
Choki masuk kedalam markasnya untuk bersiap dan mereka telah tentukan area yang akan menjadi arena balap liar. Dimana tempat itu kemungkinan aman dari patroli petugas yang berwajib.
Beberapa anak buah meminjamkan Choki berbagai atribut untuk balapan, seperti jaket, celana, helm dan sarung tangan serta beberapa alat penunjang keselamatan.
"Bang Jack, motornya udah selesai di kasih Pertamax dan oli barunya." Salah satu anak buah melaporkan apa yang tadi Choki pinta.
"Terimakasih," ucap Choki yang mana hal itu langsung membuat hampir semua anak buah membulatkan mata mereka.
Baru kali ini ketua mereka mengucapkan terimakasih dengan senyum yang sangat tulus.
"Apa gue lagi mimpi barusan?"
Plak!
Sebuah pukulan menyadari sang pemuda yang barusan terkesima.
"Sakit anying!" dengus pemuda itu kesal pada kawan yang telah memukulnya cukup kencang.
"Kan biar lu sadar, kalo apa yang lu liat barusan itu bukan mimpi."
"Lu ngerasa aneh gak sih sama ketua kita?" tanya dia pada kawannya.
"Iya, ngerasa benget. Kayak orang lain."
"Tapi kalo di depan musuh, bang Jack tetep menyeramkan. Cuma kalo di depan kita kayak berubah ramah," ucap pemuda itu lagi.
"Udah yuk, kita liat ke arena. Semoga bang Jack beneran bisa ngalahin si Jhoni, atau Genk kita yang jadi taruhannya," ucap kawannya mengakhiri ghibah mereka berdua.
Di arena, Choki dan Jhoni telah bersiap di garis awal.
"Inget taruhan kita Jack. Lu menang, maka lu bisa bawa nih motor sport gua. Tapi, kalo Lo kalah ... tuh Genk motor lu jadi milik gua!" teriak Jhoni di barengi dengan deru suara mesin motor.
"Macam tak adil. Gue gak butuh motor lu, Jhoni. Gimana kalo taruhannya sama-sama Genk motor aja!" timpal Choki dengan teriakan kencang pula.
Jhoni mengacungkan jempolnya ke atas, lalu tak lama kemudian pria itu memutar jempolnya ke bawah. Setelahnya ia kembali tergelak dengan segala keyakinannya untuk memenangkan balapan kali ini.
Hitungan pun di mulai.
3, 2 ,1.
Mulai ... Go!!
Kedua kendaraan itu pun melaju dengan kencang pada jalanan yang lurus dan sedikit berkelok itu.
Jhoni pada saat ini bersama kendaraan roda duanya memimpin di depan. Choki bukan terlalu santai, dalam hati pemuda ini pun merasakan khawatir. Sebab ia lihat Jhoni semakin lihai dalam mengemudikan motornya.
"Annisa, apakah aku akan pulang malam ini. Jika iya, itu adalah keajaiban yang Allah berikan padaku. Di pundakku terdapat tanggung jawab yang besar. Maafkan aku Annisa, aku tak tau lagi bagaimana caranya menyelamatkan Genk motor Speed. Maaf, jika aku harus kembali balapan dan melakukan taruhan dengannya," batin Choki bertarung dengan kata hatinya
Hingga di belokan pada putaran terakhir, ada sesuatu yang terjadi pada kendaraan yang melaju dengan seorang Jhoni di atasnya.
__ADS_1
"Lah motor gua kenapa ini!!" bingung Jhoni yang sudah panik melihat keadaan kendaraan yang ia paksa pacu dengan begitu cepat ini menjadi agak oleng pada bagian stang sebelah kiri.
"Eh, eh ... kenapa nih motor. Aduh, aduh ... aarrgghhh!!"
Jhoni yang sedang melaju kencang pun tak dapat mengendalikan kecepatan motornya hingga kendaraan roda dua tersebut terjungkal dengan kencang.
Kejadian tersebut membuat Jhoni terpental begitu keras sehingga pria itu menggelinding cukup jauh.
"Mampusss!!"
"Banyak gaya sihh!"
Itulah umpatan dari beberapa penonton yang ternyata adalah anak buah Choki. Melihat Jhoni tersungkur di atas aspal dan tak bergerak, tentu membuat sebagian dari mereka bersorak kegirangan.
"Eh, diem lu. Liat tuh dia kagak bergerak!"
"Masa iya langsung mati sih?" timpal yang lainnya.
Mengingat perlakuan Jhoni tadi kepada mereka tentu saja membuat para anak buah Choki ini merasa senang dengan keadaan Jhoni.
Tetapi hal itu tidak berlaku pada Choki.
Melihat lawan di hadapannya kecelakaan tunggal. Seketika pemuda tampan itu mengentikan laju motornya yang sedikit lagi sampai di garis finish itu.
"Lah kok bang Jack malah berhenti?"
"Lah iya kan udah dikit lagi finish. Ah elaaahh!"
Choki turun dari motor dan gegas untuk berlari mendekat ke arah tubuh Jhoni yang terkapar tak bergerak.
Pria itu terpental cukup keras hingga pelindung kepalanya terlepas.
"Astagfirullah!" Choki berucap kaget karena setelah berada dekat dirinya dapat melihat dengan jelas jika sekujur tubuh Jhoni bersimbah darah.
Cairan merah pekat itu berasal dari kepala Jhoni yang terluka parah. Juga, bentuk kaki serta tangan Jhoni yang melawan arah.
"Kasian lu Jhoni. Semoga lu masih punya kesempatan hidup," gumam Choki.
Beberapa anak buah Jhoni sudah berhamburan dan salah satunya memeriksa urat nadi.
"Bos masih hidup," ucapnya.
"Cepat panggil ambulans!!" seru Choki memberi perintah.
Lalu dia membuka jaketnya dan melipatnya untuk di gunakan sebagai bantalan kepala Jhoni.
"Oh, Ya Allah!" seru Choki yang begitu tak tega melihat keadaan kepala Jhoni yang terluka sangat parah. Bahkan tangannya berlumuran darah pria itu.
"Bang Jack. Apa Bos Jhoni akan mati?" tanya anak buah Jhoni dengan gurat khawatir terhadap nasib ketua mereka.
__ADS_1
"Hanya Allah yang tau, mati dan hidup hambanya. Berdoalah kalian. Semoga Jhoni masih Allah beri kesempatan untuk hidup dan bertaubat," jelas Choki memberi keterangan yang kemudian diangguki oleh semuanya.
Tak lama kemudian mobil ambulance datang dengan tenaga kesehatan.
Mereka memberi pertolongan pertama dan tak lama kemudian, Jhoni di larikan kerumah sakit.
"Rudi, kita ikut ke rumah sakit!" titah Choki yang si patuhi oleh Rudi.
"Agung, lu kaga anak-anak. Gua sama bang Jack mau nyusul ke RS," ucap Rudi.
"Ngapain bang Jack peduli sih? Biar aja si Jhoni mati!" umpat salah satu anak buah Choki kesal.
"Kita tunggu nanti apa alasan bang Jack melakukan ini semua. Gua yakin, bang Jack selalu punya alasan yang masuk akal dari setiap tindakannya," jelas Agung seraya menenangkan kemarahan dari kawannya ini.
Wajar saja mereka membenci Jhoni, karena sebelumnya pria ini terus saja mencela serta menindas mereka.
Sesampainya mereka di rumah sakit, bertepatan dengan bangunnya Annisa untuk solat tahajjud.
"Sudah jam tiga, abang belum pulang juga." Annisa sontak kembali memegangi dadanya sebelah kiri seraya melafazkan dzikir dan sholawat.
"Lindungilah suami hamba ya Allah," ucap Annisa lirih.
Terlihat di ruang UGD keadaan begitu panik dan mencekam.
"Pasien kehilangan banyak darah. Sementara persediaan golongan darah O di brangkas rumah sakit habis. Jika mengambil persediaan yang ada di PMI maka kita bisa saja kehilangan pasien," ucap dokter kepada anak buah Jhoni.
"Tolong periksa darah kami saja, Pak!" ucap beberapa anak buah yang cukup dekat dengan Jhoni.
"Baiklah kalian ikut para perawat itu."
Choki yang berada di luar mencium ada masalah. Karena anak buah Jhoni nampak sangat sedih dan kalut.
"Bos bisa mati. Gimana ini," ucap salah satu anak buah Jhoni.
"Kenapa dengan Jhoni?" tanya Choki.
"Bos butuh darah golongan O. sementara kami gak ada yang punya golongan yang sama," jawabnya.
"Kenapa gak bilang!" Choki pun merangsek kedalam ruang UGD.
"Dokter! Saya memiliki golongan darah O. Ambil darah saya sebanyak-banyaknya!" seru Choki hingga seluruh tenaga kesehatan menghela napas lega.
"Setidaknya, pria ini masih punya kesempatan."
"Bang Jack. Saya gak setuju!" Rudi menahan lengan Choki dengan cengkeramannya.
Choki menatap kawannya itu dengan senyum meyakinkan.
"Sial. Senyum bang Jack menghipnotis gue."
__ADS_1
...Bersambung...