Suamiku Bad Boy

Suamiku Bad Boy
Bab#45. Annisa Ini, Begitu Cantik.


__ADS_3

Annisa tersenyum kearah kedua orangtua suaminya yang menatapnya lekat.


"Apa? Annisa ini ... begitu cantik. Lalu kenapa dia menutupi keindahannya. Pantas saja putraku lupa segalanya. Zakaria setidaknya memiliki setengah dari sifatku, dimana wanita cantik yang kau miliki adalah harta paling berharga," batin Alberto.


Akan tetapi, Eliana akhirnya bersuara juga.


"Cantiknya menantu, Mama," puji Eliana seraya menghampiri dan menarik wajah Annisa untuk kemudian di kecup keningnya.


"Putra Eli memang selalu beruntung," ucapnya lagi.


Eliana pun kembali ke tempat duduknya dan melirik ke arah sang suami, Alberto.


Alberto paham apa arti kedipan mata Eli. Karenanya pria itu mendengus karena kalah.


Tak ada alasan lagi mereka berdua untuk menolak menantunya ini. Karena kecantikan yang Annisa miliki pasti akan membuat kawan-kawannya iri.


Alberto tersenyum tipis, ternyata sang putra tidak sesial itu.


Nasibnya juga tak seburuk yang ia pikirkan.


Melihat suaminya mengangguk maka Eliana mulai mengutarakan maksudnya.


"Kalau begitu, ikutlah kami pulang," ajak Eliana pada keduanya.


Chiko dan Annisa pun saling melempar pandangan.


Annisa tersenyum dan menoleh ke arah Eliana sang mama mertua. Dimana wanita ini masih sangat cantik dan terawat di usianya yang tak lagi muda.


"Insyaallah, kami akan ikut," jawab Annisa seraya menggenggam erat jemari suaminya.


Hal yang sang istri lakukan tak langsung membuat Choki mengangguk patuh. Justru pria itu berdiri dari duduknya dan menarik Annisa agar ikut bangun.


"Sebentar ya, Ma, Pa. Choki mau berunding sebentar sama Annisa," jelasnya, seraya langsung menarik Annisa hingga mereka berdua masuk kedalam kamar.


"Abang Zakaria, kita gak boleh begini. Tak sopan," ucap Annisa dimana Choki juga menutup pintu kamarnya.


"Annisa sayang, apa kamu sudah yakin mau ikut kerumah orangtuaku? Apa kamu sudah siap?" cecar Choki dengan raut wajah penuh kekhawatiran yang jelas sekali kentara tercetak di wajahnya.


"Kenapa tidak, Bang. Bukankah mereka nampaknya sudah setuju dan mau menerima Annisa sebagai istri Abang?"


"Kehidupan mereka sangat bertolak belakang dengan kita An, aku takut kamu nanti menyesal dan hal itu akan merubah perasaanmu terhadapku. Aku takut, sayang," jelas Choki mengutarakan kekhawatirannya.

__ADS_1


"Abang, gak baik menduga-duga apa yang akan terjadi di depan kita. Alangkah baiknya jika kita senantiasa berprasangka baik, maka insyaallah hal itu akan menjadi doa dan harapan yang baik juga. Sebaliknya, setiap ketakutan maka akan menjadi doa dan juga harapan yang buruk," jelas Annisa menyakinkan suaminya.


Choki hanya bisa menghela napasnya melihat keyakinan Annisa. "Baiklah. Jika kamu sudah yakin, aku ikut saja apapun keinginanmu. Karena, aku ingin melihat kamu bahagia Annisa," ucap Choki yang kini sudah tak lagi berjarak dengan istrinya sehingga bibirnya dengan mudah mendarat di kening licin Annisa.


"Abang, nih. Sempat-sempatnya," celetuk Annisa, tersenyum simpul menerima kelakuan Choki yang semakin lengket padanya.


"Ini salah satu yang aku takutkan, sayang,"


"Apanya, Abang?" tanya Annisa dengan nada suara manja.


"Takut gak bebas, sayang-sayangan sama kamu kayak gini kalau di rumah besar papa," jelas Choki jujur apa adanya. Sehingga hal itu membuat Annisa menggelengkan kepala.


"Kan Abang punya kamar? Iya kan?"


"Eh, iya sih," Choki pun menggaruk kepalanya, malu sendiri kenapa ia sampai berpikir sejauh itu.


Tak lama keduanya keluar kamar dan hanya Choki sendiri yang kembali ke ruang depan. Karena Annisa langsung ke dapur untuk membuat minuman.


Karena tak tau harus menyediakan minuman apa, jadilah Nadia hanya menyajikan air kosong alias air tak berwarna.


"Maaf, Ma, Pa. Hanya ada ini, silakan. Insyaallah steril karena Annisa memasaknya sampai mendidih," jelas Annisa yang mengerti saat mendapat tatapan dari sorot mata curiga Alberto.


"Maaf, sayang. Kami terbiasa mengkonsumsi air mineral yang ada manis-manisnya itu. Karenanya kami berdua tidak bisa menerima minuman tanpa merk," jelas Eliana.


Rugi di tamu karena mereka baru saja menolak keberkahan yang di sajikan oleh tuan rumah.


"Jadi, bagaimana keputusan kalian berdua?" tanya Eliana yang sudah tak tau lagi bagaimana cara membujuk Alberto agar tetap bertahan di rumah ini.


"Kami sepakat ikut, Ma?" jawab Annisa yang memang pertanyaan Eliana itu ditujukan padanya.


"Mengambil keputusan seperti ini saja kenapa lama sekali. Cepatlah! Papa sudah gerah!" ujar Alberto seraya bangun dari duduknya.


Annisa tetap memasang senyumnya, sekalipun Alberto tidak menganggap sopan santun dan juga keramahannya.


"Papa sama Mama sebaiknya pulang lebih dulu, karena banyak yang harus Annisa persiapkan," ucap Choki.


"Memang apa yang mau di bawa dari rumah ini? Memangnya apa yang tidak ada di rumah Papa!" sarkas Alberto.


"Ah, iya. Pa. Tunggu lah di mobil lima belas menit saja. Annisa hanya akan menyiapkan beberapa pakaian dan juga segala kebutuhan mengajar," ucap Annisa mengambil jalan tengah dan mengalah.


Maka Choki pun mengantar kedua orang tuanya hingga ke depan gang dan kembali untuk menjemput Annisa.

__ADS_1


"Sudah semua sayang?" tanya Choki.


"Hanya seperlunya, Bang. Jika butuh kita bisa balik ambil kesini," jawab Annisa yang tetap tenang dan memandang senyumnya.


"Sini, aku bantu kamu kenakan niqob," tawar Choki.


Annisa pun tersenyum karena sang suami begitu antusias menutupi kelebihannya.


"Bisa bahaya deh, kalo sampe kecantikan istriku ini ketauan dari dunia luar," ucap Choki sambil merapikan khimar dan juga pakaian istrinya.


"Bahaya kenapa, Bang?" tanya Annisa yang ingin tau alasan suaminya itu apa.


"Bisa runtuh dunia persilatan, eh. Bisa banyak mata laki-laki yang jelalatan," jawab Choki mencoba berkelakar. Benar saja Annisa pun tertawa mendengar gurauannya.


"Kirain Annisa serius, eh bercanda."


"Aku serius An. Bahkan keindahan kamu itu bisa membuat papaku bungkam dan terkagum pada orang lain untuk pertama kalinya. Sekalipun, beliau tidak berbicara sepatah katapun. Tetapi, apa yang papa lihat tadi cukup mengajarkannya bahwa apa yang indah dan bagus tak harus selalu tampak di luar," jelas Choki membuat Annisa serasa melayang.


"Apa Annisa ini begitu cantik sampai papa tadi tak bisa berkata apapun?" tanya Annisa memastikan. Karena selama ini Annisa merasa bahwa wajahnya biasa saja. Ia sama sekali tak pernah merasa spesial dari orang lain.


"Masyaallah. Pokoknya kamu itu beneran spek bidadari yang nyasar ke bumi. Dan aku lah Jaka Tarubnya. Aku akan sembunyikan selendang kamu biar gak bisa balik lagi ke surga," jelas Choki dengan kelakar lagi.


"Apalagi kalau kamu tertawa kayak gini. Semua mata laki-laki pasti akan mabuk karena kagumnya sama kamu. Sungguh, aku tak rela keindahan kamu di lihat oleh orang lain. Bahkan, maumu cukup sekali papa ngeliat kamu membuka niqob kayak tadi," ucap Choki lagi, mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya.


"Abang, papa kan mahrom Annisa. Takkan ada napsu di sana. Lagipula, kami adalah ayah dan anak yang selamanya haram untuk menikah," karena itulah bahkan nanti Annisa tidak akan batal wudhu sekalipun bersentuhan dengan beliau."


Choki yang giliran tersenyum malu, mendengar penuturan dari istrinya ini.


Sikap posesif sepertinya mulai mendominasi perasaannya.


 


"Mereka berdua kenapa lama sekali!" ucap Alberto dengan nada emosi.


"Sabar sedikit lagi, Honey," ucap Eliana, berupaya mendinginkan otak panas suaminya ini.


"Maaf lama. Tadi aku ingat klo ada basreng yang sisa sedikit di rumah. Nih!" jelas Choki seraya menyerahkan beberapa bungkusan kecil basreng berbagai rasa pada Eliana.


Mata sang mama pun mambola heran.


"Kenapa kau naikkan makanan itu ke mobil!" pekik Alberto.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2