
Mandala tak menoleh atau melirik ke arah Amadea sedikit pun saat mengatakan kalimat itu.
"Oke, dia bilang aku gadis baik-baik, pintar, dan cantik. Aku jelas tidak pernah dipuji dengan nada sedemikian bangga kecuali oleh ayahku. Aku senang. Siapa yang tidak senang? Tapi soal restu..." Dea membatin dalam hati.
Amadea benar-benar melongo. Mandala bilang ia tak minta restu karena akan merestui dirinya sendiri? Ini konyol, sih. Tapi di sisi lain Amadea merasa Mandala punya prinsip yang kuat soal pilihan hidupnya. Seolah ia ingin menegaskan tidak ada yang bisa mengaturnya, sekalipun orang tuanya.
Amadea yang tadinya melongo mendadak merasa Mandala keren juga. Mungkin kalau orang tua Mandala masih hidup dan mereka tak setuju dengan Dea sebagai calon menantu, maka Mandala akan mengatakan hal yang sama.
Ya, menikah dengan calon pilihan itu kehendak pribadi dan tidak bisa diatur-atur orang lain, sekalipun itu orang tua. Mandala seolah menegaskan poin itu lewat kata-katanya.
Ah, Amadea jadi ingat bagaimana reaksi ibunya sewaktu pertama kali ia memberi tahu akan menikahi Mandala. Ibunya langsung sinis. Terlebih setelah tahu Mandala cacat tangannya. Makin sinis ketika tahu Dea akan resign dari kantor setelah menikahi Mandala.
Entah sudah berapa kali kuping Dea panas karena ibunya selalu menyebut kata cacat ketika menyebut nama Mandala. Ia sampai lelah memperingatkan.
Oh, andai ia bisa setegas itu kemarin menghadapi ibunya yang banyak drama soal pernikahannya. Tapi baguslah, kemarin ia sudah merasa lebih baik karena bisa sedikit tegas dan membuat ibunya tak berkutik lagi. Ya walau harus diancam dulu tidak dibantu bayar hutang.
Hening sejenak sampai Mandala menoleh ke arah makam Marisa. Amadea masih menyimak dengan pikirannya yang ramai oleh suara-suara hatinya sendiri.
"Hai, Marisa. Kakak sangat sayang padamu tapi terima kasih karena sudah jarang datang menyapa lewat mimpi. Bukannya tak rindu, tapi kalau bisa jangan muncul lagi dalam mimpi karena kakak akan sedih. Kakak tidak ingin melupakanmu. Kakak hanya ingin menghapus memori sedih saja. Baik-baik di sana, ya. Sebentar lagi kamu akan punya kakak ipar," ujar Mandala.
Amadea tersenyum karena dipanggil kakak ipar. Bisa ia bayangkan Mandala sangat menyayangi adiknya sewaktu ia masih hidup. Oh, andai Dea tahu cerita kelamnya...
"Untuk Papa, perusahaan berjalan lancar, Pa. Tenanglah. Ketakutan Papa soal aku yang akan membuat perusahaan bangkrut salah besar. Perusahaan menghasilkan banyak profit karena kerja kerasku. Seharusnya Papa bangga dan tidak mengatai aku t**lol lagi.
Dan untuk Mama, aku nggak tahu Mama mau dengar ucapanku atau tidak. Tapi seumur hidup Mama selalu menganggap aku jahat dan tidak pernah membuat Mama bangga. Tapi aku bangga pada diriku sendiri karena mampu bertahan hidup baik-baik saja dengan tangan satu. Kalau Mama masih ada pasti Mama akan bilang aku tak punya masa depan karena cacat.
Aku masih punya value yang sama sekalipun kedua tangan dan kakiku diamputasi juga. Aku juga bangga telah menemukan wanita yang menerimaku dengan keadaan ini. Aku juga tak peduli komentar Mama pada Amadea karena aku tahu Mama selalu berkomentar buruk soal apapun yang kupilih. Bagiku dia sempurna.
Sudah itu saja, kami akan pamit pulang. Selamat tinggal."
Amadea benar-benar tertegun karena Mandala hanya berkata sesingkat itu lalu menggandengnya pergi. Terlebih ia merasakan nada dingin dan emosi mendalam seperti sebuah dendam saat Mandala berbicara pada makam mamanya.
Jelas dari kata-kata yang tersirat kalau hubungan Mandala dan mamanya dulu tidak terlalu baik. Amadea hanya bisa menyimpan dugaan itu di dalam hatinya.
Tidak ada kata-kata manis lagi, juga tidak ada bunga.
__ADS_1
Seriuskah?
Hanya begitu saja lalu pulang?
Mandala terus menggandengnya hingga mereka sampai ke mobil.
"Kita ke rumahku. Jaraknya hanya 5 kilometer dari sini," ujar Mandala.
Amadea mengangguk.
Tanpa instruksi, Pak Budi langsung melajukan mobil meninggalkan area makam.
Kalau sewaktu perjalanan berangkat tadi Amadea berbunga-bunga karena sikap manis Mandala, sekarang di perjalanan dengan mobil yang sama dan orang yang sama ini terasa begitu berbeda.
Jujur saja, Amadea merasa bingung dengan sikap dingin Mandala saat mengunjungi makam orang tuanya.
Apa dulu ia tidak seakur itu dengan orang tuanya?
Dan pertanyaan itu hanya mengendap dalam hatinya saja hingga mereka sampai ke rumah bergaya lama yang terlihat tetap terawat meskipun tidak lagi ditinggali itu.
"Kita sampai, Dea. Ini rumah masa kecilku. Aku punya banyak kisah rahasia di sini. Kamu mau dengar?" Mandala tersenyum dengan getir begitu Dea berdiri di sampingnya setelah turun dari mobil.
Hanya mereka berdua saja. Pak Budi menunggu di mobil...
Mendadak Amadea merasa bulu kuduknya meremang ketika memasuki rumah kosong itu. Hawanya mencekam. Dan anehnya kini ada rasa ketakutan yang menyergapnya.
Digenggamnya tangan Mandala tanpa sadar. Mandala diam saja hingga ia menunjuk ke sebuah kursi panjang di pinggir kolam renang yang airnya kosong alias kering kerontang itu.
Mereka pun duduk.
Hening.
Amadea merasakan semilir angin sejuk ini membuat punggungnya yang kepanasan di makam tadi mendadak dingin. Tapi rasa dinginnya aneh.
Entah mengapa aura rumah kosong ini seperti mengintimidasinya.
__ADS_1
"Saya orang yang tertutup. Yang tahu kisah hidup saya dan keluarga saya hanya Rafael Malik. Setelah dia meninggal, saya tidak punya teman. Hingga akhirnya saya menemukan kamu dan merasa kita sepertinya bisa lebih dari hubungan nikah kontrak." Kata-kata Mandala terhenti.
Hati Dea langsung kelabakan. Lebih dari hubungan nikah kontrak? M--maksudnya?
"Kita bisa menjadi teman untuk saling berbagi cerita satu sama lain karena saya juga tahu kamu punya masalah keluarga. Kamu bahkan sudah terbuka soal keluarga kamu, kan? Saya rasa saya perlu terbuka juga padamu..."
Oh, hanya teman... Teman saling berbagi cerita...
Anehnya Amadea merasa kecewa dengan penyebutan kata 'teman.' Ia merasa Mandala benar-benar membuat tembok di antara mereka agar ia tak terlalu berharap.
Mungkin kemarin ia benar-benar serius saat mengatakan pada Dea agar jangan jatuh cinta sungguhan padanya.
Amadea merasa hatinya tercabik dengan perasaan sedih.
"Bagi saya, cerita soal keluarga adalah hal yang privat. Kamu menceritakan pada saya berarti kamu percaya sama saya. Saya akan mencoba mempercayai kamu juga. Tapi bisakah kamu berjanji untuk tidak ketakutan dengan kekelaman kisah keluarga saya? Kamu janji tidak akan kabur dan membatalkan pernikahan seperti Meirika, kan?" Mandala bertanya serius.
Amadea agak bingung juga dengan pertanyaan mendadak ini tapi kepalanya seperti sudah diprogram untuk mengangguk setuju pada apapun yang dikatakan Mandala.
Memangnya sekelam apa sih kisah keluarganya sampai Mandala bicara begitu? Amadea merasa heran tapi ja hemat suara alias diam saja.
"Oke, pertama-tama saya akan cerita soal Mama saya. Keluarga saya memang tidak seterkenal itu dulu. Tapi di kancah lokal alias di kota kecil ini, semua orang tahu. Kami bisa dibilang terpandang karena bisnis Papa saya melejit hingga berita kematian keluarga kami masuk koran lokal.
Memang beritanya tidak ada jika kamu cari di internet. Dulu medianya masih terbatas cetak, belum secanggih sekarang. Di berita ditulis Mama saya meninggal karena sakit. Padahal sebenarnya tidak," ucap Mandala sebelum kata-katanya terhenti.
Dea mulai mengeryitkan alisnya dan bersuara untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di rumah berhawa angker ini.
"Sebenarnya tidak? Kalau bukan meninggal karena sakit, jadi karena apa?" tanyanya.
Mandala menatap mata Dea dalam-dalam dan berucap pelan, "Mama saya meninggal di sini, Dea. Di kolam renang itu. Dia menelan pil tidur dan overdosis lalu lompat ke sana."
Amadea langsung pucat. Tatapan matanya langsung tertuju ke arah kolam renang kering di depannya.
Ia merasa seperti sedang berada di sebuah adegan film horor.
"M--maksudnya?" tanyanya terbata.
__ADS_1
Mandala langsung tertunduk.
BERSAMBUNG ...