
"Saya bukan pria baik-baik, Dea. Saya pendendam. Kalau disakiti, maka saya akan langsung benci. Kamu lihat kan perubahan sikap saya pada Meirika? Lihat betapa saya sudah tidak peduli lagi padanya, bahkan membencinya dalam waktu yang begitu cepat.
Jangan jatuh cinta sama saya, Dea. Serius. Saya bisa amat menakutkan kalau sedang marah. Ya kamu tahu sendiri bagaimana saya di kantor. Saya sulit mengontrol emosi saya.
Kalau dulu sebagai sekretaris, habis saya marahi mungkin kamu hanya akan sakit hati lalu besoknya paling takut sama saya. Itu nggak seberapa, kan? Tapi kalau kamu sudah punya kedekatan hati dan hubungan khusus sama saya, rasanya pasti akan berat di kamu. Kamu akan lelah menghadapi saya.
Meirika tahu soal sifat buruk dan kesulitan saya mengontrol emosi. Dia bilang akan sanggup menghadapi saya. Tapi di dalam hubungan itu saya nggak pernah sekalipun marah ke dia. Dia juga nggak pernah buat saya marah. Mungkin karena saya takut akan diri saya sendiri makannya saya agak menahan juga.
Sejujurnya agak tidak nyaman juga menjalani hubungan seperti itu. Tapi saya lelaki normal yang ingin menikah. Lalu Meirika adalah pilihan paling masuk akal waktu itu. Setidaknya itu yang saya yakini sebelum akhirnya saya tahu sifat aslinya."
Kata-kata Mandala membuat Amadea menggigit bibirnya sendiri.
Mandala Barata bicara dengan nada begitu serius. Amadea tak tahu harus menanggapi apa. Yang ia rasa, sekarang isi kepalanya penuh oleh tebak-tebakan : Apa yang membuat Mandala menjadi pribadi seperti ini?
Mendadak hening.
Keduanya hanya saling tatap.
"Mas bisa berubah pelan-pelan dan berusaha mengontrol emosi." Amadea akhirnya berkata pelan setelah beberapa menu mereka saling sunyi tanpa suara.
Mandala menggeleng dengan senyuman miris di bibirnya yang seolah ia tujukan untuk dirinya sendiri.
Ya, Mandala memang miris dengan sikapnya sendiri, sifatnya sendiri, kepribadiannya sendiri.
"Nggak bisa, Dea. Susah. Saya sudah mencoba bertahun-tahun dan saya tetap kembali pemarah lagi, terutama untuk urusan pekerjaan dan bisnis.
Untuk hal sensitif dan pribadi seperti soal pertemanan atau percintaan, saya kaku. Kamu tahu kan saya nggak punya teman dekat selain Rafael? Yang lainnya hanya rekanan bisnis atas nama kepentingan. Saya menutup diri karena takut mengecewakan mereka karena sikap pemarah saya.
Soal kekasih, Meirika itu pacar pertama saya. Dia yang mendekati saya duluan, dia yang agresif dan meyakinkan kalau kita bisa serius. Dia meyakinkan kalau saya bisa jatuh cinta. Dia dulu berjanji menerima saya dengan segala sifat buruk saya.
Sampai detik ini saya nggak tahu saya cinta nggak sama dia. Entahlah, saya bingung. Tapi intinya saya sudah kecewa dengan sikapnya yang tiba-tiba meninggalkan saya karena kecacatan saya. Lalu saya membencinya."
Mandala berkata panjang lebar lagi dengan nada yang sulit diraba rasanya.
__ADS_1
Amadea terdiam beberapa saat. Entah kenapa pikiran ini tiba-tiba muncul di kepalanya.
"Mas punya trauma masa kecil atau masa lalu yang berhubungan dengan orang tua? Saya nggak secara detail mempelajari psikologi, tapi sebagian sifat yang membentuk kita ketika kita dewasa itu berasal dari masa kecil kita.
Mas punya trauma?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Amadea dengan nada menebak. Amadea tidak bermaksud sok tahu. Ia hanya tiba-tiba kepikiran saja karena dari tadi teori ini muncul di kepalanya.
Raut wajah Mandala langsung berubah. Amadea sampai terkejut sendiri.
"Dea, kita sudah bicara terlalu banyak. Saya ada meeting di luar. Saya harus pergi," ucap Mandala dengan nada yang berubah dingin.
Ya, Mandala sama sekali tidak menjawab pertanyaan Dea soal masa kecil maupun masa lalunya. Ia terlihat kurang nyaman bahkan kelihatan membenci pertanyaan itu.
Tapi herannya Mandala yang pemarah tidak marah kali ini. Padahal ia bisa menegur Dea yang ia rasa lancang. Mandala lebih memilih mengalihkan topik lalu menghindar pergi.
Pria bertubuh jangkung itu langsung berdiri dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Amadea yang kebingungan.
"Apa aku salah bicara? Astaga mulutku! Seharusnya kamu tahu diri lah, Dea. Jangan sok tahu dan menebak kehidupan pribadi atau masa lalu orang! Pak Mandala pasti tersinggung atau kesal padamu." Amadea meneriaki dirinya sendiri dalam hati.
Dan tiba-tiba perasaan bersalah menyergapnya. Amadea mendadak galau, gundah, gulana.
Amadea kembali membaringkan diri di sofa. Ia menepuk mulutnya sendiri dengan penuh penyesalan karena merasa telah lancang.
Sisa hari itu hingga malam Amadea terus gelisah.
Amadea tidak lagi gelisah memikirkan kelakuan ibunya yang sedang menyembunyikan suami barunya di rumah peninggalan ayahnya yang ia perjuangkan dari ancaman sitaan bank itu. Amadea justru memikirkan Mandala.
Sikap manis Mandala yang menghibur juga menasehatinya setelah ia curhat soal masalah hidupnya membuatnya tersentuh. Tapi perubahan sikap Mandala di akhir obrolan mereka saat Dea menyinggung sedikit soal masa lalu membuat Dea merasa bersalah.
Kalau kamu menceritakan semua masalah hidupmu pada orang yang mau mendengarkan, maka cukup di situ saja. Jangan berusaha mengulik masalah pribadinya balik karena ia belum tentu sama sepertimu yang mau membuka diri.
Amadea belajar banyak hal mulai hari ini. Ia berjanji akan lebih menjaga mulutnya di depan Mandala.
Berkali-kali calon istri pemilik raksasa bisnis Barata Group itu mengecek handphone-nya dan berharap Mandala menghubunginya.
__ADS_1
Lalu apa hasilnya?
Mandala tidak meninggalkan pesan ataupun menghubunginya.
Amadea dibuat galau hingga jam makan malam tiba dan Bu Lulu mengetuk pintu kamarnya untuk memberi tahu meja makan telah siap.
"Bapak ada, kan? Dia sudah pulang? Dia ikut makan malam?" Amadea langsung bertanya dengan penuh harap.
Bu Lulu agak terkejut juga. Bagaimana bisa calon istri tidak tahu calon suaminya pulang jam berapa. Di jaman secanggih ini memangnya tidak ada komunikasi lewat handphone?
"Bapak belum pulang. Seharusnya sih sudah. Beliau tidak menelpon kalau pulang terlambat jadi kami tetap meminta chef untuk memasak makan malam. Lagipula Bu Dea ada di rumah dan ini hari pertama Ibu. Jadi kami menyiapkan menu spesial." Bu Lulu menjelaskan.
Dea langsung tidak bersemangat.
"Mungkin jalanan macet dan beliau agak terlambat. Pak Mandala suka sekali makan di rumah daripada di luar. Bu Dea mau menunggu Pak Mandala atau makan duluan?" Bu Lulu kembali bertanya.
Dea ingin menjawab menunggu tapi perut keroncongannya duluan menjawab. Ia langsung menunduk malu. Bu Lulu pura-pura tidak mendengar tapi ia ikutan menunduk menahan tawa.
Oh, Nyonya Rumah baru ini kelaparan rupanya.
***
Mandala yang kabur dari Dea setelah berbohong akan ada meeting justru sedang ketiduran di sofa ruang kerjanya di kantor.
Entah sudah beberapa lama ia memejamkan mata. Tapi sekarang ia tampak gelisah dalam tidurnya. Sepertinya ia mimpi buruk.
Dan di dalam mimpi itu Mandala berteriak seperti orang ketakutan.
"Jangan benci Mandala, Ma. Please. Pa, tolong, Pa. Mandala nggak salah, Pa. Tolong, Pa..."
Lalu pria yang luka tangannya belum terlalu sembuh itu terbangun dengan badan basah kuyup.
Mimpi yang sama dan sering terulang ini membuatnya setrauma ini.
__ADS_1
Ya, ia bermimpi soal masa kecilnya...
BERSAMBUNG ...