
Tendangan keras dan serangan lanjutan dari Choki dan Rudi pun berhasil melumpuhkan Bopeng hingga pria bertato itu tak bergerak lagi.
"Habisin aja mereka, Bang! Geram sekali rasanya!" marah Rudi dengan rahang yang beradu.
"Jika saja membunuh orang tidak berdosa maka manusia pertama yang ingin ku habisi adalah kau!" bentak Choki tepat di depan muka Bopeng.
Pria yang sejak dulu selalu memusuhinya entah karena apa. Karena Choki sama sekali tak ingat pernah berbuat salah maupun mencari gara-gara dengan Bopeng.
Bopeng dengan napas yang tersengal-sengal tak mampu lagi menyahut. Rasanya nyawanya hampir terlepas dari badan.
Serangan demi serangan yang di lancarkan oleh wanita bercadar itu saja sudah membuat sekujur tubuhnya babak belur. Ditambah dengan serangan dari musuh bebuyutannya ini barusan.
"Abang. Sebaiknya, kita lepaskan saja dia. Memberikan kesempatan pada mereka untuk hidup lebih baik dan kembali ke jalan yang benar. Annisa harap, kejadian ini memberikan pelajaran pada mereka semua," ucap Annisa, seraya menyentuh bahu kekar suaminya.
Rudi ikut mendelik mendengar perkataan yang keluar dari wanita bercadar di sebelah ketuanya.
Perlahan otot tegang Choki pun mengendur. Ucapan dari istrinya barusan ternyata mampu meredakan emosi dan mengembalikan akal sehatnya.
"Kamu benar sayang, ke depannya biarlah Allah yang menuntun hati mereka. Lagipula, percuma saja di bawa ke penjara," kata Choki menanggapi saran dari istrinya itu.
Rudi Hanya bisa pasrah mendengar keputusan dari sepasang suami istri yang ia tak mengerti alasan mereka berdua melepaskan orang-orang yang sudah jelas ingin mencelakai diri mereka.
Rudi masih tak habis pikir tentang perubahan yang terjadi pada ketua mereka. Bang Jack yang setahunya sangatlah temperamental dan juga arogan, kini sangat mampu menguasai emosi di dalam dirinya dan juga terlihat patuh terhadap apa yang dikatakan oleh istrinya.
Sebelumnya, sang ketua geng motor tersebut tidak akan pernah mendengarkan ucapan dari orang lain jika apa yang ingin di lakukan maka akan ia lakukan.
Karena itulah Bang Jack terkenal disegani dan ditakuti oleh geng motor lainnya.
Karena pria itu terkenal berani dan tidak pandang bulu.
Siapapun akan dilibas oleh Jack jika memang menghalangi jalannya.
Akan tetapi apa yang Rudi saksikan di depannya saat ini adalah dimana ketuanya itu melepaskan Bopeng yang sudah jelas-jelas ingin mencelakai Annisa, istrinya sendiri.
Annisa pun tersenyum karena Choki setuju padanya.
Chiko dan Annisa pun meninggalkan Bopeng dan kedua anak buahnya itu. Dan tentu saja diikuti oleh Rudi.
"Rud, makasih udah bantuin kita tadi," ucap Choki.
"Itu bukan masalah Bang. Ini kewajiban saya," jawab Rudi yang sesekali melirik ke arah Annisa.
__ADS_1
"Hentikan rasa keingintahuanmu itu atau matamu akan ku ganti dengan biji mata ayam!" hardik Choki yang tak tahan melihat Rudi mencuri-curi pandang ke arah Annisa.
"Astagfirullah!" pekik Rudi kaget seraya mengusap dadanya.
"Eh, udah cakep tuh bahasa," kata Choki yang seketika hilang marahnya.
"I–iya Bang. Maaf, saya cuma kagum aja karena baru kali ini melihat perempuan bercadar tapi jago dan gesit banget bertarungnya," ucap Rudi jujur akan apa yang saat ini ia rasakan dalam hatinya.
Menurutnya sang ketua sangat beruntung memiliki istri seperti itu. Bahkan ia sedikit iri dah ingin juga punya istri.
"Sebaiknya kau berkata langsung dan jujur ketimbang melempar pandangan seperti itu karena tidaklah baik dan sopan. Kau bisa membuat orang lain tersinggung dan salah tanggap terhadapmu," tegur Choki yang bermaksud membuat Rudi semakin mengerti.
Sebab ia tau jika pria itu juga sedang belajar untuk merubah dirinya menjadi lebih baik.
"Iya Bang. Terimakasih atas pengertiannya," jawab Rudi.
"O ya, Bang. Anak-anak setuju sama ide Abang tempo hari. Dan mereka juga mau di bimbing langsung oleh Bang Jack," lapor Rudi.
Choki pun menoleh ke arah Annisa.
"Insyaallah, nanti kamu berdua yang akan terjun langsung untuk membimbing selama satu bulan," jelas Annisa.
Choki pun tersenyum puas dan senang lantaran sang istri mau ikut terjun merubah nasib komunitasnya.
"Makasih sayang, kamu udah mau ikut membantu," ucap Choki yang kini memasang senyum menawannya seraya menggenggam jemari Annisa.
Sontak saja Annisa memberi kode mata pada suaminya agar segera melepas tautan jemari Keduanya.
"Kenapa?" tanya Choki dengan gerakan bibir dan Annisa menunjuk melalui ekor matanya ke arah Rudi.
"Ah, ya." Choki pun paham maksud dari istrinya yang tak ingin melihat Rudi iri akan kemesraan mereka, karena itu ia segera melepaskan tangannya.
"Mereka kenapa?" batin Rudi.
"Gapapa, Bang, woles, dan anggap aja saya nyamuk," celetuk Rudi sambil tertawa.
Annisa pun hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis di balik niqob-nya.
_______
Sudah beberapa hari ini, keadaan Alberto semakin membaik.
__ADS_1
Annisa dan Choki cukup sibuk.
Annisa tetap dengan rutinitasnya lalu membacakan Qur'an setiap habis ashar untuk sang papa mertua.
Sementara, Choki sudah mulai rutin berangkat ke kantor menggantikan sang papa untuk sementara. Ada asisten dari Alberto yang akan membimbing Choki di sana.
Alberto lebih sering tersenyum pada menantunya ini sekarang. Dan pria itu sudah cukup fasih kembali berbicara. Sekalipun, anggota tubuh sebelahnya belum bisa berfungsi seperti semula. Akan tetapi, Alberto tetap semangat menjalani terapinya karena pria itu sangat ingin sembuh kembali.
"Papa tetap harus yakin bahwa akan sembuh dalam waktu dekat," kata Annisa setelah ia menyelesaikan bacaannya sore ini.
"Aamiin, Annisa. Kalau Papa boleh tau tadi itu suroh apa?" tanya Alberto masih agak terbata.
"Tadi itu suroh Al Waqiah, Pa," jawab Annisa.
"Enak ya, apalagi suara kamu itu merdu sekali, Nak," puji Alberto.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau Papa tersentuh. Itu artinya Allah masih melembutkan hati Papa," ucap Annisa yang tetap mengenakan niqob-nya sesuai permintaan dari suaminya. Padahal sang papa mertua adalah mahrom baginya bahkan Alberto saja boleh melihatnya tanpa kerudung.
Tetapi, mau bagaimana lagi. Suaminya itu tak rela sekalipun yang melihat kecantikannya adalah Alberto, yang notabene adalah papanya sendiri.
"Nak, Papa ... mau solat," ucap Alberto tiba-tiba.
"Masyaallah, iya Pa. Nanti Annisa sampaikan pada Mama ya," jawab Annisa speechless dengan efek gemetar di seluruh tubuhnya.
"Tapi, kamu bimbing kan?" tanya Alberto memastikan. Karena ia tau jika sang istri juga sedang tahap belajar.
"Insyaallah, Pa. Kebetulan masih ada waktu asar, dan Annisa mau panggil mama agar membimbing Papa untuk berwudhu," jelas Annisa yang nampak sekali begitu excited terhadap perubahan dan niat dari mertuanya ini.
Ternyata kesabaran dan juga perjuangannya mendatangkan keridhoan Allah sehingga Tuhannya itu mengabulkan doa-doanya.
Annisa pun menemui Eliana yang sedang memasak makan malam karena Alberto memiliki menu khusus.
"Alhamdulillah ya Allah. Kau berikan hidayahmu untuk suamiku," ucap Eliana penuh syukur.
Annisa selesai sudah membimbing Alberto untuk melaksanakan solat pertama kali dapat hidupnya.
Susah payah ia melihat sang papa mertua berusaha untuk meletakkan keningnya di atas sajadah. Lantaran Alberto ingin sekali bersujud pada Tuhan yang selama ini ia lupakan.
Annisa terlihat susah payah menahan rasa mual yang terasa mengaduk perutnya, hingga keringat dingin memenuhi sekujur badan dan juga wajahnya.
"Kamu kenapa, Annisa?" tanya Eliana yang menyadari ada yang tak beres, karena Annisa terlihat pucat dan berkeringat.
__ADS_1
...Bersambung...