
Maya tampak frustasi.
"Meirika, kalau kamu nekat membuat kebodohan dan tercium media, aku akan berhenti menjadi managermu, ya! Urus dirimu sendiri atau sekalian sana cari penggantiku!" Maya mulai berteriak kesal.
Meirika yang sudah berkeringat karena lelah rebutan handphone dengan Maya tampak mendesis tak kalah emosional.
Maya akhirnya melepaskan handphone Meirika dari tangannya. Ia biarkan saja artisnya itu berbuat sesukanya. Ia sudah lelah. Ia angkat tangan.
Dengan napas naik turun tak karuan, Meirika menatap handphone-nya sendiri yang sudah siap dengan ketikan bernada ancaman, hujatan, makian, serta sumpah serapah yang ia tujukan pada akun sosial media Amadea.
Ia tadi mengetikkannya dengan segenap emosi membara. Jadi bayangkan saja betapa beracun dan menjijikkannya kata-kata yang tertulis di sana.
Deg!
"Sialan! Terlanjur kepencet! Kekirim, May!" Meirika langsung gemetar.
Maya mengeluarkan makian kasar dan merebut kembali handphone Meirika dari tangannya.
Bibir Maya langsung terkatup. Ia rasa sia-sia saja mengeluarkan satu truk makian pada Meirika. Toh tidak akan mengubah kebodohan yang sudah terlanjur kejadian ini.
"Gila ya kamu!" Maya syok begitu membaca isi ketikan Meirika yang diketikkan lewat DM untuk Amadea.
"Ya aku tadi kan emosi." Meirika langsung berubah lembut suaranya. Macam kucing minta dikasihani.
Maya menatap Meirika dengan tatapan setajam laser. Ia melepas kacamatanya dan menyeka keringat di dahinya. Ia tahu mungkin pesan ini memang tak sengaja terkirim karena kepencet tadi. Dan ia punya andil atas itu.
Bayangkan saja handphone yang layarnya menyala itu ditarik jadi rebutan ke sana dan ke sini. Entah tangannya atau tangan Meirika sendiri yang menyentuh tombol 'send' itu, yang jelas sudah terlanjur.
"Nggak bisa di-unsend atau dibatalkan kirim. Ini bukan aplikasi sebelah. Kalau kamu beruntung, Dea yang kayaknya jarang main sosial media ini ngelewatin pesan dari kamu.
Kalau kamu sial, Dea Dea itu bakalan baca DM kamu dan lapor ke Mandala. Ujung-ujungnya apa? Mandala makin benci sama kamu." Maya mulai meredakan amarahnya. Suaranya kedengaran lebih rendah.
Meirika duduk saja di kasur seperti anak kecil yang sedang takut dimarahi ibunya.
__ADS_1
Ah, memang bisa apa ia tanpa Maya? Sebagai manager, jasa Maya bagi karirnya sangat besar. Meirika takut Maya benar-benar akan meninggalkannya seperti ancamannya tadi.
"Bodoh kamu, Mei! Atau mungkin kalau kamu punya rencana nekat kayak kemarin yang bilang mau gembar-gembor ke media soal kalian yang batal nikah dan pengantinnya diganti Dea, maka Mandala bisa menyerang balik.
Siapa juga pengusaha terhormat yang masuk jajaran daftar sepuluh besar orang terkaya di negeri ini mau menikahi perempuan bermulut kasar macam kamu.
Tunggu sampai DM kamu ke Dea tersebar. Lihat reaksi publik. Mana mau mereka percaya lagi pada akting nangis-nangis dan alim kamu di film lagi kalau mereka sudah baca DM kamu yang menjijikkan itu.
Capek-capek aku bangun karirmu, Mei. Kamu rusak sendiri dengan tingkah bodohmu itu! Capek aku beresin kelakuan-kelakuan kamu supaya tetap bercitra positif sebagai artis. Kamu palsu!"
Maya tampak emosional lalu ia membanting badannya sendiri ke atas kasur di samping Meirika duduk.
Maya kelihatan begitu stress. Meirika diam saja.
Entah sudah beberapa tahun mengurus Meirika dengan naik turunnya karir sang artis, tapi baru kali ini Maya merasa sangat gagal sebagai seorang manager.
Sudah ia rencanakan matang-matang kemarin sampai-sampai ia menyewa seorang social media specialist untuk tetap membangun citra positif Meirika yang hendak mengumumkan pernikahan dengan Mandala Barata. Eh, malah begini jadinya.
Tak ada angin, tak ada hujan, hari itu Meirika yang kelihatan labil bilang kalau ia baru saja memutuskan Mandala. Ia meminta Maya lebih fokus untuk menawarkan potensinya dalam film. Memang gila anak itu!
"Aku udah atur strategi sama tim loh buat kamu biar fans kamu yang kebanyakan cowok itu nggak pergi setelah tahu kamu menikah. Aku sudah atur loh dan diskusi berminggu-minggu. Aku capek, Mei.
Sekarang fans cewek maupun cowok juga akan pergi kurasa setelah lihat watak asli kamu. Lagian Amadea juga cantik dan kalem. Mereka pasti akan berbalik membela dia. Kamu akan jadi sampah!" Maya berkata getir. Ia tahu ini pahit, tapi ini faktanya. Publik mudah membenci artis bermasalah.
Meirika menarik napas panjang. Ia ikut berbaring di samping Maya dan berusaha merayu managernya itu agar tak marah-marah dan mengomelinya lagi.
"Aku lebih terkenal, May. Lagian siapa Dea? Aku bangun karir dari 0 bertahun-tahun. Nggak segampang itu mereka benci padaku. Peranku sebagai tokoh protagonis yang selalu menderita membuat mereka percaya aku beneran baik." Meirika berusaha denial padahal ia sendiri sebenarnya ragu.
Maya tertawa pelan.
"Itu dulu. Nggak lagi setelah foto kamu di club kesebar. Mabok-mabokan, ngerokok, pakai pakaian terbuka. Orang-orang mulai melek, mana akting mana nyata." Maya menyanggah. Ya, walau pahit tapi setidaknya ia tidak denial mengingkari fakta.
Meirika menarik napas panjang lagi lalu diam.
__ADS_1
"Mandala tahu berita itu tapi dia nggak marah. Katanya kamu bebas dan berhak punya kesenangan sendiri dengan main-main di club karena dia sadar dia sibuk kerja dan nggak bisa nemenin kamu terus. Malah kamu dikasih uang jajan yang banyak buat traktir-traktir teman-teman kamu itu!
Padahal mau cari suami macam itu dimana lagi coba. Apa sih salahnya kalau dia cacat? Toh dia masih punya satu tangan lagi dan tetap kaya raya. Bodoh kamu!" Maya mengata-ngatai Meirika dengan kasar terus-terusan untuk melampiaskan kekesalannya.
Dan karena menyadari kebodohannya sendiri, Meirika tidak marah terus dimaki-maki managernya itu. Ia hanya diam saja.
"Aku susah payah loh waktu itu nyogok karyawan Mandala sendiri waktu kamu check in sama Bagas. Lagian gila kali kamu selingkuh di hotel punya Mandala! Untung nggak ketahuan. Mandala memang percaya sama kamu sepenuhnya sampai nggak terlalu ngecek kelakuan kamu di belakang dia.
Padahal aku sudah deg-degan akan ketahuan dan kalian gagal nikah gara-gara ini. Eh, kamu sendiri yang gagalin!" Maya masih belum puas mengomel rupanya. Ia terus mengungkit semua hal yang dulu membuatnya kesal.
"Aku mabok waktu itu. Mana ingat aku!" Meirika membantah lirih.
Maya mendecak-decakkan bibirnya seperti seorang ibu yang frustasi melihat kelakuan anaknya.
"Semabok-maboknya orang, setidaknya dia ingat sedikit, lah. Puluhan hotel di kota ini, Meirika. Kenapa harus check in di hotel punya Mandala, sih? Kamu tahu nggak aku mahal nyogoknya biar mereka bungkam. Soalnya mereka memanfaatkan keadaan dan seperti sedang memeras pihak kita! Kamu juga sih!" Maya makin menggerutu.
Meirika diam saja sejenak lalu menyahut, "Ya namanya mabok itu nggak ingat apa-apa, Maya! Ingat nggak waktu Mandala aku mabokin waktu itu sebelum dia trip ke hutan dan kecelakaan? Itu loh yang aku curi kartu dia dari dompet buat beli tas?
Nah, Mandala parah kan maboknya sampai paginya waktu kukerjain dan kubilang semalam kita tidur bareng, dia percaya dan syok? Haha. Emang orang mabok beda-beda, Maya. Sorry waktu itu ngerepotin kamu." Meirika sempat-sempatnya bercanda.
Ia pikir Maya akan terhibur dan berhenti marah. Tapi ternyata Maya tetap kelihatan kesal.
Hening.
Lalu tiba-tiba seolah baru mendapat ide cemerlang, Meirika berseru.
"Maya! Waktu itu kan Mandala marah gara-gara aku jebak sampai mabok dan kubilang kita menghabiskan malam berdua. Kamu tahu kan dia semenjaga diri itu sampai bilang hanya akan melakukannya lagi setelah kita sah menikah?" Maya tiba-tiba bangun san berkata dengan antusias.
Maya mengangguk dengan bingung. Ia belum bisa meraba kemana arah pembicaraan Meirika ini.
"Nah, gimana kalau aku ngaku-ngaku hamil karena kejadian itu? Timingnya pas, kan? Sebelum dia kecelakaan di hutan, terus kalau dihitung sekarang... Mmm, ya! Bisa! Gimana ideku?" Meirika terlihat yakin.
Maya hanya bisa melongo. Ide ini...
__ADS_1
BERSAMBUNG ...