
Vina dan Karen berlari-lari di sepanjang lorong. Pintu kamar yang setengah terbuka itu membuat suara tangis Dea terdengar samar-samar.
Sayangnya mereka memutuskan untuk menghentikan langkah mereka sampai ke depan pintu saja. Mereka mendengar samar-samar suara Mandala menenangkan Dea. Vina dan Karen jelas tak mau menganggu privasi. Mereka berdua hanya bisa menunggu sambil menguping.
Mandala tanpa pikir panjang memapah Dea kembali duduk di tepi ranjang.
Dea masih sesenggukan ketika Mandala mengambilkan tisu untuk mengusap air matanya.
"Apa aku merusak make up-ku? Apa aku membuat wajahku sendiri kacau?" tanya Dea ketika tangisnya berhenti.
Oh, Dea pun sadar juga kalau sebenarnya dari kemarin ia sangat cengeng dan banyak menangis. Kalau ini kisah drama romansa, para penonton pasti akan menganggap ia tokoh menjengkelkan karena sedikit-sedikit menangis.
Tapi mau bagaimana. Ini kenyataannya. Nyatanya orang yang selama ini selalu pura-pura terlihat kuat biasanya punya naluri untuk menangis di hadapan orang yang bisa membuatnya nyaman. Dan sejak kemarin, Dea merasa nyaman menangis di depan Mandala.
Dea tahu Mandala tidak akan pernah menghakimi kisahnya dan segala kecengengan hidupnya ini.
"Make up-mu baik-baik saja. Kamu tetap cantik sempurna. Bekas air mata sedikit pasti akan disangka orang-orang kalau kamu habis menangis karena terharu dengan pernikahan ini. Ya walau tidak menutup kemungkinan mereka juga bisa mengira kamu menangis karena terpaksa melangsungkan pernikahan ini," ucap Mandala yang berusaha melucu.
Amadea menatap Mandala yang tersenyum ke arahnya. Sekarang ia merasa suasana hatinya yang tak karuan ini selalu menyusahkan Mandala. Ia jadi tak enak hati.
"Kamu kenapa?" tanya Mandala dengan sikap lemah lembut.
Dea menggeleng pelan. "Nggak papa. Cuma karena Mas menanyakan soal sepatu hadiah mendiang ayahku, aku jadi haru saja. Ayah pasti senang andaikan dia masih ada di dunia ini. Dia ingin melihat aku menikah dengan lelaki yang tepat. Maaf. Bisa kita teruskan? Vina dan Karen pasti menunggu kita dengan cemas."
__ADS_1
Mandala berdiri lagi dan sekali lagi mengulurkan tangan untuk menggandeng tangan Amadea. Amadea menyambut uluran itu tanpa ragu dan pura-pura tidak terjadi apa-apa ketika di depan pintu ia melihat Vina dan Karen menatapnya dengan cemas.
"Aku cuma sedikit gugup. Sorry," bisiknya ke arah Vina yang merapatkan tubuh padanya.
Vina ingin tak percaya karena bekas air mata Dea begitu jelas berbekas kalau dilihat dari dekat. Tapi ia tak mau menginterogasi temannya itu di saat yang tidak tepat begini. Pihak tim wedding sudah memberi instruksi, kalau sebentar lagi pintu akan dibuka. Mempelai wanita alias Amadea didampingi Karen dan Vina di belakang akan berjalan menuju Mandala yang berdiri menunggu untuk mengambil sumpah pernikahan.
"Oke, siap." Karen menyentuh pelan pundak Amadea.
Amadea mengangguk dan mengangkat wajah dengan senyum sukacita. Terlebih ketika di depan sana ia melihat Mandala yang selalu ibunya hina karena tangan satunya yang cacat itu menunggunya dengan senyum tak kalah lebar.
Para hadirin yang tak seberapa itu tampak terkesima. Amadea dan Mandala sungguhan menjadi bintang utama hari ini. Mereka Raja dan Ratu hari ini. Keduanya begitu memukau. Yang satu tampan nan gagah. Yang satu cantik mempesona mengeluarkan aura ketulusan.
Sungguh Mandala benar. Kecantikan dan kesempurnaan Amadea hari ini akan membuat orang-orang lupa kalau pengantin lelakinya cacat. Mereka hanya akan fokus pada hal indah-indah saja.
Amadea menatap sekilas pada hadirin yang menatap kagum padanya. Ia tahu sorot kamera mengincarnya.
"Aku berhak bahagia. Walau pernikahan ini palsu, tapi aku tidak mau merusak momen ini dengan teror Meirika. Andai ia hamil anak Mas Mandala sungguhan, itu urusan belakangan. Itu urusannya dengan Mas Mandala. Aku dibayar untuk ini. Tugasku hanya menjadi istri palsu dan berusha untuk tidak jatuh cinta sungguhan pada Mas Mandala." Itulah yang Dea pikirkan saat tangannya dengan lincah menandatangani dokumen pernikahan.
Setelah itu dilihatnya Mandala meliriknya sekilas ketika gilirannya untuk tanda tangan. Dea tahu Mandala akan sedikit kesulitan menggunakan tangan kanannya untuk memegang pena. Ia ingin membantu tapi takut menyinggung Mandala. Terlebih meraka berdiri di tengah ruangan dan menjadi pusat perhatian semua orang.
Mandala tampak sedikit gemetar tapi bukan Mandala namanya kalau tak bisa mengatasi kegugupan itu. Dalam sekali helaan napas, tangannya yang sedikit kaku mulai menari-nari di atas kertas.
Sah!
__ADS_1
Selesai sudah prosesi ini. Semua tamu bertepuk tangan. Lalu lagu romantis dimainkan. Seperti biasa pengantin akan memulai mengawali dansa setelah kecupan pertama. Formalitas memang, tapi dada Dea berdebar kencang.
Dan di momen itulah Amadea mulai memjamkan mata saat wajah Mandala mendekat padanya.
Hanya dua detik dan wajah itu kembali mundur. Semua tamu bertepuk tangan meriah. Amadea dengan spontan menjilat bibirnya sendiri lalu menuduk sepanjang dansa. Jangan ditanya apa jantungnya aman? Jelas tidak. Jantungnya serasa mau rontok ketika bibir Mandala menyentuh bibirnya.
Dua detik yang tak bisa digambarkan seperti apa rasanya.
Ketika suara musik mengiringi dansa mereka, Mandala tampak berbisik pada Dea untuk tersenyum karena banyak kamera mengarah ke mereka. Amadea yang tadinya sudah tak karuan hatinya jadi merasa seperti ditampar fakta.
"Dea, Mandala menyuruhmu tersenyum ke kamera dan tamu undangan agar akting mesra kalian semakin terlihat real. Oke, jangan baper alias bawa perasaan. Kalian sah suami-istri tapi di atas kertas saja." Amadea benar-benar berusaha tersenyum lebar seolah ia bahagia sekali dengan pernikahan ini.
Ketika musik musik berlangsung dan beberapa pasangan lain masih berdansa romantis, sekelebat bayangan muncul tertangkap oleh mata tajam Mandala.
"Meirika? Kok bisa dia datang ke sini?" bisik Mandala dalam hati.
Walau mendadak risau, Mandala tetap fokus menangkap tubuh yang berdansa dengan malu-malu di depannya itu. Kakinya bergerak sesuai irama, walau sekarang matanya jelalatan mencari sekelebat bayangan Meirika tadi.
Sungguh bagaimana caranya Meirika bisa ada di sini? Tempat ini sedang diawasi ketat. Kok bisa-bisanya Meirika menyelinap masuk?
Seketika raut wajah Mandala yang tadinya berseri-seri di pelukan Dea berubah menjadi murung. Ia kesal dan cemas kalau-kalau Meirika datang untuk mengacau.
Sebenarnya apa tujuan Meirika datang ke acara pernikahan ini?
__ADS_1
BERSAMBUNG ...
NB : Prosesi pernikahan dan lain-lain murni karangan belaka tanpa merepresentasikan agama tertentu. Semua fiksi belaka.