Suami Tangan Satuku

Suami Tangan Satuku
Saya Bukan Pria Baik


__ADS_3

[[  Kamu kan istri saya...  ]]


Amadea melongo dengan sisa-sisa air mata di pipinya. Apa ia tak salah dengar barusan.


Ditatapnya mata indah pria di depannya itu. Mandala Barata bilang apa barusan?


Istri saya...


Istri saya...


Istri saya...


Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepala Amadea Kasea selama beberapa detik.


Amadea mulai tak sadar kalau semua ini hanya pernikahan sandiwara, hingga kata-kata Mandala selanjutnya membuatnya mulai tersadar kembali ke dunia nyata.


"Anggap saja selama pernikahan kontrak ini berlangsung, kamu memisahkan diri dari ibu kamu dan kelakuan toxic-nya. Kamu berhak bahagia."


Mandala menyebut kata 'pernikahan kontrak.' Bayangan manis di kepala Dea mulai rontok satu per satu ibarat daun kering di musim gugur yang gersang.


Ya, hatinya yang tadinya berbunga-bunga macam taman indah yang wangi semerbak mendadak menjadi gersang kering kerontang.


"Jangan mimpi, Dea! Istri yang ia sebut-sebut itu maksudnya istri secara status di publik saja. Di hatinya kamu bukan siapa-siapa. Kamu cuma gadis biasa yang ia bayar atas dasar sama-sama menguntungkan." Amadea meneriaki dirinya sendiri di dalam hati.


Ketika Amadea menapak bumi lagi dari khayalan indahnya, tangan kanan Mandala justru bergerak liar menyusuri rambutnya yang berantakan karena menangis dengan heboh tadi. Sekali lagi ia menyibakkan anak rambut itu di belakang telinganya. Amadea Kasea panas dingin lagi.


Oh, lagi? Ah, bagaimana ia tak berharap lebih. Perlakuan Mandala membuatnya bingung ini nyata atau pura-pura.


"Kamu gadis muda yang berharga. Punya nilai, punya potensi. Anggap pernikahan ini sebagai kesempatan kamu untuk lari meraih kebahagiaan untuk diri kamu sendiri.


Saya lihat nilai dan kemampuan akademis kamu cukup tinggi. Kalau kamu mau, saya akan biayai kamu S2 sampai lulus untuk mengisi waktu karena saya melarang kamu bekerja.


Saya donatur tetap Brama University. Selain itu saya punya saham di sana. Itu kampus bisnis paling bergengsi di ibu kota. Lokasinya dekat. Saya akan hubungkan kamu dengan profesor Nadif nanti."


Kata-kata Mandala membuat Dea menatap tak percaya.


A--apa? Melanjutkan kuliah ke Strata 2 adalah mimpinya tapi terhalang biaya karena uangnya dihabiskan ibunya. Dan Mandala membukakan jalan untuk itu semua.


"S--serius, Pak? M--maksudnya Mas. Mas serius? Saya akan dibiayai S2?" Amadea merasa air matanya tadi tiba-tiba kering sendiri.

__ADS_1


Mandala Batara mengangguk lalu tersenyum tipis.


"Ya, daripada kamu bosan di rumah. Lagian nggak ngapa-ngapain juga. Ya nanti ada sih kegiatan sosial di yayasan amal saya atau keharusan kamu muncul di acara-acara tertentu mendampingi saya.


Tapi waktu luang kamu banyak. Itu hanya opsi sih. Kalau kamu nggak mau juga nggak papa. Misalnya kamu berminat mengelola bisnis atau sesuatu, bilang aja. Nanti saya modali. Asal bisnisnya serius dan bergengsi.


Istri Mandala Barata harus berkelas. Kamu akan disorot. Ya walau saya nggak keberatan sih kamu muncul di publik sebagai istri yang suka jalan-jalan ke luar negeri, belanja-belanja, senang-senang. Istri saya harus bahagia. Lakukan apapun yang kamu mau."


Aduh, sudah membumi eh malah dia menyebut dengan jelas 'Istri saya' lagi.


Amadea yang terlalu terkejut dengan tawaran Mandala makin tak karuan dengan perasaannya. Tiba-tiba rasa sakit hatinya atas kebohongan ibunya soal Om Alik lenyap begitu saja.


Mandala tersenyum gemas tapi ia tahan-tahan melihat Amadea bereaksi dengan lucu.


"Udah nggak sedih lagi, kan? Hari pernikahan sebentar lagi. Benar kata tante tetangga kamu itu tadi. Daripada kamu datangi ibu kamu dan marah-marah, lebih baik fokus ke pernikahan kita beberapa hari lagi.


Jangan membuang energi. Mau kamu datang ke rumah lagi dan usir ayah tiri kamu itu lagi, toh kalau ibumu masih cinta, dia bakalan cari cara lagi mereka biar bisa bersama.


Saya nggak mau ikut campur urusan keluarga kamu, Dea. Selama mereka nggak ngusik kamu, it's oke. Take your time. Fokus sama diri kamu sendiri. Jaga jarak saja untuk meminimalisir rasa sakit hati kamu." Mandala berkata dengan begitu lembut.


Amadea merasa ini bagaikan mimpi.


Amadea mengangguk lalu menunduk.


Kalau dipikir-pikir dari tadi hanya Mandala terus yang bicara panjang lebar menenangkannya. Amadea hanya membalas dengan anggukan. Ia merasa perlu menanggapi. Hingga akhirnya yang keluar dari mulutnya malah kalimat curhat lagi.


"Saya berharap Om Alik bisa berubah, mengakui kebohongannya, lalu tanggung jawab atas semua kelakuannya dan menyingkir dari hidup ibu saya. Tapi kayaknya nggak mungkin.


Ya atau kalau nggak, saya ingin ibu saya tersadar kalau lelaki yang dia cintai dengan tak masuk akal dan membuatnya tergila-gila itu penipu lalu dia sendiri yang mencampakan Om Alik."


Mandala tertawa.


Amadea bingung kenapa curhatan sedihnya itu ditanggapi dengan tawa oleh Mandala.


"K--kenapa, Mas?" Amadea tak tahan untuk tak bertanya.


"Nggak papa, Dea. Kamu mungkin nggak ngerti aja. Cinta itu gila, Dea. Sulit menasihati orang jatuh cinta, macam ibu kamu itu. Macam saya dulu juga.


Dulu saya sempat gila mencintai Meirika, kan?Yang sekarang kalau dipikir-pikir anak itu banyak berbohong tapi saya baru sadar aja.

__ADS_1


Setelah putus saya minta kamu kan untuk cek semua kartu-kartu saya yang dia pegang. Sorry waktu itu kamu saya suruh ke rumah sakit antar laporan itu sampai kaki kamu lecet karena lari-lari pakai sepatu hak tinggi." Mandala menjeda kalimatnya sambil nyengir mengingat betapa galaknya ia beberapa pekan lalu pada Amadea.


Amadea hanya menunduk. Iya, kakinya sampai lecet karena Mandala meneriakinya lewat telepon untuk cepat datang.


"Kamu lihat laporan itu, kan? Saya minta detail. Ini bukan masalah berapa uang yang dia habiskan. Saya nggak masalah. Uang saya banyak. Ini soal uang itu dia habiskan untuk apa.


Saya lihat tagihan dia di butik mewah dan dia membeli barang-barang pria. Jam tangan mahal, tas, sepatu. Dan barang-barang itu bukan untuk saya. Entah itu untuk siapa.


Dia juga membayar hotel dengan kartu saya saat mengaku sedang di luar kota. Lalu di tanggal yang sama dia juga membayari kamar hotel di sini atas nama seorang pria. Entah itu siapa.


Mungkin dia nggak selingkuh. Mungkin cuma main-main saja karena di lingkungan selebritas hal-hal semacam itu dianggap lumrah, kan? Tapi dulu saya seolah buta dan menutup mata, kan?


Ya, itulah cinta Dea. Kamu bisa jadi bodoh, buta, tuli, dan tolol. Makannya, jangan sembarangan jatuh cinta. Termasuk cinta sama saya. Saya bukan lelaki baik-baik..."


Wajah Mandala begitu serius di kalimat panjang terakhirnya.


Amadea menelan ludahnya dengan susah payah.


Ia tahu istilah cinta itu buta hanya dalam peribahasa saja sebelumnya. Tapi kasus ibunya yang cinta buta pada Om Alik dan pengakuan Mandala barusan soal cintanya pada Meirika dulu membuat Amadea bungkam.


Ya, cinta buta bukan hanya istilah pepatah. Itu nyata.


Tapi Dea heran soal alasan kenapa Mandala menyuruhnya untuk berhati-hati dan tidak jatuh cinta padanya. Amadea pikir pria itu akan bilang kalau seharusnya Amadea tahu diri karena mereka tak selevel. Tapi pria itu justru bilang dengan mimik serius kalau ia bukan pria yang baik untuk dicintai.


Kenapa?


Amadea menatap dengan mata bertanya-tanya.


"Kenapa? Mas laki-laki yang baik. Y--ya mungkin terkesan kasar dan galak. Tapi Mas Mandala hatinya baik..."


Entah kenapa bibir Amadea terbata mengucapkan kalimat itu.


Mandala tersenyum simpul lalu menunduk sejenak sebelum akhirnya ia mengangkat kepalanya lagi dan menatap mata Amadea dalam-dalam.


"Saya bukan pria baik-baik, Dea..."


BERSAMBUNG ...


_____

__ADS_1


__ADS_2