Suamiku Bad Boy

Suamiku Bad Boy
Bab#39. Bolehkah, Malam ini?


__ADS_3

Tentu saja, pertanyaan Annisa membuat kedua mata Choki membulat sempurna.


Pemuda itu nampaknya gugup untuk menjawab sesuai apa yang ada di dalam hati dan juga otaknya.


Lidahnya kelu dan bibirnya juga gemetar.


Apakah Annisa menawarkan kewajibannya sebagai istri atau yang lain. Choki takut jika pendengarannya salah tangkap.


"Maksud kamu apa, Annisa. Menginginkan apa?" tanya Choki memastikan sebelum ia menjawab dengan antusias.


Annisa menunduk sebelum menjawabnya. Ia malu jika harus mengatakannya secara frontal. Tetapi, bagaimanapun juga kewajibannya itu mutlak untuk ia berikan kepada suaminya.


Apalagi Annisa semakin hari semakin yakin akan keseriusan Choki Zakaria kepadanya. Pemuda yang hadir secara tiba-tiba kedalam hidupnya ini telah menunjukkan keseriusannya dan juga mau berjuang serta rela berkorban.


Tak ada lagi, hal yang mampu membuat Annisa ragu.


"Itu, a–bobo bareng," jawab Annisa pelan dengan jemari yang memainkan ujung mukenanya.


"Oh, itu. Kirain apa," ucap Choki yang nampak sekali raut kecewa pada air mukanya.


"Kok Abang Zakaria reaksinya biasa aja ya. Apa dia gak tertarik sama Annisa? Apa aku harus berias dulu ya?" batin Annisa yang merasa jika Choki saat ini tak berselera padanya. Padahal, pemuda di sebelahnya ini hanya salah paham. Sebab jawaban Annisa ambigu.


Ahahahah ... ijinkan author untuk tertawa gemas.


Apalagi Chiko pada saat ini telah merebahkan raganya di atas kasur dan juga memejamkan kedua matanya.


Semakin bingung saja Annisa.


Annisa pun berdiri dan melepaskan mukenanya. Berjalan ke depan meja rias untuk menyisir rambutnya yang dia ikat dan kini tergerai menutupi punggung hingga ke pinggang.


Choki sempat membuka matanya sedikit untuk melirik apa yang saat ini tengah di lakukan oleh Annisa.


Dan apa yang istrinya itu perbuat nyatanya membuat kedua alis hitamnya bertaut lantaran bingung.


"Annisa ngapain malah nyisir ya? Tadi ngajakin bobo bareng?" batin Choki semakin heran.


Annisa sesekali menoleh ke arah dimana suaminya itu tidur. Annisa memutuskan untuk merias diri serta mengenakan pakaian yang bagus. Setelah itu dia akan kembali menawarkan tentang kewajibannya kepada Choki.


Annisa berjalan ke arah lemari pakaiannya lalu memilih mana diantara pakaiannya yang berwarna cerah.


Gadis ini bingung harus mengenakan pakaian seperti apa, yang sekiranya dapat membuat suaminya itu tertarik dan berselera kepadanya.


Tanpa Annisa ketahui sesungguhnya, bahwa keadaannya yang tanpa riasan serta berpakaian sederhana saja mampu membuat hati dan jiwa seorang Choki bergetar hebat.

__ADS_1


Annisa hanya memiliki beberapa pakaian berlengan pendek. Karena sesungguhnya Annisa memang menyukai pakaian berlengan panjang sekalipun ia hanya sendirian di dalam rumahnya.


"Ah, pakai yang ini saja deh!" batin Annisa seraya menarik satu stel pakaian baby doll yang dulu pernah di belikan sang ibu semasa hidupnya.


"Bu, semoga pakaian ini bisa membuat Abang Zakaria tertarik sama Annisa ya. Karena kakak mau manjadi istri yang Sholihah dan dapat menjalankan tugas serta kewajiban seorang istri dengan sebaik-baiknya," batin Annisa lagi.


Annisa kembali ke depan meja rias dan memoles wajahnya dengan sedikit riasan make up. Setelahnya Annisa keluar kamar.


Semakin bingunglah Choki di buatnya.


Pemuda itu sontak bangun dari tidurnya dan melongo dalam keadaan duduk.


"Kok dia malah keluar kamar sih? Apa dia mau balas aku ya? Apa Annisa mau pergi keluar ninggalin aku di rumah sendirian? Ini kan hari Ahad dan Annisa libur mengajar," gumam Choki gusar dengan berbagai spekulasi yang berkeliaran di dalam pikirannya.


Pemuda itu menghela napasnya beberapa kali hingga pintu kamar kembali terdengar di buka dari luar.


Buru-buru, Choki kembali merebahkan tubuhnya dan pura-pura untuk memejamkan kedua matanya. Akan tetapi, dadanya terlihat turun naik karena gelisah.


Annisa yang sudah berada kembali di dalam kamar nampak memegangi pakaiannya yang hanya sebatas lutut. Sehingga menampilkan betisnya yang jenjang.


"Tampil begini di depan suami sendiri saja malu banget aku. Aduh, gimana kalau nanti Abang Zakaria minta aku telanjang di depannya ya?" batin Annisa kembali risau.


Hal yang sama pun di rasakan oleh Choki karena pria itu sedang menerka apa yang kini sedang Annisa lakukan. Karena ia tidak merasa istrinya itu naik ke atas kasur.


Gadis itu melangkah pelan mendekati pinggiran tempat tidur.


"Abang ... apakah Abang sudah tidur?" panggil Annisa memastikan apakah Choki sudah pulas atau belum.


Tentu saja Choki yang cuma merem pura-pura itu langsung membuka mata dan terduduk seketika pada saat melihat penampilan istrinya itu.


"Ya Allah. Ini kamu Annisa?" tegur Choki terheran-heran. Bahkan manik matanya hampir meloncat keluar dari sarangnya.


"Iya, Abang ... Ini Annisa. Kenapa kok kaget gitu, aku jelek ya? Abang Zakaria gak suka?" cecar Annisa dengan bibir yang sudah gemetar.


"Masyaallah, siapa yang gak suka ketika melihat bidadari cantik di depan matanya," jawab Choki seraya turun dari tempat tidur dan meraih tangan Annisa.


Gadis di hadapannya ini teramat cantik.


Meskipun dengan dandanan serta riasan yang sederhana.


Rambut hitam Annisa yang panjang tergerai dan wangi, juga tubuh istrinya yang ramping tapi berisi di beberapa bagian. Dengan pakaian tidur ini membuat setiap lekuk itu membentuk sempurna.


Annisa sontak menundukkan kembali wajahnya setiap kali dirinya mendapatkan pujian dari Choki. Apalagi, suaminya ini memberi tatapan yang begitu dalam padanya.

__ADS_1


"Jangan terus menundukkan wajahmu jika bicara denganku, Annisa sayang. Biarkan suamimu ini menikmati hasil karya Tuhan yang maha sempurna. Pahatannya yang indah dari kuasanya yang tiada tara, masyaallah tabarokallah ... apa yang di kehendaki Allah bisa terjadi, dan aku bersyukur karena memiliki keindahan ini," tutur Choki yang mana hal ini membuat hati Annisa semakin meleleh.


Jemari Choki menyibak rambut hitam nan lembut yang menjuntai menutupi sebelah mata Annisa. Menyisipkannya ke belakang telinga sang istri yang polos tanpa giwang maupun perhiasan lainnya.


Bahkan tak ada bekas tindikan di sana.


"Telingamu tidak ditindik Annisa?" tanya Choki heran.


Annisa menggeleng seraya memasang senyumnya. "Kata ayah, seorang perempuan itu tak ada hukum wajibnya untuk di tindik telinganya ketika bayi. Karena, setiap wanita muslimah ketika baligh harus menutup auratnya. Jadi untuk apa memakai perhiasan di area yang wajib di tutupi," ungkap Annisa mengulang keterangan dari almarhum ayahnya.


Choki pun seperti biasa mengangguk dengan raut wajah takjub.


Selalu ada pelajaran yang di berikan oleh istrinya itu, perihal agamanya.


"Menurut Abang Zakaria, apakah Annisa seperti ini terlihat menarik?" tanya Annisa dengan wajah polos.


Choki pun tersenyum dan semakin mendekatkan tubuh serta wajahnya.


"Jadi, apa yang kamu lakukan sejak tadi itu adalah sebuah misi untuk menggoda suamimu ini, hemm?" tebak Choki yang berharap Annisa menjawab iya. Karena kalau tidak dia akan malu setengah mati.


Annisa pun mengangguk pelan.


Choki hampir terlonjak girang, tapi dia masih bisa mengontrol itu semua.


"Kalau begitu, Annisa berhasil," ucap Choki.


Kening Annisa lantas berkerut.


"Berhasil apa?"


"Ya Allah polosnya?" gemas Choki seraya mencubit pelan sebelah pipi istrinya yang chubby.


"Tentu saja, kamu sangat berhasil untuk membuatku tertarik, Annisa. Dan bukan hanya itu saja, nyatanya semua ini ... membuatku menginginkanmu sekarang," ucap Choki yang saat ini sudah berada dekat di depan wajah Annisa.


Hingga tanpa aba-aba, Choki menyambar bibir merah delima Annisa yang sejak tadi membuat gairahnya meronta hendak di lepaskan.


"Boleh?"


Keduanya saling menatap manik mata masing-masing, hingga senyum Annisa terbit bersama anggukan kepalanya.


"Alhamdulillah ya Allah," ucap Choki penuh rasa syukur.


"Bimbing aku ya. Annisa ku sayang," ucap Choki yang kembali menyambar bibir penuh Annisa dengan penuh birahi.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2