
Amadea diam saja. Ia terlihat bingung lalu Mandala menertawakan reaksinya.
Bagaimana ceritanya seorang Mandala Barata bisa tahu dan peduli pada sepatu butut yang ia pakai?
"Dea, walau belum lama kamu kerja untuk saya, tapi sepatu itu selalu berseliweran di kantor setiap hari. Setiap kamu menghadap saya dan berdiri dengan ketakutan di samping saya, saya melihat sepatu itu. Sepatu itu cukup familiar di ingatan saya.
Saya orang yang jeli. Pernah suatu ketika saya lihat kamu ke kantor dengan sepatu lain yang lebih bagus, tapi esok harinya kamu pakai sepatu kamu ini lagi dengan sol tambahan di bagian belakang. Kamu memperbaikinya setelah rusak dan memakainya lagi.
Dea, saya tahu kamu mampu untuk beli sepatu bagus. Saya menggaji kamu dengan sangat besar. Tapi kamu sangat menyukai sepatu itu. Dulu saya cuek dan tak peduli, tapi setelah saya tahu cerita hidup kamu, saya jadi tahu alasan kamu amat menyukai sepatu itu."
Amadea seperti tersihir dengan semua kalimat Mandala barusan.
Oh, pria galak yang ia kutuk karena kesal beberapa minggu yang lalu itu ternyata diam-diam memperhatikannya.
"Kamu sangat menyayangi ayah kamu. Dan sepatu itu kamu perlakuan dengan begitu istimewanya. Sepatu itu sangat cantik di kakimu. Tebakan saya benar, kan? Sepatu itu dari ayah kamu?" Mandala menatap mata Dea yang kini berkaca-kaca.
Amadea Kasea mengangguk sambil menyeka air matanya.
Oh, semalam ia menangis karena seseorang mengatainya miskin karena sepatu ini. Sekarang seorang pria kaya yang bahkan bisa membangun pabrik sepatu ini begitu memuji sepatunya.
"Dea, pakailah sepatu itu. Saya belikan kamu pakaian dan barang-barang mahal yang harganya berkali-kali lipat tapi sepatu kamu lebih mahal nilainya.
Kamu juga boleh memakainya besok ketika menikah. Toh nggak akan kelihatan karena gaun kamu panjang sekali.
Pakailah sepatu itu sesukamu. Saya bangga dan senang bisa mengenal anak yang sangat bisa menghargai pemberian orang tuanya, sekalipun beliau sudah tiada." Mandala menambahkan.
Amadea Kasea makin menangis sampai sesenggukan.
Mandala makin merasakan betapa lembut hati Amadea. Ia pun tak tahan untuk tak menghampirinya dan memeluknya. Entah kenapa kelembutan sikap Dea membuat sikap keras Mandala perlahan melunak.
"It's okay, Dea. Kamu pasti kangen sama ayah kamu. Saya tahu pernikahan kita besok bukan sepenuhnya sungguhan, tapi kamu gadis luar biasa yang kurasa punya mimpi juga menikah dan berjalan di altar digandeng ayahmu menuju ke arah calon suamimu.
I'm sorry, Dea. I know your struggle. Terutama menghadapi Ibu kamu dan segala tekanan hidup yang harus kamu tanggung. Ayo kita pergi. Kita bisa pergi ke makam ayah kamu sekalian setelah ini kalau kamu mau. Tapi sekarang, pertama-tama kamu juga harus tahu soal aku dan keluargaku dulu..."
Lalu Mandala melepaskan pelukannya. Amadea mengangguk dan mereka berjalan menuju ke arah mobil yang sudah siap menunggu di depan pintu utama sejak tadi.
Dua pasang sepatu itu berjalan berdampingan. Sepasang sepatu mahal mengkilat milik Mandala, dan sepasang sepatu butut yang berharga milik Amadea.
__ADS_1
Entah kenapa walau amat timpang, tapi langkah dua pasang sepatu terlihat serasi.
Dea merasakan hatinya menghangat walau begitu masuk ke dalam mobil AC-nya sangat dingin. Tak pedulilah ia sekarang soal hinaan Meirika. Yang penting Mandala duduk di sampingnya dan menatapnya berkali-kali sambil tersenyum di sepanjang perjalanan ini.
"Tak peduli lagi aku soal Meirika dan hinaannya soal sepatuku. Aku juga tidak akan mengadu ke Mas Mandala soal ini. Biar. Biarkan saja ia menghinaku sampai lelah.
Kamu yang membuang Mas Mandala, kamu pula yang menyesal dan menuduhku sebagai perebut. Walau hanya menjadi pengantin bayarannya, tapi setidaknya dia memilihku dan tidak pernah merendahkan aku sekali pun..."
Amadea kini tersenyum di sepanjang perjalanan ini. Ia merasa seperti sedang memakai sepatu Cinderella dan sang pangeran yang akhirnya menemukannya mengajaknya ke istana untuk menjadi istrinya.
Ya, Mandala Barata adalah pengerannya sekarang...
Amadea merasakan sebuah kelegaan karena rasa syok-nya soal DM Meirika tiba-tiba lenyap begitu saja. Sementara itu, Mandala sekarang sedang gugup-gugupnya.
Dalam diam, wajah seriusnya seolah menerawang dan memilah informasi apa sajakah yang perlu ia ceritakan pada Amadea soal keluarganya.
"Kecelakaan Marisa, kematian janggal mama, atau soal yang mana dulu ya yang harus kuceritakan pada Amadea lebih dulu?" pikir Mandala dalam hati.
Lalu tak berapa lama, Mandala melihat papan jalan yang mengarah menuju area pemakaman elite itu. Posisi duduknya langsung tegap.
Begitu turun dari mobil, seorang kepala pengelola makam datang menyambutnya. Hal ini ia rasa tidak perlu dan terlalu berlebihan. Tapi yang datang datang Mandala, tentu mereka memperlakukannya dengan khusus.
Sang kepala pengelola itu berbual banyak sekali. Mandala tentu tak suka basa-basi busuk begini dan membuang waktu. Ia pun memberi kode Pak Budi agar mengurusnya.
"Saya dan calon istri saya buruh privasi. Jadi kami permisi dulu. Setelah saya pergi, nanti taruh bunganya di makam. Setelah layu dan kering, jangan lupa dibuang." Mandala langsung menggandeng Amadea dan menuntunnya berjalan ke arah makam orang tuanya.
Amadea agak terkejut juga. Kalau Mandala kesulitan membawa bunga karena kondisi tangannya, kenapa tidak minta tolong ia saja. Amadea merasa sanggup jika hanya membawa dua buket bunga dan satu keranjang taburan bunga.
Tapi ia diam saja. Ini kan makam orang tua Mandala, dan ia jelas tak punya hak apa-apa untuk mengatur-ngatur.
***
Semilir angin menerbangkan rambut mereka. Baik Amadea dan Mandala sama-sama langsung memakai kacamata hitam.
Dari kejauhan tampak Pak Budi sedang mengobrol dengan pengelola makam di bawah pohon rindang.
"Agak panas, ya. Di sebelah sana, Dea." Mandala menunjuk ke sebuah deretan makam yang dari tampilannya sepertinya dibuat secara eksklusif alias khusus.
__ADS_1
Amadea menunduk menatap sepatu butut kesayangannya yang kini menginjak rumput makam yang dirawat dengan biaya mahal ini.
"Ini makam papa saya, lalu ini makam mama saya." Mandala menunjuk ke sebuah papan nama.
Amadea menatap nama yang tertera di nisan.
"Barata Andreas." Di sana tertera tanggal lahir dan tanggal wafatnya. Jelas ini makam Papa Mandala.
Lalu di sampingnya ada nama mama Mandala. "Astrini Subroto." Tahun meninggalnya lebih lama dibandingkan suaminya.
Amadea mengamati sekilas sambil melirik ke makam sebelahnya yang bentuknya mirip.
"Marisa Barata."
Siapa dia? Amadea membatin dalam hati. Tapi begitu melihat tahun lahir dan tahun meninggalnya, ia mengasumsikan kalau makam ini adalah makam adik Mandala. Dan anak yang malang itu meninggal di usia anak-anak.
Amadea tentu hanya diam. Mana berani ia bertanya atau menyinggung, kecuali Mandala sendiri yang menjelaskan.
Dan benar saja. Mandala akhirnya yang membuka sendiri.
"Yang sebelah itu makam Marisa. Dia adikku. Meninggal waktu kecil," ucap Mandala.
Amadea mengangguk.
Selanjutnya Mandala berjongkok di antara makam papa dan mamanya. Amadea mengikuti berjongkok.
Matahari makin naik dan Amadea merasakan punggungnya panas.
Dea merasa Mandala akan bicara cukup panjang di makam ini untuk meminta restu pernikahan. Oh, ia jadi ingat ia juga ingin mendatangi makam papanya dan bicara dengan manis untuk mengabarkan pernikahannya.
Ya, makam memang benda mati yang digunakan untuk menyemayamkan manusia yang telah mati juga. Tapi bukannya kebiasaan berbicara pada orang yang telah meninggal lewat makamnya itu hal lumrah?
Amadea langsung merasakan suasana berubah menjadi syahdu. Ia menunggu Mandala bicara dengan manis dan memperkenalkannya. Tapi ternyata...
"Oke, karena panas sekali jadi kita persingkat saja. Mama dan Papa, Mandala datang ke sini bersama calon istri. Namanya Amadea. Dia gadis baik-baik, pintar, dan tentu saja cantik. Kami akan menikah besok pagi. Pernikahan sederhana saja. Aku tidak meminta restu, aku hanya memberi tahu. Aku merestui diriku sendiri atas pilihan hidupku..."
Amadea melongo...
__ADS_1
Hah?
BERSAMBUNG...