Suami Tangan Satuku

Suami Tangan Satuku
Tebakan


__ADS_3

Di pagi yang sama ketika Meirika dan managernya menemui dokter kandungan diam-diam untuk bersekongkol soal kehamilan palsunya, maka Mandala Barata sedang duduk juga di depan seorang dokter yang mengujunyinya secara khusus di rumahnya.


Dokter kenamaan yang punya jadwal padat itu meluangkan paginya yang penuh kantuk untuk mengecek luka bekas amputasi Mandala.


"Anda pulih dengan cepat, Pak. Sebagai dokter yang menangani Anda sejak awal, saya merasa bangga." Sang dokter bernapas lega sambil mengemasi perlengkapannya ke dalam tas dibantu asistennya.


Mandala tersenyum tipis dan mengangguk. Masih ada satu sesi konsultasi lagi.


Amadea yang terheran karena menghabiskan waktu sarapan sendirian di meja makan mewah itu hanya bisa mengangguk paham ketika Bu Lulu menjelaskan kenapa Mandala Barata absen lagi di meja makan pagi ini.


"Sebelumnya dokternya pernah sekali juga datang ke sini malam-malam. Tapi nggak tahu ngecek apa. Saya juga nggak berani tanya-tanya. Oh ya, Bu Dea mau diambilkan sesuatu lagi untuk pecuci mulut?" Bu Lulu menawarkan.


Amadea menggeleng pelan. Ia tak selera makan.


Pagi ini ia sudah merias wajahnya dengan konsep no make up look. Yang jelas ia ingin menyamarkan matanya yang kentara sekali habis menangis tanpa harus berdandan menor. Sekarang terbukti, wajahnya terlihat fresh.


Oh, tak sia-sia juga ia pernah kerja paruh waktu menjadi asisten make up artist. Ia jadi punya keahlian merias dirinya sendiri tanpa repot. Dan hasilnya sempurna.


Bagi Dea, make up-nya berfungsi untuk menegaskan kecantikannya yang memang sudah ada.


Dea meminum segelas air putih dan menatap kosong ke arah depan dengan bosan.


Sungguh ia berharap bertemu pria yang membuatnya jatuh bangun dengan perasaannya akhir-akhir ini itu di meja makan ini. Eh, ternyata tak ada.


Setelah DM makian menyakitkan dari Meirika membuatnya patah semangat, setidaknya Dea ingin melihat Mandala yang pernah bilang ia pantas jadi istrinya. Entah mengapa sejak menangis semalam ia merasa perasaannya akan membaik setelah melihat Mandala.


"Bapak sudah selesai, Bu." Bu Lulu berbisik lalu menyingkir.


Dan benar saja, Dea melihat pria yang ia tunggu-tunggu itu berjalan ke arahnya.


"Oh, kamu sudah siap?" Mandala tampak menggulung kemejanya dan menatap Amadea yang sudah bergaun hitam.

__ADS_1


Amadea langsung nyengir salah tingkah hingga ia berdiri dari duduknya. Mandala tersenyum ke arahnya, Dea makin tak karuan.


"Saya ke kamar dulu ngambil handphone, ya. Kamu tunggu di depan. Tadi Pak Budi sudah saya suruh stand by," ucap Mandala.


Amadea mengangguk.


"Jangan lupa bawa kaca mata hitam. Pagi ini cuaca kelihatannya cukup cerah. Takutnya nanti silau." Mandala berkata penuh perhatian.


Dea mengangguk lalu menujuk ke arah kacamata hitam di meja yang bersanding dengan tas hitam pilihannya juga.


Mandala tertawa kecil menyadari Amadea sudah lebih siap darinya.


"Oke. Good. Kamu cantik pakai gaun ini. Elegan." Mandala memuji terusan polos warna hitam dengan sedikit berenda di bagian lengan dan bawahnya itu. Sangat cocok memang di tubuh ramping Amadea.


Amadea tersenyum tersipu. Ya, ia setengah mati memilih pakiaan yang cocok, simple, tak terlalu berlebihan tapi tetap cantik untuk ke pemakaman. Tak sia-siap ia termenung setengah jam di walking closet-nya.


Akhir-akhir ini Mandala entah kenapa berkurang drastis jiwa pemarahnya. Ia bahkan berkata dengan nada lebih lembut. Tak hanya kepada Dea, tapi bahkan pada pada pegawai di rumahnya.


Perubahan signifikan ini terutama dirasakan oleh Bu Lulu yang peka karena mengenal Mandala sejak lama.


Mandala diam saja tak berkomentar apapun, tapi Amadea merasakan tatapan yang berbeda. Entah mengapa ia yang tadi bersikeras memakai sepatu ini lalu merasa mendadak tidak percaya diri.


Sepatu ini memang buruk sih...


"Oke, saya ambil handphone dulu." Mandala lalu berlalu pergi.


Dengan masih berdiri di posisi yang sama, Amadea menatap sepatu kesayangannya itu dengan ragu.


Oh, memang jauh jika dibandingkan tas, kacamata, dan gaun bermerk mahal yang ia pakai ini. Apalagi jika dibandingkan jam tangan yang ia pakai. Satu jam tangan ini bisa membeli ribuan sepatunya dalam kondisi baru.


Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya Amadea memutuskan untuk mengganti sepatunya. Ia pun berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


Namun sayang ketika ia belum juga mencapai pintu, Mandala yang pintu kamarnya berdekatan dengan pintu kamarnya tampak keluar dari kamarnya.


"Loh, Dea. Kamu mau kemana? Kok nggak nunggu di depan? Ada yang ketinggalan?" Mandala bertanya.


Amadea menggeleng lalu ia menyesal. Seharusnya ia bohong saja agar alasannya kembali ke kamar tidak membuat Mandala curiga. Jadinya sekarang ia bingung mau beralasan apa.


"Terus kenapa balik ke kamar?" Mandala bertanya dengan bingung.


Amadea diam lalu menunduk menatap sepatu bututnya. Mandala entah kenapa bisa membaca gelagat itu dan menebak.


"Mau ganti sepatu?" tanyanya.


Amadea langsung mengangkat wajahanya dengan terkejut. Bagaimana Mandala bisa tahu?


"Kenapa ganti? Saya pikir kamu sudah siap berangkat," imbuh Mandala.


Amadea langsung merasa bodoh. Oh, tadi ia terlalu emosional karena sindiran Meirika yang mengatai sepatunya. Seharusnya ia tak termakan omongan itu. Ngapain ia pakai sepatu ini hanya karena sakit hati? Jadi tak matching dengan penampilannya secara keseluruhan, kan?


"Ng--nggak papa. Bapak tunggu sebentar, ya. Saya janji tidak akan lama. Cuma ganti sepatu." Dea menatap Mandala lalu tangannya bergegas meraih handle pintu kamarnya.


"Nggak usah ganti sepatu. Itu saja yang kamu pakai. Bagus, kok. Memangnya kenapa, sih?" Mandala terlihat sedikit bingung.


Amadea terdiam tanpa sepatah katapun mampu keluar dari mulutnya.


Mandala menatap kepolosan dalam mata yang menunduk itu lalu tersenyum.


"Saya baca semua list belanjaan Vina untuk kamu. Saya yakin sekurang-kurangnya dia beliin kamu 50 pasang sepatu dalam berbagai tipe. Saya yakin semua pas di kaki kamu karena Vina sangat perfectionist.


Kamu pakai sepatu itu pagi ini karena pasti sedang merindukan seseorang. Ayah kamu, kan?" Mandala menebak.


Amadea langsung menatap mata dengan alis tebal milik calon suaminya itu dengan terkejut.

__ADS_1


Bagaimana Mandala bisa tahu?


BERSAMBUNG...


__ADS_2