
Amadea menatap Vina yang tampak sangat peduli dan perhatian padanya itu dengan tatapan haru.
Ah, Dea sampai lupa papan terakhir kali ia punya teman dekat.
Tapi sedekat-dekatnya ia dengan Vina sekarang, haruskah ia menceritakan kegalauan hatinya ini soal isi DM Meirika yang membuatnya bingung?
Haruskah?
Dea yakin Vina bisa dipercaya, tapi ia takut membebani orang lain dengan hal ini. Lagipula Mandala kemarin jelas-jelas bilang kan kalau ia harus melapor kalau Meirika menerornya.
"Ah, tapi itu bukan teror. Meirika cuma bingung mau bicara ke siapa karena Mas Mandala menutup akses komunikasi. Dia terdengar frustasi. Dia mungkin... Arghhh!" Pikiran itu membuat Dea makin galau.
Dengan baju pengantin yang putih sempurna, rambut yang ditata maksimal, make up yang pas; Amadea justru kelihatan lesu dan banyak pikiran.
Vina masih menungguinya dengan bingung. Ia tahu Dea sedang tidak baik-baik saja sekarang dan memutuskan untuk meninggalkannya sendirian dulu. Vina pikir ini keputusan terbaik.
"Aku tinggalin sendiri dulu, ya. Yang lain juga biar kusuruh keluar saja. Mungkin kamu butuh waktu sendirian untuk menenangkan diri. Panggil aku di luar kalau butuh apa-apa. Okay?" ucap Vina lagi lalu ia berlalu pergi bersama semua orang setelah menepuk pelan pundak Amadea.
Amadea benar-benar sendirian di ruangan itu sekarang. Dan tangannya mulai gatal untuk mengecek handphone-nya lagi.
Karena benar-benar sendirian, Dea merasa aman dan memutuskan untuk memutar ulang voice notes kiriman Meirika.
Amadea memejamkan mata. Ia ingat betul menit pertama pesan suara Meirika adalah tangisan heboh lalu setelahnya ada permintaan maaf panjang beserta kata-kata penyesalan karena Meirika merasa bersalah telah memakai Dea dengan kasar kemarin lewat pesan teks.
Amadea masih memejamkan mata. Selama pesan suara itu berputar, hatinya yang mudah iba dan tersentuh itu tersayat-sayat.
"Jam dua pagi, Dea. Meirika menangis dan terdengar sangat depresi. Kemarin dia kasar dan menghinamu mungkin karena stress berat. Dia juga menyesal telah minta putus dari Mandala karena bingung dengan kecelakaan dan kecacatan Mandala yang tiba-tiba terjadi H-beberapa bulan sebelum pernikahan.
Coba pahami posisi dia, Dea. Dengar suara tangisnya yang terdengar sangat menyedihkan itu." Dea membatin dalam hati.
Satu hal yang masih terasa janggal dan mengganjal di benak Dea adalah kata-kata terakhir Meirika.
"Urusanku dengan Mandala belum selesai. Tapi dia sudah membuangku dan menutup akses komunikasi. Aku benar-benar ingin menyampaikan sesuatu yang penting, Dea. Ini menyangkut masa lalu dan masa depan kita, juga an... "
Kata-kata itu terputus dengan nada canggung. Dea bingung. "An...? An apa?"
__ADS_1
Lalu setela suara tangis Meirika reda, wanita itu terdengar menghela nafas panjang dan melanjutkan lagi bicara, "Dea, tolong aku. Kita sesama perempuan, kan? Aku butuh kamu untuk bicara. Mandala tidak bisa kuajak bicara. Satu-satunya harapanku cuma kamu..."
Tut!
Lalu pesan suara yang setengahnya bercampur tangisan pedih itu selesai.
Amadea berpikir lagi secara lebih serius sekarang karena tadi pagi ia langsung terbaru-buru menutup pesan ini karena Vina sudah menggedor pintu kamarnya dan menyeretnya ke hotel untuk bersiap.
"Masa lalu? Masa depan? Menyangkut an... An apa sih maksudnya? An apa?"
Lalu pikiran Dea yang mulai menyebut kata-kata berawalan kata 'an' berakhir pada kata 'anak.'
"ANAK?" Dea terperanjat sendiri.
"M--mungkin Meirika hamil anak Mas Mandala? Jadi dia..."
Dea menutup mulutnya sendiri dengan tangan. Ia menatap cermin dan mendapati wajahnya teramat syok.
Yang Dea lupa, Meirika itu artis. Ia bisa berperan menjadi apapun seperti yang ia mau liat aktingnya. Ia bisa memakai topeng apapun untuk memuluskan kepicikannya.
Pernikahan tinggal beberapa jam lagi. Apa yang harus ia lakukan? Mendadak kepalanya terasa seperti berputar-putar. Ia pusing sendiri...
Andai Dea tahu kalau itu hanya pancingan. Andai Dea tahu ia hanya ditipu...
***
Sementara Dea pusing dengan rentetan kejadian membingungkan ini, Mandala justru tampak keluar dari pintu ruang gantinya. Wajahnya kelihatan fresh dan pakaiannya juga tampilannya jelas sudah rapi sempurna.
Jangan ditanya bagaimana caranya mengakali tangan cacatnya agar tetap kelihatan keren di balik jas mewah ini. Yang jelas Mandala tahu keadaan tangan kirinya akan nampak aneh dan mencuri perhatian. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan agar orang-orang tidak menatpanya dengan kasihan adalah dengan cara menganggap dirinya sendiri baik-baik saja.
Mandala tampak tampil percaya diri seolah ia tangannya tetap dua dan utuh. Tak akan ia biarkan para tamu menatapnya penuh iba. Ia benci tatapan kasihan. Ia sangat benci.
"Vina! Dea sudah siap?" tanya Mandala di ujung lorong.
Vina yang kelihatan sedang berdiskusi dengan Karen dan pihak wedding organizer menoleh.
__ADS_1
Ya, Mandala memang sengaja mengosongkan satu lantai di hotel ini khusus untuk pernikahannya. Gampang juga baginya untuk melakukan hal itu. Tinggal telpon saja. Ia kan salah satu pemegang saham terbesar di hotel ini.
Vina langsung berlari-lari kecil menghampiri Mandala.
"Mmm, Bu Dea di kamarnya. Sudah siap tapi saya dan tim ninggalin dia sendiri biar dia nggak tegang." Vina memberi tahu.
Mandala mengangguk-angguk.
"Ibunya Dea beneran nggak datang?" tanya Mandala.
Vina mengangguk. "Nggak datang, Pak. Jadi nanti dari pihak keluarga, Bu Dea minta saya dan Adit yang mewakili menjadi saksi. Tidak apa-apa kan, Pak?"
Mandala mengangguk lagi. Entah kenapa ia merasa sedih dengan keadaan ini. Walau ini pernikahan palsu, tapi bukannya Dea tetap sedih jika ibunya sendiri tak sudi datang ke acara?
Mandala juga tak didampingi keluarga, sih. Tapi itu kan karena keluarganya juga tidak dekat dengannya setelah orang tuanya meninggal. Mereka di luar negeri juga.
Bukan keluarga tapi pihak yang Mandala anggap dekat dengan dirinya adalah Rafael Malik dan keluarganya. Tapi Rafael juga sudah meninggal. Orang tuanya juga sudah meninggal. Jadi ia juga sendirian.
Tapi Dea berbeda. Dea masih punya ibu. Hatinya mendadak terenyuh begitu ingat cerita Dea kemarin.
Ibu kandungnya tak mau datang di acara pernikahannya, tapi justru sedang bersenang-senang di rumah dengan lelaki penipu yang ia benci. Lelaki penipu yang menggadaikan sertifikat rumah peninggalan mendiang ayahnya. Bisa-bisanya...
"Kasihan Dea," batin Mandala.
Vina masih berdiri seolah menunggu perintah Mandala. Pernikahan akan dilangsungkan setengah jam lagi. Mereka semua sudah siap. Susunan acara diatur tanpa cela. Lalu apa lagi? Vina yang biasa sering menerima omelan Mandala mendadak tegang.
"Saya samperin Dea deh ke kamarnya," ucap Mandala tiba-tiba.
Vina hanya bisa bengong melihat Mandala menyelonong pergi. Tangan dan mulutnya tak kuasa mencegah.
Duh, lazimnya kan pengantin wanita dan pria bertemu saat berjalan di altar nanti. Tujuannya agar mempelai lelaki terkejut dengan penampilan cantik sang wanita. Eh, ini malah mau disamperin. Gimana ini?
Karen dan tim WO hanya bisa mengangkat bahu dan menatap Vina penuh prihatin.
Mereka bertiga kini sama-sama melihat dengan pasrah ke arah Mandala yang mengetuk pintu tiga kali lalu masuk begitu saja ke dalam kamar.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...