Suami Tangan Satuku

Suami Tangan Satuku
Mendadak Ragu


__ADS_3

Bu Lulu mengawasi para pelayan yang bertugas khusus untuk urusan dapur dan membantu chef. Mereka sedang membereskan hidangan di meja makan.


Amadea Kasea menatap mereka dengan tatapan lemas. Bu Lulu berdiri di sampingnya dengan bingung.


"Kalau Bapak belum pulang jam segini, biasanya kami sudah membereskan semua hidangan. Itu perintahnya. Kecuali dia meninggalkan pesan khusus agar chef stand by membuatkan menu khusus saat ia terlambat pulang." Bu Lulu menjelaskan tanpa diminta.


Amadea hanya mengangguk sok paham. Padahal semua hal di rumah ini di luar nalarnya sebagai orang biasa. Mana ada orang yang punya chef pribadi di rumahnya kalau bukan orang kebanyakan uang?


Belum cukup itu saja. Amadea iseng mengecek salah satu tas yang ada di walking closet yang diurus Vina dan menemukan harganya tidak masuk akal. Harganya bahkan lebih mahal dibandingkan nilai tukar pernikahan kontrak ini atas utangnya.


Ya, benar. 250 juta lebih harga satu tas branded buatan Perancis itu. Setara utangnya, bahkan lebih. Dan itu hanya nilai satu item tas saja. Belum tas lain, jam tangan, perhiasan, sepatu, dan banyak lagi yang disiapkan Vina untuknya atas perintah Mandala.


Amadea menatap piring terakhir yang diangkut dengan trolley khusus macam sedang makan di hotel itu. Sekarang meja makan mewah di depannya itu kosong.


"Pak Mandala biasa pulang telat begini, ya? Seringkah?" Amadea bertanya pada Bu Lulu yang berdiri di sampingnya.


Bu Lulu menggeleng. "Tidak sering juga. Tapi biasanya kalau pulang terlambat beliau akan bilang. Pak Mandala orang yang sangat teratur dan tepat waktu."


Amadea mengangguk. "Ya, saya tahu soal itu."


Bu Lulu yang tahu kalau Amadea dulunya adalah sekretaris Mandala ikut mengangguk-angguk. Sejujurnya ia salut karena gadis muda dan lugu macam Dea mau menikahi pria dewasa yang sikapnya kadang tak dewasa itu.


Apa gadis ini menikahi Pak Mandala karena kekayaannya? Atau apa? Jujur saja semenjak diberitahu kalau Dea akan tinggal di sini menjelang hari pernikahan mereka, pikiran Bu Lulu sempat bertanya-tanya soal ini.


Tapi Bu Lulu adalah orang yang tahu diri. Ia bungkam tentang semua hal yang terjadi di keluarga Barata. Ia menjaga setiap aib dan kejadian di keluarga ini seperti keluarganya sendiri.


Sebagai orang yang sudah lama ikut keluarga Barata, Bu Lulu tahu betul kisah kelam keluarga ini. Pun hingga beberapa tahun lalu ketika Barata senior alias papa Mandala meninggal karena sakit, Bu Lulu juga menjadi saksi hidup.


Ia saksi hidup bagaimana Mandala tak meneteskan setetes apapun ketika pengusaha kaya itu meninggal. Ia tahu sekeras apa Mandala tumbuh dewasa. Papanya tanpa sadar menjadikannya macam monster hidup.

__ADS_1


"Bu Dea tetap mau menunggu di sini?" Akhirnya setelah beberapa menit hening, Bu Lulu bertanya.


Amadea menatap meja makan yang kosong lalu menggeleng. Rumah ini masih terasa asing. Ia baru kepikiran soal peribahasa 'bagai burung di sangkar emas' itu nyata adanya.


Amadea rindu rumahnya. Rumah sederhana yang hangat peninggalan mendiang ayahnya. Ah, tapi membayangkan Om Alik ada di rumah itu membuat kemarahan Amadea bergejolak lagi.


"Saya mau jalan-jalan di belakang saja. Di taman. Saya nggak berani hubungi Mas Mandala. Dia pasti sangat sibuk. Saya nggak mau ganggu dia." Amadea lalu beranjak dari meja makan diikuti Bu Lulu yang entah mengapa merasa perlu untuk mengantar.


***


Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda.


Ketika di taman rumah Amadea sedang memandangi rembulan di langit malam yang cerah, Mandala juga sedang memandang rembulan yang sama dari balik kaca jendela mobilnya yang melaju di jalanan.


Rupanya mimpi buruk soal mamanya kembali mengganggunya. Ia selalu merasa terusik tiap memori buruk itu datang.


Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan memikirkan Amadea.


Ah, pasti iya. Mandala menjawab tanyanya sendiri dalam hati.


"Kok dia bisa menebak aku punya trauma berat yang membuatku menjadi seperti ini?" Mandala tampak sadar menggumam. Ini adalah hal yang jarang ia lakukan.


Pak Budi sampai melirik beberapa kali lewat spion tengah mobil. Ia mengira boss-nya yang biasanya bersikap dingin dan serius itu bicara padanya, padahal tidak. Mandala Barata sedang menggumam sendiri.


"Anak itu tulus dan polos sekali. Dea, Dea. Bahkan ia tak minta uang lebih untuk menukar pernikahan kontrak ini. Ia hanya minta nilai yang sama dengan tanggungan utang mamanya. Beda sekali dengan Meirika yang sedikit-sedikit minta uang.


Haruskah kuceritakan semua masa lalu keluargaku yang gelap itu padanya? Ah, mungkin ia akan ketakutan. Semua terlalu gelap untuk dicerna manusia normal. Keluarga Barata menyimpan rahasia kelam. Yang terlihat di publik hanya kulitnya saja. Itupun palsu."


Kali ini Mandala berkata dalam hati. Tiba-tiba pemikirannya ini bermuara pada satu rencana.

__ADS_1


Mandala tiba-tiba duduk tegak dan mengajak bicara Pak Budi yang sedang fokus menyetir.


"Pak, Budi. Tolong hubungi pengelola makam orang tua saya. Saya mau ke sana besok sama calon istri saya. Saya yakin sudah dirapikan tapi dicek lagi saja. Bapak yang urus, ya." Mandala memerintahkan.


"Baik, Pak." Pak Budi menjawab.


Jarak rumah tinggal beberapa menit lagi. Mandala kembali menyandarkan tubuhnya di jok mobilnya dengan santai. Tangannya meraba bekas luka amputasinya yang hampir pulih. Matanya terpejam.


"Papa sama Mama nggak tahu kan kalau tanganku tinggal satu sekarang?" Ia berkata dalam hati seolah kedua orang tuanya yang sempat ia benci itu bisa mendengarnya.


Mandala masih memejamkan mata. Posisinya jadi seperti sedang memeluk dirinya sendiri dengan tangan kanan memeluk bahu kirinya.


"Meirika bahkan belum tahu soal keluargaku. Dia hanya tahu soal papaku dari berita di internet. Untung saja aku belum cerita semuanya. Tapi kurasa Dea harus tahu soal ini. Dia pasti paham.


Dia harus tahu mamaku, papaku, dan Marisa..."


Mandala masih memejamkan mata dan tersenyum tanpa sadar begitu ingatan buruk di kepalanya lenyap dan kini senyum manis Dea tang terbayang di sana.


Mandala mengingat kenangan lucu itu dan suasana hatinya dengan ajaib membaik. Ia mengingat wajah lugu Amadea yang memejamkan mata begitu wajahnya mendekat padanya.


Mandala ingat kalau Amadea bilang ia bahkan belum pernah punya pacar. Pantas saja tangannya berkeringat dingin saat foto pra wedding kemarin itu.


Mandala berpikir mungkinkah ia pria pertama yang menggenggam tangan Dea? Dan bibir suci gadis polos itu... Ah, Mandala yakin betul Amadea baru pertama kali menyentuhkan bibir tipis menawannya itu di kulit seorang pria.


Tiba-tiba senyumnya tertarik begitu pikirannya mengarah ke hal lain. Bagaimana kalau Amadea menganggap ia dan keluarganya menjijikkan setelah tahu kisah kelam itu? Bagaimana kalau ia takut?


Kemudian Mandala ingat ekspresi kaget Dea ketika ia menjelaskan gosip hubungan terlarang antara ia dan Rafael itu tidak benar. Begitu saja Dea sudah kaget. Bagaimana kalau mendengar yang lebih serius?


Mandala tiba-tiba ragu.

__ADS_1


Haruskah Dea ia beritahu soal Marisa? Atau ia simpan rapat-rapat saja soal itu?


BERSAMBUNG ...


__ADS_2