Suami Tangan Satuku

Suami Tangan Satuku
Bilang Atau Tidak


__ADS_3

"Dea..."


Sebuah suara yang tak asing di telinga itu membuat Dea yang sedang duduk di depan cermin tersentak kaget. Handphone di tangannya sampai jatuh ke lantai.


Dipandanginya Mandala yang sudah berpakaian rapi dan tampak gagah. Sungguh, tangan kirinya yang dipotong sesiku di meja operasi beberapa bulan lalu itu tak terlihat mengurangi segala pesonanya di mata Dea.


"Kamu kenapa?" tanya Mandala sambil menutup pintu. Ia pun berjalan mendekat.


Lalu apa yang dilakukan Amadea? Tentu ia segera menunduk dan mengambil handphone itu dari lantai. Ia bahkan secepat kilat menekan tombol power agar layarnya mati.


Jangan sampai Mandala melihat balon percakapan antara ia dan Meirika di layar handphone itu. Jangan sampai.


Pikiran Amadea yang tadinya bimbang dan bingung setengah mati dengan segala tebakan dari kode voice note yang dikirim Meirika jadi makin terasa pusing tujuh keliling.


Andai lipstik yang menghiasi bibir tipisnya ini tak tertata sempurna, pasti bibirnya yang pucat sudah kelihatan. Ia tertolong dengan segenap make up ini sehingga Mandala tak terlalu menyadari perubahan air mukanya.


"Dea? Everything okay?" tanya Mandala yang kini jaraknya tinggal selangkah lagi di depan Dea.


Amadea mengangguk cepat. Tangannya dengan lihai menyembunyikan handphone-nya ke pangkuan.


Tapi selihai-lihainya Dea mencoba menyembunyikan barang bukti, kepekaan Mandala tak bisa mengalahkan triknya. Terbukti, sekarang Mandala sedang menatap tajam ke arah pangkuan Amadea.


"Dea? Ada apa dengan handphone kamu? Ibu kamu menghubungi kamu lagi? Dia mengatakan hal yang nenyakiti hati kamu lagi?" tanya Mandala dengan curiga.


Amadea merasakan nafasnya jadi tak beraturan karena degup jantungnya berbalapan dengan paru-parunya. Rasanya tak karuan. Tapi ia merasa bersyukur Mandala malah menduga ia panik karena ibunya, bukan karena Meirika. Ya mengingat kemarin Mandala sudah memperingatkan agar ia melapor kalau Meirika menghubunginya dan berbuat macam-macam.


"Ng--nggak kok, Mas. Nggak papa. Ibu cuma bilang selamat atas pernikahan kita dan bilang sekali lagi menegaskan kalau dia benar-benar tidak bisa hadir," sahut Dea berbohong.


Ah, boro-boro ibunya mengucapkan selamat. Riris Sayuti bahkan tak peduli. Ia sibuk dengan suami baru dan anak tirinya yang bermuka dua itu.

__ADS_1


"Oh, okay. Sabar, ya. Saya tahu kamu pasti sedih. Sebentar lagi prosesi dimulai. Saya sedikit tegang juga sebenernya karena nanti harus tanda tangan dokumen pernikahan." Mandala sedikit tersenyum miris sambil melihat ke arah tangan kirinya. Jasnya terlihat agak aneh memang jadinya kalau ia tak pandai-pandai menutupi kekurangannya itu.


Amadea jadi tertunduk sedih. Ya, bisa ia ingat beberapa waktu terakhir ini Mandala benar-benar kesusahan menggunakan tangan kanannya karena tak terbiasa. Ya walaupun tak dinampakkan di depannya, tapi Dea jelas tahu bagaimana Mandala kesulitan membuka pintu mobil, memasang sabuk pengaman, mengambil gelas untuk minumnya sendiri, bahkan sekedar mengancingkan kemeja.


Hal-hal biasa tersebut adalah hal remeh-temeh yang bisa ia lakukan dengan mudah dulunya. Tapi sekarang, itu termasuk sulit. Apalagi soal tanda tangan...


Hening.


Amadea tak tahan hendak menimpali apa. Ia tahu sosok Mandala adalah sosok yang sangat benci dikasihani. Jadi percuma menyemangatinya atau mengatakan hal-hal klise yang menenangkan hati. Semua itu akan terasa menggelikan baginya.


"Dea, saya tidak bisa tidur semalaman. Saya keluar tengah malam lewat dan melihat pintu kamar kamu tertutup. Lalu saya ingin dari balkon dan lampu kamar kamu sudah mati. Saya pikir kamu tidak bisa tidur juga jadi kita bisa bertemu dan mengobrol. Entah mengapa akhir-akhir ini saya sering ketiduran untuk menemui kamu. Walaupun tidak bicara, tapi saya hanya ingin sekedar melihat kamu."


Deg!


Hening lagi. Amadea benar-benar merasa lidahnya kelu.


Mandala tersenyum tipis. Ah, begitu manis.


Dea yang tadinya menunduk lalu mendongakkan kepalanya menatap Mandala.


Perasaan apa ini? Semacam perasaan lega tapi ini sedikit aneh.


"Oh, Mas Mandala gugup juga ternyata semalam. Bukan aku sendiri yang tak bisa tidur. Artinya ia menganggap pernikahan ini penting. Bukan hanya sekedar pernikahan transaksional. Pernikahan kontrak. Kamu salah paham Amadea. Kamu terlalu berprasangka buruk. Tapi soal Meirika...


Arghhh! Benarkah ia hamil anak Mas Mandala? Kenapa sih aku harus mengetahui hal itu di suasana yang tidak tepat? Tapi kan dia tidak mengatakan itu secara langsung. Bisa jadi ini hanya trik-nya, kan? Mas Mandala juga sudah bilang kan kalau Meirika itu licik?


Ah, tapi bagaimana kalau ternyata ini sungguhan? Apa aku jahat karena telah melanjutkan pernikahan sandiwara ini sementara aku tahu seorang wanita di luar sana sedang mengandung anak calon suamiku? Tapi aku pun sudah dibayar. Dan aku butuh uang...


Aku bilang tidak ya soal ini?"

__ADS_1


Suara hati Amadea yang bersahut-sahutan membuatnya sakit kepala.


"Tok tok tok...!"


Tiba-tiba saja di dalam keheningan ini terdengar suara ketukan pintu.


"Pak Mandala, Bu Dea, semua sudah siap. Lima menit lagi acara dimulai." Suara Karen terdengar di balik pintu yang sedikit dibuka.


Mandala menatap Amadea yang juga sedang menatapnya dan tersenyum.


"Tinggalkan handphone itu di sini, Dea. Lupakan pikiran soal ibumu dulu. Ini momen kita. Ayo kugandeng." Dan Mandala mnegulurkan tangan kanannya dengan senyum terkembang.


Dengan insiden kepala yang masih galau karena dugaannya soal kehamilan Meirika, Amadea mencoba tetap tersenyum dan berdiri. Ia terima uluran tangan Mandala.


Mandala kini berdiri sejajar dengannya. Pria itu terlihat sangat mengayominya seolah ini pernikahan sungguhannya. Bagaimana hati Amadea tidak bergetar?


Ketika baru berjalan satu langkah menuju pintu, mata Mandala tertuju ke arah sepatu Amadea dan berbisik.


"Kenapa tidak pakai sepatu kesayangan pemberian ayahmu?" Suara Mandala yang dekat di telinga Dea membuat hati gadis itu makin berdesir.


Dalam hitungan detik mata Amadea berkaca-kaca. Sungguh, sepatu itu ia tinggalkan di kamarnya pagi tadi. Ia tak ingin merusak kesempurnaan gaun dan riasan mewah ini dengan sepatu murahan itu. Tapi bisa-bisanya seorang Mandala mengingat sepatu dekil itu dan tak keberatan jika ia memakainya di momen penting ini?


Jelas, keharuan yang menyesakkan hati Dea yang kacau balau ini memunculkan tangis tak tertahan lagi.


Mandala sampai menghentikan langkahnya karena bingung mempelainya menangis hebat lima menit sebelum acara pernikahan dimulai.


"Dea, kamu kenapa?" tanyanya dengan suara lembut.


Dea makin menangis kencang.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2