
"Alhamdulillah."
Choki menjatuhkan raganya di samping tubuh, Annisa kemudian menarik istrinya itu untuk membawanya kedalam pelukan.
Tak peduli seberapa lengket tubuh mereka berdua. Rona bahagia dan kepuasan itu tak dapat tertutupi dari wajah pasangan pengantin baru ini.
Raut bahagia itu nampak jelas tercipta. Hingga mereka berdua berpelukan melepas lelah selama beberapa saat.
"Makasih ya, Annisa sayang. Aku sangat bahagia dan puas. Kamu telah memberikan padaku nikmat surga dunia yang teramat indah. Aku menyukainya dan pasti akan memintanya lagi dan lagi," ucap Choki jujur apa adanya semua keinginan dan perasaan dari dalam hati, sambil terus menciumi setiap lekuk wajah Annisa.
Dua insan itu terlihat mengatur napasnya, yang seperti habis melakukan lari maraton. Annisa menoleh ke arah lelaki yang telah memasukinya, sebanyak dua kali pagi ini.
Sensasi luar biasa yang dapat ia rasakan kini. Berbeda, dengan ketika pertama kali. Karena penyatuan barusan tidak terlalu menyisakan sakit dan perih lagi.
Justru, ia seakan mabuk di buatnya. Hingga suara-suara aneh, yang belum pernah tercipta dari pita suaranya, bisa keluar sebebas itu dari kedua bibirnya.
Menyisakan semburat malu, di wajah cantik alami dengan pipi yang kemerahan.
"Kenapa Annisa tidak bisa menahannya tadi, kan jadi malu...aaaaa!" batinnya gemas.
Alhasil, sang gadis yang akhirnya sudah tidak gadis lagi itu pun, menutupi seluruh wajahnya dengan kain selimut.
"Hei, kenapa di tutupin." Choki menarik kain selimut itu hingga kebawah, melewati dada Annisa. Hal demikian sontak membuatnya reflek menjerit.
"Aaaa ...!"pekik Annisa, lantaran tubuh polos bagian atasnya terekspos sempurna.
"Abang, kan udah liat juga, ngapain teriak coba?" goda Choki sambil sekali menciumnya yang terpampang di hadapannya itu.
Choki coba menurunkan lagi, ujung selimut yang dipegang dengan erat oleh istri menggemaskannya itu.
"Abang, Annisa malu, lagipula sudah dua kali kan, sekarang bebasin aku ya!" pinta Annisa dengan wajah memelas sambil merajuk.
Dimana wajahnya itu justru semakin menggemaskan bagi lelaki yang ada dihadapannya itu.
Choki hanya melengkungkan senyum manisnya, yang ternyata senyum itu, telah berhasil membuat rona kemerahan itu merekah dari kedua pipi Annisa.
Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?
Bahkan Choki merasa jika dirinya sungguh beruntung.
"Tadi kamu nampak kesakitan. Aku tidak tega, An." Choki berkata mengingat kejadian sebelumnya dimana Annisa justru memintanya untuk meneruskan apa yang sudah di mulai.
"Annisa gak apa-apa, Abang. Itu ... itu bukan karena kesakitan. Tapi --"
"Tapi apa?" tanya Choki penasaran.
Annisa hanya tersenyum menjawab semua kekhawatiran dari pemuda asing yang kini telah menjadi suaminya itu.
__ADS_1
"Karena, Annisa menginginkannya dan juga sangat menyukai dan menikmatinya makanya begitu," jawab Annisa mengesampingkan rasa malunya.
Tetapi tetap saja rona di wajahnya tak dapat membohongi apa yang ada di hatinya. Ia sangat malu sekali.
"Ah, jadi kau suka." Choki pun langsung tersenyum, dan kembali mencium gemas dada istrinya itu.
Membuat Annisa kembali memekik.
"Abang, hentikan!"
"Udah ya, Annisa mau mandi. Sebentar lagi masuk waktu Dhuha," terang Annisa, seraya bergerak untuk dapat turun perlahan dari atas peraduan hangat mereka.
"Kamu sangat indah, Annisa sayang. Akhirnya aku telah berhasil memilikimu seutuhnya. Sampai kapan pun tak akan ada yang dapat menyentuhmu meski hanya seujung kuku," batin Choki.
"Ya Allah," desisnya pelan, pada saat menggerakkan kakinya untuk mencoba turun perlahan dari pembaringan.
Kemudian, tiba-tiba tubuhnya melayang.
"Akhh!"
"Astagfirullah! Abang!" pekik Annisa kaget. Ketika sepasang tangan kekar telah mengangkatnya dan menggendongnya ala bridal style.
"Jadi, panggilan untukku sebenarnya apa? Abang atau suami?" tanya Choki.
"Annisa suka panggil Abang Zakaria saja. Annisa suka nama itu," jawab Annisa dengan senyum manisnya yang mampu membuat pria manapun akan meleleh dan jatuh cinta.
Choki ingin menikmatinya seorang diri saja.
Tak peduli tanggapan orang apa. Sekalipun itu kedua orangtuanya.
"Apapun itu, asalkan dari kamu, aku pasti suka," ucap Choki.
"Abang bantu kamu mandi ya, kasian istriku ini," ucap Choki lagi.
"Eh! A-apa!" kaget Annisa.
Choki berjalan cepat dan tau-tau mereka kini sudah sampai didepan kamar mandi.
"Enggak usah! Annisa bisa mandi sendiri!"" tolaknya, karena ia masih malu bila tubuhnya di lihat kembali. Apalagi banyak tanda merah di sana.
"Loh kok gitu sih? Kenapa, kamu lupa ya? Kisah Rosulullah yang mandi junub satu bejana dengan Sayyidah Aisyah R.A.?" cecar Choki, yang mana hal itu membuat Annisa membulatkan matanya lantaran kaget.
"Abang tau kisah itu?" tegas Annisa lagi.
"Tau dong, sayang. Kan Abang udah sempet nyari-nyari di artikel dan juga ceramah-ceramah ustadz dan Ustadjah di yutube. Banyak nasihat mengenai pernikahan, bagaimana memperlakukan istri dan juga kisah-kisah pernikahan yang diambil dari kebiasaan nabi. Ternyata, banyak sekali hal baru yang mengasikkan untuk di gali lebih dalam," tutur Choki menjelaskan dari mana dirinya tau akan kisah itu.
"Abang hebat dan cerdas. Tetapi, Annisa mohon biarkan aku mandi sendiri," pinta Annisa dengan raut wajah yang membiaskan malu.
__ADS_1
"Justru karena itu, mulai sekarang kita berdua harus saling terbiasa melihat tubuh polos masing-masing. Agar perlahan rasa malu dan deg-deg ini menipis seiring kedekatan serta kepercayaan kita. Abang, harap Annisa mengerti, ya," jelas Choki yang tidak memaksa tetapi menjelaskan apa maksudnya.
Annisa berakhir patuh dan membiarkan sang suami melakukan apapun padanya.
"Tapi, Abang tau kan kalau di kamar mandi gak boleh--"
"Iya Abang tau sayang. Abang juga udah dapet pencerahannya dari ceramah Buya," jawab Choki cepat memotong perkataan Annisa yang ia tau itu apa.
Hal itu lantas menciptakan senyum di wajah Annisa.
Keinginan suaminya begitu besar untuk hijrah kejalan yang benar dan semakin taat kepada Allah. Bahkan suaminya itu begitu bersemangat mengkaji ilmu Islam darimanapun.
Annisa sangat bersyukur akan hal ini.
__________
Dua pekan sudah berlalu.
Choki nampak menikmati kehidupan barunya meskipun raganya sangatlah lelah.
Pagi sampai sore, Chiko akan mangkal di pengkolan dekat pasar sebagai tukang ojek. Terkadang, juga menjadi kuli panggul jika ada ibu-ibu yang membutuhkan tenaganya.
Nyatanya kebanyakan para ibu-ibu muda yang memakai jasa Choki, ketika mereka berbelanja.
Tentu saja karena parasnya yang sangat menonjol ketimbang tukang ojek maupun kuli lainnya.
Malam hari, selepas isya, Choki akan membantu Annisa untuk membuat basreng.
Mereka bekerja sama mencari uang, karena banyak kebutuhan yang harus di cukupi dalam rumah tangga mereka yang baru seumur jagung ini.
Choki nyatanya sangat nyaman menjalani hari-harinya yang berbeda jauh dengan kehidupan yang sebelumnya.
Meksipun terdapat beberapa kendala dari pekerjaannya.
"An, banyak yang kurang suka kalo abang ngojek dan jadi kuli panggul di pasar," ucap Choki memulai sesi curhatnya malam ini.
"Emang kenapa? Abang ada salah?" cecar Annisa.
"Karena Abang katanya yang paling banyak orderan jadi menghilangkan rejeki mereka," jelas Choki dengan raut wajah sendu.
"Astagfirullah, ya udah nanti Abang jualan aja. Mungkin tiga hari lagi gerobaknya sudah jadi," sahut Annisa menenangkan hati suaminya dengan senyum yang terus terkembang di wajahnya.
"Yakinlah, Bang. Rejeki setiap hamba Allah sudah tertakar dan insyaallah tidak akan tertukar," jelas Annisa.
"Aamiin. Abang bersyukur banget punya istri yang setiap ucapannya itu menyejukkan hati," puji Choki.
"Hemm, ada maunya deh pasti," ledek Annisa dan keduanya pun tertawa.
__ADS_1
...Bersambung ...