Suamiku Bad Boy

Suamiku Bad Boy
Bab#43. Pulanglah Abang Zakaria!


__ADS_3

Choki tak tau harus menjawab apa. Nyatanya ia sama sekali tak ada niatan seperti itu. Tak ada maksud seperti apa yang sang papa tuduhkan dengan keji padanya, bahkan didepan pekerjanya.


Akan tetapi ia harus kuat dan tegar, setidaknya itulah yang harus ia perlihatkan di depan sang Papa.


Choki, bahkan sudah menguatkan hatinya jauh-jauh hari.


Meski kenyataannya di luar bayangannya kini.


Betapa sang papa adalah sosok yang tak dapat ia pungkiri bahwa dirinya sangat merindukan.


Ternyata ketika muncul hanya untuk menuduhnya yang bukan-bukan. Dan sama sekali tidak suka melihat keadaannya.


Choki pikir ketika suatu saat ia bertemu kedua orangtuanya dalam keadaan mandiri maka akan bangga padanya.


Setidaknya Choki menunjukkan bahwa dirinya bukan hanya baja menghabiskan uang saja tetapi juga sekarang ia bisa mencari dan menghasilkan uang dengan caranya serta kerja keras.


Dimana Choki sendiri bahkan tidak menyangka bahwa dirinya bisa ada pada fase seperti saat ini.


Kini dihadapan sang papa dirinya seakan sampah yang harus segera enyah agar tak menimbulkan penyakit dan bau tak sedap.


Jangankan menyentuhnya, bahkan menatapnya sebagai darah daging pun laksana enggan.


"Tetapi, Pa. Setau Choki hubungan darah itu tidak bisa dipisahkan dengan cara apapun.Tak mengapa saat ini Mama dan Papa tidak lagi menganggap Choki sebagai putra. Tapi, setidaknya izinkanlah aku tetap menganggap kalian sebagai orang tua," ucap Choki sedikit terbata karena menahan sesuatu yang mengganjal di dadanya.


Di belakang sana Annisa nampak mencengkeram dadanya yang ikutan sesak. Ia tau benar bagaimana perasaan suaminya saat ini.

__ADS_1


Ujian yang sesungguhnya pada sang suami ada pada saat ini. Ujian iman dan keihklasan serta kesabaran.


Alberto bergeming, tanpa membantah satu kata pun yang keluar dari mulut sang putra.


Sang putra yang sempat menjadi kesayangannya sehingga apapun yang Zakaria inginkan akan ia turuti.


Sang putra yang di harap dapat menjadi penerusnya. Tetapi nyatanya Alberto salah menerapkan didikan sejak kecil.


Seharusnya kau bangga Alberto.


Anakmu jadi pengusaha sekarang.


Bahkan dia punya beberapa karyawan yang dalam beberapa pekan kedepan akan bertambah dan terus bertambah.


Tapi, apa yang terjadi?


Sebenarnya berbagai macam pertanyaan bersarang di kepalanya saat ini.


Sang putra sama sekali tidak membencinya.


Sang putra bahkan hidup dengan baik tanpa sepeserpun harta darinya.


Bagaimana bisa?


Itulah pertanyaan besar yang menganggu pikirannya dan terus saja berseliweran di dalam kepalanya.

__ADS_1


Mendengar ucapan sang putra dan juga bagaimana ekspresi Choki saat ini. Tentu saja hal itu sangat menyentuh hati seorang ibu. Eliana, menahan tangisnya sejak tadi hingga saat ini air mata dan Isak itu tumpah juga.


"Honey, ingatlah dia putra kita. Jangan terbawa emosi sesaat yang akan membuatmu menyesal selamanya," ucap Eliana pelan sambil merangkul lengan suaminya dan mengusap dada pria itu lembut.


Berharap emosi dari Alberto yang ia ketahui sangat keras kepala ini dapat mendingin.


"Kembali pada kami, maka Papa akan melupakan yang telah lalu. Pikirkan masa depanmu Zakaria!" tawar Alberto sekali lagi.


"Choki akan kembali tetapi dengan membawa Annisa bersamaku," jawab Choki memberi syarat.


"Ck. Kau lihat putramu ini, Eli. Kenapa dia yang memberikan syarat sementara akulah kepala keluarganya," sarkas Alberto bermaksud menyindir sang putra.


"Jika, kalian tidak mau menerima istriku, maka ... maafkan anakmu ini jika tidak bisa kembali," ucap Choki dengan tegas.


"KAU!!"


Alberto menggeram kesal.


"Pulanglah Abang Zakaria!"


"Sayang ...!" Choki hampir terlompat kaget ketika mendapati sang istri ada di belakang kedua orangtuanya.


Sejak kapan?


Apakah Annisa telah mendengar semuanya?

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2