Suami Tangan Satuku

Suami Tangan Satuku
Penuh Resiko


__ADS_3

Maya langsung terbangun dari posisi berbaringnya setelah mendengar ide gila Meirika.


Ditatapnya Meirika dengan tatapan tak percaya. Ide konyol apa ini? Tapi Meirika terlihat sangat bersemangat menjelaskan rencananya itu.


"Jangan anggap aku gila, Maya! Lihat berapa uang yang aku pegang sekarang? Berapa banyak hutangku? Kita hampir bangkrut. Dan sewa apartemen ini juga hampir habis. Bodohnya aku dulu ketika sedang banyak uang tidak beli aset tetap.


Tapi dengan mengaku hamil pada Mandala, maka kehidupanku akan terjamin. Sebenci-bencinya Mandala padaku setelah aku putuskan kemarin, pasti hatinya akan luluh kalau dia tahu aku hamil anaknya.


Setidaknya dia ngasih aku uang, lah. Itu pasti. Iya, kan?" Meirika berusaha meyakinkan.


Maya yang tadi menatap Meirika dengan tatapan garang berubah menjadi menatap serius. Matanya menyipit dan ia mulai meletakkan tangannya di dagu. Kelihatan sekali kalau sekarang ia sedang berpikir keras.


Lagian juga sih, setelah tawaran film terakhir yang akhirnya gagal membuat Meirika kalang kabut. Ia meninggalkan banyak project lain demi film yang digadang-gadang akan box office itu. Eh, ternyata zonk.


Tawaran besar satupun belum muncul lagi. Meirika mulai tak tahan dan kelabakan karena kehabisan uang. Seharusnya ia masih bisa bertahan kalau mau menurunkan gaya hidupnya yang glamour dan kebanyakan gengsi itu.


Mungkin kesialan ini makin bertambah karena bertepatan dengan insiden foto yang menyebar kemarin.


Ya sebenarnya insiden itu bukan apa-apa sih. Toh banyak selebriti dengan skandal foto-foto serupa bahkan lebih parah. Tapi citra Meirika sebagai pemeran protagonis berhati lembut, bermuka polos nan kalem dan alim itu menjadi rusak karena foto itu.


Kemarin Meirika masih jumawa saat putus dari Mandala. Ia punya nama besar yang bisa mengeruk pundi-pundi uang dari dunia hiburan untuk mencukupi gaya hidupnya yang sungguh wah. Tapi sekarang lihatlah...


Ketika tawaran protagonis tak lagi mempercayainya dan tawaran untuk pameran antagonis kurang cocok dengan mukanya, maka ia baru gigit jari.


Memang masih ada sih beberapa project kecil tapi uangnya tidak seberapa. Spot light positif yang mengarah kepadanya juga tidak ada.

__ADS_1


Meirika pusing, Maya lebih pusing lagi.


"Kamu yakin dengan ide sebodoh itu? Mandala bukan pria bodoh yang bisa dengan mudah kita bohongi dan kita peralat." Maya lalu berusaha untuk logis.


Meirika mengangkat bahu. "Ya namanya juga mencoba. Aku yakin kok kalau Mandala tidak akan membuka ini ke media atau ke publik sekalipun aku ketahuan bohong. Apa gila dia kalau membongkar soal hubungan kita dan mengatakan aku hamil? Iya, kan?"


Maya menggeleng kembali. Ia berusaha membantah walaupun dia pikir ide ini lumayan menjanjikan juga.


Nominal uang yang keluar dari rekening Mandala tentu bukan main-main kalau sampai ide ini berhasil.


"Oke, gini aku jelasin. Mandala akan tetap kubiarkan menikahi Dea Dea itu. Kita nggak akan usik soal itu. Entah apa maksudnya dia menikahi gadis itu ya aku nggak ngerti, lah.


Kayaknya kalau Mandala cinta banget sama gadis sekretaris itu aku juga nggak yakin. Hatinya sekeras batu. Mandala itu bukan orang yang gampang jatuh cinta. Aku kenal baik dia seperti apa.


Bahkan walau kemarin ia sudah hendak menikahiku, aku juga nggak yakin dia itu cinta sungguhan. Ya pokoknya kamu ngerti lah, Maya. Ngerti nggak sih maksudku apa?" Meirika terdengar susah payah menjelaskan berulang-ulang.


"Jadi kita biarkan saja Mandala menikah sama Dea. Malah bagus itu. Nah, barulah habis itu aku mengaku sedang hamil anaknya. Jadi lebih mudah, kan?


Tinggal kita palsukan saja kehamilanku. Menyogok dokter kurang kredibel juga masih mampu kan kita? Selebihnya ya kayak akting aja, May. Nanti kalau aku harus muncul di depan dia ya aku pakai perut palsu.


Pokoknya kayak kalau lagi shooting. Ingat kan aku pernah dapat peran ibu hamil di sinetron tahun lalu? Gampang lah itu. Nanti kalau sudah waktunya bulan melahirkan, kita carilah bayi adopsi atau apalah itu. Itu lebih gampang, kan?" Meirika makin berapi-api menjelaskan.


Maya menggigit bibirnya. Ia membatin setan apa yang merasuki Meirika sampai ia dengan lancar menjelaskan rencana busuk ini. Busuk tapi cukup menjanjikan lah.


"Kamu ingat kan, Maya. Waktu aku ikut program acara sosial Mandala di kantornya, kulihat betapa banyak bayi yang dibuang orang tuanya sendiri di panti asuhan.

__ADS_1


May, tinggal adopsi bayi saja lalu kita besarkan anak itu dengan uang yang terus mengalir dari Mandala. Kita ambil jeda di sambil kita bangkitkan karirku yang mulai redup ini.


Menghilang setahun dengan uang berlimpah dari Mandala cukup lah. Nanti kita liburan aja. Kalau perlu pindah ke Bali lah atau ke mana, lah." Meirika mulai lagi dengan khayalan di kepalanya yang ia rasa mudah untuk dilakukan.


Maya yang lebih realistis tampak diam sejenak. Ide-ide dari Meirika bisa juga sih ia bayangkan di kepalanya. Dan Maya rasa ia juga bisa menghandle semua, dengan catatan : semuanya lancar dan Mandala tidak seteliti itu.


Maya mulai menarik napas panjang. Mungkin ia pikir ini saatnya menentang ide Meirika sekaligus mengetes responnya kalau menemui situasi buruk.


"Tapi kan Mandala bisa saja menyuruh orang untuk mata-matain kita. Hamil itu 9 bulan loh, Meirika. Dan itu waktu yang panjang untuk terus berakting. Gimana kalau kita ceroboh di tengah sandiwara ini dan ketahuan?


Matilah kita! Mandala bukan orang bodoh. Oke dia mungkin udah nggak peduli sama kamu, tapi anak buahnya kan banyak. Gimana kalau dia menyelidiki dokter yang kita suap? Atau dia nyari tahu rumah sakit yang kita bayar untuk berbohong." Maya terus berusaha memberi opini.


Maya jelas tak mau Meirika salah langkah. Kehancuran Meirika jelas kiamat juga baginya.


Meirika menarik nafas panjang lalu melamun. Ia kemudian kembali duduk seperti anak kecil yang sedang menyesal karena habis melakukan kesalahan besar dan dimarahi ibunya.


Terbayang wajah Mandala dengan rahang kokohnya itu. Hidung mancungnya, alis tebalnya. Wajah yang di atas rata-rata dan bisa dibilang tampan, pewaris tunggal, kaya raya. Yang kurang cuma jumlah tangannya.


Meirika menggigit bibirnya. Ia pandangi jari-jemari cantiknya yang rutin dirawat di salon mahal itu dengan tatapan sedih. Ada ketakutan ia kembali di masa dimana ia masih berada di bawah meniti karir.


Ia ingat saat masih menjadi pemeran pembantu dan ia dihina di ruang tunggu artis karena kuku jeleknya. Waktu itu ia yang masih belum punya banyak uang tak mampu membeli cat kuku. Maya masih miskin juga tentu saja.


Sekarang kukunya yang cantik ini tak ada gunanya. Tangannya tak berguna.


Meirika mendesah lelah. Ah, nyatanya tangan Mandala yang hanya satu pun bisa melakukan banyak hal. Ia masih bisa mencetak uang dari tanda tangannya saja.

__ADS_1


"Gimana Maya?" Meirika mulai merajuk karena makin frustasi.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2