Suami Tangan Satuku

Suami Tangan Satuku
Saya Orang Jahat


__ADS_3

Tawa miris Mandala berhenti. Pria bertangan satu itu lalu menutup wajahnya dengan tangan kanan dan menggeleng dengan lemah.


Mana Amadea pernah membayangkan, bahwa ia akan melihat Mandala yang dingin dan galak akan terlihat selemah dan serapuh ini.


"Papa sibuk menyelamatkan bisnis keluarga yang hampir bangkrut. Sejujurnya aku baru tahu belakangan setelah dewasa kalau papa dan mama sudah lama perang dingin. Dan itu lebih sakit karena dulu aku tak tahu apa-apa.


Ternyata papaku selingkuh dan punya anak perempuan dari wanita lain. Aku tahu dari buku harian mama. Entah bagaimana nasib mereka tapi aku nggak pernah tahu langsung kelakuan menjijikkan papa itu. Mungkin dia bermain di belakang mamaku dengan sangat rapi sebelum terbongkar.


Ujungnya, mama menulis kalau papa minta maaf dan berjanji melupakan wanita itu. Tapi apakah itu happy ending? Tentu tidak, Dea. Ini rumit."


Mandala seperti sedang menerawang saat menceritakan kisah kelam ini. Amadea terus menyimak. Bukan karena ia sekedar penasaran dengan kisah ini. Tapi ia benar-benar ingin membuat Mandala merasa lega karena sudah berbagi cerita.


Amadea yakin selama ini setelah Rafael Malik meninggal, Mandala tak punya siapa-siapa lagi untuk sekedar 'bicara.'


"Mama juga menulis kalau ia memberikan banyak uang agar mereka menyingkir dari hidup papa. Papa tahu dan dia diam saja. Ia melepas simpanan dan putrinya pergi entah kemana. Mama merahasiakan tempat mereka kabur.


Hidup berjalan agak normal setelah insiden menyakitkan itu. Mama pikir setelah dia hamil lagi dan punya anak perempuan, papa akan sepenuhnya lupa pada mereka. Tapi ternyata tidak. Kehadiran Marisa tak membuat papa lupa sama anak perempuan pertamanya.


Di buku harian mama, mama menulis kalau di usia Marisa yang baru setahun, papa ketahuan menyuruh anak buahnya mencari anaknya itu. Mama stress dan tentu mengamuk. Papa berjanji lagi nggak akan mengulang.


Ya kalau kamu jadi perempuan, apa kamu akan percaya begitu saja pada laki-laki yang sudah membohongimu berkali-kali?" Pras menatap Amadea seolah ingin minta pendapat.


Amadea tentu menggeleng. Bisa ia bayangkan betapa sakitnya perasaan mama Mandala dulu, terlepas dari dampak depresinya yang tidak bisa dibenarkan juga.


Mandala menghela napas panjang. Amadea masih memandanginya dengan penuh perhatian.


"Setelah Marisa meninggal, mama makin takut papa akan berpaling lagi dan mencari lagi anak perempuannya dari wanita lain itu. Ia takut ditinggalkan. Posisiku sebagai anak lelaki seperti terlupakan. Di mata mama aku tidak ada harganya lagi.


Aku tidak sakit hati. Aku tahu mama pasti mengalami masa sulit karena kelakuan papa. Keluargaku sungguh toxic, Dea. Lebih parah dan mengerikan dari ceritamu soal keluargamu. Kamu takut sama saya sekarang? Keluarga Barata yang terpandang dan terhormat di mata publik, aslinya tak lebih dari sampah. Kami palsu."


...


Hening lagi, tapi tangan Dea terus bergerak mengelus punggung pria itu.

__ADS_1


"Mama pernah bilang ia sudah memb**nuh perempuan itu beserta anaknya ketika mengamuk padaku. Mungkin dia tidak sadar saat mengatakannya. Entah itu halusinasi atau sungguhan aku nggak tahu.


Aku baru sadar arti ucapannya setelah membaca buku itu. Aku nggak tahu apa adik tiriku masih hidup atau tidak karena papa nggak mau mengaku.


Keluargaku seburuk itu, Dea. Memalukan, tidak waras, dan penuh jejak kelam. Aku merasa ikut kotor..."


Amadea balas menatap mata Mandala yang menatapnya dengan tatapan penuh harap. Mandala seolah berharap Dea tidak akan menilainya sedemikian buruk. Ya, ia tahu ia buruk. Tapi janganlah dinilai terlalu buruk.


"Kamu nggak kotor. Kamu nggak salah..." Amadea berkata dengan suara tangis tertahan. Ia merasa iba.


Mandala tertunduk menatap lantai.


"Kamu membenci mama dan papamu?" Amadea akhirnya mengeluarkan pertanyaan itu setelah sejenak mereka sama-sama melamun dalam hening.


Mandala mengangguk.


"Aku bisa paham. Its okay. Kamu cukup kuat Mas telah bertahan sejauh ini. Kamu tidak jahat. Kamu menjadi temperamen dan pemarah tapi tidak pernah kasar secara fisik. Ucapan kamu kasar pun tidak pernah menghina fisik atau pribadi karyawan kamu.


Mandala tertunduk.


"Kamu menilai saya terlalu baik, Dea. Sungguh saya ingin bisa seperti kamu. Kamu menyayangi mendiang ayah kamu. Lalu soal ibu kamu dan segala kelakuannya, kamu tetap bisa sabar dan menerimanya meski kamu menderita.


Saya anak durhaka. Saya memang sedih waktu mama saya meninggal, tapi tak bisa dipungkiri ada kelegaan tersendiri karena tahu setelah itu tak ada lagi sosok yang menyiksa saya lahir batin.


Waktu papa meninggal, saya lebih lega lagi. Oh, akhirnya tidak ada bentakan dan ditaktor yang mengatur hidup saya lagi. Rasanya seperti itu. Saat papa sakit-sakitan, saya tak tahan lagi dan mengungkap buku harian mama. Papa tidak mengakui semua dan bungkam saat saya tanya dimana adik perempuan tiri saya dari selingkuhannya itu.


Saya tidak meneteskan satu tetes air mata pun. Bahkan ketika kolega datang ke pemakaman dan wartawan meliput, saya berusaha keras untuk terlihat sedih padahal saya biasa saja.


Saya seburuk itu Dea. Saya jahat, kan?" Mandala mulai berkaca-kaca lagi.


Amadea tak tahan. Ia melepas genggaman tangannya dari tangan Mandala dan melingkarkan tangannya ke pundak pria itu. Amadea memeluk Mandala sambil menangis.


Mandala ikut menangis tanpa suara. Ia tak mengerti bagaimana Dea bisa memeluknya dan tidak jijik padanya setelah semua pengakuan ini.

__ADS_1


"Nggak! Kamu nggak jahat, Mas. Kadang perasaan itu memang ada. Aku patah arah saat ayahku meninggal, tapi ada kelegaan tersembunyi yang tidak bisa dipungkiri juga dari hatiku.


Akhirnya ayah tidak menanggung sakit lagi. Akhirnya aku nggak harus pura-pura nggak apa-apa lagi ketika melihat ibu marah-marah pada ayah karena kondisi lumpuhnya yang mengakibatkan tumpuan ekonomi keluarga kami hancur.


Perasaan macam itu juga ada padaku. Mas tidak perlu merasa jahat atau merasa bersalah. Jangan menghukum diri kamu sendiri..."


Amadea berkata sambil menangis hingga dadanya sesak. Bahkan ia menangis dengan lebih heboh dibandingkan Mandala yang kini wajahnya sudah kering.


"Jadi kamu tidak benci saya? Tidak menganggap saya pria menjijikkan?" Mandala manatap Dea yang pipinya masih basah.


Sekarang jadi canggung begitu menyadari mereka habis menangis bersama dan memeluk erat satu sama lain. Makannya Mandala jadi memakai panggilan 'saya-kamu' lagi setelah dari tadi terlalu nyaman memakai 'aku-kamu.'


Artinya memang sama, tapi di telinga terdengar berbeda rasanya.


Dea mengangguk. "Tidak. Aku nggak benci kamu, Mas. Tolong jangan benci diri kamu sendiri juga. Mereka sudah tidak ada, dan sekarang waktunya bagi kamu untuk melanjutkan hidup dengan tenang sambil memperbaiki kondisi kamu yang rusak."


Mandala tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Saya pikir kamu akan menganggap saya monster."


Amadea menggeleng. "Kamu bukan monster. Kamu hanya anak malang yang tumbuh dewasa dengan tidak normal. Kamu korbannya..."


Tanpa menunggu Amadea selesai dengan kata-katanya, Mandala memeluk Amadea. Sebuah pelukan erat walau tanya satu tangannya saja yang sempurna mendekap.


"Terima kasih sudah tidak menganggap aku jahat. Bahkan Meirika saja tidak tahu soal ini. Dia tidak layak tahu. Cuma kamu yang tahu rahasia ini sekarang selain Rafael.


Besok kita menikah dan Meirika terus menerorku. Dia tidak mengganggu kamu, kan?" Mandala langsung menanyakan hal itu di akhir kalimatnya begitu ia melepaskan pelukannya.


Amadea langsung kaku. Ya sebenarnya ia merasa terteror jaga sih waktu menerima DM hinaan dari artis terkenal itu. Tapi haruskah ia mengadu pada Mandala?


Mandala menatap Dea penuh tanya.


"Jangan bilang Meirika dapat nomor telepon kamu dan neror kamu!" Mandala menebak dan Dea hanya bisa bungkam.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2