Suamiku Bad Boy

Suamiku Bad Boy
Bab#46. Kufur Nikmat.


__ADS_3

"Maaf, Pa. Makanan ini tidak akan mengotori mobil. Daripada ku tinggal di rumah nanti akan sia-sia. Mungkin, jika di bawa ke mansion maka akan kuberikan pada pelayan di sana," jelas Choki.


"Terserah kau saja, asalkan jangan sekali-kali makan benda itu di dalam mobil!" kecam Alberto.


Entah kenapa pria itu nampak benci sekali dengan produk sudah yang tengah di jalankan oleh putranya ini.


Choki membungkus rapat dan meletakkan bareng ke atas pangkuannya.


Eliana hanya menggeleng melihat kelakuan sang suami yang ia cintai itu.


Beberapa jam kemudian mereka telah tiba, di sebuah bangunan mewah dengan pagar tinggi menjulang yang mengelilinginya.


Annisa turun di bantu oleh Choki. Kedua mata indah wanita ini menatap tak berkedip ke arah bangunan mewah dengan pelatarannya yang sangat luas dengan begitu banyak tanaman hias dan juga pepohonan yang terawat.


Belum lagi rumput gajah mini halus yang tersebar bak permadani.


Pantas saja jika Alberto, si papa mertua menganggap rumah kontrakannya itu layaknya kandang saja. Annisa pun maklum.


Akan tetapi dia langsung menoleh ke arah suaminya karena begitu kagum dan tak percaya. Kehidupan Zakaria ternyata lebih mewah ketimbang bayangannya dari apa yang di jelaskan pria itu padanya.


Tetapi, Zakaria nyatanya bisa beradaptasi dengan cepat dan rela hidup sederhana dengannya. Juga, ikut menekuni usaha yang menciptakan keringat di setiap prosesnya.


"Ayo!" ajak Choki seraya terus menuntun tangan Annisa tanpa sedetikpun ia lepaskan.


Choki tau, jika Istrinya ini akan gugup dan tak percaya diri.


Setelah sampai di dalam, Annisa berkali-kali mengucapkan kalimat toyyibah sebagai ucapan kekagumannya.


Apalagi kedatangan mereka langsung disambut oleh beberapa pelayan dengan seragam yang sama.

__ADS_1


Seumur hidup baru kali ini dirinya menginjak bangunan mewah yang di peruntukkan sebagai tempat tinggal. Dan ini semua adalah milik kedua mertuanya. Orangtua, dari suaminya.


Sosok pemuda yang tiba-tiba datang dan tergeletak di depan rumahnya, mendatangkan sebuah kejadian yang membuahkan salah paham sehingga keduanya di nikahkan.


Satu takdir yang sama sekali tak pernah Annisa bayangkan dalam mimpinya sekalipun.


Tau-tau menikah dan keduanya tau-tau sudah saling mencintainya mulai sekarang.


"Duduklah, kalian berdua," titah mama Eli.


Tak lama pelayan menghampiri dengan membawakan minuman dan juga camilan.


"Eda, nanti ganti semua seprai dan tirai di kamar tidur tuan muda," titah Eliana pada pelayannya yang masih cukup muda.


"Baik, Nya," jawabnya.


"Semoga kamu betah di sini ya, Annisa. Anggap saja rumah sendiri," ucap Eliana ramah pada menantunya.


"Enak saja. Ini rumahku. Masa bisa seenaknya anggap rumah sendiri. Bukan senang ini semua bisa berdiri hingga semegah ini. Butuh kerja keras dan juga dedikasi yang tinggi!" bantah Alberto terhadap ucapan ngelantur istrinya itu.


Seenaknya saja mengatakan pada orang asing agar menganggap istananya ini seperti tempat tinggal sendiri.


Papa ganteng, itu kan cuma kiasan. 🙄


"Astaga suamiku. Dia ini kenapa susah sekali di ajak kerjasama," geram Eliana, seraya menggumam pelan.


"Masyaallah ya, Pa. Rahmat dan berkah dari Allah sungguh luar biasa kepada keluarga ini. Sehingga, apa yang papa upayakan dapat membuahkan hasil seperti apa yang diinginkan," ucap kagum Annisa dengan menyiratkan sebuah kalimat bermakna.


"Tentu saja, semua berkat kerja kerasku tanpa campur tangan orang lain. Aku yang berjuang hingga semua yang ku inginkan tercapai. Bahkan waktu dua puluh empat jam itu akan terasa kurang bagi para pekerja keras," ucap Alberto lagi.

__ADS_1


"Papa benar, ikhtiar, doa dan tawakkal adalah step by step menuju kesuksesan. Alhamdulillah, Annisa dan Abang Zakaria telah perlahan melakukan kegigihan itu dengan tetap meletakkan Allah di peringkat paling utama. Karena, sekeras apapun usaha kita tanpa ridho dan ketentuan dari kuasanya maka semua itu akan sia-sia saja. Bukan begitu, suamiku?" tutur Annisa sengaja melempar ucapannya pada Choki.


"Ya, kamu benar sayang. Semua karena Allah. Jika bukan karena kuasa dan kasih sayang-NYA, maka kita manusia tidak akan bisa apa-apa," sambung Choki dengan senyum penuh kekaguman akan keberanian istrinya ini.


Bahkan, Alberto tak bisa lagi menyahut dengan kesombongannya karena pria itu pun mengerti bahwa apa yang Annisa ucapkan barusan itu bermaksud untuk menasihati dirinya dari segala keangkuhannya selama ini.


"Maksud kamu apa, Annisa? Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa kerja keras tidak akan mengkhianati hasil? Dan Mama selama puluhan tahun telah mendampingi Papanya Choki, sehingga Mama tau bagaimana kerja keras suamiku ini. Dan ya ... semua yang kami miliki murni karena kegigihannya yang tak kenal menyerah apalagi lelah," tandas Eliana.


Eliana nampak tidak setuju dengan nada bicara menantunya yang seakan menyudutkan Alberto. Karena wanita ini sesungguhnya tak mau menyimak secara mendalam penjelasan dari putra dan juga menantunya.


"Maksud kami sebenarnya begini, Ma. Setiap keberhasilan yang kita raih sesungguhnya tak lepas dari campur tangan Allah sang maha kaya, yang maha memiliki segalanya apa yang ada di langit maupun bumi. Jika, tanpa ridho dan ketentuan darinya maka apa yang kita usahakan dan perjuangkan akan ada saja hambatannya. Misalnya, jika tubuh kita salah satu anggotanya tidak dapat berfungsi dengan sempurna. Tentu saja, semua usaha dan pekerjaan kita akan terhambat bahkan gagal total," jelas Choki dengan penuturannya yang panjang lebar.


"Kau salah, Zakaria. Kau lupa bahwa papamu ini adalah orang yang paling menjaga kesehatannya. Karena aku sudah tau jika kesehatanmu adalah kunci utama kelancaran setiap rutinitas dan juga kegiatanmu. Jadi, Tak ada penyakit apapun yang mampu menyentuh tubuh yang hidup dengan pola sehat," timpal Alberto dengan rahang yang mengeras.


"Subhanallah, Pa. Sebentar, mungkin Choki dan Annisa akan meluruskan cara berpikir Papa sedikit. Jadi begini, Pa. Tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormat kami padamu, tetapi ijinkan Choki menjelaskan pada Papa bahwa apa yang Papa pikirkan ini sudah menjerumus pada kekufuran. Choki sayang Papa dan Mama, sangat sayang. Aku tidak mau kalian terus tenggelam dalam genangan yang dalam dari khilaf,"


"Apa maksudmu!"


"Katakan bagian mana yang salah maka Papa akan membelikan kau toko untuk menjalankan usaha basreng atau apalah itu!" ketus Alberto dengan pongah.


"Baik Pa, jadi begini. Tubuh kita adalah milik Allah. Sehingga memang kewajiban kita untuk menjaga barang yang sudah Allah berikan ini sebaik-baiknya. Akan tetapi, ketentuan sehat maupun sakit tetap menjadi hak prerogatif Allah. Hanya DIA-lah yang berhak menentukan apakah tubuh ini akan sakit atau tidak, akan sehat terus atau tidak. Terlepas dari apa yang sudah kita upayakan untuk menjaganya," jelas Choki dengan raut wajah penuh prihatin terhadap akidah dan jalan pemikiran kedua orang tuanya.


Alberto langsung terdiam. Pria itu tengah menelaah maksud dari setiap kalimat yang meluncur dari bibir putranya.


Anak yang tadinya tak pernah banyak bicara padanya kini sudah bisa menasihati dirinya bahkan dapat menemukan letak kesalahannya tanpa menyalahkan maupun merendahkan.


"Jadi, maksudmu ... semua yang ku miliki ini adalah pemberian dari Allah?" tanya Alberto, dengan geraham yang saling beradu.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2