
Keadaan Annisa yang terlihat semakin buruk pasca muntah terus menerus itu membuat Eliana segera menghubungi sang putra.
Choki yang kebetulan sudah berada di parkiran pun segera berbalik dan meminjam motor pada salah satu karyawannya dan menukarnya dengan mobil.
Karena jam-jam pulang kerja begini jalanan pasti macet dan ia pasti akan sangat terlambat sampai rumah jika mengendarai mobil.
Sesampainya di rumah besar kediaman keluarganya, Choki langsung masuk dan berlari.
"Sayangku Annisa. Apa yang terjadi padamu?" Choki bertanya lirih dengan raut khawatir yang begitu kentara di wajah lelahnya.
Annisa yang sudah di buka niqob-nya oleh sang mama sangat memperlihatkan dengan jelas betapa pucat wajah cantik yang biasanya kemerahan itu.
Annisa yang sudah mengeluarkan isi perutnya ini seakan tak mampu untuk sekedar menjawab pertanyaan dari suaminya itu.
"Istrimu sudah mengekuarkan isi perutnya berkali-kali, Nak. Sebaiknya kita bawa dia kerumah sakit," ucap Eliana dan Alberto pun mengiyakan.
"Hubungi dokter Sandoro, di rumah sakit Sentra Medical!" titah Alberto.
__________
Dokter perempuan yang menangani Annisa keluar dari ruangan. Choki yang baru selesai mengurus administrasi pun segera menghampiri.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Choki
"Iya, Dok katakan bagaimana keadaan menantu saya?" cecar Eliana.
Ibu dan anak ini bertanya bersahutan, sehingga membuat sang dokter justru tersenyum.
"Kenapa anda tersenyum. Apa anda tidak tau, kalau yang disini sedang khawatir setengah mati!" hardik Choki yang nampaknya tak mampu menahan emosinya.
Berbagai hal yang menakutkan telah berseliweran dalam kepalanya.
"Tenang Mas. Saya berani jamin jika istri anda tidak apa-apa. Hanya mengalami mual dan muntah yang di pengaruhi perubahan hormonal terhadap ibu hamil," jelas sang dokter perempuan yang bernama Andin.
__ADS_1
"Hah!" Choki hanya bisa melongo mendengar jawaban yang di sampaikan oleh dokter tersebut.
"Annisa hamil, Nak!" pekik Eliana sambil menarik lengan Choki dan menggoyangkannya.
"Apa? Ha–hamil?" gumam Choki lagi masih tak percaya atas apa yang terjadi. Bahkan pria itu menatap dokter dan sang mama bergantian.
"Ibu anda benar. Mbak Annisa sedang hamil lima Minggu. Karena itulah sebaiknya, istirahat selama beberapa hari dan jangan melakukan pekerjaan berat-berat dahulu. Sebab kandungannya cukup lemah. Tetapi, saya telah memberikan obat penguat kandungan dan juga vitamin yang bisa meredakan sedikit rasa mual itu," jelas sang dokter lagi.
Tentu saja penjelasan dari dokter Andin barusan membuat Choki hampir terhuyung kebelakang saking kagetnya.
"Allahu Akbar, masyaallah!" Eliana saja sudah beberapa kali menyebut dan membekap mulutnya. Ingin rasanya ia berteriak saking senangnya.
"Alhamdulillah ya Allah. Annisa ku."Choki bersyukur penuh, sambil memegangi dadanya.
"Lihatlah nanti ke dalam. Jika keadaan istri anda sudah lebih baik maka kalian bisa membawanya pulang. Nanti di rumah, perhatikan pola makan dan juga istirahatnya. Satu hal lagi, untuk anda, Mas Choki." Dokter Andin menatap suami pasien di depannya ini penuh arti.
"Apa, Dok?" tanya Choki tak sabaran.
"Jangan berhubungan badan dulu. Kandungannya masih lemah. Pekan depan datanglah kontrol lagi. Biar kami periksa selanjutnya, apakah semua keadaan telah benar-benar membaik." Dokter Andin menjelaskan meskipun nampak gurat kemerahan dari wajah Choki ketika sang dokter memberinya ultimatum akan hal yang menjadi hobinya akhir-akhir ini.
Begitupun dengan Eliana.
"Sayang ..." panggil Choki lirih. Ia langsung meraih punggung tangan Annisa dan mengecupnya lembut penuh kehangatan.
Annisa yang tampak masih lemah hanya bisa tersenyum tipis. Tenaga wanita ini tiba-tiba hilang begitu saja.
"Sayang, bagaimana keadaanmu? Apa masih ada yang sakit?" tanya Eliana yang dijawab Annisa dengan menggeleng lemah.
"Abang Zakaria, sebenarnya Annisa kenapa?" tanyanya pelan dan parau seraya melihat ke arah suaminya lekat.
"Sayang, kata dokter ... kamu sedang hamil. Ada sesosok mahluk mungil yang sedang tumbuh di dalam rahimmu," jelas Choki pelan membuat kedua mata manik mata Annisa yang sayu pun berbinar seketika.
"Alhamdulillah, masyaallah!" Annisa terlihat memejamkan mata dan juga membekap mulutnya. Sedetik kemudian tetesan demi tetasan air mata meluncur turun membasahi wajah yang sudah tak lagi pucat seperti tadi.
__ADS_1
Apalagi sang mama, Eliana, wanita itu sudah bercucuran air mata sejak awal. Ia sangat bahagia karena sebentar lagi akan menggendong cucu.
"Terimakasih sayang, mulai saat ini aku akan semakin memperhatikan dan menyayangimu. Aku akan berusaha melindungi kalian." Choki tak peduli ada sang mama di sana.
Dirinya terlalu senang dan bahagia, sehingga ia mencium kening dan bibir Annisa begitu saja.
"Abang!" Annisa terlihat mendelik gemas. Choki justru semakin gencar menciumi seluruh permukaan wajah cantik istrinya itu.
"Choki, kamu itu benar-benar mirip papamu," celetuk Eliana seraya tersenyum bahagia. Ia sedang mencoba untuk menghubungi suaminya di rumah.
"Alhamdulillah, ya Bang. Annisa gak nyangka Allah akan memberi kepercayaan kepada kita secepat ini," ucap Annisa dengan air mata haru yang perlahan menetes membasahi pipinya.
_______
Semenjak tau bahwa Annisa hamil, Eliana sang mertua semakin terlihat perhatian dan over protective pada Annisa. Apalagi suaminya. Choki, lelaki dengan wajah kebulean itu semakin posesif dan memanjakannya.
"Abang, udah ya, jangan kayak gini. Annisa bisa kok makan sendiri tanpa si suapi juga mandi sendiri, kamu kerja aja sana yang tenang. Lagian aku udah sehat dan segar," ucap Annisa menolak halus semua perlakuan dari suaminya.
Tetapi ternyata, penolakannya itu justru membuat raut wajah Choki yang tadinya antusias dan ceria mendadak sendu. Mata itu tiba-tiba mendung begitu saja. Tak biasanya Choki begini. Dia bukan tipe pria melankolis meskipun memang romantis.
Melihat perubahan pada ekspresi Choki, Annisa pun bertanya.
"Abang kenapa? Apa ada kata-kata Annisa yang salah? Tolong jangan begini." Annisa segera menarik wajah Choki yang menunduk agar kembali menatap dirinya. Ternyata ada bulir air mata yang menetes.
"Abang, maafin Annisa ya. Sungguh aku gak bermaksud untuk--"
"Tidak sayang aku hanya ingin memastikan yang terbaik untuk kalian. Tapi, nampaknya semua yang aku lakukan masih salah dan kurang. Tolong, sayang. Kalau ada yang tidak kamu suka bilang. Tapi jangan menolak aku untuk melakukan ini semua." Choki menatap dalam manik mata istrinya yang berkilau.
Pada akhirnya Annisa pun membiarkan pria yang berlabel suami bucin ini melakukan apapun padanya. "Baiklah, semua terserah Abi saja dan umma pasrah deh," goda Annisa berharap Gibran senyum dan ceria lagi.
Benar saja, seketika raut kesedihan itu berganti menjadi rekahan senyum yang begitu lebar. "Tadi, kamu panggil apa ke aku? Coba ulang lagi dong, sayang," pinta Choki seperti anak kecil minta balon.
"Panggil, Abi," jawab Annisa menahan tawanya. Padahal ia ingin sekali tergelak melihat raut wajah dari suaminya ini. Ketika merajuk maka wajah suaminya ini sangatlah imut. Akhirnya Annisa hanya bisa mencubit kedua pipi Choki saja.
__ADS_1
"Panggilan yang bagus. Aku suka banget, sayang. Mulai sekarang, panggil begitu saja ya. Sekalian membiasakan kepada anak kita juga. Meskipun dirinya saat ini masih sebesar kacang polong," ucap Choki seraya mengusap perut rata Annisa dibalik gamisnya.
...Bersambung ...