
Alberto diam saja, meskipun rasanya ia ingin sekali mengusir menantunya ini keluar. Tetapi, entah kenapa ia bahkan tak mampu untuk mengeluarkan geraman bahkan sekedar mengerakkan lidahnya sedikitpun tak mampu.
Annisa mulai melantunkan ayat demi ayat dengan syahdu. Hingga kedua mata Alberto membuat seketika. Bagaimana bisa, ada seseorang yang bersuara seindah ini dan dia nyata ia adalah menantunya.
Annisa melantunkan beberapa suroh penyembuh dan juga As-Saffat. Bermaksud agar sang papa mertua selalu di lindungi dari gangguan setan. Karena orang sakit akan dengan mudah di ganggu keimanannya oleh mahluk terkutuk ini.
Sebab itulah mengapa terkadang apabila orang yang sedang sakit itu menjadi pemarah, pemurung, pengumpat dan bahkan sampai kufur nikmat.
Seakan-akan Allah tidak pernah memberikan sedikitpun kebahagiaan kepadanya.
Dengan sakit yang baru di rasakannya maka manusia akan dengan mudah mengatakan bahwa hidup dan takdir ini tak adil untuknya.
Akan tetapi, apabila sehat dan bahagia maka manusia itu lupa bersyukur bahkan terlupa kepada pemberi nikmat tersebut.
Ketika senang lupa pada, namun ketika susah mereka akan menangis meminta pertolongan dari Tuhannya.
Siapa yang seharusnya berkata tak adil?
Manusia atau Tuhan?
Akan tetapi, Tuhan takkan menuntut keadilan pada manusia karena sesungguhnya DIA-lah yang maha adil.
Tuhan tak butuh apa yang manusia butuhkan dari-NYA. Meskipun seluruh manusia di muka bumi ini lupa bahkan meninggalkan-NYA.
Karena sejatinya kitalah para manusia itu yang membutuhkan Tuhan.
Bahkan saat terantuk batu saja maka manusia akan memanggil Tuhan-nya.
Saat tak bisa kentut dan berak pun. Manusia akan langsung meneriakkan nama Tuhan-nya.
Sebegitu lemahnya manusia itu.
Sebenarnya.
Akan tetapi, terkadang ada manusia yang tidak bisa melihat kebenaran itu.
Alberto, lama kelamaan merasakan perbedaan dalam hatinya.
Lantunan ayat suci yang Annisa lantunkan begitu indah ini perlahan masuk menelusup ke dalam hati dan juga jiwanya.
Entah dorongan rasa darimana pada saat ini Alberto ingin menangis sekencang-kencangnya.
__ADS_1
Akan tetapi gak ada sedikitpun suara yang mampu dihasilkan oleh tenggorokannya.
Hanya rasa sesak yang justru berkumpul di dalam dadanya.
"Aku ini kenapa? Perasaan apa ini? Kenapa aku menangis?" batin Alberto dengan segala tanya yang tak mampu ia utarakan.
Annisa mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata yang berlinang di wajah Alberto.
"Maaf ya Pa. Annisa minta ijin untuk mengeringkan wajahmu yang basah. Boleh kan?" ucap Annisa meminta ijin dengan suara yang parau.
Nyatanya wanita muslimah yang mengenakan kain penutup di wajahnya itu sedang menahan tangis harunya.
Sesungguhnya apabila seorang hamba di perdengarkan ayat Al Qur'an dan ia mengeluarkan air mata, itu pertanda jika hatinya telah tersentuh oleh kebesaran Allah.
Alberto hanya bisa pasrah saya menerima apapun yang ingin Annisa lakukan padanya.
Dari dekat ia bisa melihat dan merasakan betapa Annisa tulus akan semua perhatiannya saat ini.
Alberto sebenarnya ingin memiliki anak perempuan akan tetapi Eliana telah di vonis oleh dokter takkan bisa hamil lagi.
Bahkan ia dan istrinya itu harus membuang impian mereka dan merelakan semua harapan kandas pada saat kista Eliana itu harus diangkat beserta dengan rahimnya.
"Jika Papa suka, maka Annisa akan mengaji setiap hari untukmu," ucap Annisa.
"Papa tau, Annisa sudah lama kehilangan sosok ayah. Beliau, sifatnya juga sama keras seperti Papa. Memiliki jalan pemikiran yang tidak bisa diganggu gugat oleh orang lain. Tetapi, ayah Annisa itu sudah kembali kepangkuan Allah dua tahun yang lalu, beserta Ibu dan kedua adik kembar Annisa yang baru menginjak bangku Aliyah. Di sebabkan bencana gunung berapi yang di sertai gempa berkekuatan 7,5 skala Ritcher." Annisa menjeda penuturannya dengan air mata yang sudah tidak dapat di tahannya lagi.
"Maaf, jika Annisa jadi curhat. Hanya ingin Papa tau, bahwa Annisa teramat sangat senang dan bahagia ketika Allah menghadirkan Abang Zakaria secara tidak sengaja di rumah kontrakanku malam itu. Annisa baru aja selesai mengemas pesanan basreng. Papa tau gak kenapa Annisa senang?" tanya Annisa berusaha memancing respon dari sang papa mertua.
Benar saja, Alberto pun kini menggelengkan kepalanya pelan.
"Annisa senang, karena dengan mendapat suami berarti Annisa sekaligus juga dapat orang tua," pekik Annisa girang dan setelahnya ia menangis.
"Namun, rasa bahagia sesaat itu buyar seketika ... pada saat Annisa mendengar penolakan dari Papa dan Mama. Karena Annisa sebelumnya sempat berpikir akan mendapatkan keluarga yang utuh seperti yang pernah aku miliki dulu," tambah Annisa lagi dengan Isak tangis yang berusaha ia tahan.
Betapa Alberto merasakan jika hatinya seakan tersayat saat ini. Mendengar penuturan dari seorang anak perempuan yang merindukan sosok keluarga terutama ayah dan juga ibunya.
Sekelebat bayangan betapa keras hidup yang Annisa lewati selama dua tahun ini di tambah kehadiran putranya yang membuat nama baik Annisa sempat tercoreng dalam sekejap. Bahkan, wanita muslimah di hadapannya ini sempat di usir warga karena dianggap telah mencoreng nama baik kampung tersebut.
Melihat Annisa menangis sontak Alberto turut merasa sedih. Padahal sebelumnya ia sangat membenci perempuan yang telah membuat sang putra membangkang padanya.
Penolakan Choki kembali ke rumah dan meninggalkan Annisa dianggap membangkang oleh Alberto.
__ADS_1
Ingin rasanya Alberto meraih raga Annisa dan memeluk menantunya itu untuk menghibur. Bapak mana yang tidak menginginkan sosok anak perempuan yang begitu baik dan sayang pada keluarga.
Berada dekat dengan Annisa selama beberapa jam ini ternyata menyadarkan seorang Alberto, bahwa apa yang ia pikir buruk tak sejelek itu. Bahkan Annisa memilik raut wajah yang sangat cantik.
Para kawan dan juga relasinya pasti akan sangat iri apabila mereka tau bagaimana paras dari menantunya ini.
Sayang, Alberto kini tak bisa menggerakkan sebelah badannya.
"Berhentilah menangis Annisa. Papa tidak lagi membencimu. Kau boleh menganggapku ayahmu," batin Alberto.
Sekali lagi pria arogan itu menangis.
Masyaallah.
Betapa dahsyatnya pesona kuasamu ya Allah.
Author sangat terharu. ðŸ˜
__________
"Nak, cepatlah kembali ke rumah sakit. Kasihan Annisa sendirian mengurus Papamu," titah Eliana.
"Lalu Mama bagaimana? Masih sakit dadanya?" cecar Choki dengan raut wajah khawatir.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Nak. Pergilah temani Annisa dan bawakan pakaian ganti serta makanan. Sampaikan maaf Mama pada papamu," ucap Eliana berpesan sambil berlinang air mata.
"Papa pasti mengerti keadaan Mama. Biarlah Choki dah Annisa yang menjaga Papa di sana. Mama baik-baik di rumah," pesan Choki yang sebenarnya juga khawatir akan keadaan sang mama.
Tetapi, mau bagaimana lagi, ia bukan amoeba yang bisa membelah diri. Juga bukan Naruto yang memiliki kemampuan Kage bunshin no jutsu. Dimana bisa memperbanyak dirinya.
Eleh, Author ngetik apa sih ini. 😆
________
"Bang Jhoni sudah sadar!" pekik girang salah satu anak buah yang menjaganya.
"A–aku, selamat," gumamnya lirih.
"Iya, Bang. Abang selamat karena Jack yang telah memberikan darahnya sehingga abang tertolong malam itu," jelasnya.
"Jack ... si kacang polong?" tanya Jhoni terbata-bata.
__ADS_1
...Bersambung ...