
Amadea merasa dadanya sesak.
Oh, betapa kasar kata-kata yang ditulis Meirika dan dikirimkan lewat DM-nya itu.
Sebelumnya, kata-kata paling kasar yang pernah membuat hatinya sakit justru keluar dari mulut ibunya. Tapi itu tak seberapa. Dea menganggap itu amarah tak terkendali ibunya saja yang disebabkan oleh tingkahnya sendiri juga.
"Anak durhaka! Anak nggak tahu diuntung! Anak nggak tahu terima kasih! Mendiang ayah kamu juga nggak pernah melarang ibu menikah lagi kok. Kamu bahkan dengar sendiri waktu dia sekarat. Mama mau bahagia. Om Alik cinta sama Mama dan Mama mau nikah sama dia!"
Sejauh ini itulah kata-kata paling kasar yang pernah ia terima.
Tapi kata-kata Meirika yang ia baca barusan teramat menyakitkan berkali-kali lipat dibandingkan umpatan kesal ibunya dulu.
"Dasar pel**cur!"
"Cewek murahan!"
"Dibayar berapa kamu sama Mandala buat gantiin aku jadi pengantinnya? Hah! Jangan-jangan malah tidak dibayar. Kamu kan wanita gratisan. Mau numpang hidup enak ya karena selama ini miskin!"
"Ngaca kamu siapa, Dea! Saya pernah lihat kamu sekali waktu datang ke kantor Mandala dan saya langsung prihatin sama sepatu kamu yang penuh bekas lem dan sol tambahan. Sebegitu miskinnya ya kamu sampai memperalat Mandala! Benarkan dulu sepatu gemb*lmu itu!"
"Kamu pasti rayu-rayu dia dengan memanfaatkan kecacatan dia! Perempuan ular! Perempuan picik! Licik! Menjijikkan!"
"Kamu sampah, Dea! Penjilat! Benalu miskin yang mimpi jadi Nyonya Kaya!"
"Mandala milik saya! Kamu wanita rendahan yang nggak selevel sama dia! Tahu dirilah sedikit! Ngaca!"
Akhirnya dengan tangan gemetar, Amadea menamatkan membaca pesan penuh makian itu. Oh, makin sakitlah hatinya...
Apa ia setidak layak itu menjadi istri pura-pura Mandala Barata?
"Kamu cantik, elegan, pintar. Saya butuh pendamping yang pantas. Dan kamu orang paling tepat yang bisa saya pilih." Bukannya Mandala sendiri yang bilang begitu?
__ADS_1
Apa dia hanya bilang omong kosong saja biar aku mau dan sepakat untuk kawin kontrak itu?
Pertanyaan tak percaya diri itu membuat Amadea tertekan. Ia pun mematikan handphone-nya lagi dan menjatuhkan wajahnya di bantal.
"Aku menikah demi 250 juta. Demi nominal yang menurut orang kaya macam Mandala dan Meirika hanya receh. Tapi apa cacian barusan itu setimpal?" Amadea membatin dengan mata-terpejam.
Oh, andaikan ia bisa tidur dan melupakan apa yang ia baca barusan. Andai saja...
Tapi jelas isi kepalanya sekarang penuh. Memori-memori tak mengenakkan berseliweran lagi memenuhi ingatannya.
Ia ingat memang waktu pertama kali melihat Meirika secara langsung karena Mandala memintanya menjemputnya di lobby kantor.
Tak henti-hentinya Amadea mengagumi kecantikan artis yang dulu hanya bisa ia lihat dari layar televisi. Ia begitu star struck sampai sangat gugup ketika mereka berdua saja di lift.
Amadea terlalu gugup sampai ia tak sadar kalau Meirika melihat ke arah sepatu bututnya dengan jijik.
"Wanita dilihat dari sepatunya.' Begitulah bunyi ungkapan yang pernah ia dengar. Apa yang kamu injak menentukan status sosialmu!
Di peran film dan sinetronnya ia adalah tokoh baik. Di dunia nyata Meirika adalah tokoh jahat. Lama-lama dan setelah tahu sendiri Dea tak lagi mengidolakan artis yang telah menghinanya dengan kasar itu.
***
Amadea lupa berapa jam ia menangis hingga sadar hari saja pagi dan ia ingat kalau punya janji dengan Mandala pagi ini.
"Saya mau ajak kamu ke makam orang tua saya. Dan juga ke rumah lama saya. Rumah tempat saya menghabiskan masa kecil saya." Begitulah kurang lebihnya kata-kata Mandala semalam saat menemui Dea di taman.
Dea mencuci wajahnya dan menatap cermin toilet mewah di kamar barunya ini sambil menggigit bibirnya.
Ya! Sempurna sudah hasil tangisannya! Mata pandanya menghitam, melengkung dengan nyata di bawah matanya.
Amadea lalu ingat meja rias barunya yang tak lupa diisi Vina dengan skincare mahal dan petintilan make up lain dari produk kenamaan berharga selangit.
__ADS_1
Dea kurang suka make up tapi ia paham bagaimana caranya merias diri. Ia pun segera ke meja rias dan mencari produk apakah yang paling mempan membuat mata pandanya setidaknya agak tersamarkan.
"Astaga Vina!" Amadea berseru geram saat membuka laci-laci dan melihat banyak sekali produk yang bahkan beberapa tak ia ketahui fungsinya.
Vina sempat bilang akan membelikan yang terbaik dengan menaruh produk terbaik pada daftar belanjaan untuknya. Memang anak itu bukan hanya personal shopper, tapi dia sekaligus mesin penghabis rekening klien-nya.
"Mandala nggak akan bangkrut atau miskin cuma gara-gara daftar belanjaan yang kubuat untukmu. Lagian kamu jadi istrinya sebentar lagi." Begitu ucapan Vina kemarin yang terngiang-ngiang di telinga Dea ketika ia mengoleskan cream mata di depan cermin.
"Kalau kujual semuanya dan kabur, aku nggak perlu mikirin uang makan dan bertahan hidup untuk setahun. Vina, setelah ini nggak akan kubiarkan kamu beli-beli begini lagi atas alasan disuruh Pak Mandala!" Amadea mengoceh sendiri sambil memandangi isi meja riasnya itu.
Dalam hati ia membatin, "Mungkin bagi Meirika ini hal biasa. Ia artis. Tentu selalu memakai produk mahal. Tapi apa aku pantas memakai semua fasilitas ini? Meirika bilang aku pel**cur jual diri."
Amadea tak mau kata-kata makian kasar dari Meirika makin membuatnya sedih lagi. Ia pun beranjal dan memutuskan untuk menyibukkan diri memilih baju yang hendak ia pakai ke makam. Sekalian kacamata hitam, tas, dan sepatu.
Amadea Kasea menatap deretan sepatu mahal yang Vina beli untuknya itu dan mencobanya beberapa. Pas semua. Jelas Vina tahu ukuran kakinya.
Semua sepatu itu mahal. Tapi ucapan Meirika yang menyindir sepatu bututnya kembali mengusiknya.
"Aku nggak semiskin itu. Aku bekerja paruh waktu dan membiayai kuliah dengan uangku sendiri. Aku kerja mati-matian walau ketika jenjang karirku hampir naik malah kena PHK.
Aku tahan-tahankan jadi sekretaris Mandala Barata walau makan hati dan menangis tiap hari. Aku punya uang walau ibuku memerasku. Aku sanggup beli sepatu baru walau tidak mahal.
Tapi sepatu butut itu hadiah ulang tahunku uang terakhir dari ayahku sebelum beliau meninggal..."
Amadea lalu menutup pintu lemari sepatu mewahnya itu dan beralih membuka koper yang ia bawa dari rumahnya.
Dikeluarkannya sepatu butut yang dihina Meirika karena solnya yang sudah lepas dan ia sol ulang itu. Bekas lem juga tampak jelas terlihat.
Amadea tak peduli. Ia mendekap sepatu itu penuh sayang.
"Aku akan pakai sepatu ini ke makam orang tua Mas Mandala. Aku nggak peduli sepatu ini sudah sejelek dan sebutut apa. Ini dari ayah..."
__ADS_1
BERSAMBUNG ...