Suami Tangan Satuku

Suami Tangan Satuku
Mimpi Buruk


__ADS_3

"Sial! Mimpi itu lagi yang datang!" Mandala Barata mengumpat pelan sambil tangan kanannya bersusah payah menyeka keringat di dahinya.


Apa yang terjadi padanya. Ia berkeringat hebat padahal AC di ruangannya sudah menyala dengan hawa sejuknya yang segar.


Ya, mimpi buruk soal masa kecil memang menguras energinya. Hal ini juga yang sering membuatnya uring-urigan di kantor karena perkara tidak jelas. Ia meluapkan emosinya dengan memarahi orang lain.


Itu hal buruk. Ia tahu itu tapi seperti yang ia bilang pada Dea tadi : pengendalian dirinya buruk.


Mandala lalu menyandarkan lagi kepalanya di sofa nyaman itu sambil memejamkan mata.


"Sudah hampir 20 tahun semenjak kejadian itu, Ma. Mama juga sudah pergi selama itu. Tapi setiap kali datang di mimpi, rasanya masih sama. Sakit, Ma. Aku sakit. Aku merasa buruk karena terus disalahkan.


Seribu orang bilang aku tak salah tak ada artinya dibandingkan satu kalimat dari mulut Mama yang bilang kalau aku pembunuh. Aku bukan pembunuh, Ma. Marisa meninggal karena takdirnya memang begitu."


Ketika Mandala bermonolog dengan lirih, matanya yang masih terpejam membuatnya membukakan memori buruk itu dengan paksa dia kepalanya.


Memori itu tepatnya terjadi ketika Mandala masih sekolah dasar. Lalu adiknya yang bernama Marisa itu juga sudah sekolah dasar tapi masih kelas 3 SD. Ya, maklum jarak umur mereka 3 tahun.


Di jenjang usia itulah Mandala dan Rafael sedang akrab-akrabnya karena kedekatan orang tua mereka. Apalagi di masa terpuruk itu Rafael kecillah yang selalu ada di samping Mandala. Hubungan mereka bagai kakak beradik sedarah saking dekatnya.


"Kamu nggak salah. Marisa sayang sama kamu sebagai kakaknya. Semua orang sibuk di pesta tapi dia melihat kamu lagi ngejar bola yang kelempar ke jalan dan ada motor di depan. Dia hanya ingin menyelamatkan kamu.


Marisa ingin melindungi kakaknya dengan polosnya karena dia memang masih kecil, kan? Bukan salah kamu ketika akhirnya Marisa yang tertabrak motor dan meninggal. Bukan salah kamu..." Rafael Malik menepuk pundak Mandala dan membiarkan sahabatnya itu menangis.


Mau bagaimana lagi. Mandala sangat terpukul. Ia sangat sedih. Ia sangat takut. Dan rasa sedih itu harus bertahun-tahun ia coba untuk kendalikan. Rafael selalu ada menguatkannya.


Mandala butuh dihibur. Ia hanya butuh tempat yang aman untuk bersembunyi dari amukan mamanya. Dan rumah Rafael adalah salah satu tempat yang bisa ia tuju untuk lari.

__ADS_1


"Mama menyalahkan aku. Dibilang aku nggak pantas jadi kakak. Aku bukan anak yang baik. Aku jahat. Aku..."


"Mandala! Jangan dengarkan perkataan mamamu. Mama kamu cuma sedih dan merasa bingung karena kehilangan anak yang sangat disayangi tiba-tiba.


Mamamu juga sayang padamu. Tapi sekarang kondisinya belum stabil. Aku yakin dia akan kembali menyayangimu seperti dulu. Dia hanya butuh waktu


Kamu nginep di sini aja, ya. Nanti kubilang papaku untuk menelpon papamu..."


Rafael adalah orang yang bisa membuat Mandala yang terpuruk merasa punya teman untuk menanggung semua ini.


Setelah adik Mandala alias Marisa itu meninggal, sang Mama depresi berat. Sudah di level parah hingga ia rutin diperiksa dokter kejiwaan. Jiwanya benar-benar terguncang.


Mandala menyalahkan dirinya atas keadaan itu. Padahal itu bukan salahnya. Kecelakaan itu terjadi dan memang sudah takdirnya umur Marisa hanya sampai sebelia itu.


Rasa bersalah Mandala makin menjadi saat mamanya selalu menyerang dan menyalahkannya ketika ia kambuh.


Sebenarnya ini bukan hal yang mudah juga bagi Barata untuk menghadapi semua ini. Barata Group yang waktu itu belum sebesar ini sedang goyah. Ia bekerja setengah mati, bahkan jarang pulang karena ingin mempertahankan perusahaan itu.


Kesalahan fatalnya adalah ia membiarkan Mandala menanggung penderitaan ini sendirian. Bahkan Barata seolah mengentengkan kondisi istrinya yang semakin hari semakin parah.


Kembali ke dunia nyata, kenangan itu kembali muncul. Mandala sampai menggeram kesal karena semakin ia ingin melupakan mimpi barusan, semakin masuk pula kenangan itu ke kepalanya.


"Maafkan Mama, Mandala. Mama salah. Mama hanya merasa hampa setelah Marisa pergi. Jadi Mama melampiaskan segala kesedihan itu dengan menyalahkan kamu. Maaf, ya. Mama janji Mama akan belajar lebih sabar lagi." Itulah yang selalu diucapkan Mama Mandala ketika wanita itu sudah puas menyiksanya.


Lalu apa besoknya?


Ya, jelas terulang lagi.

__ADS_1


Mamanya terus  menyalahkan dirinya, mengatainya anak durhaka, dan membuatnya merasa tak berguna. Mandala trauma berat hingga wanita kesayangannya itu meninggal.


Dibesarkan sang papa yang di dalam isi kepalanya hanya soal bisnis, bisnis, dan bisnis saja membuat Mandala berubah banyak juga secara kepribadian.


Papanya mungkin waras dan tidak menyalahkannya atas meninggalnya sang adik, tapi ia gila dalam hal 'kerja.'


Mandala dituntut serba bisa, harus selalu nomor satu di sekolah, harus tahu soal bisnis sejak muda, pokoknya perfectionist. Jadi inilah latar belakangnya.


Mandala membuka matanya lebar-lebar agar bayangan di kepalanya ikut pergi tapi tetap saja masih sedikit terbayang kejadian belasan  aja asin.


Tok tok tok!


Sebuah suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Mandala menoleh dan berteriak untuk menyuruh tamunya masuk. Dan ternyata Karenlah masuk.


Karen masuk ke ruangan kerja Mandala dan mengangguk menyapa.


"To the point! Saya lagi buru-buru. Ada apa?" Mandala yang suasana hatinya mendadak buruk karena mimpi barusan tampak kesal.


Karen nyengir lalu menyampaikan telepon dari Bu Lulu-sang kepala pelayan di rumah Mandala.


"Iya, Amadea menunggu Anda di meja makan. Dia bertanya-tanya kapan Anda pulang tapi tak berani menghubungi. Bu Lulu nelpon saya karena handphone Bapak tidak bisa dihubungi."


Deg!


Amadea menunggunya pulang?


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2