Suamiku Bad Boy

Suamiku Bad Boy
Bab#47. Ana Uhibbuka Fillah.


__ADS_3

"Tentu saja, Pa. Karenanya ada dua koma lima persen hak orang lain di harta Papa," jawab Choki singkat karena ia melihat raut wajah sang Alberto semakin mengeras.


Choki pun baru paham bahwa selama ini sang papa tidak pernah menzakatkan hartanya.


"Atas dasar apa kau mengatakan begitu? Papamu ini mendapatkannya bukan senang dan mudah. Perlu kerja keras dan perjuangan! Bagaimana bisa kau bilang ada hak orang lain si sini!" hardik Alberto seraya berdiri dan menudingkan telunjuknya ke arah sang putra dengan tatapan tajam ke arah Annisa.


"Honey tenanglah," ucap Eliana seraya berusaha untuk membuat suaminya itu kembali duduk. Akan tetapi Alberto tetap tak bergeming.


"Kalian berdua, berhentilah menyudutkan kami. Kamu Choki, seharusnya kamu berterimakasih kepada papamu Nak. Karena berkat kegigihannya kita bisa hidup di atas kata layak juga di pandang orang," ucap Eliana dengan air muka yang mulai terlihat emosi.


"Maaf, Ma, Pa. Choki katakan sekali lagi bahwa apa yang aku dan istriku berusaha sampaikan kepada kalian adalah karena rasa sayang kami yang teramat besar. Justru, Choki sangat berterimakasih kepada Papa dan Mama. Jasa kalian tidak akan pernah bisa ku balas sampai kapanpun. Karena memang tak ada seorang anak manapun di atas muka bumi ini yang sanggup membalas jasa kedua orang tua mereka. Sekalipun, aku harus mengendong papa dari sini hingga ke Mekah tujuh kali putaran," tutur Choki yang mampu membuat keduanya bungkam.


Bagaimana pun seorang Alberto dan Eliana juga memiliki orang tua. Akan tetapi, mereka berada di panti jompo. Sementara orang tua Eliana berada di kampung yang sangat terpencil.


Sehingga, Eliana hanya akan mengirim uang saja demi menunjukkan baktinya.


"Sudahlah. Telinga Papa panas mendengar ocehannya yang tak habis-habisnya itu!" seru Alberto pada Eliana.


Hingga pria itu pun berlalu meninggalkan putra dan juga menantunya.


Aku akan menyusul nanti, Honey!" teriak Eliana sambil menatap punggung suaminya yang mana pria itu kini mulai menaiki tangga.


Setelahnya, Eliana mengarahkan pandangannya kepada Choki dan juga Annisa.


"Kalian berdua naiklah ke atas dan istirahat. Nanti pada saat makan malam kita akan berkumpul lagi di bawah. Dan ingat, jangan bawa-bawa sikap fanatik kalian lagi," kecam Eliana dan berlalu meninggalkan keduanya yang kini memaku bingung.


"Sayangku, Annisa. Apakah tindakanku serta sikapku sebagai anak ini salah? Hanya karena aku berusaha mengingatkan mereka berdua?" tanya Choki lirih seraya menjatuhkan tubuhnya di sofa.

__ADS_1


"Bersabarlah Abang. Sesungguhnya kewajiban kita sebagai anak maupun hamba hanyalah menyampaikan kebenaran. Selebihnya kita tinggal berdoa kepada Allah agar segera terbuka dan terketuk pintu-pintu hati, kedua orangtua kita. Sebab, sejatinya hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan hidayah pada manusia," tutur Annisa berusaha menenangkan hati suaminya itu.


"Benarkah, sayang. Jadi tugas kita sudah selesai?"


"Belum suamiku. Kita memiliki kesempatan dua kali lagi untuk menasihati dan memperingatkan. Sambil menyerahkan semuanya kepada Allah lewat doa-doa yang kita munajatkan nanti di waktu yang ajaib," ucap Annisa lagi seraya menggenggam lembut jemari tangan suaminya itu.


"Baiklah, sayang," balas Choki dengan senyum lembutnya.


"Ayokz aku ajak kamu ke kamarku. Eh, kamar kita," ucap Choki lagi.


Annisa berkali-kali menggumamkan kalimat toyyibah ketika kakinya melangkah guna menaiki tangga yang memutar bak spiral ini. Penampakan setiap jengkal rumah suaminya ini sungguh bak istana yang indah, mengagumkan.


Sampailah keduanya di depan sebuah kamar dengan pintu yang juga tampak megah. Pintu dengan dua gagang ini pun di buka oleh Choki perlahan. Sehingga, menampilkan keadaan kamar yang begitu besar dan mewah.


"Masyaallah. Bahkan ukuran kamar Abang lebih luas dari kontrakan kita," puji Annisa seraya membekap mulutnya.


Annisa sontak mendekat dan merengkuh bahu lebar nan kekar milik suaminya.


"Abang telah berusaha kembali ke jalan Allah. Janganlah berkecil hati, karena sesungguhnya Allah itu maha pemaaf. Insyaallah, semua dosa-dosamu yang telah lalu Allah ampuni dan kita bisa bersama di surganya nanti," ucap Annisa dengan suara serak menahan tangis.


Choki langsung berbalik.


Kemudian membawa raga istrinya yang nampak sedikit bergetar itu ke dalam pelukannya.


"Terimakasih. Karena kamu sudah sangat sabar memghadapiku kemarin-kemarin. Terimakasih karena munajat doa-doa yang kamu panjatkan kepada Allah teruntuk diriku yang hina dina ini. Karenamu, aku kini memiliki mimpi. Hal yang pernah aku pikirkan selama hidupku sebelumnya," bisik Choki pelan di telinga Annisa yang masih tertutup Khimar.


"Annisa juga, hanya memiliki satu mimpi saat ini. Hidup bersama Abang Zakaria di dunia dan juga di akhirat. Annisa takkan lelah untuk meminta hal itu kepada Allah," sahut Annisa yang juga pelan.

__ADS_1


Hingga, keduanya kini melepaskan pelukan mereka namun raga itu tetap dekat dan melekat.


Kedua manik mata keduanya saling pandang dengan lekat dan dalam. Hingga, jemari lentik Annisa yang lembut menyusuri wajah pria di hadapannya.


"Ana uhibbuka Fillah. Annisa mencintaimu karena Allah. Aku merasa Abang Zakaria adalah yang terbaik untuk Annisa, dan berharap Allah semakin mendekatkan kita," ucap Annisa tulus dengan senyum yang terkembang penuh di wajahnya.


Choki pun mengulurkan tangan ke belakang kepala Annisa untuk membuka simpul tali dari niqob yang menutupi sebagian besar wajah cantik istrinya itu.



"Terimakasih, istriku. Aku pernah mendengar kalimat ini di sebuah film atau lagu. Tetapi, pada saat istriku yang jelita ini mengungkapkannya ... ternyata mampu membuat hatiku bergetar dengan hebat. Aku jatuh cinta padamu, Annisa Meizani. Setiap hari dan setiap waktu. Saat ini, esok dan selamanya. Insyaallah," balas Choki mengutarakan isi hatinya dengan nada yang juga lembut dan berasal dari hati terdalam.



"Allahuakbar, Allah maha besar," ucap Choki lagi kemudian mendekatkan wajahnya dan mulai menyambar bibir istrinya itu dengan lembut.



__________


Eliana menghampiri suaminya yang kini telah duduk di atas tempat tidur sembari memangku laptopnya.


"Honey," panggilnya.


Alberto yang telah mengetahui maksud istrinya ini hanya memberi tatapan malas.


"Berhentilah membujukku. Jika mereka terlalu banyak bicara, aku akan mengusir keduanya," ancam Alberto serius.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2