Suami Tangan Satuku

Suami Tangan Satuku
Calon Istri yang Menunggu


__ADS_3

"Kita sudah sampai, Pak." Pak Budi menoleh ke belakang setelah menghentikan mobil tepat di depan pintu utama rumah megah ini.


Mandala membuka mata dan menghela napas panjang. Lamunannya soal Dea buyar seketika. Ia lalu turun setelah agak kesusahan membuka pintu mobil dengan tangan kanannya.


Pak Budi menunggu sambil menahan diri untuk membantu. Mandala pasti akan melarangnya.


"Biarkan saya terbiasa dengan kecacatan dan kondisi saya yang baru sekarang. Saya harus membiarkan tangan kanan saya terbiasa melakukan banyak hal." Begitu yang ia bilang beberapa waktu yang lalu ketika ia kembali dari rumah sakit.


Pak Budi akhirnya kembali melajukan mobil untuk parkir. Ia sempat memandangi punggung pria malang bertangan satu itu dengan tatapan sedih.


Ah, boss kaya yang galak dan suka marah-marah itu sebentar lagi menikah. Ia membatin.


Walaupun tukang marah-marah tapi para pegawai Mandala sangat loyal. Mereka digaji dan mendapatkan fasilitas di atas rata-rata. Mereka menganggap amarah Mandala yang tak tertebak itu sebagai bagian dari resiko kerja saja.


Mandala juga tak gila hormat. Padahal ia bisa dipanggil Tuan atau semacamnya. Tapi ia hanya minta dipanggil 'Pak' saja. Sama seperti ia memanggil para pegawainya.


Mandala hanya punya masalah dalam hal mengontrol emosi.


Bu Lulu yang sama loyalnya seperti Pak Budi yang sudah mengabdi bertahun-tahun itu menyambut kepulangan Mandala dengan seragam lengkapnya di depan pintu. Padahal Mandala tak keberatan kalau di luar jam kerja ia memakai pakaian biasa saja.


Memang Bu Lulu saja yang sangat menjunjung tinggi profesionalitasnya. Ia ikut keluarga Barata sejak masih gadis, hingga menikah, hingga menjanda, hingga anaknya kuliah di luar negeri. Tentu karena dibayari oleh Mandala. Bagaimana ia tak loyal?


"Dea sudah kembali ke kamar?" tanya Amadea.


Bu Lulu menggeleng lalu menjelaskan kalau Dea sedang melamun di kursi taman belakang sambil menatap danau buatan yang dihiasi lampu-lampu cantik itu.


"Dia tadi nanyain saya?" Mandala bertanya sambil berjalan. Tangan kanannya bersusah payah mengundurkan kencing kemejanya.


Bu Lulu mengangguk. "Hanya tanya apa Bapak sering terlambat pulang. Itu saja."


Mandala menghentikan langkahnya begitu dari kaca jendela lebar itu ia bisa melihat punggung Amadea sari kejauhan. Posisi duduknya membelakangi Mandala.


"Dia makan lahap?" Mandala bertanya lagi.


Bu Lulu menggeleng dengan agak ragu. "Kelihatan tidak terlalu berselera dan banyak melamun. Saya sempat tanya apa beliau kurang enak badan dan butuh dokter tapi Bu Dea bilang tidak. Sepertinya dia sedang sedih dan banyak pikiran, Pak."

__ADS_1


Mandala menarik nafas panjang. Pria berhati dingin itu tiba-tiba merasa bersalah. Ia ingat Dea sedang sedih memikirkan kelakuan mamanya. Eh ia malah menambah pikiran gadis itu dengan meninggalkannya mendadak dengan wajah kaku karena pertanyaan sensitif itu.


"Ada lagi?" Mandala mulai berusaha menggulung lengan kemejanya yang kini agak aneh karena tangan satunya tinggal separuh itu.


"Wartawan datang tapi sudah diusir. Pihak keamanan pusat area datang dan mencegah dari gerbang utama. Semua diperketat. Sepertinya berita soal Bapak sedang hangat dibicarakan dan semua orang ingin tahu soal pernikahan Anda."


Mandala tersenyum tipis mendengar ucapan Bu Lulu. Bisa ia duga wawancara siang tadi sudah dirilis secara digital lebih cepat. Tak apa lah ia dibicarakan. Tujuannya kan memang ini. Ia ingin orang-orang fokus membicarakan kisah cintanya dibandingkan soal cacat tangannya.


Mandala benci dikasihani. Mandala membayangkan tatapan iba orang-orang ketika tahu tangannya diamputasi dan ia membenci bayangannya itu.


"Ada satu lagi, Pak." Bu Lulu menambahkan lagi begitu tangan Mandala sudah bergerak maju ingin membuka pintu dan berjalan menyusul Dea.


"Apa?" Mandala menoleh.


Bu Lulu maju satu langkah lalu menjelaskan kalau tadi satpam yang berjaga di depan bilang kalau mobil Meirika sempat datang dan memaksa masuk.


"Nggak sampai masuk kan dia? Pokoknya jangan biarkan wanita itu menginjak rumahku lagi untuk alasan apapun. Tolong diurus kalau hal yang sama terjadi lagi." Mandala memberi instruksi.


Bu Lulu mengangguk lalu tangannya yang gemas membantu Mandala yang tampak sedikit kesusahan membuka pintu itu.


"I--iya, Pak." Bu Lulu yang hanya merasa iba pada kondisi tangan Mandala kadang lupa kalau boss-nya itu risih menerima bantuan.


Mandala lalu berlalu pergi. Langkah demi langkah kakinya membuatnya makin dekat dengan Amadea yang duduk tenang macam patung sambil menikmati tenangnya air danau.


Pantulan rembulan tampak bergerak-gerak semacam ombak kecil di permukaan air danau yang tertiup angin malam yang semilir ini.


Mandala bergerak makin maju hingga suara langkahnya bisa terdengar dari tempat Dea duduk. Tapi sepertinya lamunan Dea terlalu dalam hingga suara langkah Mandala tak bisa ia dengar.


"Dea..." Mandala memanggil pelan.


Amadea masih diam. Ia benar-benar seperti patung cantik penunggu danau sekarang. Gerakan nafasnya yang teratur membuat pundaknya naik turun. 


Mandala tersenyum. Ia berniat menepuk pelan pundak itu tapi ia mengurungkan niatnya. Ia ingat dulu di awal masa kerjanya Amadea sempat menyemburkan kopi saat Mandala menepuk pundaknya untuk minta diambilkan berkas.


Kejadian itu mungkin lucu di ingatan Mandala. Tapi di ingatan Dea, Mandala marah setelahnya dan ia mengeringkan kemejanya yang basah di toilet sambil menangis.

__ADS_1


Ya, Mandala memang boss galak. Sekarang saja ia lebih kalem setelah kecelakaan itu.


"Amadea." Mandala memanggil dengan lembut setelah muncul di depan Amadea.


Amadea langsung berdiri dari duduknya. Respon dari kekagetannya sungguh lucu. Dan hal jarang terjadi itu pun terjadi. Mandala tertawa. Tertawa dengan sangat lepas.


"Dea, saya manggil kamu dari tadi. Kamu kaget? Sorry, sorry. Habisnya kamu nggak dengar." Mandala langsung duduk begitu saja di kursi.


Dea yang berdiri dengan kikuk ikut duduk lagi dengan wajah panik. Di bayangannya Mandala terlihat marah seperti tadi saat pergi. Tapi apa-apaan ini. Ia muncul dengan tawa lebar? Habis ketempelan setan apa calon suaminya ini.


"M--maaf, Mas. Saya terlalu sibuk melamun. Danaunya bagus." Amadea menjawab sekenanya lalu ikut duduk lagi.


"Memang bagus. Dulunya area ini rumah tetangga. Orangnya pensiun dan waktu lari pagi saya baca tulisan rumahnya disewakan karena dia ikut anaknya di luar kota. Langsung saya telpon untuk saya beli.


Saya rombak total jadi danau buatan dan taman. Saya datangkan arsitek dari Italia untuk mematangkan konsep dari saya sekaligus mengurus semua sampai beres.


Lihatlah, hasilnya cantik sekali. Saya puas dan senang. Saya suka duduk-duduk di sini kalau lelah memikirkan pekerjaan." Mandala memulai pembicaraan dengan topik yang Dea tidak relate.


Aduh, beda ya kalau orang kaya yang bicara. Mau ini itu mudah saya tinggal tunjuk dan bayar.


Betapa Dea ingat di rumah lamanya itu dulu ia dan papanya sibuk menyusun baskom dan ember saat hujan deras dan rumah mereka bocor.


Boro-boro memanggil arsitek dari Italia. Memanggil tukang untuk membetulkan genting saja harus menunggu gajian dulu.


Hening. Pasangan calon pengantin itu duduk-duduk saja sambil melihat permukaan danau yang berkilat-kilat memantulkan lampu-lampu.


"Kamu kenapa belum tidur?" Mandala bertanya sambil menatap langsung mata Dea.


Dea macam tenggelam dalam tatapan itu. Bagaimana bisa Mandala melarangnya jatuh cinta sementara pesona ini nantinya akan muncul di depan matanya setiap hari?


"Dea? Kamu dengar saya?" Mandala kini menyentuh pundak Dea dan ia kembali terlonjak kaget.


Mandala kembali tertawa.


Oh, tawa yang sangat jarang terlihat itu begitu manis...

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2