
Choki melepas dahulu pelukannya dari Eliana. Lalu dia menatap dalam manik mata sang mama. "Choki juga lagi mencari jalannya, Ma. Karena itu, aku memperdalam agama yang telah ku anut sejak lahir. Agama yang telah Mama dan papa sematkan dalam identitasku," jawab Choki dengan lembut.
Eliana seketika tersentak oleh apa yang diucapkan sang putra. Benar, agama ini telah mereka anut dan mereka jadikan identitas selama puluhan tahun. Tetapi, tak sedikitpun dirinya tau mengenai Islam.
Bahkan kewajiban sebagai seorang muslim tak sekalipun ia lakukan. Selama ini Islam hanyalah sebagai identitas saja agat ia diakui beragama sementara dirinya sama sekali tidak mengakui keberadaan Tuhannya.
Bagaimana bisa di bilang mengakui kalau menyembahnya saja enggan.
Kalimat sang putra nyatanya memberikan tamparan keras kepada Eliana.
Hingga, air matanya mengalir sedemikian deras seiring penyesalan yang tiba-tiba menguar dari dalam hatinya.
"Ma ...,"
"Choki ...."
"Iya, Ma."
"Mau Mama juga mau mencari jalan itu. Ajak Mama, Nak?" ucap Eliana seraya semakin mengencangkan Isak tangisnya.
"Ma, sebentar lagi adzan Maghrib. Choki mau mandi dulu. Nanti Mama juga bisa siap-siap, dan kita akan melaksanakan solat berjamaah," ucap Choki dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.
Hatinya teramat senang dan penuh syukur karena pada akhirnya sang mama tersentuh untuk memperbaiki iman.
"Iya, Nak. Mama juga akan ajak papamu," jawab Eliana.
"Mandi gih sana! Jorok ih, peluk-peluk Mama segala lagi," ledek Eliana.
"Iya Ma, maaf ya. Kan tadi Mama yang minta deh, kalo gak salah," goda Choki seraya berlari masuk kamar karena Eliana ingin mencubitnya.
Eliana pun turun dari lantai atas dengan niat kembali menghampiri suaminya. Ia akan menceritakan gejolak perasaan yang pada saat itu mengguncang jiwanya. Seakan ada sebuah kekuatan yang menariknya kepada secercah cahaya dan hal itu membuat dadanya hampir meledak karena bahagia.
Padahal sesaat tadi ia merasa penuh sesal dan takut.
Choki terkaget ketika mendapati sang istri yang ternyata ada di belakang pintu kamarnya.
"Sayang, kamu lihat tadi aku sama mama --"
Choki tidak meneruskan ucapannya karena Annisa telah mengangguk lebih dulu.
__ADS_1
"Jadi, karena itu kamu menangis?" tanya Choki seraya mengulurkan tangannya berniat menghapus air mata yang membasahi pipi Annisa.
Akan tetapi dengan cepat Annisa justru memundurkan wajahnya.
"Lho kenapa?" heran Choki.
"Annisa sudah berwudhu," jawabnya seraya mengusap sendiri air matanya yang berlinang.
"Oh, gitu. Maaf deh ya. Kamu bener juga kan sebentar lagi magrib. Insyaallah nanti kita solatnya berjamaah. Semoga mama bisa ngajakin papa ikut solat sama kita," ucap Choki penuh harap dengan dada yang entah kenapa berdebar kencang.
"Aamiin, ya Allah. Semoga Allah mengabulkan apa yang kita harapkan. Semoga papa dan mama mau menurunkan kadar ego mereka untuk kembali mengingat Allah," ucap Annisa yang kembali terisak penuh haru.
Bagaimanapun Annisa adalah sebatang kara. Sehingga ia ingin kedua mertuanya itu mau menganggap dan menerimanya sebagai anak. Karena dalam hatinya Annisa sangat ingin kembali memiliki keluarga yang utuh.
"Abang mandi dulu deh, nanti keburu adzan."
Annisa menyiapkan pakaian ganti Choki setelah suaminya itu masuk ke kamar mandi.
"Ya Allah, ku harap pada hari ini KAU turunkan hidayah untuk keluarga ini, terutama papa dan mama mertua Annisa," batinnya memanjatkan doa.
Sementara itu di kamar Alberto dan Eliana.
"Cukup Eli! Aku tau apa yang ku lakukan saat ini sesuai apa kata hatiku! Kau tak perlu ikut-ikutan untuk mendikteku. Selama ini aku diam dan mengikuti setiap kemauanku, tapi tidak dengan idealisme yang selama ini aku anut. Kalian tidak bisa semudah itu mengubahnya dan mengatakan bahwa itu salah berdasarkan kacamata kalian. Dengar Eli, peraturanku tetap peraturan. Sekalipun, kau itu istriku," kecam Alberto dengan sikap keras hatinya.
Eliana menunduk demi mencermati setiap kalimat yang di ucapkan oleh suaminya.
Alberto sangat keras hati dan juga keras kepala.
Ia tak bisa memaksakan pria itu mengikuti kemauannya saat ini.
"Baiklah. Kalau kau tak mau ikut tak apa. Biar aku saja," ucap Eli seraya melangkah keluar dari kamar itu dengan hati yang sedih.
Baru kali ini ia mendapatkan penolakan keras dari suaminya. Bahkan, dirinya pun tak lagi berharga jika di sandingkan dengan ego dan juga idealis Alberto. Selama ini, Alberto bertahan bersamanya dan menuruti semua keinginannya selama ia masih mengikuti idealisme pria itu.
"Papa tak ikut?" tanya Choki ketika yang datang ke lantai atas hanyalah Eliana dengan wajah sendunya.
"Mungkin tidak hari ini, Nak," jawab Eliana.
Choki pun mengangguk dengan senyum tercipta menawan di wajahnya yang basah dengan air wudhu.
__ADS_1
"Insyaallah, Ma. Mama mau ikut saja Choki dan Annisa sudah sangat bersyukur. Kita yakin saja, hidayah untuk papa menyusul setelah ini," ucap Choki berupaya menenangkan hati sang mama.
"Annisa." Eli menggenggam telapak tangan menantunya itu dengan raut wajah gusar. "Apa boleh kalau pada saat ini Mama hanya mengikuti gerakannya saja? Mama ... sudah lupa bacaannya," tanya Eli dengan pengakuan jujurnya.
"Iya, Ma. Insyaallah ... Allah maha tau apa niat yang ada di dalam hati hambanya. Perlahan Ma, perlahan," jelas Annisa dengan lembut dan juga santun.
"Terimakasih Annisa," ucap Eli seraya mengelus punggung tangan menantunya itu.
Solat pun dimulai.
Pada saat mengangkat tangan untuk takbiratul ihram, Eliana merasa getaran luar biasa ia rasakan dalam dadanya.
Berusaha sekuat tenaga, menahan Isak tangis agar tak meluncur keluar dari bibirnya.
Perasaan itu semakin syahdu Eliana rasakan hingga ke sujud pertama.
Di sinilah, ia merasa kecil dan tak berarti apa-apa.
"Maafkan, Eli ya Allah. Selama ini telah melupakan-MU. Padahal telah begitu banyak kebahagiaan serta keberuntungan yang KAU hadirkan dalam hidupku. Beri aku kesempatan untuk kembali ke jalan yang lurus dan benar-benar ENGKAU ridhoi. Aamiin," batin Eliana, menguntai doa dalam hatinya diiringi air mata yang meluncur deras di kedua pipinya.
Selepas salam wanita ini tak mampu lagi menahan Isak tangis yang sejak tadi ia tahan.
Chiko pun tak jauh beda.
Lelaki ini merasa begitu bahagia dan penuh syukur karena berkat kehendak Allah sang mama dapat ia ajak kembali ke jalan agama mereka.
Annisa memeluk Eli dan mengusap punggung bergetar itu. Sesama wanita ini pun menangis berpelukan.
"Percayalah, Ma. Ampunan Allah itu lebih luas dari langit dan bumi," bisik Annisa.
Tanpa ketiganya sadari bahwa terdapat satu sosok yang mengintip dari anak tangga.
Mata pria itu entah kenapa memanas ketika ia melihat adegan tersebut.
"Perasaan apa ini? Tidak! Aku tidak mungkin luluh dan menyerah. Aku tidak akan kalah dari mereka. Ini semua milikku dan aku yang mendapatkannya dengan caraku sendiri," batin Alberto masih dengan keras hatinya.
...Bersambung ...
...Bersambung ...
__ADS_1