
Meninggalkan kebersamaan hangat dan manis yang telah tercipta dari kedua manusia. Dimana mereka belum lama menyatu hati dan juga raga.
Menempa jiwa dan mental untuk semakin kuat dan qona'ah menerima setiap ketentuan yang telah di siapkan takdir demi menguji iman mereka.
Di sebuah negara, dimana pria berwajah dingin ini telah berada sebulan lamanya tetapi sang anak buah yang di tugaskan untuk memata-matai sang putra selalu melaporkan hal yang membuat rahangnya mengeras setiap hari.
Alberto, tak habis pikir bagaimana sang putra yang telah ia besarkan dengan segala hal yang serba mewah dan materi yang selalu berkecukupan.
Bisa-bisanya hidup tenang dan bahagia hanya dengan berjualan basreng menggunakan gerobak ala kadarnya di depan sekolahan dasar.
Brakk!!
Sekali lagi, Alberto melempar ponsel mahal hanya karena geram tatkala kedua manik matanya menangkap gambar dari sebuah foto keseharian sang putra yang seperti gembel baginya.
"Anak bodoh!"
"Kau melepas harta berlimpah ini demi hidup miskin seperti itu. Ini tidak boleh di biarkan!" umpat Alberto marah.
Lelaki ini khawatir dan takut jika ada relasi atau pesaingnya yang mengenali sosok Choki Zakaria sang putra.
Apa kata dunia!
Masa putra dari pengusaha kaya yang mana Choki jelas satu-satunya pewaris perusahaan dan juga beberapa asetnya yang lain. Pada saat ini terlihat begitu lusuh macam rakyat jelata saja.
"Mau taruh di mana wajahku ini!" teriaknya lagi di dalam ruang kantor pribadi pada kediamannya di negara itu.
"Berhentilah marah-marah. Bukankah putraku itu hebat. Dia ternyata tidak manja dan dapat bertahan hidup tanpa bergantung dengah harta yang kita miliki. Bukankah ini yang kau inginkan dari mental dan nyali putramu," ucap Eliana tegas dengan penekanan pada beberapa kalimatnya yang terakhir.
"Iya, tapi bukan begini caranya! Anak itu bisa mencoreng wajahku ini dengan kelakuannya!" bantah Alberto, dengan sifat keras yang menutupi kelembutan hatinya.
"Aku ingin dia berjuang di perusahan setalah berhasil meraih sarjana bisnis management. Tapi kau lihat apa yang terjadi saat ini! Putraku hanya berjualan basreng! Ini gila!" rutuk Alberto lagi masih tidak terima akan kenyataan yang terang-terangan nampak di depan hidungnya.
"Ambillah sisi positifnya Honey. Bahwa putra kita pada akhirnya tau apa makna dari sebuah perjuangan untuk bertahan hidup," ucap Eliana lagi berusaha meredam amarah suaminya.
"Hancurkan usahanya. Buat dia kembali pada kehidupan lamanya!" tukas Alberto.
"Apa kau gila, Honey!" Eliana terperanjat akan rencana suaminya hingga ia berdiri dari duduknya.
"Kau ingin putra kita kembali pada Genk motornya? Lalu bertindak ugal-ugalan di jalan yang jelas-jelas akan lebih memalukan lagi jika Choki tertangkap polisi karena beberapa kasus?" tandas Eliana heran.
"Setidaknya apa yang ia lakukan dulu adalah kenakalan normal anak muda. Tapi, apa yang terjadi sekarang padanya itu memalukan. Hidupnya yang miskin dan menjadi pedagang kaki lima nyatanya akan lebih memalukan posisiku, sebagai pengusaha yang cukup berhasil menjalankan usahanya hingga ke kancah internasional!" kilah Alberto tetap membenarkan pandangan serta pendapatnya.
"Pikirkan lagi apa yang akan kau lakukan, Honey. Karena aku memiliki rencana untuk membujuk putra kita. Bukan dengan kekerasan sepertimu!"
Mendengar ucapan sang istri, Alberto langsung menoleh dan menatap istrinya itu dengan pandangan serius.
Melihat suaminya diam saja, Eli pun pham jika itu artinya Alberto setuju.
__ADS_1
"Kita kunjungi penjual basreng yang tampan itu!" bisik Eliana di telinga suaminya.
Entah rencana apa yang tersimpan di dalam otak wanita ini.
Pagi menjelang siang dengan cuaca yang sangat cerah.
Terlihat, Choki nampak sibuk melayani pembeli yang rata-rata anak sekolahan itu.
Tangannya sejak tadi tak berhenti untuk menuangkan basreng ke dalam plastik berbagai macam ukuran tergantung berapa banyak yang ingin di beli oleh customernya.
Sesekali pemuda tampan dengan wajah kebulean itu menyeka keringat yang membasahi pelipisnya dengan handuk kecil yang melingkar di leher kekarnya.
Beberapa pembeli kecil ini terlihat tak sabaran namun Choki tetap menghadapi mereka dengan senyum kesabaran.
Bukan hanya anak sekolah ini yang membeli tetapi terkadang orang lewat pun akan mampir karena mereka penasaran sama penjualnya yang katanya tampan bak idol boyband.
Setelah mencoba produknya mereka justru semakin ketagihan karena memang basreng buatan Annisa ini rasanya otentik dan beda dari yang lain.
"Selain penjualnya ganteng dan ramah, basrengnya juga enak. Ini sih, baja viral Bang!" puji salah satu pelanggan yang merupakan tiktokers.
"Gimana caranya. Saya gak ngerti main sosmed begituan," ucap Choki jujur.
"Oke deh. Rima bantuin ya. Kebetulan, pengikut aku udah banyak. Oh ya, buat akun dulu gih terus upload video tentang keseharian Abang jualan maupun pas lagi produksi basreng ini. Nanti, biar aku pandu beberapa pengikut aku buat nyobain basreng Abang ini," tawar Rima menjelaskan bagaimana cara memanfaatkan sosmed untuk bisnis.
Benar saja, hanya terhitung hari usahanya menjadi sorotan dan buah bibir yang trending. Apalagi ada Annisa juga sesekali yang melayani pembeli bersamanya.
"Aaaa .... penjualnya ganteng dan istrinya juga adem banget. Duh syahdu deh liat mereka!"
Salah satu komen dari netizen yang membuat Choki dan Annisa semakin bersemangat.
Bahkan mereka berniat membuka lapangan pekerjaan dengan mempekerjakan remaja yang putus sekolah maupun ibu rumah tangga sebagai resellernya.
Choki sedang mengunjungi karyawannya yang menjaga stand di depan sekolah.
Hanya dalam waktu tiga hari, Choki dapat merasakan perubahan dari memanfaatkan sosmed toktok itu.
Sehingga, ia tak perlu berjualan di pinggir jalan tetapi hanya berjualan di rumah dengan cara mengadakan live.
Seorang lelaki berbadan tegap terlihat mengaduk produk jualannya, dengan kaos biasa polos dan celana kain batik.
Netra Alberto tak berkedip melihat penampilan dari sang putra yang berada tak jauh dari kendaraannya.
Alberto turun dari mobil di susul oleh Eliana.
Semburat rindu itu membuat matanya seketika memanas. Rasa bersalah dan iba itu sekelebat muncul menggelitik hatinya.
__ADS_1
Tapi tak lama terhempas oleh rasa kesal dan egoisnya. Ia mengeraskan rahangnya menahan rasa itu agak tak mencuat keluar.
"Penampilannya sangat memalukan!"
Jelas Alberto nampak sedang merendahkan lelaki yang ketampanan dan gagahnya menurun dari Genetiknya itu.
" Pa!"
Ingin rasanya Eliana mencubit dan menjambak lelaki yang berpangkat suami di sebelahnya ini.
Sementara Choki terbelalak melihat kedua orang tuanya di depan mata.
"Mama, Papa," tegurnya.
"Apa begitu sulitnya hidupmu? Hingga membeli pakaian layak pakai pun kau tak mampu?" cela Alberto keluar begitu saja dari bibirnya.
Bukannya merangkul sang putra yang telah beberapa bulan ini ia buang dari dunianya.
Alberto, malah terus mencerca dan mencela,
seakan yang ada dihadapannya sekarang,
bukanlah darah dagingnya sendiri.
"Aku nyaman seperti ini, Pa," jawab Choki yang maju mendekat dan langsung mengulurkan tangannya.
Akan tetapi, Alberto menarik telapak tangannya sekaan enggan sang putra menyentuh kulitnya.
"Em, Choki masih boleh kan memanggilmu, Papa? Boleh kan Ma," tanya Choki dengan kedua mata yang telah mendung.
"Tanya pada dirimu sendiri? Apa kau masih pantas menjadi putra Alberto dengan keadaan yang seperti ini!" ujar Alberto tegas hingga menusuk sampai ke hati.
Mata Eliana mulai memanas, ia berusaha meredam emosi suaminya dengan menggenggam tangan laki-laki yang keras hati itu.
Jangan tanyakan keadaan Annisa si cantik yang ternyata berada di belakang Eliana.
Wajahnya kini sudah di banjiri air mata.
Hidungnya sudah semerah tomat.
Bahkan ia sudah beberapa kali menyusut air mata yang membasahi niqob-nya.
Nyatanya wanita yang menutup rapat tubuhnya itu telah mendengar semuanya.
"Maaf, Pa, Ma. Kalau Choki udah gak pantas jadi anak kalian lagi." Suara pemuda yang telah hijrah sempurna itu tercekat di tenggorokan namun ia sebisa mungkin menahan tangisnya.
"Keterlaluan!! Apa ini caramu membalas kebaikan kami selama ini, Zakaria! Dengan mencoreng namaku!"
__ADS_1
...Bersambung ...