Suami Tangan Satuku

Suami Tangan Satuku
Kamu Kan Istri Saya


__ADS_3

Bu Lulu sang kepala pelayan di rumah tampak berlari-lari tergopoh-gopoh menghampiri Mandala. Di belakangnya tampak dua pelayan yang lain mengekor.


Mandala menoleh dan mengernyitkan alisnya. "Kenapa?" tanyanya.


"Semenjak datang, Bu Dea di kamar terus dan belum keluar lagi. Kami mencoba mengetuk pintu, barangkali beliau butuh bantuan atau sesuatu tapi tidak dibukakan.


Kami hanya bantu membawakan koper masuk lalu beliau minta kami keluar saja. Kami cemas tapi bingung juga mau melapor kemana. Takutnya beliau cuma ketiduran atau apa. Tapi kalau tidak mengecek langsung kami juga tidak yakin." Bu Lulu menjelaskan.


Mandala mulai merasa sedikit cemas. "Tidak keluar kamar sama sekali?" tanyanya sekali lagi seolah ia tak yakin.


Bu Lulu mengangguk.


Mandala lalu menurunkan tangan kanannya yang tadinya hendak mengetuk pintu lagi.


"Dikunci nggak pintunya?" tanya Mandala.


Bu Lulu menggeleng. "Saya nggak tahu, Pak. Terlalu lancang bagi kami kalau membuka pintu tanpa diizinkan. Kecuali keadaan darurat."


Mandala menyimak penjelasan kepala pelayan di rumah megahnya itu lalu mengangguk-angguk lagi.


Tangan kanan Mandala yang akhir-akhir ini bekerja keras menunjang aktivitasnya itu mulai meraba pintu. Dengan gerakan agak ragu akhirnya ia buka juga pintu itu.


Jegrek!


Bisa.


Ah, ternyata pintunya tidak dikunci.


"Nggak dikunci. Biar saya cek sendiri ke dalam. Kalian pergi saja." Mandala yang biasanya galak dan sering marah-marah tidak jelas itu entah kenapa tumben sekali bersikap agak manis.


Bu Lulu dan pelayan yang mengikutinya hanya saling berpandangan seolah ingin bilang, "Loh, kita nggak diomelin nih? Tumben."


Mereka berlalu pergi setelah Mandala menatap mereka dengan dahi berkerut karena mereka hanya mematung di tempat.


Mandala pun masuk ke dalam kamar yang dulunya sering ditempati Rafael Malik sahabat baiknya itu.


"Dea?" Mandala mulai menatap sekeliling dengan cemas saat ia tak menemukan Dea di ranjang.


Ranjang yang ditata rapi itu masih tampak utuh. Lalu ada koper yang sepertinya baru Dea bawa tadi. Koper-koper itu juga masih utuh seperti belum dibuka sama sekali.


Alis Mandala makin mengernyit. Ia mengecek ke arah pintu toilet dan membukanya. Yang ia temui hanya kekosongan. Mandala mulai makin cemas.


Pria bertangan satu itu mulai menyusuri sudut kamar dan menemukan pintu menuju ruang wardrobe sedikit terbuka.

__ADS_1


"Dea?" Mandala memanggil lagi sambil mendorong pintu itu.


Dilihatnya Amadea Kasea meringkuk seperti kucing kecil yang malang di sofa ruangan yang dingin itu.


"Dea?" Mandala memanggil dengan suara lebih pelan, seolah takut suaranya terlalu keras dan membuat Dea terkejut.


Amadea Kasea tak bergerak. Nafasnya terlihat naik turun dengan teratur. Mandala makin berjalan mendekat lalu berjongkok di depan sofa.


Dilihatnya alias tebal dan bulu mata lentik Amadea terpejam membingkai wajah indahnya. Bahkan Dea tak perlu riasan, pensil alis, atau bulu mata palsu dan eye shadow tebal macam Meirika. Tapi Dea terlihat sempurna dengan kepolosan dan wajah tulusnya.


"Dea?" Mandala membangunkan Dea sekali lagi dengan suara lembut. Tangan kanannya mengguncang pelan pundak yang meringkuk itu dengan hati-hati.


Amadea mulai membuka matanya perlahan lalu terkejut begitu melihat Mandala sudah berada tepat di depannya.


Hidung mancung dan bibir terbelah yang membingkai wajah tampan itu membuat Dea terpana.


"P--pak Mandala..."


Dan Mandala hanya menghela nafas panjang berpura-pura kesal.


"Dea, kamu bukan lagi karyawan saya. Kalau para pegawai di rumah ini tahu kamu panggil saya Pak, mereka akan..."


"I--iya, Mas. Maaf. Aku belum terbiasa." Dea langsung menyahut cepat sambil buru-buru bangun dan duduk dengan cepat di sofa itu.


Mandala tertawa pelan lalu berdiri dan ikut duduk di samping Dea.


"Kamu kenapa? Capek? Sampai ketiduran di sini." Mandala menatap Amadea dengan matanya yang tajam. Rupanya ia menyadari mata Dea yang sedikit bengkak.


Dea langsung menunduk. Rasanya ia terlalu malu untuk jujur. Pernikahan kontrak ini ia setujui demi utang ibunya yang tertipu suami barunya, tapi apa sekarang? Ibunya malah membawa lelaki kurang ajar itu kembali ke rumah. Dea terlalu malu.


"Dea? Saya nggak mau pengantin saya punya mata panda karena kebanyakan menangis. Cerita sama saya. Kamu kenapa?" Mandala menatap Dea dengan tatapan yang lebih lembut. Mungkin akhirnya ia sadar kalau ia terlalu galak seperti biasa, Dea malah takut berbicara.


Tapi ternyata Dea hanya menggeleng. Ia bungkam.


Mandala ikut diam tapi matanya terus tertuju pada wajah Dea yang kusut itu.


Mandala baru pertama kali ini merasa ingin bisa membaca pikiran orang. Sungguh ia ingin tahu kenapa beberapa hari menjelang pernikahan yang telah disepakati itu, Dea malah kusut begini.


"Kamu takut? Kamu gugup? Kamu menyesal telah mengambil keputusan menikah dengan saya?" Mandala jadi salah paham.


Oh, padahal ia sudah mengatakan hal-hal manis soal kisah cinta rekayasa mereka di wawancara media barusan.


Amadea Kasea menggeleng cepat.

__ADS_1


"Terus kenapa kamu nangis?" Mandala terus mendesak.


Amadea tak kunjung menjawab.


Drttt! Drttt!


Tiba-tiba handphone Dea yang tergeletak di sofa yang mereka duduki bersama itu bergetar. Mandala menatap layar yang sedang menyala itu lalu Dea dengan cepat mengambilnya.


Sebuah pesan masuk dari nomor ibunya.


[[  "Dea, Ibu nggak usah datang ya di pernikahan kamu. Kamu bilang keluarga calon suami kamu juga nggak ada yang datang, kan? Udahlah, Ibu juga nggak ngundang siapa-siapa ini. Ibu malu punya menantu cacat."  ]]


Dan tangis Dea pecah lagi. Kali ini malah lebih parah dibandingkan saat ia menangis sendiri tadi. Mandala yang duduk di sampingnya sampai kebingungan harus berbuat apa.


Tapi akhirnya tangan kanan Mandala yang kokoh dan kaku itu merengkuh Dea dalam pelukannya. Lalu Dea, entah kenapa merasa nyaman. Pria bertangan satu itu ia rengkuh balik dengan segenap perasaan. Dea merasa terlindungi dan hatinya menghangat dengan perasaan asing yang aneh.


"Kamu kenapa?" Mandala bertanya dengan suara pelan.


Amadea lalu melepaskan pelukannya lalu menatap Mandala dengan mata berlinang.


Dea tahu pria di depannya itu orang penting dan mungkin hanya menganggapnya wanita bayaran saja untuk dinikahi. Tapi entah mengapa sikap Mandala yang berubah agak manis akhir-akhir ini membuatnya merasa yakin untuk membuka mulutnya soal masalah hidupnya.


Lalu masalah hidupnya yang biasanya hanya ia bagi keluh kesahnya dengan Tante Eva itu ia ungkap sambil menangis hingga pundaknya berguncang-guncang.


Di sela-sela tangis nestapa Amadea itu Mandala tanpa disangka menyimak dengan serius sambil sesekali menepuk lembut pundak Dea. Bahkan tangan kanan kaku pria itu membelai rambut Dea dan merapikan anak rambutnya yang berantakan karena menangis ke belakang telinganya. Sungguh sentuhan yang kaku tapi tetap saja terasa manis.


Dea bahkan menunjukkan pesan dari ibunya barusan. Mandala terkejut membaca pesan itu. Ditambah lagi tanpa sengaja ia melihat percakapan lain di atasnya. Ia tak menyangka ibu Dea sekejam itu memperlakukan anaknya.


Tidak ada percakapan chat yang manis. Semua isi chat hanya berisi omelan dan minta uang.


"Walau cuma pernikahan pura-pura, tapi semua ini membuka mata saya lebar-lebar. Saya terlalu takut durhaka kalau menantang ibu saya, padahal dia berlaku seenaknya begitu pada saya, bahkan mendiang ayah dulu.


Dia bahkan masih membela suami barunya itu sampai detik ini. Saya yang berkorban membayar utang, berkorban perasaan harus merelakan pria tak dikenal itu tinggal di rumah peninggalan ayah saya.


Walau Mas cuma suami pura-pura, tapi makin terbuka kan sikap buruk ibu saya. Saya capek minta dia agar tidak menyebut Mas dengan sebutan cacat. Dia bahkan nggak mau datang ke pernikahan kita nanti.


Bayangkan kalau Mas benar-benar lelaki yang saya cintai dan Ibu nggak mau datang ke pernikahan karena menantunya cacat. Saya merasa selama ini Ibu nggak sesayang itu sama saya..."


Lalu tangis itu pecah lagi. Lalu pelukan menenangkan itu terulang lagi dengan manis hingga terlepas ketika tangis Dea berhenti. Gadis itu kemudian merasa salah tingkah sendiri begitu perasaannya lega.


"M--maaf, Mas. Saya membuang waktu Mas dengan curhatan saya yang nggak penting." Dea menatap kemeja Mandala yang basah di bagian pundak. Oh, air matanya ternyata tumpah begitu banyak.


"Nggak papa, Dea. Cerita sama saya kalau ada apa-apa. Kamu kan istri saya..."

__ADS_1


Deg!


BERSAMBUNG...


__ADS_2