
Sudah beberapa hari ini Annisa bolak-balik kerumah sakit setelah mengajar. Sebab dirinya telah membuat janji pada Alberto akan membacakan lagi Al Qur'an.
Choki sangat tersentuh ketika mendengar sang istri melantunkan ayat-ayat suci tersebut hingga sang papa terlelap pulas.
Ajaibnya lagi, dokter mengatakan bahwa tekanan darah Alberto semakin stabil dan kemungkinan besok sudah boleh pulang.
Meskipun, lidah dan juga sebelah tubuhnya masih belum bisa di gerakkan seperti semula. Akan tetapi, dokter yakin dengan semangat dan juga perawatan dari keluarga maka kesehatan Alberto akan semakin membaik.
Perlahan Alberto menggerakkan lidahnya untuk memanggil annisa.
Sore ini ia tak tertidur ketika menantunya itu membacakan suroh Al Qur'an.
"An ... sa," panggil Alberto maksdnya Annisa.
"Shodaqollahul adzim. Ya Pa. Ada apa?" tanya Annisa setelah ia menyelesaikan dahulu bacaannya.
"Mi ...um," jawab Alberto.
"Papa mau minum?"
Dan, Alberto pun mengangguk.
Annisa tersenyum dan segera mengambil botol di atas nakas.
Membangunkan sedikit kepala papa mertuanya itu serta mendekatkan mulut botol air mineral dimana sudah ada sedotan siku di sana.
"Ada sesuatu lagi yang Papa inginkan tidak?" tanya Annisa lembut. Seraya menatap hangat setelah ia kembali meletakkan kepala Alberto di bantal.
Alberto sempat terpaku sesaat ketika mata indah Annisa yang teduh menatap kedalam matanya.
"Anak ini sama sekali tidak sakit hati kepadaku. Dia justru dengan lembut dan penuh kasih merawat serta menemaniku selama di rumah sakit. Terbuat dari apa hatinya? Dia bahkan seakan tak terlihat lelah setiap pulang kerja langsung kesini," batin Alberto dan belum menjawab pertanyaan dari menantunya itu.
"Pa, ada yang perlu Annisa bantu lagi tidak?" ulang Annisa sekali lagi pertanyaannya.
Pada saat inilah Alberto tersadar. Ia pun menggelengkan kepala pelan.
"Kalau begitu, papa istirahatlah biar cepat sembuh. Papa pasti lelah setelah terapi tadi," saran Annisa seraya menaikkan selimut hingga batas dada.
Alberto pun mulai memejamkan matanya. Karena dirinya memang sudah mengantuk. Saat Annisa mengaji ia sengaja membuka mata karena ingin melihat bagaimana menantunya itu.
Ternyata, setiap mendengar lantunan ayat yang dibawakan oleh Annisa, Alberto tak sanggup menguasai perasaannya. Ia akan meneteskan air mata dan merasa tenang setelahnya.
Apakah benar-benar ada keajaiban dari kitab itu seperti apa yang pernah ia dengar? Begitulah pertanyaan yang ada di dalam pikiran Alberto.
__ADS_1
Melihat sang papa sudah tidur, Annisa pun merebahkan raganya di sofa. Baru beberapa menit Annisa memejamkan matanya.
Sosok Choki datang menghampiri dan langsung mencium keningnya lembut.
"Maaf, ya Annisa sayang. Kamu pasti lelah banget. Sepulang mengajar langsung kesini. Mengaji dan merawat papaku. Aku adalah pria yang sangat beruntung karena memiliki dirimu, sayang," batin Choki karena ia tak mau menganggu wkatu istirahat istrinya itu.
Ia pun juga merasa lelah karena harus menggantikan sang papa masuk kantor. Semenjak Alberto di rawat. Mau tak mau, Choki harus terjun ke perusahaan sang papa yang ada di pusat kota negeri ini.
Sementara, perusahaan yang ada di luar masih bisa di handle oleh Eliana dan juga asisten Alberto di sana.
Sore ini para anak buah Alberto datang menjenguk. Kemaren para staf kantor. Rata-rata, mereka semua kaget dengan penampakan sosok perempuan yang bercadar yang tak bergeming dari sisi Alberto.
Awalnya mereka mengira bahwa Annisa adalah istri muda Alberto karena begitu tau keadaan pria itu dah juga teramat perhatian. Bahkan Annisa berani mengusir para tamu jika terlihat sang papa kelelahan.
Sementara itu, Eliana baru malam ini bisa menemani suaminya kembali.
Akan tetapi, Annisa tetap tidak mau pulang kerumah. Jika saja bukan karena Choki yang memohon padanya.
"Abang kenapa ngajakin Annisa pulang? Nanti kalo Mama kecapean gimana? Soalnya papa kalo malam itu sering bangun dan minta ini itu," cecar Annisa pada Choki suaminya.
"Sayang, kamu sudah tiga malam ada di rumah sakit. Itu artinya sudah tiga hari aku tidak melakukan itu?" jawab Choki takut-takut.
Ia merasa ini bukan waktu yang tepat untuk menagih hal itu pada Annisa karena istrinya itu pasti lelah. Tetapi, Choki sungguh tidak bisa menahan dirinya lagi.
Annisa pun tersenyum di balik niqob-nya.
"Iya, Annisa pulang," jawab Annisa dengan raut wajah memerah. "Bagaimana pun Abang Zakaria adalah kewajiban utamaku ketimbang papa. Maaf, Annisa sudah terbawa suasana. Annisa sangat senang dan bahagia karena bisa merawat papa. Annisa seperti memiliki ayah kembali," tambahnya lagi dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Sayang. Semoga hati papa segera terbuka dan mau menerima kamu sebagai menantunya. Karena kamu adalah sebaik-baiknya perempuan muslimah. Kamu begitu sayang dan berbakti kepada papa. Belum tentu, aku akan menemukan wanita sepertimu lagi," ucap Choki penuh haru.
Ia pun tau dan dapat merasakan betapa besar perhatian serta kasih sayang dari Annisa kepada sang papa.
Akhirnya mereka berdua pun pamit pada Eliana dan juga Alberto.
Untuk pertama kalinya Choki dan Annisa melihat sang papa tersenyum meskipun tipis.
Setidaknya ini adalah suatu awalan yang baik.
"Terimakasih ya, Nak. Annisa sudah menemani papa selama tiga malam ini. Sekarang, biarkan dah ijinkan mama yang berbakti pada papa. Besok kalian tinggal jemput saja karena kemungkinan besar papa akan di perbolehkan pulang," ucap Eliana.
Lagipula, Eli di temani lemah Rocky garang.
Salah satu anak buah andalah Alberto ini memang sangat setia.
__ADS_1
Bahkan Rocky meninggalkan istrinya yang sedang hamil untuk menjaga sang majikan.
"Kapan perkiraan istrimu melahirkan?" tanya Eliana pada Rocky.
"Kemungkinan pada bulan ini, Nyonya," jawab Rocky sopan meski dengan suaranya yang besar dan berat.
"Semoga lancar dan selamat. Bawalah kerumah sakit atau klinik dan kau tak perlu memikirkan biayanya. Karena semua akan kami tanggung," jelas Eliana yang mana hal itu membuat Rocky terbelalak kaget.
Pasalnya Alberto hanya memberikannya uang sebanyak lima juta. Tapi kini sang istri majikan justru berkata akan menanggung semua biaya melahirkan.
Sungguh hal yang membuat dirinya merasa sangat terbantu sekali.
"Tapi, Nya. Tuan sudah memberikan bantuan uang pada saya beberapa pekan lalu," jawabnya jujur.
Karena sifat jujur Rocky itulah yang membuat Eliana dan Alberto tenang memperkerjakan pria bertubuh besar ini.
"Pegang saja uang itu. Gunakan untuk keperluan bayi kalian nanti. Pokonya biaya melahirkan sampai nifas aku yang akan menanggungnya," ucap Eliana lagi.
"Terima kasih banyak, Nyonya ... Tuan," ucap Rocky penuh syukur.
Dirinya teringat akan pesan dan nasihat dari menantunya, Annisa.
Bahwa harta yang mereka miliki saat ini akan di pertanyakan oleh Allah.
Darimana asalnya dan kemana di belanjakannya. Bahkan Annisa juga menyarankan kepada Eli agar banyak bersedekah atas nama Alberto demi kesembuhan pria itu.
Maka itu selama beberapa hari ini Eli terus menebarkan kebaikan terutama kepada para pekerjanya dahulu.
Eli sempat menoleh pada Alberto, mengharap ijin dan persetujuan dari suaminya. Dan Eli pun mendapatkan respon yang sama sekali tidak ia sangka dari Alberto.
Pria yang selama ini begitu perhitungan terhadap pengeluaran hartanya. Kini mengangguk pelan menjawab ide baik Eli.
"Alhamdulillah. Tuh, Tuanmu bahkan sudah setuju. Katakan pada istrimu agar turut mendoakan suamiku. Karena kata Annisa doa wanita yang sedang hamil itu mustajab," ucap Eli lagi.
___________
Sementara itu keadaan dari Jhoni Yes papa juga semakin membaik. Sekalipun pria itupun belum bjsa berjalan seperti semula karena terdapat patah pada tulang kering kaki sebelah kanan.
Jhoni pulang dari rumah sakit hari ini dan pria itu keluar menggunakan kursi roda.
"Bawa aku ke markas Jack!" titahnya dengan rahang yang mengeras.
...Bersambung...
__ADS_1