
Ruangan kerja Mandala Barata yang biasanya sehari-hari berisi amarah dan omelannya pada karyawannya itu mendadak sunyi.
Mandala larut dengan pikirannya kepada Amadea, sedangkan reporter majalah bisnis itu terdiam karena terlalu terkejut dengan hasil wawancaranya sendiri.
Mandala Barata kan salah satu tokoh publik yang sulit ditemui media. Bahkan membuatnya berkata sepatah kata pun untuk berkomentar saat wawancara singkat di acara-acara publik saja dia bungkam. Tapi lihatlah apa yang barusan ia ungkap di sini.
Reporter itu tahu boss-nya akan memujinya habisin setelah wawancara ini.
"Pak, untuk mengakhiri sesi wawancara, maka inilah pertanyaan terakhir saya. Anda terlihat sangat mencintai dan mengagumi calon istri Anda. Sebesar apa cinta Anda kalau boleh digambarkan?
Jujur saja, saya terkejut Anda yang di media selalu terlihat sebagai pria yang dingin dan tegas bisa selembut dan semanis ini saat membicarakan Nona Amadea Kasea. Dari sorot mata Anda, Anda juga terlihat sangat memuja beliau."
Lalu Mandala tertawa mendengar pewawancaranya.
Oh, benarkah begitu? Apa matanya yang berbicara terlalu jujur. Amadea Kasea memang gadis yang mengagumkan. Mandala jadi tersenyum-senyum sendiri karena terbayang lagi pada gadis manis itu.
"Ya, saya sangat mencintai dia. Saya tidak pandai berkata-kata. Dia juga tidak terlalu suka disorot untuk publikasi. Jadi jika dia menyimak wawancara ini nanti, saya hanya ingin dia tahu kalau saya lebih mencintai dia lagi dengan kata-kata yang bahkan tidak bisa diucapkan lewat mulut saya.
Saya juga ingin mengucapkan terima kasih karena dia sudah mau bertahan untuk saya di dalam kondisi terlemah saya. Thankyou for stay, Amadea Kasea. You are my only one."
Lalu wawancara diakhiri dengan senyum lebar dari rahang tegas wajah tampan Mandala Barata.
Kameramen yang meliput sampai berkaca-kaca. Ya, wawancara bisnis ini tak disangka separuhnya berisi soal kehidupan pribadi dan percintaan Mandala Barata yang selama ini begitu tertutup.
Ya, mereka pikir Mandala punya kisah cinta seperti pangeran negeri dongeng.
Pangeran cacat karena cedera saat berburu di hutan kehilangan satu tangan dan Tuan Puteri yang cantik nan baik hati tetap menerimanya.
Sepertinya ini gambaran sempurna, walau sebenarnya cuma kisah rekayasa.
Mandala Barata menyelesaikan wawancara lalu menelpon Karen-sekretaris pengganti Amadea.
__ADS_1
"Karen, saya nggak jadi meeting ya. Atur ulang jadwalnya besok. H-1 pernikahan saya tetap ke kantor, kok. Sekarang saya mau pulang. Satu lagi, suruh Pak Budi stand by di lobby."
Panggilan telepon ditutup. Mandala tiba-tiba tersenyum sendiri. Tiba-tiba wajah Dea terbayang di kepalanya. Apa ya yang sedang dilakukan gadis itu di rumah? Mulai sekarang kan mereka sudah tinggal serumah.
Maka dari itu Mandala yang masih ada satu jadwal meeting memutuskan untuk pulang. Rasanya jadi ingin melihat langsung gadis itu. Ia rindu...
Kring! Kring!
Ketika Mandala berdiri dan bersiap meninggalkan ruangannya, tiba-tiba telepon di mejanya berdering.
"Halo? Apa Karen? Meirika? Ngapain? Di lobby? Oh, bilang aja saya nggak ada. Suruh Pak Budi jemput dari pintu belakang, ya. Saya akan tetap pulang. Terserah kamu urus Meirika biar pergi dari kantor saya. Kalau perlu usir dia!" Mandala berkata dengan santai lalu menutup telepon.
Ya, Mandala tidak lagi patah hati ditinggalkan artis cantik itu. Yang tersisa di hatinya hanya perasaan benci. Di kondisi terlemahnya, tunangannya mengatainya cacat lalu meninggalkannya. Ketika sekarang wanita bermulut kasar itu ingin kembali mengejarnya, ia sudah tak mau peduli lagi.
"Aku akan pulang, Dea," gumam Mandala sambil berjalan keluar meninggalkan ruangannya.
***
Bisa dibilang Meirika ditahan. Dicegah agar jangan sampai naik lift dan pergi ke ruangan Mandala. Karen yang diserahkan tugas mengurus hal ini tampak resah dan bingung.
Status keselebritian Meirika dan nama besarnya membuatnya sungkan. Padahal Mandala sudah menyuruhnya untuk mengusir wanita itu.
"Halo, Pak. Mandala Barata mengungkap banyak hal soal kecelakaan, kondisi tangannya yang diamputasi, dan soal pernikahannya beberapa hari lagi. Semua diungkap tanpa ditutup-tutupi. Hasil soft copy wawancaranya saya kirim lewat email ya."
Pria kelimis dari majalah bisnis yang seharusnya mengenali kehadiran Meirika yang janggal di kantor ini sampai tak sadar dengan kehadiran artis itu. Ia melanggeng pergi dengan handphone menempel di telinganya.
"Apa? Saya kerjain sekarang? Tapi kan majalah kita terbitnya baru minggu depan, Pak. Iya sih nanti kita kehilangan momen. Ya, baik. Kita rilis secara digital dulu. Akan saya kerahkan tim saya, Pak. Publik harus tahu Mandala Barata akan menikah."
Dan Meirika yang sedang ngeyel ingin masuk berpapasan dengan pria yang sibuk dengan handphone di telinganya itu. Meirika bisa mendengar jelas dan jadi makin murung.
Oh, Mandala mengekspos pernikahan ini...
__ADS_1
Meirika tiba-tiba merasa tak terima. Harusnya ia yang akan dibicarakan dengan hebohnya. Harusnya ia tokoh utamanya. Berita pernikahan ini akan terfokus padanya dibandingkan Mandala kalau calonnya ia, bukan Amadea.
"Kalau Mandala nggak di kantor, terus dia dimana? Di rumahnya? Atau di apartemennya yang dekat kantor ini?" Meirika yang sudah menyerah ingin memaksa masuk akhirnya mencoba mengulik info lain.
Karen menggeleng.
"Saya tidak tahu. Lebih baik Anda pulang saja karena saya capek mencegah Anda masuk. Pak Mandala bilang kalau Anda terus memaksa, maka saya boleh minta satpam gedung untuk menyeret Anda keluar." Karen berkata dengan nada dingin.
Meirika memelototinya dengan tatapan tak percaya. Apa? Ia mau diseret keluar?
"Dengar ya! Saya artis! Kamu nggak tahu!" Meirika mulai berkacak pinggang.
Mungkin kalau Maya alias managernya ikut, Maya sudah menyeret Meirika keluar karena tingkahnya begitu memalukan, berbeda sekali seperti yang selama ini diperlihatkan di depan kamera.
"Saya nggak peduli Anda artis atau bukan. Boss saya Pak Mandala. Yang saya ikuti ya perintah beliau. Sekarang Anda keluar sendiri baik-baik dari gedung ini atau saya suruh satpam gedung menyeret Anda keluar!" Karen rupanya sudah ketularan sikap dingin Mandala.
Meirika menatap Karen tak percaya lalu menyingkir keluar.
Karen akhirnya menghembuskan nafas lega. Tak menyangka ia kalau job desk-nya sebagai sekretaris pribadi Mandala Barata termasuk juga mengusir artis.
"Mamaku pasti akan mengomeliku kalau tahu aku mengusir Meirika Jayatri. Mamaku kan penggemar berat sinetronnya dulu. Ah, sudahlah. Aku capek." Karen melenggang pergi masuk lift.
Tugasnya banyak. Jadwal Mandala seminggu ke depan harus ia atur ulang karena bentrok dengan hari pernikahan. Itu saja sudah membuatnya pusing, ditambah lagi tugasnya disuruh mengusir Meirika dari gedung.
***
Di tengah semua hiruk-pikuk ini, Mandala yang sudah sampai di rumahnya sedang mengetuk pintu kamar Amadea tapi tak kunjung dibuka.
Tok tok tok!
BERSAMBUNG ...
__ADS_1