
Maya menggeleng pelan. Ia seperti tidak berniat membahas masalah ini sekarang karena otaknya terlalu lelah untuk berpikir.
Sebaliknya, Meirika yang merasa ia makin terdesak keadaan tampak terus menuntut sang managernya itu membantunya berpikir.
"Ya udah kalau gitu kamu punya ide lain? Kamu mau kita merintis lagi dari nol? Tinggal di apartemen yang lebih kecil dari ini? Makan di tempat nggak enak?
Maya, aku udah sempat menduduki puncak ketenaran. Jadi gengsilah kalau harus turun level. Masak kamu suruh aku jual tas-tasku buat kita makan. Ayolah." Meirika kini menatap Maya dengan tatapan meyakinkan lagi.
Maya tak menjawab. Ia hanya mendesah pasrah lalu di menjatuhkan kepalanya lagi di kasur. Ia berbaring sambil menatap langit untuk berpikir. Apakah ide Meirika terlalu berbahaya untuk sungguhan dilakukan?
Tapi membayangkan karir Meirika hancur hingga kehilangan pundi-pundi uang membuat Maya panik juga. Level status sosial dan pergaulannya sebagai manager artis papan atas ikut naik setelah masa ketenaran Meirika datang. Setelah artisnya sukses besar ia ikut menikmati kehidupan jet set ini.
Arghhh! Kalau posisinya harus jatuh lagi, memohon produser lagi untuk casting, membuatnya merasa malu juga.
"Maya, please. Ayolah. Pikirin hidup kita ke depan kalau karirku anyep gini. Soal Dea, nanti aku bisa berkelit soal DM itu dan bilang aku sedang frustasi makanya marah-marah lalu kelepasan kirim DM.
Gimana nggak frustasi coba? Bapak dari bayi yang aku kandung mau nikah dengan wanita lain. Ya, kan? Kujadikan ini alasan saja.
Oh, apa aku tulis aja lagi DM-nya di bawahnya? Kita sudah deal kan sama ide ini?" Meirika langsung mengambil handphone-nya lagi dan mengetikkan pesan.
Maya langsung bangun lagi dengan wajah kesal. "Jangan gila dulu ya, kamu! Jangan konyol! Kita pikirin baik-baik dulu ide ini." Maya pun merebut handphone Meirika dari tangannya.
"Tapi nanti gimana kalau Dea udah terlanjur membaca pesan ini? Terus dia terlanjur ngadu sama Mandala." Meirika yang kini tampak cemas.
Maya menggaruk kepalanya lalu kembali membaringkan tubuhnya lagi. Sungguh, kepalanya hampir meledak rasanya.
"Akun Dea aktif sekitar seminggu yang lalu. Dan DM yang muncul di dia pasti lebih banyak lagi setelah Mandala mengumumkan namanya sebagai calon istri. Jadi kita pikirin dulu lah nanti. Jangan ngetik apa-apa lagi dulu. Kamu juga jangan posting apa-apa." Maya kembali mengambil-alih situasi.
Meirika mengangguk seperti anak yang penurut.
Meirika jelas tahu kelemahannya. Dia sangat spontan dan tidak bisa mengendalikan diri apalagi mengambil keputusan di saat genting. Ia butuh Maya sebagai penyeimbangnya.
Kalau yang menjalankan ide gila ini Meirika sendiri, maka dia tidak akan berhasil. Maya adalah suporternya. Maya adalah sutradara kehidupannya. Ia amat bergantung pada manusia itu sejak awal karir sampai sekarang.
Hingga akhirnya sampai tengah malam itu mereka saling berdebat dalam diskusi. Tak sia-sia juga rupanya. Maya akhirnya setuju dengan ide itu lalu langsung menelpon orang-orang yang bisa ia ajak kerja sama.
Ya, sandiwara pura-pura hamil ini tentu akan melibatkan banyak pihak yang mulutnya harus tetap bungkam. Maya merasa ia harus berhati-hati. Kalau mengandalkan Meirika sendiri, jelas ia tak percaya ini akan berhasil.
__ADS_1
"Target kita adalah uang dan simpati Mandala. Kita harus tetap jaga jarak. Atur agar kamu kelihatan membenci kehamilanmu ini juga. Intinya kalau Mandala meminta untuk menikahimu karena bayi itu, maka cepat tolak.
Ya ini berandai-andai saja. Kamu bilang Mandala orang yang lurus, kan? Dia pasti tersentuh soal bayi. Dia pasti punya keinginan agar bayinya lahir di pernikahan yang utuh.
Pokoknya fokus itu saja. Bilang kamu mulai susah bekerja karena takut orang-orang curiga dengan kehamilan kamu. Kamu berlagak mual lah atau apa. Gunakan kemampuan aktingmu dan jangan lupa kode-kode minta uanganya."
Maya yang akhirnya menyetujui ide ini menepuk pundak Meirika.
Meirika mengangguk mantap.
"So, kita tunggu saja berita bahagia pernikahan Mandala dan Dea di media. Pasti akan ramai. Baguslah. Sekalian untuk mengalihkan publik dari foto skandalku.
Setelah hingar-bingar pernikahan selesai, kita cari cara bertemu Mandala empat mata untuk mengaku hamil." Meirika berkata dengan tatapan mata memancarkan semangat membara.
Ya, semangat membara untuk menipu.
Mereka berdua terlalu sibuk menyusun ide hingga lupa insiden DM kata-kata kasar Meirika yang terpencet dan terkirim ke akun Dea.
Mereka tidak tahu, Dea yang tidak terlalu suka main sosial media itu tiba-tiba terbangun tengah malam lewat karena habis buang air kecil lalu ia iseng mengecek handphone-nya.
***
Awalnya ia hanya ingin tahu apakah ibunya menghubunginya lagi setelah ia tak membalas pesannya tadi siang?
Dan ternyata tidak ada. Entah apa ibunya tak punya perasaan bersalah? Setelah mengirim pesan dan bilang kalau ia tak akan hadir di acara pernikahan putrinya sendiri, ia tak minta maaf atau apapun itu. Atau setidaknya menelpon lah. Tapi Riris Sayuti benar-benar tidak melakukannya.
Amadea menarik napas panjang. Ia jadi iri begitu mengingat cerita Vina yang bilang semalam sebelumnya hari H pernikahannya dengan Adit, mamanya memintanya tidur bersamanya dan mereka menangis bersama mengenang masa kecil Vina.
Oh! Betapa manisnya! Dea iri.
Normalnya para ibu akan merasa haru kan ketika putrinya hendak menikah, kan?
Amadea masih belum menyentuh pesan caci maki dari Meirika karena masih mendadak melow lagi meratapi nasibnya sambil merindukan mendiang ayahnya.
"Mandala Barata mungkin terkenal karena kekayaannya, Ayah. Tapi buanglah sisi yang itu. Setelah mengenalnya makin dekat aku jadi makin tahu kalau dia pria yang punya hati lembut.
Dia hanya terjebak dengan sesuatu yang tidak bisa ia keluarkan dari dalam dirinya. Entah apa itu. Hobi marahnya hanya karena dia tidak tahu cara mengendalikan dirinya sendiri.
__ADS_1
Ayah, karena ibu tak peduli dengan pernikahanku yang sebenarnya kulakukan untuk menyelamatkan dia dari hutang, maka aku hanya bisa bicara padamu melalui angin.
Ayah, bisakah kau mendengarkan aku? Pria yang akan menikahi aku membuatku merasakan gejolak rasa yang aneh. Aku takut jatuh cinta sungguhan padanya. Tapi dia melarangku jatuh cinta..."
Amadea lalu mengubah posisi tidurnya menjadi miring ke kiri dan tersenyum sendiri. Entah mengapa ia merasa di suatu tempat yang berbeda dimensi dengannya, ayahnya sedang mentertawakannya.
"Dea, akhirnya kamu ngerti kan bagaimana orang jatuh cinta itu? Ya, dia menjadi buta sepertimu. Itulah alasan Ayah masih buta dengan semua kelakuan ibumu. Ayah menutup mata, membutakan diri, dan memutuskan untuk tetap menganggap dirinya baik hingga akhir hayat Ayah."
Amadea lalu mengubah senyumnya menjadi gerutuan begitu bayangan manis ayahnya berubah wajah menjadi orang lain.
"Orang itu ke rumah kita lagi, Ayah. Menumpang seperti benalu. Aku benci Om Alik! Aku tahu kalau Ayah masih ada, Ayah pasti akan melarangku untuk membenci dan mengutuk orang. Tapi aku benar-benar membencinya, Ayah!"
Amadea lalu bangun lagi dan duduk di kasur dengan wajah kesal. Bayangan Om Alik yang menyebalkan membuat rasa kantuknya kembali hilang.
Karena pagi masih jauh dan bingung mau ngapain, tangan Dea bergerak mengecek handphone-nya lagi. Ia iseng-iseng membuka akun media sosialnya karena tiba-tiba ingat ucapan Mandala tadi soal pengumuman pernikahan mereka.
Mandala sudah memperingatkan sejak awal. Dan Dea sudah tahu konsekuensi posisinya tapi mendapati notifikasi akun sosial medianya tiba-tiba penuh begini tetap membuatnya syok juga.
"Astaga! Orang-orang mau tahu apa sih soal aku? Sampai sebegini banyak yang tiba-tiba follow. Kupikir sudah cukup aku hapus foto-foto pribadi dan nyisain foto-foto pemandangan aja, tapi tetap aja banyak yang mengulik soal aku.
Benar kata Mas Mandala. Kalau risih harusnya aku tutup akun sekalian atau kuubah setting-nya jadi privasi saja. Tapi sudahlah terlanjur." Amadea mengomel sendiri. Bawaannya masih ingin sewot terus karena tiba-tiba ingat Om Alik enak-enakan tinggal di rumahnya bersama ibunya.
Amadea iseng-iseng mengecek pesan masuk alias DM alias dirrect message. Banyak pula yang mengirimkan pesan. Tapi dari sekian banyak akun tak dikenal itu, ada satu nama akun terverifikasi bertanda centang biru muncul.
"Hah? Meirika? Dia ngirim pesan ke aku?" Amadea bicara sendiri lalu tangannya mulai membuka pesan itu.
Satu detik, hening.
Dua detik, masih hening.
Tiga detik, dan Amadea mulai menarik napas panjang.
Empat detik, lalu Dea sudah mematikan handphone-nya.
Sumpah! Pesan itu amat tak layak dibaca oleh mata siapapun...
Dan kini mata Amadea Kasea berkaca-kaca. Seumur hidupnya, inilah hinaan paling parah yang pernah ia dapatkan...
__ADS_1
Hatinya sakit...
BERSAMBUNG...