Suami Tangan Satuku

Suami Tangan Satuku
Masa Lalu yang Kelam


__ADS_3

Benar-benar mendadak menjadi hening lagi. Percakapan khidmat barusan mendadak senyap.


Hawa kosong rumah ini membuat suasana membingungkan di hati Amadea menjadi makin kalut.


Jadi sekarang mereka menyambangi tempat dimana mayat mendiang mama Mandala ditemukan?


Dan tempat kejadian itu tepat di depan tempat Amadea duduk?


Bukannya takut, tapi sekarang melihat Mandala yang tertunduk dengan mata memerah membuat Dea merasa kasihan.


Entah ia tak tahu berapa umur Mandala waktu kejadian itu. Tapi di umur berapapun itu, rasanya menemukan mama kandung bun**h diri dan meninggal di rumah sendiri adalah hal mengerikan. Membayangkan saja Dea tidak sanggup.


"Kalau kamu tidak nyaman bicara di sini, kita bisa pergi. Sebenarnya ini pertama kalinya aku ke sini lagi setelah kejadian itu. Tempat ini dibiarkan kosong tapi rutin dibersihkan dan diperbaiki jika ada yang rusak." Mandala bukannya menjawab Dea tapi mencoba memberi tawaran untuk berpindah tempat.


Amadea menggeleng cepat. "Aku nyaman bicara dimanapun. Tapi kalau kamu tidak nyaman, kita bisa pergi. Lagipula tempat tetaplah hanya sebuah tempat. Dan kejadian akan lenyap dimakan waktu."


Mandala lalu menatap Maya Dea dan tenggelam di dalamnya.


Sekarang Amadea sudah merasa makin nyaman bicara dengannya. Ia tak lagi salah panggil 'Bapak'. Ia nyaman memanggil 'Mas', dan bahkan kini menyebut kata ganti 'kamu' untuk Mandala dengan leluasa seolah mereka pasangan sungguhan.


"Mama melakukan itu karena depresi setelah adikku meninggal. Kamu ingat makam tadi? Ya, Marisa anak kesayangan mamaku. Dia meninggal tertabrak motor. Kejadiannya waktu aku masih kecil juga. Dan dia menyalahkan aku atas semua keadaan ini.


Seumur hidup aku juga menyalahkan diriku sendiri. Beberapa tahun dengan kondisi mental mama yang naik turun, kadang mengamuk, kadang ingin memb**nuhku, kadang setelahnya memelukku sambil minta maaf, tak jarang pula setelahnya ia lupa dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

__ADS_1


Dea, kurasa aku menjadi sekeras ini karena tumbuh dewasa dengan tidak normal. Kamu ngerti kan sekarang kenapa kubilang jangan mencintai aku? Aku cacat fisik dan mental. Aku nggak bisa mengelola emosiku saat marah karena mungkin pernah mendapat perlakuan serupa dari mamaku dulu..."


Lalu untuk pertama kalinya, Amadea melihat pria berhati sekeras batu itu meneteskan air mata dengan wajah sedih. Kalau dipilih, inilah ekspresi paling memalukan dari Mandala yang pernah Dea lihat langsung.


Saat melihat Mandala untuk pertama kalinya setelah tangannya diamputasi pun rasanya biasa saja karena wajah Mandala sendiri memancarkan sikap yang biasa saja. Tapi kali ini lain.


"Kenapa mamamu sangat benci dan menyalakan kamu atas kematian adikmu? Bukan kamu kan yang menabraknya? Bukan kamu yang mengendarai motor itu, kan?" Amadea menjadi bingung dengan tidak lengkapnya cerita Mandala ini.


Mandala menggeleng lalu mengusap air matanya seperti menahan malu. Mata Dea menangkap gerakan reflek dari pundak kiri Mandala yang bergerak. Mungkin sebagian dari dirinya masih lupa kalau tangan kirinya tinggal sampai siku. Tangan yang hilang itu tak bisa ia pakai untuk mengusap air matanya.


"Memang bukan aku yang menabrak, Dea. Tapi Marisa kecil lari ke jalan karena mengikuti aku yang mengejar bola yang terlempar ke jalan. Marisa melihat aku hampir tertabrak dan mencoba memdorongku.


Tindakan polosnya membuat ia tertabrak parah sedangkan aku hanya lecet sedikit saja kena bebatuan. Kamu bisa lihat pelipis kiriku? Bekas batu yang menancap itu menimbulkan bekas luka." Mandala kembali melanjutkan.


"Kami bermain bola di vila pegunungan keluarga kami. Vilanya cantik sekali. Rumputnya hijau, banyak pohon. Tapi lokasinya tepat di pinggir jalan yang merupakan akses satu-satunya ke area itu. Dan ada sebuah tikungan tajam berkelok yang membuat aku tidak tahu kalau ada motor mengebut di sana.


Motor yang menabrak bukan motor biasa, tapi motor trail. Kawasan itu memang dekat tempat Motocross sebuah komunitas daerah. Terbayang seberapa parah dampaknya hingga membuat Marisa meninggal di tempat." Mandala makin menunduk saat menceritakan kejadian traumatik itu.


Amadea yang entah punya keberanian dari mana, tapi ia tiba-tiba menggenggam tangan kanan Mandala dan sebelah tangannya lagi mengusap air mata pria yang casing-nya kelihatan begitu kuat itu.


Oh, ini sisi rapuh Mandala... Amadea baru mengerti sekarang. Mandala lebih rapuh dari yang ia bayangkan. Ia hanya salah langkah karena membangun kerapuhan itu dengan pondasi kebencian. Ia belum berdamai dengan masa trauma itu, dan itu bisa dimengerti. Memang sulit. Tak semua orang bisa sekuat itu.


"Rafael Malik yang orang-orang salah pahami punya hubungan khusus denganku itu ada saat kejadian itu. Ia tahu aku tidak mendorong Marisa atau melakukan sesuatu yang mencelakakan dia. Dia saksi mata satu-satunya selain penabrak.

__ADS_1


Apa mamaku percaya? Ya, dia percaya. Tapi kalau perasaan kehilangan Marisa itu kambuh, dia akan bilang kalau aku pemb**nuh. Aku nggak mau itu terjadi. Aku menyalahkan diriku sendiri bahkan sampai sekarang." Mandala terus bicara.


Amadea tak berkata sepatah kata pun tapi usapan lembutnya di punggung Mandala menyiratkan segalanya. Bahwa dia ada, dia mendengarkan, dan ia mencoba mengerti.


"Aku trauma melihat motor trail bertahun-tahun. Terlebih setelah mama meninggal. Papa yang tak berperan banyak dan cenderung lepas tangan karena sibuk kerja bilang aku lemah. Dia bilang laki-laki tak boleh lemah.


Setelah mama meninggal aku dididik dengan sangat keras. Terlalu keras bahkan hingga aku merasa hari-hariku seperti di neraka. Pemaksaan papa agar aku tumbuh maskulin, tidak cengeng atau kabur kalau disiksa mama membuat aku begini.


Kamu tahu aku jadi suka olahraga ekstrim, kan? Bahkan motor yang aku benci dulu bisa aku naiki dan kendalikan dengan jago di medan ekstrem. Kamu pikir karena apa aku sampai kehilangan tangan begini? Karena memburu adrenalin.


Awalnya karena paksaan papa dengan kegiatan ekstrem, aku memohon agar kecelakaan dan meninggal saja. Papa benar-benar membuat aku melupakan trauma dan menaklukkannya. Dia pikir efeknya bagus. Tapi ya kamu bisa lihat sekarang aku seperti ini."


Cerita terus berlangsung. Memang dari satu pihak saja alias Mandala yang terus bicara dan Dea diam saja. Tapi sorot mata tulus Dea membuat Mandala nyaman, seolah mengatakan agar Mandala terus bicara padanya.


"Papa kamu nggak sedih waktu mama kamu meninggal?" Akhirnya Dea bertanya setelah tetes terakhir yang mengucur dari mata Mandala ia usap.


Mandala menggeleng lalu tertawa dengan tawa yang miris.


Amadea makin bingung dengan reaksi Mandala yang di luar dugaannya.


Kenapa memangnya? Apa cerita rahasia yang sebenernya disembunyikan Mandala lewat tawa miris itu?


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2