas ia diusir. Ternyata ibunya mau memasukkan lelaki yang ia benci itu lagi ke rumah. Rumah peninggalan ayahnya yang hampir disita bank karena ulah ayah tirinya yang tak tahu diri itu.
Bisa-bisanya...
"Dea capek, Bu. Capek menghadapi semua kelakuan Ibu yang nggak pernah ngertiin balik perasaan Dea. Kalau Dea memberontak sedikit aja karena capek, Ibu selalu bilang Dea anak durhaka.
Kayaknya Pak Mandala tiba-tiba nawarin nikah kontrak ini bukan suatu kebetulan. Anggap aja ini pelarian buat aku dari semua rasa lelah menghadapi Ibu. Dea bukannya benci menjadi anak Ibu. Bukan. Dea cuma capek.
Biarin Ibu mau sesuka Ibu. Biarin Ibu mau tampung lelaki penipu nggak tahu diri itu lagi. Biarin. Biarin aku nggak peduli. Aku capek..."
Dea bicara sendiri seolah di depannya ada ibunya. Ia tentu bicara sambil menangis hingga ketiduran di sofa itu.
Ya hawa sejuk ruang wardrobe mewah barunya itu mendukung rasa lelah dan sedihnya untuk menangis hingga ketiduran.
Dan Amadea Kasea meringkuk seperti anak kucing yang malang beberapa menit kemudian.
***
Sementara itu di rumah peninggalan mendiang ayah Dea yang banyak kenangan masa kecilnya itu...
__ADS_1
Riris Sayuti sedang memotong pizza yang barusan ia pesan ke rumah. Alik tampak makan dengan lahap. Riris menatapnya dengan tatapan senang.
"Makan lagi, Melisa. Habisin. Tadi Ibu udah makan. Aduh kalian ini kayak nggak makan seminggu aja. Udah, mulai sekarang kalian aman tinggal di sini." Riris Sayuti menyodorkan satu potongan pizza lagi ke mulut Melisa yang masih penuh sesak oleh kunyahan pizza.
Alik mengangguk lalu minum. Ia tampak senang.
"Tapi aku takut anakmu itu pulang lalu mengamuk lagi waktu lihat aku." Alik menatap Riris Sayuti yang sampai sekarang masih berstatus sebagai istrinya itu dengan tatapan minta dikasihani.
Riris Sayuti menuangkan minum lalu tertawa.
"Ya nggak, lah. Dea pulang ke rumah suaminya. Suaminya cacat. Habis kecelakaan dan tangannya diamputasi. Anak itu pasti repot ngurusin suaminya nanti. Suaminya kayaknya juga tipe posesif. Buktinya Dea disuruh berhenti kerja setelah menikah." Riris menyodorkan gelas minum untuk Melisa.
Alik terdengar terkejut.
"Hah? Jadi Dea udah nggak kerja? Terus utang kita gimana? Biaya hidup kamu gimana?" Alik si parasit tak tahu diri kelihatan panik.
"Tenang. Suaminya Dea janji bakalan ngasih Dea uang khusus setiap bulannya untuk angsur utang. Soal biaya hidup aku kan dari uang pensiun ayah Dea. Selama pernikahan kita belum didaftarkan secara resmi, aku masih dapat uang pensiun, Mas.
Udahlah, Mas Alik tenang aja. Yang penting Mas buktiin ke Dea kalau bisnis Mas berhasil dan bisa bangkit setelah ditipu.
Biar aku yang urus Melisa di rumah kalau mamanya mau ikut suaminya ke luar negeri. Yang penting uang kuliah Melisa ditanggung mamanya, kan? Suaminya kan bule, pasti uangnya banyak." Riris Sayuti berkata dengan santainya.
Mama Melisa janji akan mengirim uang diam-diam sebisanya. Tapi janji kan hanya janji saja. Bisa saja ingkar kalau suami bulenya itu galak dan mengawasinya dengan ketat.
"Iya itu gampang. A--aku lagi merintis bisnis baru sama temanku. Kantornya dekat sini. Doakan Mas ya semoga lancar dan bisa lunasi hutang kita," ucap Alik berbohong.
Mana ada bisnis baru. Di kantor temannya ia tidak bekerja, tapi numpang tidur karena tak punya tempat tinggal.
Alik memang bermulut manis. Ia bergaya perlente seolah pengusaha betulan. Gayanya sok kaya. Makannya Ibu Dea yang matrealistis ini gampang tertipu. Ia pikir Alik betulan pengusaha kaya. Mana ia tahu nyatanya Alik hanya duda miskin yang diceraikan mantan istrinya karena malas bekerja.
Mereka asyik makan sambil bercanda ria tanpa memikirkan Dea sama sekali. Bagi mereka ketidakadaan Dea di rumah itu adalah sebuah keuntungan.
Riris dan Alik masih asyik menikmati pizza sedangkan Melisa yang sudah kekenyangan tampak sibuk dengan handphone-nya.
"Ris, ngomong-ngomong Dea kok menikah dadakan. Terus suaminya itu siapa? Anak itu biasanya takut sama kamu, kan? Kok sekarang malah jadi penurut sama calon suaminya itu. Disuruh resign dari kantor juga nurut aja lagi. Kaya nggak suaminya?" Alik bicara dengan entengnya soal Dea.
Riris Sayuti menelan pizzanya lalu menggeleng.
"Udah aku bilang kan Mas kalau suaminya itu cacat dan Dea disuruh ngurusin dia. Nggak tahu deh pokoknya waktu aku larang anak itu bilang dia nggak peduli. Dia akan tetap menikah. Dea ngancam akan stop bantu bayar utang kalau kutentang pernikahannya jadi aku nurut aja.
__ADS_1
Soal suaminya kaya atau nggak, aku kurang tahu. Tapi dia teman sekantor Dea. Mungkin agak punya jabatan soalnya dapat fasilitas sopir. Kemarin aku ketemu. Orangnya kelihatan agak serem, tapi ya lumayan ganteng. Ah, apalah artinya ganteng tapi cacat." Riris Sayuti tampak mencibir.
Alik manggut-manggut saja.
Ah, bodo amat soal suami Dea. Kan yang penting ia bisa numpang hidup sementara di sini tanpa bertengkar dengan anak tirinya itu, batinnya.
"Aku nggak ngundang siapa-siapa, Mas. Malu. Pasti teman-temanku mengira Dea hamil duluan karena nikah mendadak. Mending aku diam-diam aja. Tinggal beberapa hari acaranya.
Dea juga bilang kalau aku malas datang, nggak usah datang nggak papa. Nggak tahu deh anak itu sekarang kok berani melawan aku. Mungkin karena pengaruh calon suaminya itu. Mas sih nggak di sini. Jadi nggak ada yang belain aku waktu Dea ngelawan." Riris mulai tampak mengeluarkan jurus manjanya.
Entah apa yang ia lihat dari sosok Alik ini sampai ia yang belum lama ditinggal mati suaminya bisa memutuskan menikah lagi dengan lelaki itu.
"Aduh, Ris. Kamu nggak inget waktu akhirnya Dea tahu usahaku bangkrut dan penagih itu teror kita ke sini? Kamu nggak ingat Dea ngamuk kayak apa dan ngancam mau laporin aku ke polisi.
Jujur aja walau kelihatan kalem, anakmu itu menakutkan kalau lagi marah. Ya aku kabur lah daripada dilaporkan beneran." Alik menyuap pizza lagi setelah bicara.
Riris Sayuti hanya nyengir. Ya, ia ingat kejadian waktu itu. Hari itu untuk pertama kalinya seumur hidupnya, Riris melihat putrinya begitu marah.
"Ibu nikah lagi aku diam! Ibu minta semua yang gajiku aku diam! Tapi sekarang Ibu kasih sertifikat rumah hasil kerja keras ayah untuk jaminan utang suami baru Ibu? Kok bisa-bisanya Ibu bertindak seceroboh itu?
Om Alik itu penipu. Dea laporin dia ke polisi, ya. Dea nggak peduli! Ceraikan dia, Bu. Dea nggak mau lihat dia lagi di rumah ini. Ini rumah ayah! Laki-laki penipu itu nggak berhak menginjakkan kakinya di rumah ini!"
Dan Riris Sayuti yang entah hatinya sudah mati atau apa hanya bisa diam waktu itu. Ia tak menunjukkan wajah menyesal sama sekali. Ia bahkan sempat menyuruh Dea saja yang keluar dari rumah kalau tak suka dengan Om Alik.
Itulah yang membuat Dea tak habis pikir. Entah apa yang merasuki ibunya.
Melisa yang asyik dengan handphone-nya sambil mengunyah remah-remah pizza tiba-tiba tersedak.
"Aduh, makannya pelan-pelan, Melisa." Riris Sayuti menyodorkan minum. Oh, ia bahkan bersikap lebih manis pada Melisa dibandingkan dengan Dea putri kandungnya sendiri.
"I--iya, Bu." Melisa menjawab terbata sambil menepuk-nepuk dadanya.
Melisa tak sadar saja kalau handphone-nya yang ia taruh di meja ketika ia tersedak itu sedang menampilkan sebuah berita gosip di linimasa sosial medianya.
[[ "Pengusaha Mandala Barata dikabarkan akan melangsungkan pernikahan beberapa hari lagi." ]]
[[ "Amadea Kasea, sosok misterius calon suami Mandala Barata." ]]
Layar handphone Melisa masih menampilkan berita itu...
__ADS_1
BERSAMBUNG...