
Annisa yang mendapati sosok yang sejak tadi ia pikirkan itu, sontak dengan cepat ingin berlari menghampiri.
Sampai gadis itu terlupa bahwa dirinya masih mengenakan mukena.
Annisa pun hampir saja tersungkur lantaran tersandung bawahan mukena yang terinjak oleh kakinya sendiri.
"Annisa, ya Allah!" Choki pun memutuskan ikut berlari maju untuk menyambar raga Annisa yang hampir jatuh itu.
"Jangan lari. Kan hampir jatuh, Untung saja," tegur Choki pelan seraya memeluk raga Annisa.
Gadis itu tiba-tiba memeluknya sangat erat.
"Abang Zakaria," panggil Annisa lirih.
"Maaf, ya. Aku pergi gak ijin dulu sama kamu. Soalnya, aku gak mau bangunin kamu yang udah pules," ucap Choki memberi alasan.
Akan tetapi, Annisa semakin erat memeluk dirinya.
Bukannya menjawab atau marah tetapi Annisa justru terdengar mengeluarkan isaknya pelan.
"An, kamu kenapa nangis?" tanya Choki seraya mengusap lembut kepala hingga punggung istrinya itu.
Annisa tidak menjawab tetapi semakin mengencangkan pelukan dan juga tangisnya.
"Sayang, apa kamu sangat menghawatirkan aku? Maaf ya, aku udah bikin hati kami gak tenang. Maafin aku Annisa," ucap Choki lagi seraya berkali-kali melabuhkan kecupannya di pucuk kepala istrinya itu.
Tak lama kemudian Annisa sudah mulai tenang dah mau melepaskan pelukannya.
Annisa mendongak untuk menatap wajah lelah dan mata sayu suaminya itu.
"Annisa mohon, lain kali apapun yang akan Abang lakukan, katakan pada Annisa. Beban pikiran apapun Abang bisa membaginya dengan Annisa. Tolong ... jangan lakukan ini lagi, Annisa takut," tuturnya pelan dengan suara yang lembut dan sedikit manja.
Kenapa ini? Annisa nampak lain di mata Choki pada saat ini.
Terlihat semakin manis dan manja.
__ADS_1
Tidak seperti Annisa yang sebelumnya.
Dimana gadis itu terlihat mandiri dan mampu melakukan semuanya sendiri.
Tetapi, saat ini ... Annisa terlihat sangat fragile, rapuh dan mudah pecah.
"Maaf ya. Lain kami aku janji yang kayak gini gak akan terulang lagi. Aku tidak akan membuatmu takut lagi. Eh tapi takut apa ya? Kan kamu emang udah biasa tinggal sendirian?" tanya Choki setelah sadar akan perkataan Annisa. Nyatanya ada satu kalimat yang membuatnya bingung campur heran.
"Annisa takut ... takut kalau Abang pergi meninggalkan Annisa dan takkan kembali lagi," jawab Annisa jujur akan perasaan yang ada di dalam hatinya saat ini. Perasaan yang belum lama ia sadari bahwa ia telah membutuhkan kehadiran Choki dan telah terbiasa akan keberadaan pemuda itu di sisinya.
"Apa itu artinya, Annisa udah sayang nih sama aku?" telisik Choki yang ingin sekali mengetahui perasaan Annisa yang sebenarnya.
Mendapat pertanyaan seperti itu nyatanya sontak membuat Annisa malu hati. Tetapi tak ada salahnya jika dia yang pertama kali mengutarakan perasaannya pada Choki bukan.
Toh, bahkan sayyidah Khodijah melamar nabi Muhammad serta mengungkapkan ketertarikannya pada Rosulullah. kan
Choki meraih dagu Annisa, hingga sang istri kembali mengangkat wajahnya.
"Annisa, ternyata sudah jatuh cinta pada Abang Zakaria. Annisa takut kehilangan, Abang ... kekasih hati Annisa," jawabnya pelan dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Masyaallah, Alhamdulillah! Apakah yang ku dengar ini nyata Annisa? Benarkah aku sudah mengisi hati dan pikiranmu. Oh ya Allah. Aku sangat bahagia," timpal Choki dengan senyum yang sangat lebar dan tatapan mata yang penuh binar.
Choki menagkup kedua pipi Annisa dengan telapak tangannya yang besar dan lebar itu. Hingga wajah yang mungil itu mampu ia kuasai dengan sepenuhnya.
"Aku meskipun berada di luar tapi pikiranku terus tertuju padamu Annisa. Aku akhir-akhir ini tak pernah bisa berhenti untuk tidak memikirkan kamu walau sedetik saja," tutur Choki dengan tak menggeser fokus pandangannya satu senti pun dari wajah cantik alami di hadapannya ini.
Choki memainkan kedua ibu hatinya untuk mengusap pipi kemerahan Annisa. Lalu, ia mendekatkan wajahnya pada istrinya itu.
"Aku, mencintaimu Annisa. Aku, rela melepas semuanya demi dirimu. Tolong tetaplah membimbingku, agar aku pantas bersanding di sisimu," ucap Choki dengan suara lirih dan tatapan yang penuh kelembutan.
Mendengar pernyataan cinta dari Choki suaminya, maka Annisa sontak mengulum senyumnya.
"Dikit banget sih senyumnya, yang banyak dong," pinta Choki.
Annisa lantas tersipu malu dan memasang senyum yang sangat lebar dan indah.
__ADS_1
"Nah gini, jadi makin cantik," puji Choki seraya mengecup bibir Annisa sekilas.
Karena kebetulan panggilan sholat subuh telah berkumandang.
"Aku mau mandi, nanti kita solat subuh jama'ah ya," ucap Choki yang mana langsung diangguki oleh Annisa.
Choki pun mandi dan Annisa menyiapkan pakaian ganti suaminya itu.
"Ternyata, pakaian Abang masih kurang banyak," gumam Annisa tatkala menemukan segitiga bermuda itu hanya tinggal satu lembar.
Tak lama Choki keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan yang sudah segar. Bahkan pemuda tampan itu nampak mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Kamu wudhu gih sana. Udah Iqamah tuh," tegur Choki yang mana hal itu langsung membuyarkan lamunan dari Annisa.
Selepas solat berjamaah. Keduanya duduk di tepi tempat tidur dan Choki menceritakan semua yang terjadi pada saat ia berada di luar rumah tadi.
Semua ia ceritakan pada Annisa tanpa ada sedikitpun yang di tutupi.
Sehingga terkadang kedua manik mata Annisa itu membulat sempurna dan terkadang pula ia membekap mulutnya.
Berkali-kali terdengar Annisa mengucapkan kalimat istighfar.
"Semoga, siapapun dia. Allah beri kesempatan untuk sembuh dan sehat tanpa cacat," ucap Annisa tulus.
"Annisa, aku gak bisa meninggalkan komunitas begitu aja. Tapi, aku akan mengalihkan agenda serta kebiasaan kita ke arah yang lebih positif. mungkin, suatu hari nanti aku akan ajak kamu kesana. Tapi nanti, kalo tempat itu sudah tidak berantakan seperti sekarang," ucap Choki.
"Annisa percaya sama Abang Zakaria." Annisa berkata seraya menyentuh punggung tangan Choki yang berada di atas lutut pemuda itu.
"Makasih sayang, udah percaya sama aku. Aku yakin, keselamatan aku tadi pasti karena munajat doa kamu yang Allah dengar. Aku, akan berusaha menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab untuk kamu. Aku rela dan siap kerja apapun itu. Tolong bersabar ya, sepertinya mendapatkan suami sepertiku adalah ujian untukmu Annisa. Seharusnya, kamu itu dipersunting oleh sultan yang memiliki segalanya." Choki balas meraih dan menggenggam tangan Annisa, seraya berkata dengan jujur dari dalam hatinya.
Bahwa ia bertekad akan melakukan pekerjaan apapun itu asal halal dan berada di jalan Allah. Sebab, pemuda itu begitu menginginkan kebahagiaan istrinya.
"Sebagai langkah awal, Abang Zakaria bisa jualan basreng. Nanti, kita cari gerobak agar Abang bisa jualan di sekolahan," saran Annisa yang di sambut senyum eh Choki.
"Apapun akan ku lakukan untukmu Annisa. Sekalipun harus berjualan basreng," batin Choki.
__ADS_1
"Em, apa apa Abang menginginkan Annisa saat ini?" tanya Annisa yang seketika membuat Choki terkejut.
...Bersambung ...