Suamiku Bad Boy

Suamiku Bad Boy
Bab#49. Ma, Choki Mau Masuk Surga.


__ADS_3

"Bang, itu ada yang ... mengetuk pintu," ucap Annisa terputus-putus karena ia saat ini tengah mengontrol napasnya yang masih tersengal-sengal, sambil memeluk erat tubuh Choki.


"Hah, itu pasti mama. Apa apa ya?" Choki pun langsung berlari ke kamar mandi lalu mengenakan pakaiannya.


Setelah memastikan bahwa Annisa telah bergantian dengannya masuk kamar mandi, barulah Choki membuka pintu.


"Mama, ada apa?" tanya Choki, namun sang mama justru menatapnya penuh selidik. Setelahnya wanita itu pun tersenyum-senyum sendiri.


"Kamu ini, main kok sore-sore begini. Dasar pengantin baru," goda Eliana ketika wanita itu melihat sebuah tanda kemerahan pada bagian bawah leher putranya.


"Main apa sih Ma?" jawab Choki pura-pura tak tau.


"Haish, sudahlah. Wajar juga, lagipula istri kamu cantik gitu," ucap Eliana yang masih menyunggingkan senyumnya.


"Hehe, ketauan juga," tawa Choki malu.


"Dasar! Ayah dan anak sama saja," sungut Eliana.


"Oh ya, Mama ada apa kesini?" tanya Choki kembali pada niat utama sang mama.


"Papa ingin bertemu dan berbicara denganmu," jawab Eliana.


"Oke, tapi Choki mandi dulu ya," ucapnya.


"Hem, tapi ingat temuilah Papamu sendiri tanpa Annisa," ucap Eliana lagi dimana hal itu sontak membuat Choki mengerutkan kening.

__ADS_1


"Kenapa begitu, Ma? Annisa adalah anggota keluarga kita sekarang. Kenapa istriku tidak bisa bergabung dan seakan di kucilkan?" cecar Choki tak terima dengan syarat tersebut.


"Nak, bisa tidak ... turuti saja dulu kemauan papamu. Mama ini pusing mengimbangi antara kalian berdua," ucap Eliana berharap Choki menuruti kemauan suaminya yang keras kepala.


"Maaf, Ma. Choki gak bisa. Seorang suami tidaklah ma'ruf apabila melakukan permusyawarahan di belakang istri mereka," jawab Choki tetap menolak dengan nada suara yang dibuat sepelan mungkin.


"Ternyata Choki begitu memuliakan istrinya," batin Eliana.


"Kenapa sih, kalian itu ayah dan anak sama-sama keras kepala," keluh Eliana seraya memijat pelipisnya.


Wanita ini tak tau lagi bagaimana merayu sang putra. Sementara ia sudah menyerah dalam merayu suaminya. Kemolekan tubuhnya pun tak lagi berguna jika yang hendak disimpangkan adalah idealis serta egoisme dari Alberto.


"Sudahlah. Cepat sebelum makan malam!" titah Eliana lagi.


"Iya, Mamaku sayang," jawab Choki dengan senyumnya yang menawan.


"Ya, Ma," jawab Choki yang memang belum menutup pintu kamarnya.


"Boleh, Mama memelukmu?" tanya Eliana.


Sontak raga Choki membeku dan hatinya seakan etertampar. Sejak kapan wanita yang telah melahirkannya dengan mempertaruhkan nyawa ini harus meminta ijin dulu hanya untuk memeluk tubuhnya? Dimana setiap aliran darah dan daging serta tulang tercipta di tubuhnya ini berkat air susu dari sang mama.


Choki tertawa campur sedih. "Ma. Sejak kapan seorang ibu meminta ijin untuk memeluk anaknya? Choki ini kan putra Mama," jawab Choki seraya mendekati Eliana yang berdiri tak jauh dari depan kamarnya.


Kemudian, Choki meraih raga wanita yang telah mengandungnya selama sembilan bulan lebih itu kedalam pelukannya.

__ADS_1


"Choki sayang Mama. Maafkan aku jika selama ini pernah membuatmu bersedih, khawatir dan juga risau," bisik Choki pelan.


Akan tetapi Eliana menggeleng dalam tangisnya. " Tidak, Nak. Mama yang nyatanya banyak salah kepada kamu. Sejak kami kecil Mama selalu meninggalkan kamu di rumah sebesar ini bersama para pelayan dan juga baby sitter. Maafkan Mama yang lebih memilih menemani Papa ketimbang kamu," tutur Eliana dengan sangat lirih dan penuh penyesalan.


Entah kenapa, Eliana nampak merasa begitu bersalah kepada putranya. Apalagi, ketika ia melihat sosok perubahan Choki yang mana selalu berbicara lembut dan sopan dengan tatapan mata yang penuh cinta.


Sungguh, ini adalah hal yang sangat Eliana inginkan namun ia merasa malu ketika ingin menuntut hak itu pada sang putra.


Eliana sadar jika selama ini ia tak mampu memberikan semua hak Choki secara utuh.


Untung saja putra itu masih memiliki ikatan batin dengannya.


"Kata Annisa, sebanyak apapun kesalahan dan kekurangan mama dalam merawat dan membesarkan aku, itu bukanlah suatu alasan bagi, seorang anak yang terlahir dari rahimmu dan tumbuh besar dengan meminum asi yang berasal dari darah dan juga kalsium tulangmu," ungkap Choki menjeda sebatas mengambil napas.


Choki semakin mengeratkan pelukannya, kemudian lanjut meneruskan kembali penuturannya. "Sebesar dan sebanyak apapun kelalaianmu dalam mendidikku, tetap saja, Ma. Kau adalah ibuku yang harus aku sayang dan hormati. Satu-satunya wanita yang berhak mendapatkan bakti dariku sebagai anak. Terlepas dari semua kejadian di masa lalu. Aku telah memaafkannya. Karena sesungguhnya cinta harus bisa mengalahkan rasa benci," jelas Choki, yang sudah tak mampu menampung kristal bening itu untuk tetap di pelupuk matanya.


Hingga cairan itu tumpah ruah bak tanggul Katulampa yang jebol.


"Oh, beruntungnya kau putraku. Mendapatkan wanita seperti Annisa ini. Bagaimana bisa ia merubah tabiat putraku dengan begitu bertolak belakang?" batin Eliana.


"Alhamdulillah. Abang sudah ikhlas menerima semua jalan hidup yang telah Allah gariskan kepadanya," gumam Annisa yang ternyata mengintip dari pintu kamar yang di buka sedikit.


"Ma, Choki mau masuk surga," bisiknya lagi ke telinga Eliana sang mama.


"Mama juga mau. Tapi bagaimana caranya?"

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2