
Setelah beberapa hari Fajar dan Senja pergi meninggalkan negaranya, Aldo lah yang mengurus semua pekerjaan Fajar dikantor.
Sekarang Aldo seperti seorang pemimpin perusahaan yang mengatur semua kariyawan dikantor milik bos sekaligus sahabatnya itu.
Meskipun dia menjadi seorang yang paling penting dalam perusahaan, tapi sebenarnya Aldo tidak menyukai posisi ini karena dia harus bekerja dari siang hingga malam, tidak ada waktu untuk dia beristirahat.
Aldo duduk dalam lamunannya melihat para pegawainya bekerja.Dia merasa dirinya begitu lelah.sambil memutar-mutar kursi yang selalu di duduki oleh Fajar dia berusaha mencari cara agar dirinya bisa beristirahat.
" Aku tidak mau begini terus, enak saja si Fajar itu.Disana dia bersenang-senang sedangkan aku disini yang bekerja keras mendapatkan uang untuk mereka bulan madu." gumam Aldo.
Aldo berfikir sejenak bagaimana cara mengatasi kesibukan yang dia tanggung selama Fajar keluar negeri bersenang-senang dengan Senja.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi membuat dia kaget sampai sedikit berteriak.Ada nama Fajar dilayar ponselnya bergegas Aldo mengambil ponselnya dan berdiri.
Fajar memberitahu Aldo kalau dia akan sedikit lama disana, dia meminta Aldo menangani semua pekerjaannya selama dia berada disana.Aldo hanya bisa mengiyakan semua kata-kata Fajar.
Sebelum menutup telponnya Fajar berpesan untuk merekkrut seorang sekertaris untuk membantunya menangani semua pekerjaannya.Dia tahu Aldo pasti sangat lelah dan sedikit kualahan.
Aldo sedikit terharu dengan kata-kata Fajar, dia tidak menyangka kalau Fajar perduli dengan kondisinya.Biasanya dia hanya bisa memerintah tanpa melihat kondisi bawahannya.
Tapi setelah dia menikah dengan Senja, sikapnya berubah menjadi semakin lembut.Mungkin kedatangan Senja membuat perubahan yang baik untuk Fajar.
Aldo menutup telponnya, bahkan dia juga membukun dan mengangguk memberikan salam hormat kepada Fajar yang jauh disana.
" Apa aku bodoh, bukankah dia tidak akan melihat, mengapa aku terus membungkuk dan mengangguk." gumam Aldo sambil memukul jidalnya perlahan.
Aldo mengambil komputernya dia mengumumkan lowongan diinternet kalau perusahaan Bramastio sedang mencari seorang sekertaris.
Aldo meninggalkan kantor, dia memberitahu Diah nanti untuk melihat dan menyeleksi calon-calon sekertaris yang melamar.
Dengan sekejap saja banyak orang yang melamar.
Diah yang baru saja membuka situs yang diberikan Aldo sangat terkejut banyak sekali yang melamar.
Aldo sedang rapat bersama koleganya disalah satu hotel ternama dikota X, dia melihat seorang yang tidak asing dimatanya.Wanita itu adalah kakak Senja yaitu Embun.
Dia sedang bersama teman-temannya asik berpesta dan minum-minum.Bahkan wajahnya sangat merah karena kebanyakan minum.
Aldo tidak ingin ikut campir dengan urusan orang lain, dia hanya sekedar melihat dan langsung pergi tidak memperhatikan Embun lagi.
Setelah urusan Aldo selesai dia berjalan menyusuri lorong berniat pergi meninggalkan hotel dan segera pulang untuk beristirahat.
Ketika dia memasuki lif dia melihat dua orang laki-laki yang memapah seorang gadis.
Gadis itu adalah Embun, dari apa yang dilihat Aldo Embun terlihat tidak sadarkan diri.Mungkin karena terlalu banyak minum jadi mabuk seperti ini.
Aldo berdiri didepan mereka, dia diam seolah tidak mengenal gadis itu.Tapi ketika salah seorang pemuda memberitahu pemuda lain tentang rencananya membawa Embun kedalam kamar, wajah Aldo memerah menahan marah.
__ADS_1
Amarahnya semakin memuncak ketika salah seorang pemuda meletakkan tangannya didada Embun.
Tangan pemuda itu ditahan oleh Aldo.Aldo memberi pelajar kepada kedua pemuda yang berniat jahat kepada Embuh.
Aldo melihat Embun tampak tidak berdaya.Ketika pintu lif terbuka Aldo mengendong Embun dan menelpon Wawan untuk mengatur sebuah kamar untuknya.
Beberapa saat kemudian Wawan datang membawa kunci dan memberikannya kepada Aldo.
" Tuan...ini kuncinya." kata Wawan
" Terima kasih...kamu pulanglah dulu aku akan mengurus dia terlebih dahulu." kata Aldo
Wawan adalah supir yang dipekerjakan Aldo selama Fajar pergi berbulan madu, tapi dia sudah mengenal cukup baik bagaimana kondisi latar belakang Aldo dan Fajar.
" Baik tuan." jawab Wawan
Aldo membawa Embin kesubuah kamar yang telah disiapkan Wawan.Kamar ini sangat luas dengan tempat tidur yang sangat luas juga.
Aldo menurunkan dan menidurkan Embuh ditempat tidur dan menyelimuti tubuh Embuh dengan selimut.
Tiba-tiba Embun bangun dan duduk, Aldo kaget dan hanya menatap Embun.Tiba-tiba Embuh muntah tepat dihadapan Aldo, Aldo mencoba menghindar tapi tidak sempat lagi bajunya kini kotor dan bau.
" Dasar wanita jahat." gumam Aldo
Embun yang masih mabuk berbaring dan tertidur lagi.Aldo ingin marah tapi melihat Embun yang tidak sadarkan diri dia menahannya.
" Apa yang harus aku lakukan.?" guman Aldo sambil melihat selurut bajunya sudah kotor dengan muntahan Embun.
Aldo pergi ke kamar mandi dia melihat kalau ada yang bisa dipakainya untuk sementara.Dia melihat baju ridur yang disiapkan hotel yang ada dikamar mandi.Aldo menghela nafas dia melepaskan semua bajunya dan memakai baju itu.
Aldo keluar dari kamar mandi dia melihat Embuh tampak berantakan.Dia terlihat ragu antara ingin menganti baju Embun atau membiarkan dia begitu saja.
Aldo pergi kekamar mandi mengambi satu baju yang masih ada dikamar mandi, dia menghela nafas panjang dan keluar mendekati Embun.
Satu persatu Aldo melepas baju Embun.Meskipun Aldo memganti sendiri pakaian Embun dia menutup kedua matanya.
Walaupun Embun sedang tidak sadarkan diri tapi Aldo tidak akan mengambil kesempatan apa pun dari Embun.Bukan karna dia tidak menyukai seorang wanita tapi dia mencoba menghormati harga diri seorang wanita.
Setelah Aldo selesai melepas baju Embun dan memakaikan baju tidur, tidak lupa Aldo membersikan sisa-sisa muntahan dari tubub Embun.Dia menyelimuti Embun yang masih tertidur dengan pulasnya.
" Sebenarnya berapa banya yang kamu minum." gumam Aldo.
Aldo berdiri, tapi tangan Embun menahan tangan Aldo.
" Jangan tinggalkan aku...aku mohon." gumam Embun
" Kamu sudah bangun, apa yang kamu katakan.?" kata Aldo
__ADS_1
Embun tidak menjawab dia tertidur kembali, tapi dia tidak melepaskan tangan Aldo.
" Apa kamu mengigau.?" kata Aldo sambil melihat lebih dekat wajah Embun
" Kalau kamu tenang seperti ini, kamu terlihat cantik juga." kata Aldo
Aldo mengelengkan kepalanya menyadarkan dirinya dari pikirkan buruknya.Aldo beranjak tapi tangan Embun mendekap tubuh Aldo dan menariknya.
Aldo berusaha melepaskan tangan Embun, selelah susah payah akhirnya dia terlepas.
Aldo menghela nafas panjang dan berjalan ke sofa yang ada disamping tempat tidur.
Dia melihat Embun yang tertidur, Aldo mulai memejamkan matanya yang dalam sekejam Aldo sudah tertidur dengan pulasnya.
Matahari sudah bersinar dengan teriknya, Embun sudah bangun dari tadi dia duduk jongkok disamping Aldo dan terus melihat Aldo yang masih tertidur.
Perlahan Aldo membuka matanya.Dia melihat Embun berada didepannya dia masih biasa saja.
Tapi tiba-tiba Aldo berteriak dan langsung berdiri.
" Kamu sudah bangun, apa yang kamu lakukan.?" kata Aldo sambil menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.
Embun tersenyum, dia berdiri meninggalkan Aldo yang masih duduk terdiam binggung dengan apa yang terjadi.
" Jadi dimana bajuku." kata Embun
Tangan Aldo menunjuk kebalkon tempat dia mengantungkan bajunya dan baju Embun disana.
" Kenapa kamu meletakkannya disana, apa yang telah kamu lakukan kepadaku." kata Embun sambil mengambil bajunya dan memakainya.
" kamu tidak ingat, aku tidak melakukan apa pun kepadamu." kata Aldo
" Siapa yang tahu, hanya ada aku dan kamu disini.Siapa yang tahu kalau kamu melakukan hal yang aneh-aneh kepadaku waktu aku tidak sadar." kata Embun
Aldo kaget mendengar kata-kata yang keluar dari mulut kakak Senja yang lembut.berbeda jauh dengan sang Adik Embun memiliki mulut yang pedas.
" Kalau aku hamil, kamu harus bertanggung jawab." kata Embun sambil berjalan pergi.
" Tunggu...aku tidak melakukan apa-apa kepadamu." teriak Aldo
" Kita lihat saja nanti." kata Embun
Aldo sangat geram dengan kata-kata Embun yang sangat pedas.Wajahnya tampak merah karena menahan marah.Embun membuka pintu kamar dan berjalan pergi meninggalkan Aldo.
Disamping pintu kamar ada Wawan yang sudah menunggu dari tadi tapi tidak berani mengetuk pintu karena takut menganggu Aldo.
Wawan masuk, dia melihat Aldo yang terlihat marah.Dia mencoba menenangkan Aldo dan membantu Aldo bersiap-siap pergi kekantor
__ADS_1
BERSAMBUNG