
Riris Sayuti berdiri untuk mengambilkan minum Melisa lagi. Jarak matanya dengan layar handphone Melisa yang menampilkan berita soal pernikahan Amadea hanya beberapa sentimeter saja.
Apakah akhirnya mata jeli wanita matrealistis itu tertuju ke arah layar handphone?
Sayangnya tidak.
Dan begitu Melisa yang sudah usai mengatasi rasa tersedaknya mengambil handphone-nya lagi, berita di timeline sosial medianya sudah berubah lagi.
Mungkin memang belum waktunya mereka bertiga tahu soal siapa calon suami Dea. Kalau sampai mereka tahu sekaya apa Mandala Barata yang mereka hina karena cacat itu, pasti mereka akan menyesal, terutama Riris Sayuti.
Alik yang masih duduk santai di meja makan seolah ini rumahnya sendiri itu lalu berdehem dan menatap ke arah Riris Sayuti lagi.
"Ris, mereka nikah dimana? Gedung? Hotel? Rumah? Setidaknya kita bisa menilai sekaya apa calon suami Dea dari tempat pernikahan yang dipilih. Kalau dia kaya dan jabatannya lumayan mentereng di kantor, setidaknya ya di hotel bintang lima, lah. Jadi dimana mereka nikahnya?" Alik bertanya penasaran.
Riris Sayuti mengernyitkan alisnya. Kemarin Dea sudah menyebut sih acaranya di hotel mana. Bahkan Dea menawarkan mamanya untuk menginap semalam sebelumnya di sana.
Riris hanya menjawab iya-iya saja kemarin. Ia bilang ia akan datang walau kurang suka dengan suami pilihan Dea. Tapi setelah mendapat kabar dari Alik dan pria itu berhasil ia selundupkan kembali di rumah ini, rasanya ia jadi malas datang.
Padahal datang ke pernikahan anak kandung satu-satunya sendiri, tapi Riris merasa malas. Entah setan apa yang merasukinya. Setan Alik mungkin.
"Di hotel yang di jalan Mega, Mas. Kemarin Riris bilang begitu, sih. Bagus nggak sih hotelnya? Mas bukannya katanya sering ya meeting-meeting bisnis gitu di daerah sana? Pasti tahu, dong." Riris balik bertanya.
Alik agak gelagapan. Meeting-meeting bisnis apaan. Ia kan hanya membual agar Riris yakin ia sungguhan pria kaya yang sedang bangkrut saja bisnisnya.
"Eh, oh i--iya. Ya lumayan sih tapi bukan bintang lima. Hotelnya biasa." Alik menjawab sekenanya.
Riris Sayuti mengangguk-angguk percaya.
Padahal hotel di Jalan Mega itu adalah salah satu hotel berbintang milik Mandala Barata. Masih banyak beberapa hotel di titik strategis lain di ibu kota ini, bahkan beberapa juga di luar kota. Andai mereka tahu, pasti bungkam mulut mereka.
"Aku nggak mau datang ah, Mas. Malas. Aku juga nggak ngundang siapapun yang kukenal walau Dea ngasih kuota undangan buat keluarga atau temanku. Malu, lah.
Nggak ngerti kenapa anak itu tergila-gila sama lelaki itu. Kayak nggak ada lelaki lain aja yang fisiknya sempurna. Ingat sama ayahnya kali itu anak.
__ADS_1
Ayahnya kan sempat lumpuh bertahun-tahun sebelum meninggal. Aku bukannya durhaka sama suamiku dulu, tapi dia ngerepotin banget. Kebanyakan Dea yang urusin, tuh. Eh, sekarang anak itu diperistri laki-laki cacat bertangan satu. Ya biar apa kalau bukan buat disuruh-suruh urusin dia."
Alik manggut-manggut mendengar ucapan istrinya. Melisa tampak cuek dan asyik dengan handphone-nya.
Riris Sayuti mungkin merasa akan sehat selamanya dan tak akan menua. Ia merasa kesempurnaan fisiknya akan bertahan sampai umurnya uzur.
Alik pun sama. Ia bukannya menegur istrinya yang mencaci dan merendahkan Mandala, tapi ia hanya diam saja seolah mengiyakan semua cemoohan itu.
Alik memang tak tahu diri. Sikapnya 11-12 dengan Riris Sayuti. Bisa-bisanya menghina kecacatan mendiang ayah Dea padahal mereka sedang duduk nyaman di rumah hasil kerja keras pria itu semasa hidup.
"Yaudah kalau nggak mau datang. Bilang aja sama Dea biar dia nggak nungguin kamu nanti. Yang penting kan uang bulanan dari dia dan jatah suaminya buat kamu tetap lancar. Cacat begitu yang penting masih ada uangnya.
Pas banget kan di hari pernikahan Dea itu Melisa harus ke kampus untuk pemberkasan ulang. Kamu temani dia, deh. Dia kan dari luar kota dan masih bingung. Aku kayaknya ada meeting sama temanku jadi nggak bisa antar." Alik menyahut.
Riris Sayuti mengangguk-angguk.
"Iya, nanti aku bilang. Mandala-Mandala itu juga katanya udah nggak punya keluarga, kok. Ayah ibunya sudah meninggal. Keluarganya yang lain sedikit dan tinggal di luar negeri. Udahlah biar sekalian nggak usah ada keluarga yang datang dari kedua belah pihak. Toh pernikahan mereka tetap sah tanpa kedatanganku." Riris Sayuti menyahut lagi.
Alik lagi-lagi manggut-manggut lagi. Mereka berdua memang klop. Tidak ada yang waras dan berpikiran sehat.
Orang tua yang berpikiran normal tentu tidak akan seperti itu...
Oh, betapa malangnya Dea.
***
Sementara di kantor Mandala.
Sesi wawancara berlangsung. Mandala untuk pertama kalinya mengungkap kondisi fisiknya pasca kecelakaan itu.
Pihak media yang meliputnya sampai tidak bisa berkata-kata ketika Mandala menjelaskan dengan santai kalau tangan kirinya telah diamputasi.
"Tidak apa-apa. Saya masih punya satu tangan kanan yang berfungsi dengan baik. Dan sebentar lagi saya punya dua tangan lain yang utuh untuk membantu saya kalau saya kesulitan. Yaitu tangan istri saya." Mandala tertawa dengan santai di akhir kalimatnya.
__ADS_1
Mungkin mereka pikir Mandala sudah berdamai dengan keadaan dan kecacatannya di usia 30an yang bisa dibilang masih cukup muda ini. Tapi mereka tak tahu saja Mandala punya sisi sedih yang ia simpan sendiri.
Pengusaha kaya raya itu punya sisi lemah juga, tapi ia simpan dalam lubuk hatinya yang paling rapat. Ia tetap terlihat kuat dan biasa saja di depan orang lain karena didikan keras mendiang ayahnya dulu.
Laki-laki tak boleh lemah, tak boleh sedih, tak boleh menangis. Begitu kata mendiang papanya dulu
Mandala benar-benar menjadi pribadi yang keras karena didikan itu. Ia jadi tak bisa mengeluarkan semua perasaan normal sebagai manusia itu dan mengeluarkannya dalam wujud emosi yang lain : yaitu marah.
Ketika ia sedih ia akan marah. Ketika ia kecewa ia akan marah juga. Ketika ia bingung dengan dirinya sendiri pun yang keluar dari dirinya juga amarah.
Ya, itulah yang membuat Mandala menjadi sosok menyeramkan hingga semua karyawannya menganggapnya sebagai monster, termasuk Amadea.
"Mengingat kecelakaan tersebut belum lama terjadi, berarti calon istri Anda yang merawat Anda ketika sakit? Lalu pernikahan beberapa hari ke depan ini tetap tidak diundur pelaksanaannya sampai Anda pulih betul? Apa ini keputusan berdua atau...?"
Mandala tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Ya, dia yang merawat saya dengan sabar. Amadea adalah wanita paling sabar dan pengertian yang pernah saya kenal. Dia bilang ayahnya dulu juga sempat lumpuh sebelum akhirnya meninggal. Dia juga yang merawat. Dia bilang dia tidak akan meninggalkan saya hanya karena keadaan saya. Dia akan merawat saya.
Soal rencana pernikahan, sebenarnya ini malah mendadak dilaksanakan. Ini keputusan bersama. Kami sama-sama orang yang punya pemikiran kuno soal pernikahan. Dengan menikah, kita bisa tinggal bersama dalam ikatan yang sah sehingga dia bisa leluasa merawat saya.
Bisa dibilang saya sangat beruntung bertemu dengan wanita seperti Dea."
Saat Mandala mengucapkan kalimat ini dan media merekamnya, raut mukanya terlihat begitu mendalami, seolah ia betulan sangat mencintai Amadea Kasea.
Mandala sampai terkejut sendiri dalam hati. Semua kebohongan untuk keperluan wawancara ini keluar dari mulutnya seolah semuanya adalah kejujuran.
Bahkan saat ia menyebut nama Dea, wajah polos dan tulus itu juga yang terbayang di pelupuk matanya.
Apa artinya ini? Apa perasaan ini tanpa sadar sudah makin bersemi di hati gersang Mandala yang sebelumnya habis terbakar oleh Meirika?
Mandala sampai termenung sendiri. Kira-kira butuh berapa lama baginya untuk menyadari gejolak rasa itu? Atau ini hanya rasa pelarian saja sebagai bentuk dendam pada Meirika?
Orang yang patah hati akan berusaha terlihat lebih bahagia kan untuk membuat mantannya menyesal?
__ADS_1
Apakah Mandala seperti itu?
BERSAMBUNG ...