Suami Tangan Satuku

Suami Tangan Satuku
Permintaan Sulit


__ADS_3

Semilir angin menerbangkan anak rambut Amadea. Mandala memandangi wajah cantik yang tampak sedih itu.


"M--maaf, Mas. Saya agak nggak fokus." Amadea mengakui.


"Masih kepikiran ibu kamu sama bapak tiri kamu? Atau kamu masih merasa asing di rumah ini dan jadi nggak bisa tidur?" Mandala berusaha menetralkan suasana. Pokoknya ia ingin Dea tak membahas soal percakapan yang tak selesai tadi soal trauma masa kecil.


Dea menggeleng lalu masih diam. Sejujurnya ia bingung memulai pembicaraan untuk minta maaf soal tadi.


"Atau kamu gugup soal pernikahan? Oh ya, sepertinya wawancara saya sudah rilis di media online. Publik sudah mulai mencari tahu soal kamu sebagai calon istri saya. Kamu ingat kan kemarin sudah saya singgung soal sosial media kamu? Kalau tak nyaman kamu bisa tutup akun sementara." Mandala terus bicara sementara Dea masih kehilangan kata-kata.


Hening lagi karena Dea hanya menanggapi dengan anggukan sejak tadi.


"Mas, s--saya mau minta maaf soal pertanyaan tadi. Saya tahu saya lancang dan saya menye..."


"Ngapain kamu minta maaf. Saya nggak papa." Mandala memotong dengan cepat.


Ah, benar, kan. Dea pasti merasa bersalah. Mandala membatin dan melihat mata tulus Dea menatapnya dalam-dalam.


Hening lagi.


Keduanya mungkin belum menemukan ritme komunikasi yang sama. Hubungan komunikasi mereka sebelumnya kan antar boss dan sekretaris saja. Yang mana dominasi komunikasi tersebut adalah omelan Mandala.


Sekarang komunikasi dua arah yang lebih intens, ditambah sikap Mandala yang lebih lembut padanya agak membuat Dea bingung juga.


"Saya menutup diri dari banyak orang soal masa kecil dan masa lalu saya. Terutama soal keluarga. Saya menyimpannya dalam ranah privat. Tidak ada jejak digital wawancara atau apapun yang membahas masalah itu.


Dea, ke depannya walau pernikahan ini hanya sandiwara, tapi kita akan dekat secara emosional karena keharusan. Karena kita satu rumah, karena kita akan sering bicara.


Saya tahu kamu tulus dan bukan perempuan jahat. Tapi saya hanya butuh waktu untuk terbuka." Mandala berkata panjang lebar.


Amadea menatap mata dalam pria itu. Oh, betapa senangnya andai sejak dulu Mandala selembut ini bicaranya.


"Besok ikut saya ke makam orang tua saya. Lalu akan saya bawa kamu rumah lama saya di daerah dekat sana. Rumah itu masa kecil saya. Di sana dulu Rafael sering main. Saya sudah cerita kan kalau kami akrab sejak kecil." Mandala berkata pelan.

__ADS_1


Amadea mengangguk.


"Jadi gimana? Mau tidak?" Mandala rupanya tak puas dengan jawaban yang hanya anggukan saja.


"Mau, P--Mas." Oh, hampir salah lagi Dea memanggil.


Hening lagi.


"Yasudah, ayo masuk. Sudah malam. Tidurlah. Kamu harus menyamankan diri di rumah ini. Rumah ini rumahmu juga." Mandala akhirnya bicara lagi.


Amadea mengangguk lalu beranjak berdiri. Mandala ikut berdiri.


Percakapan ini didominasi 90% oleh Mandala. Dea hanya iya-iya dan mengangguk saja. Amadea kadang tak menyangka juga Mandala bisa berkata panjang lebar dengan nada normal begini. Biasanya kan setiap kata yang keluar dari mulutnya bernada omelan.


Mandala yang berjalan duluan berusaha menggeser pintu kaca itu tapi terlihat kesusahan. Tangan kanan dan otot-ototnya belum terlalu terlatih untuk ini. Biasanya kan ia memakai tangan kiri karena kidal.


Amadea dengan sigap membantu mendorong pintu itu, sama seperti yang dilakukan Bu Lulu tadi. Bedanya sekarang Mandala tidak mengomeli Dea seperti ia mengomeli Bu Lulu tadi. Ia justru bilang terima kasih sambil tersenyum.


Lalu ketika mereka tiba di lorong kamar, Mandala sengaja memperlambat langkahnya untuk melihat Dea masuk.


"Terima kasih, Mas. Karena sudah mau meluangkan waktu untuk mendengar cerita dan keluh kesah saya soal keluarga saya tadi. Sebenarnya ini memalukan, tapi saya nggak tahu mesti cerita ke siapa tadi." Amadea menatap Mandala langsung pada matanya.


Mandala mengangguk dan tersenyum miris. "Ya, jangan cemaskan itu. Saya tahu, kok. Setiap keluarga punya aib-nya sendiri-sendiri."


Amadea tersenyum. Ia tahu Mandala tak marah-marah lagi seperti dulu dan itu membuatnya merasa lebih nyaman sekarang.


"Andai kamu tahu kelakuan keluarga saya lebih parah dari itu, Dea...," batin Mandala.


Amadea menunduk salah tingkah mendadak setelah melihat senyum Mandala. Ia bergerak hendak menutup pintu tapi Mandala kembali memanggil.


"Mmm, Dea. Tunggu!" panggilnya.


Amadea menoleh. "Ya?" sahutnya masih dengan wajah agak salah tingkah.

__ADS_1


"Soal kamar, kamu tahu kan walau kita cuma pura-pura menikah, tapi setidaknya kita harus menunjukkan sedikit kemesraan di depan para pegawai? Saya tidak percaya sepenuhnya pada pegawai-pegawai saya, terutama yang baru. Saya nggak mau muncul gosip soal kepalsuan ini. Kamu paham, kan?


Saya sudah bilang Bu Lulu kalau kita pisah kamar karena saya terbiasa sendiri dan butuh ruang privasi. Lagipula ruang kerja saya menyatu dengan kamar, jadi alasan itu cukup masuk akal. Tapi setidaknya sesekali kita harus memperlihatkan diri masuk kamar yang sama.


Terutama saya akan pura-pura tidur di kamar kamu. Tapi tenang. Setelah mereka menyingkir, saya akan kembali menyelinap ke kamar saya. Poin ini terlewat dalam surat perjanjian kemarin. Apa perlu ditambahkan? Apa kamu keberatan?" Mandala bertanya menatap Dea yang setengah tubuhnya sudah terhalang pintu.


Dea mengangguk dengan cepat. Ya, ia paham kecemasan Mandala. Belum lama ini kan sedang viral kasus asisten rumah tangga bermasalah yang membongkar aib rumah tangga majikannya sendiri yang kebetulan pasangan selebriti.


Orang besar memang punya banyak musuh untuk menjatuhkan. Mandala memahami posisinya dan Dea juga ikut paham dengan cepat.


"Nggak usah ditulis, Mas. Saya paham, kok," sahut Dea.


"Oke, bagus. Good night, Dea." Mandala lalu menutup pintu kamarnya.


Astaga manis sekali. Pakai acara bilang 'good night' segala.


Kalau dipikir-pikir, Amadea adalah orang kedua yang Mandala perlakuan begini manis. Tapi ini beda. Saat ia bilang 'good night' dan menyuruh Dea segera tidur, rasanya ia benar-benar mencemaskan gadis itu dan memintanya istirahat.


Kalau dulu dengan Meirika, ucapan 'good night' adalah sekedar pelengkap pesan chat saja. Selebihnya, kata-kata itu kedengaran seperti berbasa-basi.


Amadea masih menempelkan pipinya di pintu hingga pintu kamar Mandala di depannya tertutup.


"Kamu enak banget nyuruh saya biar nggak jatuh cinta betulan. Tapi kelakuan kamu manis begini. Mana nyuruh saya manggil kamu 'Mas.' Mana kamu megang kepala saya, betulin rambut saya, tatap mata saya dalam-dalam. Gimana hati saya bisa biasa saja?" Amadea menggumam pelan lalu menutup pintu dan membanting tubuhnya di atas ranjang empuk itu.


Arghhh, tatapan Mandala dan senyumnya menguasai seluruh isi kepalanya malam ini hingga ia kesal sendiri sampai ketiduran.


Amadea sedang bermimpi indah tanpa tahu kalau di belahan bumi yang lain ada sosok yang sedang meneriakkan namanya dengan kencang. Dan sosok itu adalah Meirika Jayatri.


"Dea Dea Dea! Apa bagusnya dia! Gadis sialan! Jangan cegah aku, Maya! Aku akan teror dia dan kumaki-maki!" Meirika sedang mengamuk dan Maya menenangkannya.


Di kasur apartemennya tergeletak sebuah tablet yang menampilkan wawancara Mandala dan ia menyebut Dea sebagai calon istrinya.


Meirika jelas mengamuk setelah membaca berita itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2