
"Maaf, Pak. Pencetusnya sangat banyak. Bukan hanya karena pengaruh pola hidup tapi juga pikiran dan ketenangan hati. Untungnya anda menjalankan pola hidup sehat. Karena jika tidak mungkin kejadiannya bisa lebih buruk daripada ini. Bersyukur saja Pak. Anda masih bisa berbicara dan berpikir dengan normal. Pasien saya yang sebelumnya langsung tidak bisa berbicara. Dia itu direktur Bank swasta terbesar di negri ini, asal anda tau saja," jelas sang dokter. Berharap pasiennya tidak menggerutu apalagi mengumpat.
Karena sangat miris ketika dokter ini mendapati para pasiennya yang justru marah-marah setelah mengetahui diagnosa penyakit mereka.
Padahal, terkadang penyakit itu adalah hasil perbuatanmu sendiri.
Tetapi, kebanyakan manusia hanya bisa menyalahkan takdir dan juga Tuhannya.
Tanpa pernah mau melihat kembali ke dalam diri mereka.
Bukan hanya pola hidup sehat yang menentukan kesehatan tetapi juga pola pikir dan juga pola hati.
Huh!
Alberto mendengus dan menghela napas setelahnya.
Menurutnya dokter adalah manusia paling sok tau di dunia.
Mereka akan seenaknya menentukan nasib dan umur seseorang.
"Terserahlah! Satu hal yang pasti, sembuhkan saya dan jangan katakan berapa biayanya," ujar Alberto.
"Insyaallah, Pak. Kami para tim medis selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk para pasiennya," jawab sang dokter sopan.
Bukan hal baru menghadapi karakter pasien yang keras dan arogan seperti Alberto. Sudah sering ia mendapatkan pasien yang bahkan lebih parah dari ini.
"Akan tetapi, anda tetap harus menyerahkan segalanya kepada Allah. Karena sesungguhnya DIA-lah satu-satunya maha penyembuh yang kuasanya melebihi apapun yang ada di langit maupun bumi," ucap dokter itu lagi, bijak.
Alberto menatap dokter tersebut dengan sinis. "Apakah anda sedang cosplay jadi ustadz, Dok?" tanya Alberto dengan nada mengejek.
Dokter yang bernama Maliq itu pun tersenyum ramah dan tetap sabar menghadapi Alberto.
"Bukan begitu, Pak. Menyampaikan hal yang baik dan benar menurut saya bukan hanya tugas dan kewajiban seorang pemuka agama saja. Setiap orang memiliki pemahaman terhadap wajib menyebarkan ilmu yang dia punya. Karenanya ada hadist yang mengatakan, sampaikanlah walau satu ayat!" tegas dokter Maliq lagi pada Alberto.
"Heran. Gak dokter maupun anak sendiri lagaknya kayak ustadz," batin Alberto kesal bukan main. Sayangnya sebelah kaki hingga ke paha tak bisa di gerakkan.
Rasanya Alberto ingin kabur saja dari tempat ini.
Ia tak suka jika berada di dalam keadaan yang lemah dan mengandalkan orang lain ketika ingin melakukan apapun.
"Pak, anda jangan banyak bergerak. Nanti selang infusnya bergeser dan macet," kata perawat pria yang merawat Alberto.
Pria itu masih berada di ruangan observasi belum di pindahkan ke kamar rawat inap. Karena dokter ingin tekanan darah dari Alberto stabil dulu.
__ADS_1
Alberto diam tak menyahut. Hatinya kesal bukan main karena harus tergeletak tak berdaya di tempat tidur rumah sakit.
Tempat yang sangat ia hindari seumur hidupnya, tetapi mau tak mau ia kunjungi juga bahkan harus menginap selama beberapa hari.
"Kenapa semenjak kepulangan anak itu keadaan menjadi begitu pelik," batin Alberto. Berusaha memejamkan matanya untuk tidur. Beberapa detik kemudian terbuka lagi karena memikirkan pekerjaannya.
"Perawat. Bolehlah saya menelepon?" tanya Alberto dengan suara lemah karena sebenarnya ia mengantuk sekali.
"Belum boleh ya, Pak. Anda harus banyak istirahat agar tekanan darah anda lekas stabil. Lagipula, keluarga anda juga ada di luar menunggu," jawab perawat pria menjelaskan.
"Kenapa ... saya tidak ... boleh--" Alberto tidak dapat meneruskan ucapannya karena pada saat ini dirinya telah tertidur.
Perawat pun keluar dari ruangan tersebut.
Sontak Eliana dan Annisa langsung berdiri menghampiri perawat yang baru saja keluar tersebut. Bahkan Choki yang baru saja naik dari lantai bawah ikut menghampiri.
"Bagaimana keadaan suami saya, Ners?" tanya Eliana kepada perawat laki-laki itu.
"Alhamdulillah, keadaan pak Alberto sudah membaik. Beliau juga tadi sudah sadar tetapi dokter memberikan obat agar beliau tertidur selama beberapa jam. Kami harus menunggu tekanan darahnya stabil baru akan ada tindakan pindah ke kamar perawatan," jelas Ners tersebut. Sebuah panggilan profesi bagi seorang perawat.
"Alhamdulillah!" jawab ketiganya serempak.
Memanjatkan syukur ke hadirat Allah karena keadaan Alberto yang ternyata tidaklah seburuk pikiran mereka.
"Terimakasih, Ners," kata Choki.
Choki kembali membawa Eliana sang mama untuk kembali duduk di kursi tunggu.
"Mama tidurlah, sini," tawar Choki mengarahkan sang mama agar rebah di atas pangkuannya.
Akan tetapi Eliana menggeleng.
"Tidak perlu, Nak. Mama tidak lelah. Mama ingin melihat papa kalian," jawab Eli dengan suara parau menahan tangis.
"Iya, Ma. Choki paham perasaan Mama. Aku juga ingin ketemu papa. Tetapi, kan papa juga masih di observasi. Jadilah, kita harus sabar," jelas Choki, dengan harapan sang Mama tenang dan tidak sedih lagi.
"Kalian tidak tau. Di dalam sana pasti papa akan sangat tersiksa. Papa pasti tidak suka dan dia mungkin akan marah-marah. Lalu bagaimana kondisi tekanan darahnya bisa stabil," ucap Eliana .
"Serahkan semua yang tidak sanggup kita pikirkan kepada Allah, Ma. Semoga Allah menguatkan papa dan semua ini mendatangkan hikmah kebaikan daripadanya," ucap Choki. Menerangkan kepada Eli agar sang mama lebih tenang.
Annisa hanya tersenyum karena sebagai perempuan dia tau persis apa yang saat ini sang mama mertua rasakan.
"Abang Zakaria benar, Ma. Tenangkan hati dan juga pikiran Mama. Maka semua akan lebih baik. Karena apa yang ada dalam pikiran dan hati kita bisa menjadi sebuah doa," tambah Annisa.
__ADS_1
"Ya Allah," ucap Eliana seraya menarik napas dan menghembuskannya perlahan.
"Bagus Ma, ulangi sekali lagi," titah Choki.
Tak berapa lama kemudian, Annisa memasang senyumnya pada saat melihat Eliana tertidur pulas di atas pangkuan suaminya itu.
Seorang perawat datang tergopoh-gopoh ke arah mereka duduk.
Choki baru saja hendak memejamkan matanya pada saat Annisa membangunkan dengan mengguncang bahunya.
"Maaf, Mas. Tetapi, pak Alberto tiba-tiba mengalami kejang. Tekanan darah beliau bukannya menurun tetapi justru kembali naik," jelas Ners tersebut.
"Innalilahi!" ucap Choki dengan dada yang naik turun dan napas yang seakan tercekat. Semua ini kenapa begitu tiba-tiba. Padahal sang papa sebelumnya baik-baik saja.
"Lalu bagaimana, Ners? Tindakan apa yang akan diambil?" tabay Choki.
"Untuk malam ini pak Alberto akan kami pindahkan keruangan ICU," jawab Ners tersebut.
"Lakukan yang terbaik untuk papa saya," pinta Choki dengan suara yang tercekat.
"Insyaallah. Bantu doa saja dan tetep tenang," kata Ners itu lagi sebelum akhirnya berlalu masuk ke dalam ruangan tersebut.
Benar saja, sebuah brankar keluar dengan berbagai alat.
Eliana, Choki dan Annisa mengikuti dari belakang kemana brangkar yang membawa Alberto itu pergi.
__________
Keesokan harinya.
Alberto sudah di pindah ke ruang perawatan.
Pria itu ingin memanggil seseorang akan tetapi ia kesulitan untuk menggerakkan mulutnya.
"Eng ... engggh ...!" hanya sebuah gumaman yang akhirnya keluar dari bibirnya.
"Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tak bisa berbicara?" batin Alberto bingung dan panik.
"Assalamualaikum, Pa. Annisa ada di sini." Annisa mendekat kepada Alberto dengan memasang senyumnya.
"Dia! Kenapa dia yang ada di sini? Dimana Eli, Zakaria?" batin Alberto.
"Papa pasti bingung, kenapa Annisa yang ada di sini," batin Annisa.
__ADS_1
"Pa, Abang lagi nganterin Mama pulang dulu sebentar. Nanti mereka berdua bakalan datang lagi kesini. Papa tenang aja ya. Annisa minta ijin baca Al Qur'an ya buat Papa. Semoga dengan Fadhilah suroh yang aku baca, Allah segera berikan Papa kesembuhan. Aamiin," ucap Annisa mulai mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi Quran digital.
...Bersambung...